
...Mungkin jalan cerita cinta yang ku inginkan berbeda dari yang lain. Aku harus melewati banyak kesedihan sebelum bisa meraihnya....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Akhirnya Syakir menarik tangannya secara perlahan. Hatinya merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan. Sebuah perasaan yang membuat dirinya seperti tersambung dengan anak yang ada dalam perut Humai.
Sebuah ikatan batin yang sepertinya sudah ada di antara keduanya. Dia mulai merasa bimbang. Entah kenapa saat perut itu bergerak, Syakir ingin menangis. Dia bahkan merasa matanya sejak tadi berkaca-kaca jika ia tak bisa menjaga emosinya.Â
"Aku mau keluar!" kata Syakir sebelum dirinya menangis disana.Â
Dia tak mau memperlihatkan ekspresinya di depan Sefira dan Humai. Dia tak mau adik dan istrinya melihat dia yang merasakan sesuatu yang berbeda setelah merasakan pergerakan anak tersebut.Â
Hingga sepeninggal Syakir. Humai menatap Sefira dengan air mata yang menetes. Dia memegang tangan adik iparnya itu dan menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih sudah mewujudkan keinginan anakku sejak lama, Fir. Terima kasih banyak," kata Humai yang membuat hati Sefira tercubit.
Jujur sebenarnya dia sendiri tak tahu jika Humai mengidam itu sejak lama. Namun, inisiatifnya sendiri yang tahu kakaknya tak pernah menyentuh calon anaknya. Membuat Sefira sengaja melakukan itu karena ia yakin akan ada ikatan batin antara anak dan ayah yang terjalin.Â
"Maafkan aku yang baru mewujudkannya sekarang, Mai," kata Sefira dengan rasa bersalah yang tinggi.
Seharusnya masa kehamilan adalah masa dimana seorang istri mendapatkan curahan kasih sayang dari suami yang begitu banyak. Waktu dimana istri banyak dimanja oleh suami. Namun, ternyata semua itu tak dapat dirasakan oleh Humai.
Kehamilannya tak membuat Syakir berubah. Kehamilannya bukannya dapat bermanja dan dekat ternyata tetap tak mengetukkan hati Syakir. Pria itu masih batu dan keras serta belum bisa menerima takdir jika mereka telah menikah dan ada anak di antara keduanya.Â
"Jangan merasa bersalah, Fir. Kau sudah membantuku banyak hal. Kau juga sudah menyelamatkan kami berdua. Kami sayang kamu, Tante Sefira," ucap Humai khas anak kecil yang membuat Sefira menangis.
Dia memeluk sahabatnya sebentar sebelum para perawat masuk untuk mendorong ranjang pasien Humai keluar. Syakir juga meminta adiknya naik ke kursi roda jika ingin mengikuti perawat yang mengantarkan Humai ke kamarnya.Â
Tak ada pembicaraan apapun di antara kakak dan adik itu. Namun, Sefira bisa melihat mata Syakir yang memerah dan menjadi tanda bahwa pria itu habis menangis.Â
"Jangan mengelak dari sebuah kenyataan, Kak. Jika kau sudah terlambat, maka menyesalinya pun tak ada artinya," ucap Sefira tanpa menatap wajah kakaknya.
Akhirnya Humai dimasukkan ke ruangan VIP atas perintah Sefira. Dia akan menelpon mamanya karena yakin jika Mama Ayna pasti mencari kabarnya.
Sefira masih ingat belum memberikan kabar pada mamanya. Hingga dia akhirnya menyodorkan tangannya dan membuat Syakir bingung.
"Pinjam ponsel, Kakak. Giska mau hubungi Mama," katanya yang membuat Syakir lekas meraih benda pipih miliknya dan menyerahkan pada Sefira.
Gadis muda itu membawa ponsel itu mendekati ranjang Humai. Sepasang sahabat itu saling menatap ponsel milik Syakir.
"Mama kemana yah?" tanya Sefira menatap Humai yang sama menunggu.
__ADS_1
Sampai panggilan kelima tak ada jawaban dari ponsel mamanya. Bahkan hanya suara operator yang sejak tadi terdengar.
"Ponsel Mama mati, Fir," kata Humai yang membuat Sefira mengangguk.
"Tumben sekali Mama matikan ponselnya. Apa dia sibuk?"Â
Humaira menggeleng. Akhirnya Sefira tak memaksa untuk menghubungi mamanya terus. Dia berpikir mungkin mamanya sedang sibuk dan ponselnya di cas hingga tak bisa dihubungi.
"Kamu istirahat saja, Fir. Aku gapapa sendirian disini," kata Humai yang melihat jika sahabatnya itu ikut terluka.Â
Kepala Sefira menggeleng. "Aku malahan diizinkan pulang tapi aku gak mau. Aku mau jagain kamu sama ponakanku disini."Â
"Tapi…"Â
"Aku janji bakalan istirahat kok. Itu ada ranjang juga kosong, 'kan? Aku akan tidur di sana," kata Sefira yang membuat Humai tak memaksa lagi.
