Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Rachel Super Gila


__ADS_3

...Ternyata seseorang yang sudah salah akan arti cinta maka dia tak akan pernah melihat cinta yang tulus....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


"Jadi itu alasanmu mengunci pintu sebelah?" tanya Syakir pada Rachel.


"Ya. Aku juga sudah menghubungi petugas kebersihan. Nanti dia akan datang," ujar Rachel dengan tenang.


Syakir hanya mengangguk. Dia percaya dengan apa yang dikatakan oleh kekasihnya ini. Sejak dulu pria itu selalu mempercayai semua yang dikatakan oleh wanita ular ini. 


Entah itu benar atau tidak. Cinta telah membutakan segalanya!


"Aku mau mandi dulu, Sayang. Apa kau sudah menyiapkan minuman?" tanya Syakir yang langsung mengambil handuk di lemari pakaian.


"Sudah. Kamu mandilah dulu sekarang," kata Rachel lalu mencium bibir kekasihnya dengan singkat.


Syakir lekas masuk ke dalam kamar mandi dengan tanpa sepengetahuannya jika Rachel mengikutinya dan mendekatkan telinganya di pintu kamar mandi. Wanita itu ingin menguping apakah Syakir telah mandi atau belum.


"Aman," bisiknya dengan pelan lalu segera berlari ke luar kamar.


Dia segera mengambil kunci kamar sebelah yang sejak tadi dia letakkan di dalam saku celana. Setelah itu Rachel membukanya dan langsung mendapatkan serangan dari kekasih yang sangat dia cintai.


"Sayang..mmm." Rachel tak siap.


Teman masa kecilnya itu mendorongnya sampai menyentuh dinding lalu mencium bibirnya dengan kasar. Permainan pria itu begitu candu menurutnya. Hingga saat Rachel mulai bisa mengimbangi permainan bibir sang kekasih, mereka hampir hilang akal.


Dengan berani, pasangan kekasih itu saling menurunkan celana mereka sedikit. Lalu keduanya melakukan hal tak senonoh di ruang tamu dengan berdiri menyentuh dinding.


"Beraninya dia menyentuh kekasihku yang seksi ini," kata kekasih Rachel dengan amarah dan memasukkan miliknya secara kasar.


Rachel menggeram. Dia mencengkram pinggiran dinding dengan kuat dan mata terpejam. Sensasi sakit dan nikmat membuatnya ingin berteriak. Namun, ia tahan karena ingat jika ada Syakir di kamar mandi.

__ADS_1


"Sayang!" pekik Rachel pelan menatap ke belakang.


Tubuh keduanya beradu. Keringat memenuhi wajah dan seluruh tubuh mereka. Kekasih Rachel memacu tubuhnya dengan kuat dengan dibantu tubuh Rachel yang juga mengimbangi permainan.


"Sayang, yang cepat!" pinta Rachel dengan wajah manjanya.


"Kau terima benihku ini, Sayang. Biar anak-anak kita semakin subur," bisik pria itu sebelum tubuhnya mengejang dan akhirnya tumbuhlah benih-benih itu dalam inti tubuh Rachel.


Nafas keduanya masih tak beraturan. Namun, mereka segera merapikan penampilannya. Rachel menangkup kedua wajah sang kekasih lalu memberikan ciuman mesra di bibirnya. 


"Percayalah padaku, Sayang. Cintaku hanya untukmu," rayu Rachel dengan manja.


"Aku percaya itu. Aku pulang," balas pria itu lalu mencium dahi kekasihnya.


Dengan tak nyaman, Rachel mengantar kepergian kekasihnya sampai pintu apartemen. Setelah pria itu pergi, dia masuk ke dalam kamar mandi belakang untuk membersihkan inti tubuhnya. Rachel juga tak lupa membersihkan bekas cairan yang belepotan di ruang tamu. 


Hingga setelah dia selesai dengan semuanya. Rachel lekas duduk di sofa dan menunggu kekasihnya datang. Benar-benar kegiatan gila yang baru kali ini dia lakukan. 


"Untung Syakir kalau mandi lumayan lama. Jadi aku bisa mengusir kekasihku tanpa sepengetahuannya," ucapnya dengan pelan sambil membaringkan tubuhnya di sofa.


Bahkan pakaian sang kekasih sampai lupa tak ia sembunyikan karena datangnya Syakir yang dadakan. 


"Setelah ini aku harus lebih berhati-hati," ucap Rachel sebelum dia memejamkan matanya karena lelah.


...🌴🌴🌴...


