Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Kedatangan Rachel


__ADS_3

...Akhirnya setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Setiap kebahagiaan pasti ada kesedihan. Seperti itulah kehidupan setiap manusia. ...


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Perpisahan itu diakhiri dengan sebuah lambaian tangan. Dengan kesedihan yang mendalam, Humaira menahan air matanya agar tak terus menetes. Dia tak mau dirundung rasa sedih karena kehilangan sosok yang membuatnya merasa disayangi seperti ibu dan anak. 


"Jika kau ingin menangis disini, teruskan saja! Aku akan pulang," seru Syakir sambil berbalik. 


Akhirnya Humai lekas menyusul suaminya. Dia mengejar langkah Syakir hingga keduanya mulai memasuki kendaraan roda empat milik suaminya itu. Dengan kasar, Syakir mulai melajukan mobilnya kembali. 


Dia merasa bebas sekaligus muak. Akhirnya drama panjang selama sahabatnya tinggal di rumahnya berakhir. Tak akan ada lagi caper yang wanita itu lakukan. Tak ada lagi yang mampu membuatnya merasa tertampar dengan perkataan dan nasehat yang Bara dan Almeera lakukan. 


Pria itu sebenarnya tahu akan setiap nasehat yang diberikan kepadanya. Namun, lagi-lagi rasa benci kembali hadir dan membuatnya sangat ingin menjauh dan menghancurkan Humaira. 


Saat keduanya sampai di rumah. Syakir keluar lebih dulu dari mobil. Dia membanting pintu mobil dan membuat Humai hanya bisa menarik nafasnya begitu dalam sambil mengusap dadanya. 


Ia tak boleh tertekan. Dia harus mengingat setiap perkataan dari Almeera. Bahwa ada anak yang harus ia jaga perasaannya. 


"Gak papa, Sayang. Papa gak marah sama kita kok," kata Humaira berusaha tetap tenang. 


Dia segera keluar dari dalam mobil dan berjalan memasuki rumahnya. 


"Siapkan aku makanan! Aku lapar," kata Syakir saat Humai baru saja menginjakkan kakinya ke dalam rumah. 


"Iya, Kak. Aku ganti baju dulu." 


"Aku lapar dan kau harus memasak sekarang juga!" serunya dengan marah. 


Tak mau terjadi perdebatan panjang. Akhirnya Humaira menurut. Dia segera mengangguk dan berjalan ke arah dapur. Bagaimanapun sikap Syakir kepadanya, apa yang menjadi titahnya adalah kewajiban yang harus dipatuhi selagi itu dalam kebaikan. 


Humaira hanya melepas cardigan yang ia pakai. Lalu dengan lincah wanita itu mulai mengeluarkan bahan masakan dari kulkas. Sop ayam dengan perkedel dan sambal pasti menjadi menu masakan yang cocok untuk saat ini. 


Humaira juga harus memperhatikan pola makanan bergizi untuk dirinya dan sang buah hati. Dia tak boleh teledor lagi. Dia juga harus menjaga anak ini baik-baik. 


Benar yang dikatakan oleh Almeera kepadanya. Di luar sana banyak pasangan suami istri yang menunggu kehadiran calon bayi di antara mereka. Lalu kenapa dia yang diberikan kepercayaan dengan mudah oleh Tuhan harus menyia-nyiakan. 


Humai tak mau menyesal. Bagaimanapun yang terjadi, dia akan terus mempertahankan anak ini. 


"Cepetan!" teriak Syakir saat Humai hampir satu jam berkutat di dapur. 


Bagaimanapun Humai memasak butuh perjuangan. Beberapa bau menu masakan yang tak disukai anaknya membuat ia mual. Namun, demi Syakir, dia rela menahannya agar suaminya bisa makan. 


"Lama banget sih!" seru Syakir saat Humai mulai menata makanan di atas meja makan. 

__ADS_1


"Maaf, Kak," kata Humai dengan menunduk takut. "Humai masih harus bikin dengan… " 


"Jangan banyak bicara dan cepat hidangkan! " 


Akhirnya Humai lekas menata semua hasil makanannya. Setelah itu dia segera keluar dari ruang makan karena ingat nasehat Syakir yang tak mau melihat wajahnya. 


Ibu hamil ini memasuki kamar dan mengganti pakaiannya menjadi daster rumahan. Dia tak mau gerakannya dibatasi oleh pakaian yang ia gunakan tadi. 


Tapi baru saja ia selesai mengganti pakaian, suara bel rumah berbunyi di iringi teriakan suara Syakir, membuatnya lekas keluar dari dalam kamar. 


"Buka pintu, Mai! " teriak Syakir yang membuat Humai mengangguk walau dia tahu Syakir tak akan melihatnya. 


"Iya, Kak." 


