Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Perjuangan Reyn dan Humai Dimulai


__ADS_3

...Ketika melihat perjuangan orang yang kita sayang untuk menjadi orang sukses. Semangat dan support kitalah yang mereka butuhkan. ...


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


"Ayo, Om Reyn! " Teriak Jay dengan begitu hebohnya.


Kini semua orang tengah duduk di kursi penonton untuk melihat bagaimana Reyn yang berlatih renang bersama teman-temannya. Mereka menatap pria muda yang tengah berjuang untuk terus berlatih demi perlombaan.


Perjuangan Reyn memang tak mudah. Dia berusaha untuk ikut tingkat nasional sampai dirinya diterima. Bukan hal mudah untuk menjadi jadi perwakilan tapi Reyn tak pernah menyerah.


"Ayo, Reyn! " Teriak Humai lagi saat melihat adiknya mulai menceburkan dirinya di kolam renang.


Tepuk tangan dan teriakan semangat terus bergema. Humai dan keluarga benar-benar memberikan semangat untuk Reyn. Pria itu terlihat berenang dengan sangat cepat. Bahkan membalikkan tubuhnya dan kembali ke tempatnya semula terlihat begitu lincah dan energik.


"Oh, ****. Kau terlalu cepat, Reyn. Kau selalu seperti ikan. Wushhh! " Kata seorang pemuda yang baru saja memunculkan kepalanya ke permukaan.


Reyn sudah muncul terlebih dahulu. Nafas mereka ngos-ngosan tapi Reyn malah tersenyum.


"Percayalah. Suara mereka disana! " Ujar Reyn menunjuk keberadaan keluarganya dengan senyuman. "Semakin bikin aku bisa secepat itu. Aku bahagia mereka ada disini. "


"Kau memang berhak mendapatkannya, Reyn. Kau terlalu mengpush dirimu sendiri untuk latihan! " Kata pria itu dengan menyusul Reyn yang sudah naik ke atas.


"Tentu. Aku datang kesini jauh-jauh. Berpisah dari keluargaku. Aku harus mendapatkan apa tujuanku. Jika tidak? Untuk apa aku bertahan sejauh ini? "


Teman Reyn mengangguk. Mereka lekas meraih handuk yang ada di kursi lalu mengeringkan rambutnya.


Semua anak renang selalu berlatih bersama. Saling membantu mengecek berapa kecepatan mereka yang didapat.


"Waktumu sudah cepat, Reyn? " Kata seorang pria yang menyerahkan penghitung waktu. "Tapi kau jangan lengah. Kau harus lebih bisa lincah dari ini. "


Reyn mengangguk. Dirinya juga akan terus berlatih sampai event dimulai. Setelah semua urusannya selesai. Reyn segera melambaikan tangannya pada kakak dan semua keluarganya untuk berganti pakaian.


Cuaca yang dingin membuat mereka harus segera memakai pakaian hangat agar tak sakit. Bagaimanapun Reyn harus menjaga kesehatannya. Dia tak boleh ceroboh dan sampai jatuh sakit.


"Tunggu aku ya, Kak. Aku ganti baju dulu! " Teriak Reyn yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Humai.


...🌴🌴🌴...


"Ibu, sebentar lagi kita akan kemana? " Tanya Jay yang berdiri di dekat ibunya.


Saat ini mereka telah keluar dari aula kolam renang. Mereka ada di depan pintu menunggu Reyn keluar.

__ADS_1


"Kita anter Om Reyn pulang ke asrama, " Ujar Humai yang membuat ekspresi Jay berubah menjadi sedih.


Bocah itu terlihat murung dan membuat Syakir menjadi tak tega.


"Kok anak Ayah sedih begini? " Tanya Syakir lalu meraih putranya dalam gendongan.


"Jay mau sama Om Reyn, Ayah. Jay gak mau Om Reyn sekolah disini! " Dengernya dengan menggeleng.


Reyn yang baik, selalu sabar menghadapi sikap Jay. Menjadi teman bermain yang bisa menempatkan dirinya. Membuat Jay nyaman dengannya. Bahkan saat tidur bersama Reyn. Jay tak rewel atau mencarinya.


Reyn saja yang lembut dan selalu pengertian membuat siapapun yang ada di dekatnya bahagia. Jay sendiri juga sangat senang jika ada Reyn di dekatnya.


"Jay, " Tegur Jeno lalu mendekati Jay. "Om Reyn kesini mau belajar. Biar bisa bawa piala buat Jay. Biar bisa bikin Jay bangga sama Om Reyn. "


"Piala? " Ulang Jay dengan mata berbinar.


"Ya. Piala yang kayak di televisi itu, " Kata Jeno memberikan pengertian.


