
...Terkadang pertemuan seorang anak dan ibu adalah sebuah momen yang sangat menyedihkan. Terutama ketika perpisahan di antara keduanya sudah terlalu lama, pasti akan menciptakan suasana yang sangat mengharukan....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
"Silahkan duduk!" kata pria muda yang cintanya pernah ia tolak.Â
Ya, hari ini ada pertemuan lagi antara Humaira dan Jeno. Dua orang dengan hati dan perasaan yang berbeda itu akan selalu dipertemukan. Seakan keduanya memang saling berkomunikasi demi kelanjutan kerjasama desain hasil Humaira dan teman Jeno.Â
Pria itu tulus membantu Humai agar wanita itu bisa berangkat ke Korea. Jeno benar-benar berniat membantu agar Humai bisa mengembangkan bakatnya. Hasil karya ibu satu anak itu tak bisa diremehkan.
Terlalu sempurna dan cocok dengan beberapa musim yang membuat Jeno tertarik mengajukan pada temannya yang merupakan seorang desainer terkenal di Korea.
"Teman saya berniat ingin menjadikan salah satu desainmu menjadi baju," kata Jeno memulai. "Mereka ingin mempromosikan desainmu secara cepat. Apa kamu setuju?"Â
Bagaimanapun desain itu masih hak penuh milik Humai. Wanita itu tak pernah menjualnya karena dia sendiri juga ingin maju di Korea.Â
"Tapi siapa yang akan menjahitnya, Pak? Lalu pemilihan bahan dan yang lainnya. Bagaimana?"Â
"Nanti teman saya akan menghubungimu. Dia juga akan mencoba berdiskusi denganmu," jawab Jeno sambil menatap ke arah Humai.
"Lalu hak milik?"Â
"Tetap milikmu. Dia hanya membantumu menjadikan ke sebuah barang nyata karena pengajuan fashion disana ingin contohnya langsung," kata Jeno menjelaskan. "Tapi kalau kamu ada model atau hasil nyata desain kamu. Boleh kirimkan ke teman saya."Â
Jeno benar-benar bersikap profesional. Dia tak membawa atau menyangkut pautkan hubungan pribadi dan hubungan sekolah. Pria itu bersikap begitu dewasa sekali.
Bahkan tak sekalipun, Jeno menyinggung masalah hati dan perasaan. Membahas soal Jay saja tak pernah. Pria itu bisa menempatkan dirinya dengan baik. Bisa membaca situasi apa yang sedang terjadi sebelum menyesuaikan topik apa yang akan dibahasnya.Â
Hal itulah yang membuat Humai kadang merasa bersalah tapi disisi lain dia juga bahagia. Bahagia karena Jeno adalah bukan pria pemaksa. Dia juga tahu jika cinta itu tak selamanya bisa dimiliki.
"Aku ada, Pak. Sisa pagelaran kemarin tapi kainnya juga gak bisa sebagus itu karena kemarin kan butuh buat penjualan juga. Ada beberapa bahan yang tak sesuai dengan harapanku," kata Humai menceritakan kesulitan dirinya soal pagelaran kemarin.Â
Meski ada masalah dan dia pulang duluan karena sosok Syakir yang muncul. Meski tempat kedainya dijaga oleh orang kepercayaan Jeno. Nilai tertinggi tetap didapat oleh Humai.
Hasil kerja kerasnya begadang dan semua desain baju dan tempat juga. Ternyata tak sia-sia. Pengorbanan dan usaha yang dilakukan membuatnya bisa ada di titik ini. Semua ini tak akan terjadi jika tak ada penawaran dari dosen killernya ini.Â
Bagaimanapun Jeno adalah salah satu orang paling berpengaruh dalam hidupnya. Membantunya dari bawah sampai dia akhirnya bisa berangkat ke Korea nanti.
__ADS_1
"Jadi kamu setuju jika teman saya yang mengerjakan?" tanya Jeno memastikan.
"Iya, Pak. Saya setuju. Saya pasrahkan pada teman, Pak Jeno," jawab Humai memutuskan.
"Baiklah." Jeno mengangguk.Â
Dia lekas mengambil ponselnya dan terlihat mengetikkan sesuatu disana. Humai memang tak bisa melihatnya tapi ia yakin jika Jeno pasti sedang mengurus dengan temannya itu.
"Selesai," kata Jeno yang membuat Humai merasa sesak nafas.
"Secepat itu, Pak?" tanya Humai dengan pandangan tak percaya.