Humai bergegas menuju ke arah pintu utama. Dia mengerutkan keningnya berusaha menebak siapa yang datang. Setau dirinya yang tau rumahnya ini hanya sahabatnya, Sefira. 


"Ya sebentar! " sahut Humai saat bela itu berbunyi tanpa henti. 


Dia segera membuka kunci pintu dan membukanya. 


"Si… "


Mata Humai terbelalak tak percaya melihat sosok yang hadir di rumahnya. Wanita yang menjadi kesayangan dan kekasih suaminya itu berdiri tanpa malu di depan rumahnya. 


"Rachel kau…" 


"Pacarku mana?" seru Rachel dengan berteriak. 


Humai bisa melihat wajah Rachel yang memerah menahan amarah.


"Kak Syakir…"


"Siapa yang…" Syakir terkejut. Bahkan sampai perkataan yang hendak dia lontarkan seakan tertelan kembali dalam mulutnya. 


"Sayang!" pekik Rachel dengan manja. 


"Kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Syakir dengan bingung. 


Tanpa malu Rachel memeluk kekasihnya di depan Humai. Bahkan wanita itu dengan berani mencium pipi Syakir dan membuat Humaira menunduk. 


"Aku merindukanmu. Kau terus menghilang beberapa hari ini. Kenapa?" tanya Rachel dengan beruntut. 


Humai hanya bisa menahan rasa sakit dalam hatinya. Hati istri mana yang tak cemburu melihat suaminya dipeluk dan dicium oleh wanita lain. 


Seburuk-buruknya sikap Syakir. Sejahat-jahatnya pria itu, bagaimanapun dia adalah suaminya. Humai masih berhak memiliki perasaan dan mencintai Syakir dengan tulus. Apapun balasannya dia juga sudah siap menerimanya . 

__ADS_1


"Sayang!" rengek Rachel saat tak mendapatkan jawaban dari bibir Syakir. 


Syakir memutus pandangannya yang sejak tadi mengarah pada Humai. Dia menatap ke arah sang kekasih dan mengusap punggungnya. 


"Maaf aku tak menghubungi dan mengunjungimu karena ada sahabatku disini," kata Syakir dengan jujur. 


Syakir menyadari selama Bara dan Almeera tinggal dirumahnya. Mereka tak pernah berbalas pesan. Bahkan menelfon atau saling bertemu saja tak pernah. Hal itu pasti membuat kekasihnya ini marah besar. 


"Kau harus mengganti waktumu denganku selama beberapa hari. Harus!" kata Rachel tanpa malu. 


"Iya. Aku akan bersamamu selama beberapa hari ke depan," kata Syakir dengan lembut. 


Ya Tuhan, kapan kelembutan itu bisa kurasakan? Batin Humai menjerit tertahan. 


Tak kuat menahan segalanya. Akhirnya Humai lekas masuk ke dalam rumahnya. Mengabaikan pasangan kekasih yang saling memeluk satu dengan yang lain dan dia segera mengunci dirinya di dalam kamar. 


Wanita yang sedang berbadan dua itu menghapus air matanya yang tanpa permisi mengalir. Dia benar-benar merasa cemburu dan iri. Iri melihat bagaimana Rachel, wanita yang selalu membullynya mendapatkan cinta kasih besar dari suaminya. 


Cemburu melihat bagaimana suaminya yang bucin dan menurut di setiap permintaan Rachel tanpa menolak sedikitpun. Dia ingin diperlakukan seperti itu. Dia juga ingin mendapatkan kasih sayang yang sama. Namun, kembali lagi. Itu hanya sebuah mimpi manis yang hanya bisa dia angan tapi tak bisa dia rasakan. 


Sakit? Tentu saja tapi dia berusaha menerima. 


Sedangkan di luar, tanpa Syakir dan Humai tahu. Rachel tersenyum miring dalam pelukan kekasihnya. Dia memang sengaja datang kesini, mencari tahu rumah reyot musuhnya itu untuk bertemu dengan Syakir. 


Dia ingin menunjukkan pada Humai bahwa Syakir hanya miliknya. Miliknya seutuhnya. 


"Ayo kita keluar!" ajak Syakir saat Rachel mulai tenang. 


Pelukan itu terlepas. Kepala Rachel menggeleng dan membuat Syakir kebingungan. 


"Kenapa?" 


"Aku mau sama kamu terus," ujar Rachel tak mau dibantah. 


"Iya kamu bakalan sama aku terus. Ayo pulang!" 


"Aku gak mau pulang!" seru Humai dengan kekeh. 


"Terus kamu mau tinggal dimana?" 


"Disini. Aku mau disini sama kamu!" seru Rachel dengan keras dan soro mata tak mau dibantah. 


~Bersambung


Tahan emosi ya guys. Aku juga rasanya pen marah haha.

__ADS_1


__ADS_2