
...Percayalah semesta akan mulai menyatu ketika restu kedua orang tua sudah didapatkan....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Perjalanan ke rumah Humaira akhirnya berakhir. Syakir mulai memasukkan mobilnya ke sebuah rumah yang memiliki pagar besar dengan pilar rumah yang besar juga.
Humaira menatap rumah di depannya ini tanpa kedip. Untuk pertama kalinya dia melihat bangunan seindah ini. Rumah mewah dan besar yang begitu menakjubkan.
Hingga ingatan dimana papa dan mamanya bercerita tentang masa kecilnya disini mulai ia bayangkan. Rumah besar yang menjadi tempat lahirnya dia di dunia.Â
"Ini beneran rumah Papa, Kak eh…" Humaira menutup mulutnya.
Dia nyengir kuda saat menyadari jika panggilannya kembali. Matanya menatap ke arah Syakir yang tengah melotot ke arahnya.Â
"Hehehe," ujar Humai dengan terkekeh.Â
Dia melingkarkan tangannya ke lengan Syakir dan menampilkan ekspresi yang sangat menggemaskan.Â
"Sayang, beneran ini rumah Papa?"Â
Wajah Syakir yang cemberut perlahan berubah. Pria itu tersenyum lebar dan melingkarkan tangannya di bahu Humai. Meski mereka masih ada di dalam mobil. Namun, pria itu pandai mencari peluang.Â
"Ya. Ini rumah masa kecilmu," jawab Syakir yang membuat Humai menatap ke depan.
Dia meneliti tempat itu dengan begitu lekat. Pilar besar yang begitu megah membuat rumah itu terlihat begitu kokoh. Kemudian jangan lupakan taman bunga dan taman bermain yang ada di samping rumah besar itu membuat perhatian Humai tertarik.
Tak lama pintu besar itu terbuka dan muncullah sosok papanya. Hal itu tentu membuat Humai dengan pelan melepas rangkulan mantan suaminya. Dia kemudian keluar dan menatap papanya yang tersenyum ke arahnya.
"Selamat datang di rumah masa kecilmu, Nak," ujar Papa Hermansyah yang membuat perasaan Humai tak menentu.
Dia merasa dejavu. Entahlah, hatinya merasa ketenangan di rumah ini. Bahkan dia merasa suasana rumah ini sangat familiar dengannya.
"Ayo masuk!" ajak Papa Hermansyah setelah Syakir menyusul Humaira.
Papa Hermansyah menggandeng putrinya dengan perasaan bahagia. Akhirnya dia bisa mengajak putri tunggalnya kembali ke rumah. Rumah yang menjadi saksi di mana Humai kecil berkembang dengan sangat pesat.
Suasana dingin di dalam rumah mulai terasa. Humaira tanpa sadar berjalan lebih masuk. Dia menatap suasana ruang tamu yang dilengkapi furniture mahal menghiasinya.Â
"Suasana rumah ini begitu menenangkan," gumam Humai dalam hatinya.
__ADS_1
Dia berjalan ke arah meja nakas yang berisi beberapa pigura disana. Humai, ibu satu anak itu melangkah mendekati meja itu. Dia mengambil salah satu pigura disana dan melihat sosok wanita yang sangat ia kenal.Â
Meski wajahnya masih mungil. Dia sangat tahu jika foto itu adalah foto Rachel kecil. Rachel yang masih mungil dan begitu polos terlihat menggemaskan.Â
"Sayang," panggil Syakir yang membuat Humaira menoleh.
Kedua mata wanita itu berkaca-kaca. Entahlah meski masa lalu Rachel padanya sangat kelam dan jahat. Namun, Humai merasa hidup Rachel sangat jauh berbeda dengan dirinya.
"Jangan melihatnya jika itu membuatmu sedih," kata Syakir lalu mengambil pigura itu lalu diletakkan di tempatnya semula.Â
"Tapi kamu juga memiliki kenangan dengannya," ujar Humai skakmat yang membuat Syakir tersenyum.
Pria itu tak mengelak. Mau menutup semua kebenaran pun percuma. Humai adalah saksi utama yang melihat bagaimana dirinya menjadi kaum bucin dari Rachel. Bagaimana pria itu yang sangat setia pada seorang perempuan seperti Rachel.Â
"Dia memang pernah menjadi istimewa di hatiku, Sayang," kata Syakir dengan menatap Humai penuh kejujuran. "Tapi sekarang, disini."Â
Syakir membawa tangan Humai di dadanya. Dia ingin mantan istrinya itu merasakan detak jantungnya yang terus berdegup kencang jika berada di sekitar Humai.Â
"Hanya ada kamu dan putra kita."Â
Humaira tersenyum. Dia tak merasakan cemburu akan Rachel yang pernah ada dalam hidup Syakir. Dia tak pernah membenci wanita itu karena Humai sadar setiap masa lalu membuat kita menjadi sosok yang lebih baik sekarang.Â
"Aku percaya. Aku percaya kalau kamu mencintaiku dan putra kita," kata Humai dengan percaya diri.
