Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Putus?


__ADS_3

...Terkadang akan ada waktu dimana yang selalu mengalah merasa lelah karena tak pernah dihargai. Ada yang mengutamakan cinta perlahan sadar bahwa akal juga harus diutamakan untuk saling menyadari bahwa hubungan itu berjalan ketika satu dengan yang lain saling berjalan bersama. ...


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Entah kenapa Mama Ayna menjadi sedikit lebih lega saat putrinya ingin ikut menasehati kakaknya dan membuat Syakir bertanggung jawab. Tak ada alasan apapun lagi untuk putra pertamanya menolak. Hubungan keduanya sudah menghasilkan seorang anak di antara mereka. Baik Mama Ayna, Papa Haidar dan Sefira, mereka tak mau anak itu menjadi kurang kasih sayang. 


"Apa Mama sudah menghubungi Kakak?" tanya Sefira pada Ayna. 


"Belum. Mama takut mengganggu kakakmu bekerja," Sahut Mama Ayna dengan jujur. 


"Hubungi saja dia, Ma. Kak Syakir harus bertanggung jawab dan masalah ini harus selesai hari ini juga. Mereka harus cepat menikah sebelum perut Humaira membesar," ujar Sefira apa adanya. 


Dia menatap ke sekeliling kantin rumah sakit. Entah kenapa perasaan sakit dalam hatinya begitu terasa. Dia merasa telah tertipu orang perilaku kakaknya padanya. 


Dia pernah berpikir kakak kandungnya adalah cinta kedua setelah papanya. Sosok yang selalu menjaganya, menasehatinya dan mendukungnya. Namun, ternyata itu hanyalah topeng untuknya. 


Topeng untuk menutupi sikap yang sebenarnya. Menutupi sesuatu yang begitu besar menurutnya. Mengambil kehormatan seseorang bukan hal kecil. Itu sudah sangat-sangat melebihi hak seorang perempuan.


Apalagi dirinya tahu bagaimana cerita versi asli melalui bibir Humai. Dia sendiri yang tahu bagaimana sikap dan sifat Humaira. Sahabatnya bukan gadis penjilat, Humai bukan wanita matre. 


Jadi bila yang disalahkan Humaira dalam kasus ini, itu tak mungkin. Ini adalah jebakan dan Sefira yakin ada orang yang menjadi dalang utama di masalah ini. 


Dia harus tahu dan mencari tahu dengan kekuasaan keluarganya. 


"Baiklah. Mama akan menghubungi Kakakmu dan menyuruhnya datang kesini," kata Mama Ayna lalu lekas mengambil ponselnya.


"Giska mau kembali ke ruangan Humai dulu ya, Ma, Pa. Takut Humai merasa sendirian dan dia butuh sesuatu."


"Baiklah, Nak." 


Kedua paruh baya itu menatap kepergian putri mereka sampai punggung Giska tak terlihat. Kemudian mereka segera saling bertatapan dengan pandangan yang keduanya pahami. 


"Aku yakin Giska kecewa, Pa. Dia pasti merasa dibohongi oleh Syakir," kata Mama Ayna pelan dengan mengusap kedua matanya yang berkaca.


"Papa tahu. Kita lihat saja bagaimana sikap keduanya nanti. Papa yakin, Giska lebih dewasa daripada Syakir."

__ADS_1


Mama Ayna mengangguk. Selama ini keduanya juga sangat tahu bagaimana Giska di rumah. Meski dia terkadang manja dan seperti anak kecil di hadapan ketiganya. Tapi Giska adalah sosok yang berbeda ketika sendirian di luar.


Dia adalah sosok yang cuek dan berani. Meski terkadang ketika bersama Humai dan mereka di bully, keduanya kalah jumlah. Namun, Sefira tetap berusaha menjaga dan melindungi sahabatnya itu.


"Semoga Giska bisa mengatur Syakir, Pa. Mama bahagia yang menjadi menantu kita, sahabat putri kita sendiri." 


Haidar mengangguk. Keduanya sering mendengar anak keduanya menceritakan tentang sosok sahabatnya yang tak lain adalah Humai. Bahkan dulu saat Mama Ayna dan Haidar menyuruh Giska membawa Humai ke rumah. Giska mengatakan bahwa Humai tak mau. 


Dari sana saja, keduanya bisa melihat persahabatan mereka murni tentang persahabatan. Tak ada kata memanfaatkan disana. Mereka saling menyayangi satu dengan yang lain. 


"Ayo kita kembali, Pa. Mama sudah mengirim pesan pada Syakir. Dia akan datang nanti." 


"Oke, Sayang." 


...🌴🌴🌴...


