
...Terkadang ada rasa trauma yang bisa disembuhkan dengan cara kita menghadapinya sendiri. Melawan rasa takut itu dengan keberanian kita dan dibantu oleh kekuatan dari sosok yang mensupport kita....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Humaira menarik nafasnya begitu dalam. Keduanya sudah berdiri tepat di depan pintu apartemen Syakir. Sepasang mantan suami istri itu saling tatap. Seakan Syakir sedang mencoba menanyakan apakah Humai masih sanggup atau tidak.
"Bukalah, Kak. Aku yakin bisa melawannya!" kata Humai dengan yakin.
Trauma itu harus dilawan dengan keyakinan hatinya. Dia mungkin merasa takut tapi jika tak ada hal yang membuatnya bisa melawan. Maka trauma itu akan menggerogitinya sepanjang dia hidup.Â
Humai hanya ingin menyembuhkan luka itu. Dia ingin mengganti kenangan buruk itu dengan kenangan indah. Dirinya ingin berdamai dengan keadaan.
Dirinya ingin membuktikan bahwa ia tak akan pernah terpengaruh dengn kejadian di masa lalu. Dirinya sudah benar-benar ikhlas dan mampu melewati semuanya dengan tanpa rasa dendam.
Klik.
"Ayo!" ajak Syakir mengulurkan tangannya yang sempat terlepas.
Humaira tersenyum. Dia menganggukkan kepalanya lalu menerima uluran itu. Dirinya lekas masuk ke dalam tempat dimana pertama kalinya ia bertemu Syakir.Â
Pertama kali dalam hidupnya hancur karena kehilangan kehormatan yang selama ini ia jaga. Tempat dimana semuanya terjadi begitu saja hingga muncullah sosok Jay di antara keduanya.
Dengan perlahan, Syakir menghidupkan lampu apartemen sampai ruangan itu begitu cerah. Humaira menatap sekeliling. Dia memejamkan matanya saat dirinya mulai merasa hawa tak enak dalam dirinya. Namun, sebuah genggaman yang semakin erat menyadarkan Humai bahwa dia tak sendirian.Â
"Cukup?" tanya Syakir dengan mengusap dahi Humai yang berkeringat.
"Ayo, Kak. Lanjut!"Â
Mereka melanjutkan langkah kakinya. Berjalan menuju ruang tamu yang masih tertutupi oleh kain putih. Ya, sebelum meninggalkan apartemennya ini. Syakir menutupi semua barangnya dengan kain putih agar tak berdebu.
"Tunggulah disini!"Â
Syakir melepaskan genggaman mereka. Dia menarik kain putih itu dengan pelan agar wanita yang sangat dia cintai bisa duduk.
"Biar Humai bantu!" seru Humai langsung memegang kain putih di ujung yang lain.Â
Syakir tak menolak. Dia menganggukkan kepalanya lalu mulai bekerja sama. Keduanya membuka seluruh kain putih yang ada di lantai pertama.
Humaira juga mulai menyibukkan pikirannya dengan bersih-bersih ini. Setidaknya ia berusaha tak mengingat hak yang membuatnya trauma meski sejenak.Â
__ADS_1
"Oh untunglah masih nyala," ujar Syakir saat dia menghidupkan air di wastafel.Â
Dia lekas mencuci tangan. Setelah itu membuka lemari yang ada di dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dinikmati.
"Mencari apa, Kak?"Â
"Makanan atau gak minuman. Kamu pasti capek, 'kan?"Â
Humai tersenyum. Dia beruntung bisa melihat perubahan Syakir. Bagaimana pria itu yang semakin perhatian dan peduli akan sekitarnya.
"Biar nanti saja itu, Kak. Lebih baik kita membereskan ini," ucap Humai pada mantan suaminya.Â
"Tapi aku akan menghubungi bagian apartemen, Sayang. Aku akan meminta tolong untuk membelikan bahan makanan dan minuman," kata Syakir yang masih mengingat sosok yang sering ia mintai bantuan ketika kehabisan bahan.
Akhirnya Humai tak bisa menolak. Dia lebih memilih berjalan menuju ke arah tangga sampai tatapannya menatap ke atas.
"Kamu bisa, Mai."Â
Humaira mulai menapaki tangga itu menuju ke lantai dua. Syakir yang sedang sibuk menelfon tentu tak melihat aksi yang dilakukan mantan istrinya itu.
Humai semakin berani disana. Meski keringat dingin memenuhi kedua telapak tangannya. Bahkan Humai dengan pelan menelan ludahnya sendiri secara kasar saat dia merasa kering di tenggorokannya.Â
Jantung Humai mencelos. Dia merasa hampir linglung dan jatuh jika tak ada Syakir yang menangkapnya.
