Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Terbongkar?


__ADS_3

...Kehadirannya memang tak ada yang menginginkan tapi dia tak bisa memilih harus hadir di perut ibu yang mana. ...


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Jantung Mama Ayna seakan berhenti berdetak saat mendapatkan kabar melalui ponselnya. Tubuhnya mematung seperti tersengat listrik. Dia benar-benar ketakutan setengah mati. Bahkan tanpa sadar, tangan kirinya yang sedang memegang gelas jatuh hingga pecahnya berceceran.


"Mama, ada apa?" tanya Haidar yang langsung berlari saat mendengar suara pecahan itu.


Pria paruh baya tersebut lekas memegang kedua pundak istrinya. Dia mendudukkan Ayna lalu merebut ponsel yang masih ada di tangan istrinya.


Dia mengecek ada apa di benda pipih itu tapi panggilan telah berakhir.


"Mama katakan sesuatu. Ada apa?" tanya Haidar menarik dagu istrinya.


Perlahan Mama Ayna mencoba menarik nafasnya begitu dalam. Dia berusaha bersikap tenang walau kesakitan kini menyerangnya. Matanya mulai berkaca-kaca saat tatapannya bertemu dengan sang suami. 


"Humai, Pa. Humai…" ujarnya dengan terbata.


Air mata ibu kandung Syakir itu menetes tanpa dicegah. Dia mulai berpikiran hal buruk. Apalagi mengingat tanggal kejadian sampai sekarang, membuat jantungnya hampir berhenti berdetak jika pemikirannya benar. 


"Iya. Kenapa sama Humai?" 


"Humai didorong dan dia mengalami pendarahan," kata Mama Ayna menatap suaminya dengan sedih. "Mama berpikir Humai pasti hamil, Pa. Tak mungkin jika hanya jatuh didorong bisa mengalami pendarahan." 


Mama Ayna lekas berdiri dan membuat Haidar menyusul istrinya.


"Ayo ke rumah sakit!" ajak Mama Ayna pada suaminya. "Ayo, Pa. Jika tebakan Mama benar. Itu adalah cucu kandung kita, Pa. Cucu kita."


Percayalah, firasat seorang ibu itu kuat. Apalagi tebakan wanita yang memiliki pengalaman pernah hamil pasti akan lebih tahu. Apalagi Mama Ayna adalah sosok yang menghitung tanggal sejak mereka berdua terjebak dalam sebuah kegiatan terlarang.


Jika hitungannya benar, maka hubungan itu menghasilkan anak di antara keduanya. 


"Ayo, Pa! Mama gak mau terjadi sesuatu sama Humai. Mama gak mau semakin berdosa sudah nelantarin gadis yang tak bersalah." 


...🌴🌴🌴...


Di sebuah ruangan tempat pemeriksaan. Humai terus merasakan sakit. Dia dengan mandiri tentu menguatkan dirinya sendiri. Tak ada lagi teman di sampingnya. Humaira bahkan tak mau mengganggu Sefira yang kuliah dan membuatnya merasakan arti kesendirian.


"Bagaimana, Dokter?" tanya Humai dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Dimana suami, Anda?" tanya seorang dokter yang membuat Humai tak mengerti. 

__ADS_1


"Suami?" ulangnya dengan bingung.


"Anda sepertinya harus melakukan tes untuk memastikan apa dugaan saya ini benar atau tidak," kata dokter dengan ambigu.


"Maksud Dokter apa? Memangnya saya sakit apa? Kenapa saya bisa pendarahan?" tanya Humaira beruntun.


Jujur gadis itu merasa dia tak halangan. Lalu darah dari mana yang keluar dari dirinya. Humai juga mengingat jika dia jatuh terduduk. Meski kuat, jika dia baik-baik saja juga tak akan mengeluarkan darah. 


"Lebih baik saya mengeceknya terlebih dahulu sebelum memberikan penjelasan pada Anda." 


Humaira tak banyak bicara. Dia hanya mengangguk pasrah ketika ranjang miliknya di dorong. Namun, saat sampai di depan sebuah ruangan dan perawat yang mendorongnya sedang berbicara dengan perawat yang lain.


Mata gadis itu terpanah saat membaca nama ruangan itu. Dia bahkan tanpa sadar menatap ke bawah. Lebih tepatnya ke arah perutnya yang rata.


Hingga pikirannya mulai memutar. Memutar dimana beberapa hari ini dia memiliki keanehan pada dirinya sendiri. Saat dia suka makanan yang tak pernah ia makan. Lalu dia tak menyukai makanan yang ia sukai.


"Apa benar jika di dalam sini…" lirihnya dengan mata berkaca-kaca.


Humaira merebahkan kepalanya lagi. Apalagi ketika ranjangnya didorong memasuki ruangan yang akan menjadi tempatnya diperiksa. Matanya menatap ke atas. Dia menerawang kejadian yang pernah menjadi hari buruk untuknya. 