"Yang besar? "


"Tentu. Om Reyn sekolah buat dapet itu. Jadi Jay harusnya kasih semangat Om Reyn dong. Jangan murung gini. Nanti Om Reyn sedih, gak jadi bawa piala gimana? "


Sefira tersenyum melihat interaksi keponakan dengan suaminya. Jeno memang sangat dekat dengan keponakan tersayangnya itu. Apalagi sikapnya yang sangat amat lembut membuat Sefira membayangkan bagaimana jika Jeno menghadapi anak mereka nanti.


Sabar dan sikapnya ini yang membuat adik Syakir semakin cinta dengan Jeno. Pria itu pandai memberikan pengertian sampai keponakannya tak sedih lagi.


"Aamiin, " Sahut Reyn yang mendengar suara ponakan lucunya itu.


"Aamiin." Semua orang juga bersuara.


Reyn lekas memeluk Jay dengan erat dan mencium pipinya.


"Om sayang, Jay, " Kata Reyn dengan tersenyum.


"Jay juga sayang sama, Om Reyn, " Kata anak itu membalas pelukannya.


"Kamu langsung pulang ke asrama? " Tanya Humai saat pelukan itu terlepas.


"Iya, Kak. Aku harus kembali karena takut dapat hukuman, " Ujar Reyn dengan jujur.


"Ya udah. Ayo kita antar! "


Mereka akhirnya mulai keluar dari gedung latihan tempat anak renang berlatih. Mereka berjalan ke arah samping kanan dimana asrama ada di bagian sana.

__ADS_1


Reyn berjalan dengan bergandengan tangan bersama kakaknya. Kebersamaan ini sangat amat berat untuk dipisahkan lagi. Namun, mau bagaimana lagi.


Peraturan sekolah dan asrama tempat Reyn belajar sangat ketat memang. Maka dari itu Humai tak mau adiknya mendapatkan hukuman karena mereka. Mereka telah menahan rindu dan berpisah lagi untuk merajut rindu dan bertemu kembali.


Toh Humai masih di negara ini. Dia bahkan belum tau sampai kapan ada di negara ini.


"Hati-hati ya, Reyn. Ingat! Jangan lupa istirahat. Jangan terus belajar tanpa ingat tidur. Itu gak baik! " Kata Humai saat mereka mulai sampai di gerbang asrama.


Reyn mengangguk patuh. Dia maju sedikit lalu memeluk kakaknya dengan erat.


"Aku akan merindukan, Kakak. Terima kasih sudah ajak Reyn main. Sudah menyusul kesini dan bikin Reyn bahagia, " Bisik anak muda itu dengan suaranya yang menahan tangis.


"Sama-sama. Kakak akan datang kesini setiap hari, oke. Kakak akan mengabarimu nanti. Tapi mulai besok Kakak juga harus bertemu desainer. Doain yah? "


"Aku do'ain semoga sukses dan karya Kakak digunakan ke acara fashion show besar itu! " Kata Reyn dengan harapan yang sama.


Dia juga mengharapkan kakaknya berhasil. Dia juga berdoa semoga keinginan Kakaknya kesini bisa tercapai.


"Aamiin. Mari kita berjuang bersama! " Ucap Humai sambil mengulurkan tangannya.


"Berjuang bersama! " Balas Reyn dengan mengangguk.


Akhirnya semua orang mulai berpamitan. Mereka saling memeluk satu dengan yang lain. Hingga akhirnya Reyn harus berpisah disini. Dia berjalan menaiki tangga menuju asramanya.


Gedung dimana dia bertempat tinggal dan melakukan segala hal disana. Saat dirinya hampir sampai. Reyn kembali berbalik dan melambaikan tangannya ke arah keluarganya lagi.


Hal seperti inilah yang paling menyakitkan dalam keluarga. Berjuang untuk sukses demi dirinya dan kebanggaan. Berjuang dengan merelakan jaraknya dengan keluarga berjauhan untuk sebuah prestasi.


Di awal memang sulit. Sekarang saja sulit tapi Reyn yakin dia bisa mendapatkan sesuatu yang bisa membayar segala sakit ini.


"Aku sayang, Kakak. Kita semangat pulang bawa piala yah! " Teriak Reyn yang membuat Humai mengangguk.


"Tentu. Semangat berlatih terus. Ingat kamu gak sendiri. Ada Kakak dan keluarga disini, Reyn! "


~Bersambung


Maafin aku yang kemarin cuma update satu bab. Rasanya tiap mau namatin karya. Akunya jadi stuck ide. Tapi efek akhir bulan kemarin banyak begadang juga jadi kepalaku sering sakit.


Maafin aku yah. Do'ain hari ini bisa update banyak. Efek akhir bulan gak pernah tidur. Kemarin aja 3 hari gak tidur buat kejar kata Bang Jim.


Tapi tenang aja, novel Bang Syakir bakalan tamat pertengahan bulan kok. Gak bakal mundur lagi hihi soalnya biar Novel Zelia cepet rilis disini hehe.


Hayo siapa nungguin?

__ADS_1


oh iya aku juga bawa karya temenku nih. Mampir ke novelnya Kak Vie yah. Yang suka horor nih cocok banget.



__ADS_2