Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Persiapan Lamaran


__ADS_3

...Orang tua adalah senjata utama penguat seorang anak. Mereka bisa menjadi support utama atau penghancur mental anak yang utama. Maka dari itu sebelum kalian memutuskan memiliki anak. Pastikan bahwa hati kalian dan sikap kalian telah siap. Anak adalah tanggung jawab dan pelajaran terbesar dan terlama dalam hidup seorang orang tua. ...


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Keluarga yang utuh kita terlihat begitu bahagia. Pagi yang indah sangat terasa di sebuah rumah besar dengan keluarga yang lengkap. Kebersamaan yang sejak dulu sangat mereka inginkan akhirnya kini bisa mereka rasakan dengan sempurna.


Rumah masa kecil penuh kenangan dan luka. Rumah yang menjadi saksi bagaimana putri mereka tumbuh besar kini akhirnya ramai. Mereka saat ini tengah berada di meja makan.


Papa Hermansyah dan Jay menunggu Mama Emili dan Humai yang tengah menyiapkan sarapan untuk mereka. Jangan lupakan, suara celotehan Jay yang tengah melakukan video call dengan omnya melalui layar ponsel itu juga menjadi suatu kebahagiaan disana.


Ya, Jay meminta menghubungi Reyn. Dia mengatakan ingin menelponnya karena sudah sangat merindukannya.


Pelajaran yang semakin ketat. Praktek yang semakin sering membuat Reyn sudah dihubungi.


"Om kapan pulang? " Kata Jay menatap Reyn yang tengah menyiapkan makanan untuknya.


"Nanti setelah pendidikan Om selesai, " Jawab Reyn yang membuat bibir Jay mengerucut.


"Lama sekali sih, Om! " Katanya dengan kesal. "Om selalu bilang nanti terus."


Papa Hermansyah yang memangku cucunya itu hanya terkekeh. Pria paruh baya itu memang sedang duduk dengan Jay ada di pangkuannya. Dia sangat merasa gemas dengan tingkah cucu pertamanya ini.


"Iya iya. Maafkan Om yah. Om janji bakalan cepat pulang, " Kata Reyn tak kalah gemas. "Atau Jay sana yang kesini. Bagaimana? "


Mata Jay membulat sempurna. Dia yang masih umur 3 tahun kurang sudah paham maksud Jay. Dirinya diminta menyusul dan tandanya dia pergi ke tempat omnya berada.


"Jay yang kesana? " Tanya Jay dengan serius.


"Ya. Jay yang kesini sama Ibu."


"Itu jauh, Om. Jay naik apa? " Tanya Jay dengan polosnya.


"Naik pesawat dong, " Jawab Reyn dengan cepat. "Nanti Om jemput di bandara. "


"Emang Ibu mau? "


Kepala Reyn mengangguk.


"Ibu ada tugas kesini. Jay bilang aja mau ikut Ibu kesini, " Kata Reyn memanasi.


"Reyn, kau! " Ancam Humai yang baru saja datang dan mendengar semua yang dikatakan oleh Reyn.

__ADS_1


Jarak meja makan dan dapur yang dekat. Serta suara telepon yang di loudspeaker tentu membuat suara Reyn terdengar di sana.


"Ajaklah Jay, Kak. Apa kau ingin kesini bulan madu dan tak mengajak keponakan lucuku? " Goda Reyn dengan mengangkat alisnya ke atas.


Ya anak muda yang sudah dianggap anak kandung Papa Hermansyah. Anak yang semua berkasnya telah diurus oleh Papa Hermansyah dan diangkat anak olehnya. Tentu membuat hidup mereka semakin bahagia.


Pipi Humai bersemu merah saat ternyata adiknya menebak dengan cepat. Namun, jujur Humai belum memikirkan hal itu. Apakah keduanya akan terus bersama atau berpisah sebentar meski sudah menikah.


"Ajaklah Jay, Kak. Nanti aku izin keluar untuk menemuimu dan tinggal di hotel yang kamu tinggali. Aku rindu keponakanku itu. "


Humai mampu melihatnya. Dari tatapan mata adik yang sangat dia sayangi. Anak muda yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Membuat Humai tak pernah membedakan apapun.


Kenyataan yang keduanya dapatkan tak merubah apapun. Mereka masih tetap sama. Saling menyayangi satu dengan yang lain. Saling support di antara keduanya dan juga saling bercerita ketika ada kesulitan antara satu dengan yang lain.


