Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Reaksi Sefira


__ADS_3

...Memulai semuanya dengan kejujuran. Tak ada lagi hal yang disembunyikan adalah salah satu cara agar hubungan kita sehat di masa depan. ...


...~Sefira Giska Alhusyn. ...


...🌴🌴🌴...


Jeno pasrah akan apa yang terjadi. Matanya terpejam menunggu reaksi Sefira. Dia yakin wanitanya itu akan menangis dan marah kepadanya karena baru mengatakan ini padanya.


Dia yakin dan sudah siap akan apa yang terjadi padanya. Dia juga sudah menyiapkan diri untuk mengejar cintanya pada Sefira jika memang sesuatu akan terjadi disini. Namun, tanpa diduga. Perlahan sebuah tangan mengangkat kepalanya agar mendongak.


Dia sangat tahu ulah siapa ini. Dari lembutnya kulit ini, membuatnya mengerti siapa yang memintanya mendongak agar wajah mereka berhadapan.


"Buka matamu, Kak, " Pinta Sefira yang membuat Jeno membuka kedua matanya dengan pelan.


Tatapan keduanya beradu pandang. Sefira mengangkat tangan yang satunya lagi lalu menggeser duduknya agar lebih dekat lagi.


"Maafkan aku, Sayang. Aku tak berniat untuk tak jujur padamu. Aku… "


"Ust! " Sefira menggeleng.


Dia menutup bibir Jeno dengan telunjuk tangan kanannya. Ya Sefira tak mau mendengar alasan apapun dari calon suaminya ini.


"Sayang. Aku tau kamu kecewa sama aku… "


"Kak, " Sela Sefira meminta kekasihnya sekaligus calon suaminya itu untuk diam.


Sefira bisa melihat bagaimana wajah khawatir Humaira. Bagaimana wajah pria itu yang tegang menunggu jawabannya. Dengan pelan, Sefira mengusap rahang Jeno dengan pelan.


Dia tak mau semuanya berakhir berdebat. Dia juga bahagia karena Jeno mau mengaku kepadanya.


"Aku sudah tau semuanya, Kak, " Lirih Sefira yang membuat Jeno membelalakkan matanya.


Dia tak menyangka jika wanitanya sudah tahu lebih dulu. Pikirannya langsung tertuju pada Humai. Apa mahasiswanya itu yang mengatakan tentang perasaannya.


"Bukan Humai yang memberitahuku, " Ujar Sefira dengan santai.


"Lalu? " Tanya Jeno dengan kening berkerut.


"Jay, " Jawab Sefira dengan jujur.


Perempuan itu tiba-tiba memutar ingatannya. Saat itu dirinya dan Jay tengah bersantai di rumah Papa Hermansyah. Keduanya tengah duduk di depan layar televisi untuk bermain dengan permainan milik Jay.


Hingga tak lama, seekor kucing datang dan membuat Sefira mengerutkan keningnya.


"Kucing siapa ini, Boy? " Tanya Sefira dengan pelan.

__ADS_1


Dia tersenyum hangat pada kucing yang begitu lucu ini. Kulitnya yang bersih membuat Sefira meraih kucing itu dan diletakkan di antara kedua kakinya. Perempuan itu mengusap kepalanya dengan pelan.


"Kucingku, Ante, " Jawab Jay dengan jujur.


"Sejak kapan Jay pelihara kucing? "


Sefira sangat ingat betul terakhir kalinya dia datang ke Jakarta. Jay dan Humai belum memiliki kucing ini. Dia juga sangat tahu jika sahabatnya tak mungkin mengadopsi kucing secara cuma-cuma.


"Udah beberapa minggu yang lalu, Ante, " Sahutnya dengan santai.


"Ibu beli atau gimana? "


Kepala Jay menggeleng. Itu menjadi jawaban untuk Sefira jika benar kucing itu bukan hasil adopsi.


"Kucingnya dapet dikasih, " Jawab Jay dengan jujur.


"Dikasih siapa? " Tanya Sefira lagi dengan penasaran.


"Dikasih sama Om Jeno, Ante. "


Jantung Sefira berdegup kencang. Dia bahkan berkedip beberapa kali untuk memahami semuanya. Ada sedikit rasa cemburu dalam hatinya. Namun, dia ingin tahu lebih jauh. Hubungan apa yang sebenarnya terjadi antara Humai, Jay dan Jeno.


Jujur Sefira juga pernah berpikir tak mungkin dosen suka bermain dengan anak mahasiswanya sendiri. Tak mungkin dosen dan mahasiswanya tiba-tiba kenal dan dekat seperti ini.


"Emm Om Jeno sering kesini? " Tanya Sefira ingin mengorek informasi.


Kepala Jay mengangguk dengan polosnya. Bagaimanapun Sefira percaya jika jawaban anak kecil adalah jawaban paling jujur di dunia.