"Apa yang kamu lakukan disini, Sayang?" tanya Syakir yang bersyukur datang disaat yang tepat. "Ayo turun!"Â
"Nggak!" Humai menolak.
Dia berusaha menormalkan detak jantungnya karena nafasnya mulai pendek-pendek. Jujur dirinya merasa takut memang. Namun, Humai berusaha melawannya.
"Ayo masuk, Kak. Bantu Humai melupakan kenangan itu lagi!" pinta Humai menatap sepasang mata Syakri yang menatap lekat ke arahnya.
Akhirnya Syakir tahu dia tak bisa mundur. Kelalanya mengangguk dan keduanya mulai berdiri bersisian dan saling menggenggam dengan erat.
"Aku akan membuatmu sembuh, Sayang."Â
Keduanya mulai melangkah masuk. Pandangan Humai langsung tertuju pada ranjang. Ranjang dimana kehormatannya diambil secara paksa saat dia tak sadarkan diri.
Genggaman mereka semakin erat. Namun, kedua langkah mereka tak mengendur. Syakir membawa mantan istrinya di dekat jendala lalu mulai membuka tirai itu hingga kamar Syakir mulai terang.
Humaira bisa melihat Malang dari sini. Dia bahkan lebih dekat dengan jendela dan menyentuh kaca itu.
__ADS_1
"Indah," ujarnya dengan diiringi senyuman manis.
Tanpa sadar senyuman itu muncul di bibir Humai dan hal itu membuat Syakir merasa senang dan bahagia. Kedua mata itu kini saling tatap.
Baik Syakir dan Humai mencoba membuat keduanya nyaman dan tenang disini. Namun, ternyata sikap cassanova Syakir kembali muncul.
Sesuatu dalam dirinya mulai memberontak saat matanya tanpa sengaja menatap bibir Humai yang begitu menggoda.
Begitupun dengan Humai. Entah apa yang merasukinya. Dia melihat wajah Syakir semakin tampan. Bahkan pahatan yang sempurna membuatnya tanpa sadar mengulurkan tangannya dan mengusap rahang tegas itu dengan begitu pelan.
Hal itu tentu membuat tubuh Syakir menegang. Namun, dia tak menolak elusan itu. Dia membiarkan wanita yang sangat ia cintai memegang wajahnya. Sampai akhirnya, entah siapa yang memulai, wajah keduanya semakin dekat.
Baik Syakir dan Humai saling menatap tanpa kedip. Seakan keduanya saling memuji pahatan sempurna antara satu dengan yang lain.Â
Hingga tak lama, perlahan bibir keduanya bertemu. Sebuah kecupan diberikan Syakir sampai akhirnya kecupan itu berakhir dengan sebuah ciuman.Â
Syakir memegang kedua sisi wajah Humai saat ciuman itu saling menyalurkan perasaan mereka. Begitupun dengan Humai. Dia yang masih merasa kaku dan tak ahli dalam adegan ini mulai larut dengan permainan bibir Syakir.
Kedua bibir itu saling menyesap dan lidah mereka saling terjulur mengekspos bibir keduanya secara bergantian.
Suara cecapan itu tentu mulai terdengar dan tanpa sadar tangan Humai juga terangkat dan melingkar di leher Syakir.
Keduanya saling menekan seakan tak mau mengakhiri ciuman itu. Namun, oksigen yang mulai habis membuat Syakir mau tak mau harus melepaskannya sebelum akal sehatnya hilang.
Ya bagaimanapun dia manusia biasa. Dia juga memiliki sesuatu yang membuatnya ingin merasakan kenikmatan itu lagi. Namun, dia sadar. Dia tak mau melakukan kesalahan kedua kalinya.
"Maaf," lirih Syakir saat ciuman mereka terlepas.
Namun, wajah mereka masih berdekatan. Hidung keduanya saling bersentuhan dengan pelan.
"Aku tak bisa menahan diriku sendiri."Â
Pipi Humia bersemu merah. Dia juga menyadari bahwa dirinya menikmati permainan bibir mantan suaminya. Bahkan hak itu entah kenapa membuat perasaannya jauh lebih tenang.
"Ini untuk terakhir kalinya aku mencium bibirmu, Sayang," ujar Syakir yang membuat Humai menatap kedua mata Syakir dengan lekat. "Aku akan menciummu lagi setelah kita berdua menikah kembali."
"Kamu mau, 'kan? Membina rumah tangga lagi bersamaku, menjadi orang tua utuh untuk Jay dan menyatukan cinta kita berdua di ikatan halal?"Â
~Bersambung
Agh aku nulis bab ini cengar cengir sendiri. Rasanya bikin meleyot. Terima gak yah? hahha
__ADS_1