Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Insting Ibu Hamil


__ADS_3

...Terkadang orang bersikap baik bukan karena dia terlalu baik. Melainkan dia hanya sedang melihat apakah lawan bicaranya itu baik kepadanya atau hanya untuk memanfaatkannya saja. ...


...-Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


"Mai, " Panggil Sefira yang sedang berjalan di samping Mama Emili.


Seorang ibu yang memiliki tiga orang anak itu tengah membawa sebuah nyaman yang di atasnya terdapat beberapa piring. Piring yang berisi makanan dan membuat perut Humai terasa lapar.


Perempuan itu baru saja terbangun dari tidurnya. Dia merasa sedikit lebih baik meski ya badannya terasa sakit harus tidur di sofa. Namun, mau bagaimana lagi. Dia paksa tidur di dalam kamar sendirian makan dia tak akan bisa tidur.


"Ayo makan! "


Humai menatap makanan itu dengan lekat. Makanan khas Indonesia yang sangat dirindukan. Nasi putih, sup ayam dan sayuran yang sangat amat menggoda lidahnya.


Namun, Tiba-tiba ingatannya tertuju pada putranya. Ya putra yang sangat dia sayangi dan dia cintai. Bocil yang selalu menjadi penyemangatnya ketika apapun.


"Jay kemana? " Tanya Humai dengan pelan.


"Jay disini, Ibu! " Pekik suara anak kecil yang baru saja datang bersama kakeknya.


Anak itu lekas duduk di samping ibunya. Lalu memeluk Humai dengan sayang.


"Maafin Jay ya, Bu. Jay udah bikin Ibu kerepotan, " Ujar Jay dengan pelan.


Mata ibu yang mau memiliki dua anak itu menatap sepasang mata kecil itu. Dia bisa melihat kesungguhan disana. Tak lama Humai mendongak dan menatap ke arah ayahnya.


Melihat kepala ayahnya mengangguk, dia yakin jika suaminya telah menelpon. Dia yakin Syakir telah menasehati putranya hingga menurut seperti ini.


"Iya. Ibu sudah maafin, Jay, " Jawab Humai dengan tulus. "Jay mau makan? "


Kepala mungil itu mengangguk. Dia menatap makanan yang dibawa Sefira dan mengusap perutnya.


"Jay lapar, Bu. Jay mau makan sama Ibu! "


"Jay makan sama Ante aja yah? " Bujuk Sefira yang tak mau mengganggu sahabat sekaligus kakak iparnya itu.


"Ndak mau. Jay mau sama, Ibu!"


"Biarkan, Fir. Gak papa, " Kata Humai melerai.


Akhirnya Humai menyuapi dirinya dan Jay bergantian. Hal itu tentu membuat semua keluarga merasa senang. Mama Ayna, Mama Emili, Papa Hermansyah, Sefira, kedua orang tua Jeno juga yang ada disana melihat itu semua.


"Kak Rachel kemana, Ma?"

__ADS_1


"Dia sedang mencari informasi tentang kampus. Mama dan Papa akan mendukungnya untuk kembali mengejar pendidikannya, " Ujar Mama Emili yang membuat Humai mengangguk.


Dia memang merasa Rachel seperti mengambil jarak darinya. Seperti mengambil space dan sedikit menjauh. Entah apa yang tengah terjadi tapi Humai tak mau bertanya. Dia akan memberikan saudara angkatnya itu waktu. Waktu untuk membiasakan diri dan beradaptasi dengan lingkungannya.


...🌴🌴🌴...


Hari ini tepat hampir tiga bulan Syakir dan Jeno berada di Indonesia. Ternyata urusan yang dianggap sebentar memakan waktu yang lama. Kandungan dua ibu hamil itu tentu semakin terlihat membesar.


Kandungan yang usianya tak kalah jauh itu ternyata mampu membuat dua ibu hamil itu saling menghabiskan waktu bersama. Bercerita lika liku yang sering dirasakan ketika malam hari.


"Bagaimana? " Tanya Humai pada Sefira yang tengah membawa kain di tangannya.


Saat ini keduanya ada di galeri karena mereka akan kedatangan seorang customer yang akan memesan baju pengantin.


"Mereka sudah datang," Jawab Sefira pada sahabatnya itu.


"Kamu jangan bawa beginian! " Omel Humai sambil meraih beberapa kain dari gendongan Sefira lalu meletakkan di atas meja. "Suruh orang lain untuk membawanya. Aku tak mau Dosen Jeno marah kepadaku! "


Sefira terkekeh. Namun, kepalanya tetap mengangguk. Apa yang dikatakan oleh sahabatnya memang benar. Meski Jeno ada di Indonesia. Namun, pria itu selalu memiliki mata-mata yang merupakan karyawannya disini.


Bukan hanya Jeno saja. Syakir pun juga memiliki pengawas untuk mengawasi ku jika terlalu lelah dan berat bekerja.


