Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Lampu Hijau OTW KUA


__ADS_3

Ketika semesta dan dunia merestui. Maka hanya tinggal satu langkah lagi yaitu meresmikannya.


~Guntur Syakir Alhusyn


🌴🌴🌴


Kepala Syakir mengangguk. Dia benar-benar tak main-main dengan apa yang dia inginkan.


"Beneran, Ma. Papa Hermansyah sudah kasih lampu hijau sama Syakir." 


Mama Ayna dan Papa Haidar benar-benar ikut bahagia. Akhirnya apa yang keduanya harapkan terjadi juga. Mereka berdua ingin Humaira kembali menjadi menantu keduanya. Namun, keduanya selama ini hanya diam.


Mereka hanya ingin melihat seberapa berani Syakir memulainya dan ternyata bayangan keduanya benar-benar tak percaya. Mereka tak menyangka jika Syakir bisa bergerak dengan cepat.


"Humaira dua minggu lagi berangkat ke Korea, Ma. Dia akan melakukan kerja sama dan peragaan fashion. Maka dari itu, Syakir ingin sebelum Humai pergi. Kita berdua sudah menikah." 


"Apa!" Mama Ayna terpekik kaget.


Dia membulatkan kedua matanya menatap anaknya yang meminta hal gila. Untuk sebuah pernikahan minimal satu bulan lah waktu tercepat. Namun, ini sekarang, kurang dari dua minggu mereka harus kembali bersama.


"Itu terlalu cepat, Sayang. Mama ingin pernikahan kalian sekarang lebih besar. Mama tak mau kalian menikah kecil-kecilan," kata Mama Ayna beralasan.


Humaira dan Syakir saling tatap. Keduanya seakan sedang mencoba mencari solusi dari masalah ini. Keduanya memang sudah berpikiran matang. Mereka tak mau menunda terlalu lama. Apalagi baik Humai sendiri, tak tahu sampai kapan dia tinggal di Korea.


"Tapi Syakir tak mau menunggu terlalu lama, Ma. Humai saja belum memberikan kepastian berapa lama dia di Korea," kata Syakir dengan wajahnya yang benar-benar seperti anak kecil tak mendapatkan keinginannya.


Mama Ayna terlihat frustasi. Dia menatap suaminya dan seperti sedang mendiskusikan sesuatu. Hingga tak lama, celetukan dari Papa Haidar membuat keduanya menoleh.


"Bagaimana jika kalian menikah secara agama dulu?" tanya Papa Hermansyah pada keduanya. "Nanti setelah Humai selesai dengan pekerjaannya atau saat dia memiliki waktu longgar. Kalian akan melaksanakan resepsinya. Bagimana?" 


Seakan mendapatkan angin segar. Syakir tanpa kata lekas mengangguk. Ide yang papanya berikan barusan bukanlah hal buruk. Setidaknya keduanya menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Setidaknya apa yang mereka lakukan sudah dalam ikatan halal.


"Jadi kalian ijab kabul dulu yah. Secara resmi, Papa akan mengurus surat kalian juga. Setelah itu kita tinggal mencari tanggal resepsian kalian. Bagaimana?"


"Syakir setuju, Pa," kata Syakir tanpa menunda.


Dia sudah tak bisa menutupi kebahagiaannya. Apa yang dia inginkan sudah di depan mata. Dirinya benar-benar ingin segera memiliki Humai lagi dalam pelukan.


Dia ingin tinggal bersama Humai dan Jay. Membangun rumah tangga yang menjadi impian keduanya. Memulai semuanya dari hal baik dengan harapan jika kali pernikahan keduanya tak mengalami kegagalan kembali.


"Baiklah. Papa akan mengurus semuanya," kata Papa Haidar yang kemudian mendapatkan cubitan dari Mama Ayna.

__ADS_1


"Gak Papa gak anak, sama aja. Kalian ini kenapa keburu-buru. Mama pengen acara lamarannya besar. Nikahnya besar dan…" 


"Mama bisa melakukan itu nanti di resepsi, Sayang," kata Papa Haidar memeluk istrinya dari samping. 


Entah kenapa melihat tingkah keduanya membuat Humai dan Syakir seakan berkaca. Seakan keduanya berharap semoga masa tua mereka seperti Mama Ayna dan Papa Haidar.


Mereka ingin selalu saling mencintai, tetap setia pada hubungan keduanya sampai Tuham yang memisahkan.


"Tapi…" 


"Apa Mama mau terjadi sesuatu pada mereka berdua karena tak disatukan, hmm?" tanya Papa Haidar yang membuat Mama Ayna spontan menatap putranya. 


"Jangan macam-macam!" 