"Sering. Dulu bahkan sering ajak Ibu dan Jeno jalan-jalan, " Ujarnya bercerita. "Om Jeno juga pernah bilang sama Jay. Kalau dia minta deket sama Ibu. "


Ah Sefira mulai paham semuanya. Ya, dia mengambil benang merah diantara mereka. Hatinya tak lagi merasa cemburu. Dia juga mulai tahu semuanya dan perasaannya lega.


"Jadi?"


"Ya jadi aku tau tentang ini, Kak, " Jawab Sefira dengan pelan.


"Apa kamu cemburu, Sayang? Apa kamu marah padaku dan Humai. Apa kamu… "


Tanpa diduga, Sefira menarik kepala Jeno sampai akhirnya bibir keduanya saling bertemu. Sefira mencium bibir Jeno terlebih dahulu karena menurutnya prianya itu sangat amat cerewet.


Sejak tadi pria itu terlihat khawatir dan terus bertanya ini itu dan membuat Sefira yakin hanya tingkah ini yang mampu membuat Jeno diam


Sedangkan pria itu, terbelalak tak percaya. Dia menatap ke arah mata Sefira yang tengah menatapnya. Bibir keduanya masih saling mengecup sampai akhirnya Sefira melepaskannya terlebih dahulu dan mulai menggeser duduknya menjauh.


"Aku… " Kata Sefira dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

__ADS_1


Jujur ini adalah hal tergila yang dia lakukan. Mencium Jeno lebih dulu agar pria itu diam. Ah rasanya dia ingin menenggelamkan dirinya di Samudera. Wajahnya memerah menahan malu akan aksinya sendiri.


Tanpa diduga, Jeno, pria itu menarik lengan kekasihnya dan memeluk Sefira dengan erat. Dia benar-benar bahagia. Dia bahagia dan bersyukur akan tingkah dan pemikiran dewasa dari calon istrinya ini.


Sefira ternyata memiliki banyak wawasan dalam berpikir. Meski tingkah wanita itu selalu ceria, bahagia, petakilan. Namun, pikirannya yang sangat luas semakin membuat Jeno jatuh akan pesona wanitanya ini.


"Makasih, Sayang. Makasih sudah mau menerima masa laluku, " Lirih Jeno dengan tulus.


Sefira yang masih merasa terkejut akan tindakan dirinya dan Jeno hanya bisa diam mematung. Dia masih meresapi segalanya dengan tingkah gilanya tadi.


Sedangkan Jeno, saat pria itu tak mendapatkan balasan atas pelukannya, perlahan dia meregangkan pelukannya itu. Dia ingin melihat ekspresi wanitanya.


"Ada apa? "


"Aku malu, Kak, " Lirih Sefira yang membuat Jeno terkekeh.


Pria itu mengangkat dagu kekasihnya hingga tatapan keduanya saling beradu pandang.


"Untuk apa malu? Sebentar lagi kita akan menikah dan kamu… " Jeda Jeno sambil mendekatkan wajahnya di telinga Sefira. "Bisa menikmati bibirku kapan saja. "


"Ihh! " Sefira membulatkan matanya. Dia menepuk paha Jeno dengan spontan.


Ah rasanya pipinya semakin bersemu merah karena malu. Dia tak menyangka jika Jeno semakin membully dirinya seperti ini.


"Haha tapi bener loh, Sayang. Setelah kita menikah. Kamu bisa melakukan apapun padaku! " Goda Jeno semakin gencar yang membuat mata Sefira memutar.


"Itu sih maumu, Kak. Udah ah! Fira mau pergi! " Ujar Sefira dengan kesal.


Jujur dia memang tak pernah berpacaran. Tapi wanita itu tak sepolos itu juga. Dia juga paham apa yang dimaksud Jeno. Dia tau maksud terselubung dari perkataan calon suaminya itu.


Namun, Sefira tak mau berpikiran itu dulu. Dia segera beranjak berdiri dan melambaikan tangannya.


"Sayang! " Panggil Jeno dengan alis terangkat dan benar-benar menggoda.


"Diem. Jangan ngomong terus. Kalau pengen, tuh ada pohon. Cium aja pohon! "


Jeni terkekeh pelan. Dia memang gak ada niatan omes. Dirinya hanya sengaja menggoda kekasihnya itu hingga bayangan Sefira tak terlihat lagi.


Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi taman. Bibirnya tak henti tersenyum saat apa yang dia takutkan benar-benar tak terjadi. Dia sudah hampir takut. Takut jika Sefira meninggalkannya. Namun, ternyata pemikirannya tentang Sefira masih kurang luas.


"Terima kasih, Tuhan. Kau mendatangkan wanita yang benar-benar sangat mengerti aku dengan segala tingkah dan sikapnya yang bertolak belakang dengan diriku," Ujar Jeno dengan bibir tersenyum.


~Bersambung


Nah kalau gini kan plong yakan. Biar gak ada konflik lagi setelah ini haha. OTW nikah eh terus tamat eh hahhaa.

__ADS_1


__ADS_2