Akhirnya malam itu, Sefira dan Syakir yang menjaga Humai. Meski Syakir hanya diam di sofa yang disediakan untuk keluarga. Namun, hal itu sudah cukup membuat Humai bahagia.
...🌴🌴🌴...
Keesokan harinya.
Hari mulai beranjak siang. Matahari terlihat begitu terik dari jendela rumah sakit. Seorang pria melihat ke arah ranjang pasien dimana Sefira dan Humaira berada. Dua wanita itu tengah terlelap dalam tidurnya dan membuat Syakir bisa keluar sebentar.
Tak mau membuat kekasihnya sendirian. Dia meminta Adam yang menjaganya.Â
"Dam!"Â
"Tuan," sahut Adam sambil beranjak berdiri.Â
"Kenapa kamu disini?" tanya Syakir melihat Adam duduk di ruang tunggu tepat di depan ruangan yang ia yakini adalah ruang rawat Rachel.
"Saya baru saja keluar, Tuan. Di dalam ada perawat yang membantu mengganti pakaian Nona Rachel," ucap Adam yang bersamaan dengan keluarnya dua perawat perempuan dari sana.Â
"Baiklah kau boleh pergi. Istirahatlah, Dam! Jika aku membutuhkanmu, aku akan menghubungimu."Â
"Baik," sahut Adam sambil menunduk hormat.
Setelah mengatakan itu, Syakir lekas memasuki ruangan Rachel. Suara pintu yang terbuka membuat Rachel lekas menoleh.
"Sayang!" pekik Rachel dengan wajah bahagia.
Dia lekas memeluk tubuh Syakir dengan erat. Mengabaikan sakit di kedua kaki dan wajahnya, dia hanya ingin mendapatkan pelukan hangat.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Rachel yang melepaskan pelukannya.
Dia melihat Syakir hanya diam tak membalas pelukan hangatnya. Rachel menatap Syakir yang masih diam.
"Kau selingkuh dariku?" tanya Syakir tanpa basa basi.
Perkataan Syakir membuat jantung Rachel seakan berhenti berdetak. Wajah wanita itu tegang menatap Syakir yang ternyata sedang menatapnya juga.
"Apa maksudmu, Sayang?"Â
"Jangan membohongiku, Rachel! Aku tahu kau berselingkuh dariku, 'kan?" seru Syakir dengan menatap Rachel tajam.
"Jangan memfitnahku! Aku tak pernah berselingkuh darimu!"Â
"Lalu baju milik siapa di kamar sebelah, hah? Disana aku menemukan lingerie yang aku belikan dan kaos serta ****** ***** pria. Kau tak bisa mengelak?"Â
"Kau mengatakan aku selingkuh karena menemukan baju itu?" ujar Rachel dengan wajah yang ia buat setenang mungkin. "Apa kau lupa jika sahabatku dan kekasihnya sering menginap di apartemen. Apa kau lupa setiap aku mengabarimu dan mengatakan ada mereka di apartemenku?"Â
Rachel adalah pemain handal. Dia bisa menutupi kepanikan dalam dirinya dengan santai.Â
"Oh aku tahu. Kau memang selalu melupakan aku. Aku sadar aku tak spesial denganmu!" ucap Rachel dengan menangis. "Aku sakit dan kecelakaan saja. Bukannya memeluk dan memberikan semangat. Kau malah menuduhku!"Â
Ekspresi Rachel yang seperti ini membuat Syakir merasa bersalah. Dia merasa telah menuduh Rachel hanya karena cemburu butanya.
"Maafkan aku, Sayang. Aku sudah menuduhmu," kata Syakir dengan mendekati ranjang pasien.
"Aku hanya cemburu. Aku tak mau kehilanganmu," ujar Syakir memegang tangan Rachel dengan perasaan bersalah.Â
"Aku tak suka kau menuduhku!" kata Rachel yang membuat Syakir mengangguk.Â
"Maaf," kata Syakir lalu duduk di atas ranjang.
"Aku memaafkanmu jika kau menciumku," rengek Rachel yang membuat Syakir tersenyum.
Wajah keduanya mulai berdekatan. Dengan sekali gerakan, Syakir mulai menyesap bibir kekasihnya itu. Ciuman keduanya begitu mesra hingga tanpa mereka sadari, pintu ruang rawat Rachel terbuka dan membuat keempat orang yang baru saja masuk di sana dibuat terkejut dengan aksi keduanya.Â
"Syakir!"Â
~Bersambung
Hayo siapa mereka? Lalala dibuat penasaran lagi deh hehe.
Ingat next bab itu boom pecah!
__ADS_1