Sebagai seorang ayah dia tahu apa yang tengah dirasakan putrinya itu. Sebagai seorang pria yang memiliki istri dan anak, dia bisa melihat apa yang terjadi di antara putrinya dengan Syakir.
Hingga akhirnya, dengan sengaja Papa Hermansyah berdehem. Kemudian pria paruh baya itu duduk dengan tenang di sofa sambil pura-pura tak melihat ke arah mereka.Â
"Papa…" lirih Humai yang malu karena melupakan keberadaan papanya.
Dia lekas berjalan ke arah papanya dan duduk disampingnya.Â
"Masih ingat sama Papa?" tanya Papa Hermansyah melirik anaknya sejenak.Â
Humai tersenyum malu. Dia tahu jika papanya ini tengah menggodanya.
"Gak ada yang bisa menggantikan posisi, Papa. Papa masih yang terbaik untuk Humai," ujarnya yang membuat Papa Hermansyah menepuk punggung putrinya itu.Â
Tak lama Syakir menyusul duduk di sofa depan Papa Hermansyah. Dia melihat hubungan ayah dan anak itu begitu lekat. Meski jarak pernah memisahkan keduanya. Namun, yang namanya darah tetaplah sama.Â
Sejauh apapun mereka dipisahkan. Hubungan keduanya tak akan terputus. Pasti ada sesuatu yang mengikat dan membuat keduanya saling terhubung antara satu dengan yang lain.Â
__ADS_1
"Apa kamu mendengarnya, Syakir. Aku masih menjadi yang terbaik untuk putriku," ujar Papa Hermansyah yang membuat Syakir tersenyum.
"Om memang ayah terbaik tapi saya…" jedanya yang membuat pandangan Humai dan Papa Hermansyah terpusat padanya. "Adalah pemenang hati Humai. Putri tunggal, Om."Â
Humaira membulatkan matanya tak percaya. Dia menatap ke arah Syakir yang dengan entengnya mengatakan itu.
"Apa itu kode bahwa kamu adalah pria yang dicintai putriku setelah aku yang merupakan papanya?"Â
"Ya, Om."Â
Papa Hermansyah mengangguk. Pria paruh baya itu menatap Syakir dengan pandangan lekat.Â
"Kalau kamu sudah tahu hal itu. Apa balasan kamu yang bisa kamu berikan pada putriku untuk hatinya yang ada namamu?" tanya Papa Hermansyah dengan serius.Â
Dia benar-benar tak bercanda sekarang. Pria paruh baya itu menatap Syakir dengan serius.
"Aku akan menikahinya, Om. Aku akan menghalalkan Humai lagi," kata Syakir dengan lantang.Â
Dia tak ragu untuk mengatakan itu. Dia juga tak akan mundur lagi. Dirinya serius untuk kembali membina rumah tangga dengan Humai. Dia ingin membangun hubungan yang dulu dihancurkan dirinya sendiri.Â
"Restui kami, Om. Saya ingin menjadikan Humai sebagai istri saya. Sekarang ataupun nanti, saya berjanji akan setia dan tak akan melukai Humai kembali," kata Syakir dengan begitu brutal.
Sepertinya pria itu tak ada lagi rasa takut atau sungkan. Syakir benar-benar mengatakan semuanya tanpa malu. Dia begitu ingin menjadikan Humai istrinya.Â
"Kumohon, Om. Aku tak bisa membuktikan apapun sekarang tapi aku bisa buktikan jika semua janjiku akan tercapai setelah aku menghalalkan putri Om satu-satunya."Â
Papa Hermansyah bisa melihat keseriusan dalam mata Syakir. Pria paruh baya itu bisa merasakan bahwa Syakir benar-benar serius akan ucapannya.Â
"Humai bagaimana?" tanya Papa Hermansyah menatap putrinya.
Dia tak mau egois. Dia ingin melihat tanggapan putrinya itu.
"Humai mau, Pa. Humai mau kembali dengan Kak Syakir. Membina rumah tangga dan memberikan kehidupan yang semestinya untuk Jay."Â
Akhirnya Papa Hermansyah menemukan titik terang. Ya dia disini sebagai orang tua tapi semua jawaban ada pada putrinya.
"Kamu mendengar jawaban putri Om, kan?" kata Papa Hermansyah pada Syakir.Â
"Jadi, Om?"Â
"Ya. Om merestui kalian berdua."Â
__ADS_1
~Bersambung
Restu Papa udah dikantongi woy lah! aghhh. OTW halal ini mah.