Di tempat lain, terlihat Syakir yang tengah duduk di kursi kebesarannya dengan Rachel yang ada di depannya. Wajah Syakir terlihat tak bersahabat. Dia benar-benar kesal pada kekasihnya yang hilang tanpa kabar kemarin.


Bahkan Rachel baru muncul sekarang, setelah kejadian kemarin yang berjanji mendatangi apartemennya. Syakir benar-benar tak habis pikir dengan Rachel.


"Plis, Sayang. Aku benar-benar dapat kabar dadakan dari temanku kalau dia jatuh. Mangkanya aku putar balik," kata Rachel dengan merengek. 


Sikap keduanya memang sama-sama keras kepala. Ditambah Rachel yang tak suka diatur. Selama ini memang Syakir yang selalu mengalah di setiap pertengkaran keduanya. Namun, entah kenapa saat ini pria itu tak bisa dia atur seperti biasanya. 


"Aku terburu-buru, Sayang. Mengertilah!" seru Rachel yang mulai terpancing.


"Mengerti katamu?" seru Syakir dengan marah sampai pria itu beranjak dari duduknya. "Selama ini aku selalu ngertiin kamu, Chel. Apa yang kau mau, aku turuti. Apa yang kau minta, aku selalu datang kapanpun tak peduli hujan ataupun ada pekerjaan penting. Aku tinggalkan!" 


"Oh jadi sekarang kau perhitungan. Begitu?" seru Rachel yang sama berdiri.


Keduanya berhadapan. Tatapan mereka saling tajam. 


"Aku bukannya perhitungan. Tapi aku hanya ingin sekali-kali kau mengalah. Kau tak pernah mengutamakanku daripada teman-temanmu," seru Syakir dengan menyugar rambutnya ke belakang. 


"Aku selalu mengutamakanmu. Bahkan aku juga selalu bersamamu. Apa kurang?" seru Rachel yang terus memojokkan Syakir.


"Mengutamakanku? Kau yakin?" sindir Syakir dengan lirikan tajamnya. "Selama ini ketika kau dapat kabar atau ajakan dari sahabat-sahabatmu. Kau langsung meninggalkanku sendirian. Meski aku merengek." 

__ADS_1


Rachel mulai menghela nafas berat. Dia tak boleh terpancing seperti ini. Jika ini terus terjadi maka ini akan berakhir dengan hebat.


"Maaf, Sayang. Maaf," kata Rachel dengan wajah merayu.


Dia mengalungkan tangannya di leher Syakir. Saat Rachel hendak mencium bibir kekasihnya. Syakir malah melakukan hal tak terduga.


Pria itu melepaskan tangan kekasihnya dan menjauhkan tubuh mereka berdua. 


"Pergilah, Chel. Sebentar lagi aku mau keluar." 


Rachel mengepalkan tangannya saat mendapat penolakan untuk pertama kalinya dari Syakir. Dia menatap marah pada sosok kekasihnya. Biasanya Syakir selalu luluh setelah dia merayu dengan kegiatan panas seperti ciuman.


Namun, sepertinya sekarang itu sudah berbeda. Syakir menjadi pemberontak dan itu tak bisa dibiarkan. 


"Kau mengusirku?" 


"Ya," sahut Syakir menatap mata Rachel. "Aku ingin kita sama-sama intropeksi diri." 


"Apa!" seru Rachel tak terima. "Kau meminta putus?" 


"Sepertinya itu jalan terbaik, Chel." 


"Nggak!" tolak Rachel dengan tegas. "Lebih baik kita break daripada putus. Aku tak mau kau pergi dariku. Aku mencintaimu." 


Syakir membuang wajahnya. Entah kenapa dia tak mau tertipu lagi oleh kekasihnya. Selama ini pertengkaran mereka selalu diakhiri oleh Syakir yang mengalah. Namun, saat ini pria itu tak mau mengalah.


Dia mencoba egois dan ternyata Rachel tak ada sesuatu untuk mencegahnya. Bahkan wanita itu masih egois dan juga malah berpikiran mengiyakan hubungan keduanya untuk break.


Syakir mulai menyadari jika selama ini dia sudah lelah untuk terus mengalah. Cintanya membuatnya selalu ingin Rachel bahagia. Tanpa memperdulikan perasaannya yang juga ingin di treet like a king. 


"Aku mau keluar," kata Syakir mulai mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja.


"Sayang! Aku tak mau putus," teriak Rachel dengan marah. "Pokoknya aku gak mau kita putus. Titik!" 


~Bersambung


Ya jelas gak mau putus. Nanti atmnya kabur juga, hahaha.

__ADS_1


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.


__ADS_2