Hari dimana yang menjadikan sosok kecil itu ada dalam dirinya. Kejadian dimana mereka yang menghadirkan sosok yang tak bersalah.


"Semoga kamu selamat, Nak. Meski hadirmu tak diinginkan tapi kamu tak bisa memilih diberikan di perut siapa oleh Tuhan." 


Humai hanya mengangguk. Dia pasrah saat perutnya disingkap. Matanya mulai menatap ke arah layar hitam yang ada di depannya. 


Perlahan, Humai merasakan sesuatu yang dingin menyentuh perutnya. Lalu tak lama sebuah alat digerakkan di atas sana.


Dokter mulai menatap ke layar yang ada di tangannya. Dia menggerakkan tangan kanannya yang ada di atas perut Humai dengan tangan kiri menekan tombol yang ada di alat di depannya. 


"Mbak bisa lihat, disana," kata dokter menunjuk sebuah titik kecil disana. "Itu calon anak Anda."


Jantung Humai berpacu cepat. Matanya menatap setitik kehidupan yang ada dalam dirinya. Sebuah keajaiban yang Allah berikan kepadanya.


"Jadi saya hamil, Dok?" tanya Humai dengan air mata mengalir.


"Iya, Mbak. Syukurlah kandungan Anda baik-baik saja," kata Dokter lalu mulai menjauhkan alat itu dari perutnya. "Lain kali Anda harus lebih hati-hati. Di luar sana banyak calon ibu yang ingin segera hamil dan merasakan sosok kecil dalam perutnya tapi belum dianugerahi." 


"Lalu Anda, yang diberikan kepercayaan oleh Tuhan. Jagalah dengan baik!" 


Jantung Humai mencelos. Perkataan itu seakan menampar kenyataan dirinya. Kenyataan dimana dia tak menginginkan anak itu. Kenyataan dia hampir berpikir untuk menggugurkannya. Namun, seketika ucapan dokter itu menyadarkannya.


"Anda harus banyak istirahat. Jangan terlalu kecapekan dan melakukan hal berat," nasehat dokter untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


"Iya, Dokter."


Akhirnya Humai mengucapkan terima kasih. Dia juga dibantu naik kursi roda menuju kamar rawat inapnya karena dokter menyarankan agar Humai dirawat dalam semalam.


Humaira hanya bisa menurut. Apalagi ketika menyangkut sosok yang mulai tumbuh di dalam perutnya. 


"Sekali lagi, terima kasih, Dokter." 


"Sama-sama." 


Saat pintu ruang kandung mulai dibuka dan kursi roda yang diduduki Humai didorong oleh perawat. Tiba-tiba sepasang suami istri menghadangnya dan membuat Humaira terkejut bukan main.


Matanya berkaca-kaca saat melihat dua sosok yang ternyata dan tak lain adalah orang tua dari pria yang mengambil kehormatannya.


"Om…Tante…" 


"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Mama Ayna dengan wajah yang tak bisa menutupi kekhawatirannya. 


"Apa ibu orang tua pasien?" kata perawat yang mendorong kursi roda Humai.


"Ya, Mbak," sahut Mama Ayna dengan cepat. "Apa terjadi sesuatu pada putri saya?" 


"Putri ibu sedang hamil. Anak dalam kandungannya baik-baik saja meski terjadi pendarahan. Kata dokter, pasien harus banyak istirahat."


Humaira memejamkan matanya. Niatan untuk menutupi kehamilannya dari orang tua Syakir ternyata gagal. Humaira sudah berniat untuk menyembunyikan anak ini. Namun, ternyata perawat menceritakannya.


"Jadi beneran kalau disini…" kata Mama Ayna memberanikan diri menyentuh perut Humai dengan mata berkaca-kaca. "Ada calon cucuku yang berkembang?" 


"Iya, Tante. Humai hamil anak dari putra, Tante." 


Ucapan Humaira ternyata mampu membuat sosok perempuan yang sedang berjalan ke arah mereka membelalakkan matanya. Bahkan gadis itu menatap tak percaya ke arah tiga orang yang ada di depannya. 


"Mama, Papa, Humai…" panggilnya dengan pelan yang membuat tiga orang itu menoleh.


Jantung ketiganya berhenti seakan berdetak. Apalagi Mama Ayna yang merasa tubuhnya tegang bukan main.


"Giska, Putriku." 


~Bersambung


Hayoloh gimana reaksi Sefira setelah ini? 


Dia kecewa, marah atau bakalan lebih milih sahabat daripada keluarga?

__ADS_1


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah..Biar author semangat ngetiknya. Oh ya guys, pokok aku update dua bab perhari. Jam 09.00 sama jam 18.00 oke.


__ADS_2