Syakir terkekeh. Dia dengan berani memeluk Humai dari samping dan mengecup pipinya dengan pelan.


"Lihatlah! Udah tau kan, kenapa kita haris segera menikahkan mereka berdua?" 


Mama Ayna menggeleng. Dia memijat dahinya yang pusing. Ternyata kelakuan Syakir tak beda jauh dari suaminya dulu. Mereka benar-benar seperti pinang dibelah dua jika sedang bucin. 


"Baiklah. Mama setuju dengan ide, Papa!" 


Bak anak kecil mendapatkan apa yang dia inginkan. Syakir benar-benar bahagia. Ya dia bahagia dengan apa yang sudah diraih sejauh ini. Akhirnya apa yang keduanya inginkam sudah di depan mata.


"Kalian mau menikah dimana?" tanya Papa Haidar pada keduanya. 


Syakir menatap ke arah Humai. Dia menaikkan dagunya seakan meminta mantan istrinya eh bukan. Calon istrinya ini menjawab.


"Humai mau menikah disini, Pa. Di rumah masa kecil Humai," ujar ibu satu anak itu dengan serius.


Ya Humai ingin rumah ini, rumah dimana yang menjadi saksi kunci dia lahir disini untuk menjadi bukti keduanya kembali disatukan dalam ikatan halal. 


Keduanya ingin kembali merajut kenangan mereka disini. Memulai semuanya dari awal dan berharap semoga semuanya lancar.


"Baiklah. Biarkan Papa dan Mama yang mengatur semuanya." 


"Mama Emili akan ke Malang nanti, Ma," kata Humai memberitahu. "Kedua orang tua Humai akan diam di Malang beberapa bulan ke depan." 


"Mereka akan merawat Rachel bersama, Ma. Dokter bilang mungkin Rachel akan kembali sehat ketika bersama mereka."


Mama Ayna menatap menantunya itu dengan haru. Dia bisa melihat ketulusan di mata ibu kandung dari cucu pertamanya itu. 

__ADS_1


"Humai baik-baik saja?" 


"Iya, Ma. Humai baim," sahut Humai dengan tersenyum. 


"Ah Mama memang gak salah pilih mantu. Mama akan segera melamarmu." 


Humaira tertawa kecil. Dia tak menyangka kedua orang tua Syakir sangat bersemangat seperti mereka.


"Yaudah. Mama dan Papa matikan dulu yah. Mama bicarakan dengan Emili dulu," kata Mama Ayna pada keduanya. 


"Iya, Ma." 


Akhirnya panggilan itu berakhir. Syakir meletakkan ponselnya di atas meja. Lalu dia menatap Humai yang juga tengah menatapnya.


"Apa yang kamu rasakan sekarang, Sayang?" tanya Syakir mengusap pipi Humai dengan pelan.


Mereka berdua benar-benar sudah sangat bucin. Tak ada yang mampu menghalangi mereka berdua sekarang. Dimanapun keduanya berada, bucin hal utama. 


"Aku bahagia, Sayang," jawab Humai dengan pipi yang bersemu merah. "Aku merasa tenang karena akhirnya bisa kembali bersamamu." 


Syakir tersenyum begitu lebar. Ternyata apa yang dia rasakan juga dirasakan oleh Humai. Apa yang dia harapkan ternyata sama dengan calon istrinya ini.


"Aku juga bahagia, Sayang," balas Syakir dengan serius. "Terima kasih sudah mau menerima lamaran pria ini. Pria yang pernah memiliki kesalahan besar padamu. Terima kasih kesempatan besar yang sudah kamu berikan. Aku tak akan mengecewakanmu lagi." 


Humai mengangguk. Tanpa kata dia memeluk Syakir dengan erat. Memeluknya dengan perasaan yang tak bisa dijabarkan. Antara bahagia, senang dan terharu. 


Hingga tak lama, bayangan wajah putranya membuat Humai melepaskan pelukannya. 


"Ada apa. Hmm?" 


"Kita harus menceritakan ini pada Jay, Sayang. Dia harus tahu kalau Ayah dan Ibunya akan kembali bersama," kata Humai dengan antusias.


Syakir mengangguk setuju. Apa yang dikatakan oleh calon istrinya ini benar. Hampir saja dia melupakan anaknya itu. Dia yakin jika Jay pasti menjadi pihak paling bahagia.


"Cepat telepon Sefira, Sayang. Aku yakin dia pasti bersama putra kita." 


~Bersambung


Oke gak lama lagi kok. Beneran guys. Nikah entar lagi huaaa hahhaa.


OTW adiknya Jay, ehhh.

__ADS_1


__ADS_2