"Ayo kita ke ruang pertemuan. Aku takut mereka akan menunggu terlalu lama! " Ujar Sefira yang membuat Humai mengangguk.


Kedua ibu hamil itu lekas berjalan meninggalkan ruangan dengan membawa kertas sketsa dan alat yang dibuat mendesain. Klien mereka kali ini memang ingin membuat baju itu agar menjadi miliknya sendiri.


"Selamat pagi, " Sapa Humai yang membuat empat orang itu menoleh.


Langkah kaki Humai terhenti saat melihat seseorang yang pernah ia temui di pagelaran fashion show. Sosok pesaing yang ia anggap saingan paling berat.


"Tuan Lee, " Sapa Humai dengan mengulurkan tangannya.


Lee, salah satu desainer terbaik yang selalu menang di ajang fashion show Korea. Namun, kedatangan Humai kemarin mampu menggeser juara dirinya di ajang kemarin.


"Nona Humai, " Sapanya dengan bahasa Indonesia yang baik.


Humai tak terlalu terkejut. Lee adalah sosok desainer hebat yang bisa beberapa bahasa. Bahkan customer dia bukan hanya orang Korea saja. Hasil dirinya desainer sudah sampai di beberapa negara di luar Korea.


"Maaf jika kedatangan kami kesini mengejutkan anda, Nona Humai, " Ujar Lee yang dipersilahkan duduk oleh Humai.


"Tidak apa-apa, Tuan Lee, " Sahut Humai dengan mencari posisi yang nyaman. "Ah ya kenalin ini, Sefira. Asisten aku. "


"Sefira, " Sapa Istri Jeno dengan saling mengulurkan tangan dan berjabatan.


"Sebenarnya kedatangan kami disini ingin membuat gaun pernikahan untuk sepupuku, Nona Humai, " Kata Lee dengan menaikkan salah satu kakinya di kaki yang lain.

__ADS_1


Humai mengangguk. Dia tak curiga apapun. Dirinya menatap wanita disampingnya yang terlihat gugup.


"Boleh. Apakah Anda ingin desain dari kami atau bagaimana? "


"Kami ingin Anda yang mendesain, " Jawab sepupu Lee dengan cepat.


Humai mengangguk. Obrolan itu terus berlanjut. Membicarakan beberapa model apa saja yang diinginkan. Namun, entah kenapa istri Jeno merasa ada yang tak beres.


Kenapa sepupu desainer terkenal harus desain ke tempat lain. Kenapa tak mendesain di Tuan Lee sendiri. Namun, Sefira mencoba menggelengkan kepalanya. Dia tak boleh berpikiran buruk dulu kepada siapapun.


"Baiklah. Dalam tiga hari contoh desain ini akan selesai. Kami akan menghubungi anda nanti, " Kata Humai setelah mencatat apa saja yang diinginkan calon pengantin.


Akhirnya pembicaraan itu berakhir disana. Lee dan sepupunya berpamitan dan Humai serta Sefira mengantarnya sampai di depan galeri.


"Terima kasih telah melayani sepupuku dengan baik. Kami menunggu hasil terbaik kalian, " Kata Lee dengan perkataan yang ambigu.


"Baik, Tuan. "


Setelah mobil yang dinaiki empat orang itu meninggalkan galeri. Sefira menarik tangan sahabatnya dan membuat Humai menghentikan niatan untuk masuk ke dalam galeri.


"Kenapa? "


"Kamu gak mau curiga? Kenapa mereka harus pesan disini? Tuan Lee desainer hebat, 'kan?"


Humai menggelengkan kepalanya. Dia menyentil dahi sahabatnya yang membuat Secara mengaduh.


"Jangan berpikiran buruk. Ingat kamu lagi hamil loh! Gak boleh suudzon, " Kata Humai menasehati.


"Tapi aneh aja, Mai. Kamu harus hati-hati! " Kata Sefira memperingati.


"Iya. Aku akan berhati-hati. Kamu juga harus hati-hati terutama dalam bicara okey? "


"Aku cuma khawatirin kamu aja. Kamu itu orangnya terlalu baik! " Kata Sefira menggandeng tangan sahabatnya dan keduanya berjalan masuk bersama-sama.


"Iya iya. Aku harus baik sama customer. Kalau gak, mereka bakalan kabur! "


"Ya kabur mah berarti bukan rejeki kamu! "


"Astaga! " Humai memukul dahinya sendiri.


Sahabatnya semakin menyebalkan saat hamil. Berarti benar kata Jeno ketika menelpon jika istrinya itu ada saja tingkah yang membuat orang sebal.


"Daripada kamu ngoceh terus. Ayo bantu aku desain punya sepupu Tuan Lee! Kita harus menyelesaikan dengan cepat! "


~Bersambung

__ADS_1


Aww instingnya bumil beneran ajib gak yah. Yuhuu ini mah tinggal beberapa bab lagi say good bye. huhuu


__ADS_2