"Ya. Teman saya sudah stay di room chat. Saya mengatakan akan menemuimu untuk memberi jawaban. Jadi ketika saya menghubungi, dia langsung merespon," kata Jeno yang membuat Humai mengangguk paham.Â
"Terima kasih atas bantuannya selama ini, Pak. Tanpa Anda, saya…"Â
"Tak ada kata tanpa Anda," kata Jeno menyela. "Semua ini ada karena kerja keras kamu, Humai. Bakat kamu yang mengantarkan kamu bisa di titik ini."Â
Jeno menatap Humai dengan pandangan yakin. Dia yakin ibu satu anak itu bisa membawa karyanya sampai ke Negara Korea. Humai pasti bisa membuat dirinya masuk ke dalam jajaran fashion disana.
"Tak ada hutang budi di dalam sebuah bantuan. Saya hanya perantara. Lanjut enggaknya, semua ada ditangan kamu dan hasil desainmu!" kata Jeno semakin membuat Humai terharu pada pria itu.
Bahkan jika dibalik posisinya. Humai tak akan sekuat Jeno. Cintanya di tolak di saat dia yang sudah membantu wanita yang dicintai bisa melanjutkan mimpinya. Ia yang menjadi perantara tapi cintanya ditolak.
Jika orang lain yang ada di posisi Jeno, pasti semuanya akan berakhir berantakan. Tapi ternyata Allah mendatangkan orang baik di sekitar Humai. Orang itu adalah Jeno. Meski cintanya ditolak, perasaannya langsung di pental mental tapi pria itu menerima semuanya dengan lapang dada.
"Saya izin pulang ya, Pak. Sekali lagi terima kasih banyak," kata Humai sambil beranjak berdiri dan menundukkan tubuhnya.
"Sama-sama, Humai. Semangat terus mengupgrade karya kamu ya," sahut Jeno menyemangati. "Teman saya juga pasti akan menghubungimu nanti karena nomor kamu sudah saya bagikan sama dia."Â
...🌴🌴🌴...
Humaira akhirnya mulai kembali ke rumahnya. Dia hanya ke kampus berkonsultasi dengan Jeno karena memang tak ada lagi yang akan dibahas. Saat mobil yang ditumpangi mulai memasuki halaman rumah, dari jauh Humai bisa melihat kendaraan milik mantan suaminya. Dari sini, Humai yakin jika Syakir tak bekerja dan bermain dengan putranya.
"Terima kasih, Pak," kata Humai pada supir yang mengantarnya.
Ibu satu anak itu segera turun. Dia mulai berjalan memasuki rumahnya. Baru beberapa langkah dia sudah mendengar suara cekikikan milik anaknya. Tanpa sadar hal itu membuat Humai tersenyum.
"Assalamualaikum," salam Humai yang ingin memancing apakah putranya akan menjawab atau melanjutkan permainannya dengan ayahnya itu.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," sahut kedua pria yang tengah asyik bermain di karpet depan televisi.
Jay lekas berjalan meninggalkan ayahnya. Dia merentangkan tangannya berlari ke arah Humainya.Â
"Ibu pulang!" teriak Jay dengan nada yang bahagia.
"Iya. Akhirnya Ibu bisa pulang cepat," ujar Humai menambahi.
Jay memegang tangan ibunya. Dia menuntun Humai agar duduk di atas karpet bersama dirinya dan Syakir.
Meski merasa canggung dan takut. Humai menuruti permintaan putranya. Dia duduk tepat di samping Syakir yang tengah menyusun mainan agar lebih rapi.
"Sudah selesai urusannya?" tanya Syakir menatap mantan istrinya itu.
"Sudah, Kak," jawab Humai dengan mengangguk.
Keduanya benar-benar masih canggung dan malu. Namun, adanya Jay di antara keduanya, membuat mereka tentu terlihat seperti keluarga bahagia yang sedang menemani putranya bermain.Â
Suara canda tawa terdengar. Sampai akhirnya bunyi bel rumah membuat Humai memanggil pelayan karena Jay tak mengizinkannya untuk membuka pintu.
"Kalau mainnya kayak gini, gimana?" tanya Jay yang bermain dengan kucingnya yang ia bawa menari kesana kemari.
Hal itu membuat Syakir dan Humai terkekeh. Sampai tak menyadari jika ada tiga pasang mata yang menatap ke arah mereka.
Ketiganya terkejut saat melihat pemandangan itu. Tak menyangka jika sosok yang tak pernah mereka lihat, saat ini ada di depan mata.Â
Sampai akhirnya keterdiaman dan ketidaksadaran itu terpecah saat Jay berbalik dan berteriak memanggil nama kakek neneknya yang membuat mata mereka saling beradu pandang.
"Kakek…Nenek!"Â
Syakir spontan menoleh. Tubuhnya menegang. Tatapannya lekas langsung bertemu pandang dengan sosok mamanya.
"Mama, Papa…"Â
~Bersambung
Ah bakalan ada perbawangan lagi keknya. Huhu.
Ya bayangin aja, dari sweet home terus karena masalah si Syakir kek dijauhi. Sekarang akhirnya ketemu huhu.
__ADS_1