"Ya. Aku akan membahasnya nanti. "


Akhirnya kedatangan Mama Emili membuat Papa Hermansyah mendudukkan cucunya sendiri. Lalu Humai duduk di dekat Jay dan kepala keluarga duduk di tengah.


"Jay sudah siap, Sayang? " Tanya Mama Emili penuh perhatian.


Kedua paruh baya itu tak ada perbedaan apapun dalam bersikap. Mereka sama-sama bagi rata antara Reyn dan Humai. Keduanya sangat menyayangi keduanya dengan tulus.


Apalagi Reyn, Mama Emili sering menghubungi anak keduanya itu. Dia tak peduli jika Reyn bukan dari kandungannya. Dia menyayangi anak itu dengan tulus dan ingin melihatnya sukses di masa depan dengan keputusannya sendiri.


"Sudah, Ma. Ini, " Ujar Reyn menunjuk mangkok yang tadi dia siapkan.


"Makan ramen lagi? " Tanya Mama Emili geleng-geleng kepala.


Reyn terkekeh. Dia memang sangat menyukai makanan ini selama ada di Korea. Menurutnya makan ramen hampir setiap waktu tak membuatnya bosan.


"Hehe iya, Ma."


"Kalau Mama datang kesana. Kamu harus makan masakan Mama oke. Jangan ramen terus! "


"Siap, Bos! "


Akhirnya sarapan pagi itu terasa semakin suka cita. Kebersamaan, canda tawa, kehangatan sangat amat terasa. Semua orang tentu terlihat bahagia dan tak hentinya tersenyum lebar. Seakan mereka sangat amat bahagia dengan suasana yang seperti ini.


Suasana yang sudah lama mereka inginkan. Suasana yang dulu diinginkan Papa Hermansyah akhirnya mampu mereka rasakan lagi.


"Nanti Mama sama Papa ke rumah sakit? "


Kepala keduanya menggeleng.

__ADS_1


"Ibu mertua kamu kasih kabar ke Mama. Kalau mereka akan datang dan melamar kamu secara resmi. "


"Tapi Humai, 'kan… "


"Hanya meminta saja, Nak. Mama tahu kamu gak mau acara lamaran besar, 'kan? " Kata Mama Emili dengan tersenyum.


"Iya, Ma. "


"Iya. Nanti mertuamu hanya datang bersama keluarga inti saja sambil membicarakan persiapan pernikahan kalian. "


...🌴🌴🌴...


Sedangkan di sebuah rumah yang lain. Terlihat seorang ibu tengah sibuk menyiapkan apa saja yang akan dia bawa. Wajahnya menatap kertas yang saat ini ia corat coret untuk membahas apa yang akan mereka bawa ke rumah besan.


"Udah, Ma. Humai minta kecil-kecilan loh. Tapi bawaan Mama, " Kata Syakir geleng-geleng kepala.


Dia ingat calon istrinya tak mau acara yang besar. Hanya acara temu keluarga dan membahas pernikahan mereka tanpa keramaian apapun.


"Mama tahu tapi Mama pengen bawain sesuatu buat Humai. "


"Ya tapi lihat catatan Mama. Buah, makan apa lagi ini kue tart. Itu banyak, Ma. "


Perkataan Syakir membuat tangan Mama Ayna berhenti menulis di kertas itu. Matanya berkaca-kaca saat putranya melarang.


Hal itu semakin membuat Syakir merasa bersalah. Akhirnya dengan pelan ayah satu itu duduk mendekat dan memeluk mamanya dari samping.


"Maafin Syakir, Ma. Syakir gak berniat bentak, Mama, " Ujar Syakir meminta maaf.


Jujur dia takut mamanya tersinggung karena ucapannya. Dia takut ucapannya menyakiti wanita yang sangat ia cintai itu.


"Baiklah. Mama boleh bawa apapun. Mama tulis aja semuanya. Syakir yakin Humai juga bahagia. "


"Beneran? " Tanya Mama Ayna menatap putranya tak percaya.


Mama Ayna hanya terlalu bahagia. Dia senang anaknya kembali berumah tangga dengan wanita yang sangat dia sayangi itu. Mama Ayna bersyukur putranya mau membangun rumah tangga lagi dengan wanita yang ia yakini bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk putranya dan cucunya itu.


"Iya. Apapun yang mau Mama bawa. Tulis aja tapi janji jangan sedih lagi okey? "


"Iya, Sayang. Makasih udah ngertiin Mama."


~Bersambung


Mama Ayna lagi seneng. Dulu kan dia gak ada lamaran hihi. Sekarang ibu dua anak itu bisa rasain buat ngelamar anak orang.

__ADS_1


__ADS_2