Di tempat lain, lebih tepatnya di rumah Humaira. Sepasang sahabat itu saling berpelukan. Mereka sangat bahagia setelah mendengar kabar dari Mama Ayna. Kabar tentang sadarnya Rein adalah awal yang baik untuk Humai.


Akhirnya penguat yang selama ini ia tunggu Allah datangkan. Allah kabulkan segala doanya dan membuat Humai percaya jika apa yang dia rasakan dan ujian yang ia alami, bisa membuatnya semakin dekat dengan Allah. 


"Aku benar-benar terkejut, Fir. Aku tak menyangka adikku sudah sadar," kata Humai dengan mata yang begitu memancarkan kebahagiaan.


Sefira mengangguk. Dia juga tak kalah bahagia. Melihat apa yang membuat sahabatnya senang, dia pasti ikut merasakannya. 

__ADS_1


"Aku yakin jika Rein akan berjuang buat kamu, Mai. Aku yakin dia bakalan bertahan demi kakaknya yang sangat ia sayangi," ucap Sefira dengan melepas pelukan itu.


Humaira mengangguk. Namun, di matanya ada kesedihan yang tak mampu ia tutupi. Hingga hal itu tentu mampu dibaca oleh Sefira yang sangat mengenalnya.


"Ada apa? Kenapa, Mai?"


Humai menarik nafasnya begitu dalam. Kemudian dia perlahan menggenggam tangan adik Syakir dan menatap mata Sefira dengan lekat.


"Kalau suatu hari nanti, aku memilih berpisah dengan kakakmu. Aku minta jangan pernah ada yang berubah diantara kita, Fir," ucap Humai pelan seperti guntur menyambar ketika didengar oleh Sefira. 


Jantung adik Syakir itu berdegup kencang. Tubuhnya mematung mendengar perkataan sahabatnya. Ada setitik rasa sakit saat mengingat jika sepertinya sahabatnya ini memilih menyerah bila dari perkataan yang ia tangkap. 


"Apa maksudmu, Mai?" kata Sefira dengan sedikit marah. "Tak ada yang bisa membuat hubungan kita berubah sekalipun kamu dan kakakku berpisah. Kita tetap sahabat dulu dan sekarang!"


Sefira tak main-main. Dia mengatakan yang sejujurnya. Hubungan keduanya tak akan pernah berakhir hanya karena hubungan lain. Persahabatan dan pertemanan mereka adalah murni tulus dari hati keduanya.


Tak memandang harta, tak memandang paras atau kecantikan. Keduanya selalu bergandengan tangan, membela satu dengan yang lain. Menyatukan perbedaan dan saling melindungi di antara keduanya. 


Humaira mengangguk. Dia balas menggenggam tangan Sefira dengan meneteskan air matanya.


"Maafkan aku jika nanti aku menyerah. Aku bukannya tak mencintai kakakmu, tapi aku hanya ingin memberikan dia kesempatan meraih kebahagiaannya," ucap Humai dengan pelan dan memberikan senyuman manis di bibir.


Sefira tahu hati sahabatnya sudah berpaku pada kakaknya. Dia juga tahu sebenarnya Humai sering mendoakan Syakir di dalam doanya. Adik Syakir itu sering melihat Humai sholat di tempat sholat dan tak sengaja mendengar doa yang dia untai meski suaranya pelan.


"Kebahagiaan dia adalah kamu dan anak ini, Mai," kata Sefira dengan pelan. "Aku yakin jika kamu pergi. Kehidupan Kak Syakir akan hancur dan dia akan sadar kalau kamu begitu berarti untuknya." 


Humaira menggeleng. Dia tak setuju dengan perkataan Sefira. Dirinya tak terima suami yang ia cintai didoakan begitu buruk.


Seburuk-buruknya Syakir, Humai tak pernah memiliki dendam. Dia selalu meminta pada Tuhan agar Syakir dibukakan hatinya dan bisa sadar dengan apa yang selama ini dia lakukan. 


"Jangan mendoakan suamiku yang buruk, Fir. Sekarang dia sedang salah arah tapi tunggulah takdir dan campur tangan Tuhan bergerak. Aku yakin Tuhan sedang menyiapkan segala hal indah untuk suamiku, aku dan anakku." 


~Bersambung

__ADS_1


Ada yang pitnah aku huhu. Hahaa baca komen di bab sebelumnya bikin aku senyum-senyum. Padahal di sinopsis gak ada adegan begitu, hihi. Dah kabur aja aku tuh.


__ADS_2