Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Rachel Mengamuk


__ADS_3

...Sejahat-jahatnya orang tua pasti ada rasa sayang kepada anaknya yang tak mampu dia tunjukkan secara nyata....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Spontan perkataan itu membuat Papa Hermansyah menghentikan gerakan kakinya. Dia menatap ke arah Rachel. Perempuan yang kedua kakinya diborgol karena memang tingkah lakunya sudah membahayakan. Perempuan itu meronta saat melihat Papa Hermansyah tak melanjutkan langkahnya. 


"Papa!" teriak Rachel lagi dengan menjulurkan kedua tangannya.


Lihatlah wanita yang usianya tak jauh beda dari putrinya itu. Dengan baik dia masih mengingat dirinya. Disaat mentalnya hancur, ternyata Rachel masih mengenal dirinya.


Mengenal sosok yang dianggap ayah kandung. Mengenal sosok yang selalu membuatnya kesepian dan kekurangan kasih sayang.


"Papa jenguk Rachel, 'kan? Iya, 'kan?" ucapnya dengan bibir terkekeh pelan.


Ada sesuatu yang mengusik perasaan Papa Hermansyah. Ada sesuatu yang menurutnya menyakitkan ketika dipandang. Pemandangan sosok Rachel yang dulunya terawat, cantik dan semuanya dia cukupi. Kini harus berganti dengan penampilan yang begitu buruk.


Dahi gadis itu telah diperban. Lalu bekas tali di kedua tangannya juga terlihat memerah. Lalu sekarang borgol di kedua kakinya juga membuat Papa Hermansyah bisa membayangkan kehidupan apa yang sedang dijalani oleh Rachel disini.


Dia bahagia? Tidak.


Dia senang? Tidak.


Bahkan jika waktu bisa diputar. Dia ingin istrinya sembuh, Humaira kembali dalam pelukan dan Rachel mampu menerima keluarganya itu.


Namun, semua perkataan orang kepecayaan atas sikap Rachel, membuat Papa Hermansyah terluka. Anak yang dia angkat itu ternyata memiliki rencana buruk untuk anak kandungnya.


Meski ya, dirinya juga sadar bahwa ini kesalahannya. Kesalahan karena dia yang fokus pada istrinya dan membangun perusahaannya lagi, membuatnya menitipkan segala urusan Rachel pada pelayan. 


Papa Hermansyah berpikir memenuhi segala kebutuhan Rachel adalah bukti dia bertanggung jawab. Dengan segala hal yang Rachel mau dan dia kabulkan, dia berpikir telah mengatakan bagaimana dia telah menyayanginya. 


Papa Hermansyah hanya tak tahu bagaimana cara menyampaikan rasa sayangnya. Dia tak bisa mengatakan bahwa dia sangat menyayangi Rachel. Meski ya, ternyata perbuatannya juga salah.


"Apa kabar, Nak?" tanya Papa Hermansyah setelah berdiri di dekat ranjang Rachel.


Untuk pertama kalinya, Papa Hermansyah datang kesini. Jujur selama ini dia memerintah orang kepercayaannya dan menyewa beberapa perawat untuk mengurus Rachel. 

__ADS_1


Jujur mengingat perbuatan anak angkatnya itu membuatnya marah, kecewa dan sakit hati. Bagaimana bisa Rachel yang tumbuh dengannya, mencelakai anak kandungnya. 


Hal itulah yang membuat Papa Hermansyah baru menginjakkan kedua kakinya disini. Ditambah dia tak tega dengan setiap keluhan yang perawat katakan. Setiap foto yang mereka berikan, jujur membuatnya terluka.


Dia ingin semuanya berdamai. Dia ingin Rachel sembuh dan menerima istri dan anak tunggalnya. 


"Papa kemana saja?" tanya Rachel dengan wajahnya yang menatap Papa Hermansyah dengan lekat.


Lihatlah anak muda itu. Dia hanya ingin dijenguk oleh papanya. Hanya dengan begini saja, membuat Rachel bahagia dan tenang.


Hermansyah perlahan duduk di kursi yang ada di samping ranjang. Dia menatap Rachel dengan lekat.


"Papa…" 


"Apa Papa bertemu dengan Humai?" tanya Rachel dengan ekspresi yang berubah. 


Wajah gadis itu tak lagi tersenyum. Ada rasa marah di kedua matanya dan itu sangat terlihat jelas. Ada rasa kecemburuan disana dan mampu dirasakan oleh Papa Hermansyah.


"Apa Papa pergi dengan anak itu?" tanya Rachel lagi menuntut. "Katakan padaku, Pa!" 


"Iya, Papa menemui Humai, 'kan?"


"Papa gak boleh ketemu dia! Papa Gak boleh wanita jahat itu! Dia merebut Papa dari Rachel! Dia mengambil Papa dan membuat Papa marah sama Rachel!" seru Rachel yang mulai berteriak.


"Suster!" panggil Papa Hermansyah dengan berusaha memegangi tangan Rachel.


"Tenanglah, Nak. Lala disini! Papa tak kemana-mana. Papa tak menemui Humai juga," kata Papa Hermansyah membujuk.


"Nggak. Papa bohong! Papa pasti menemuinya, 'kan! Aghhh!" teriak Rachel berusaha melepaskan borgol di kedua kakinya juga. 


"Aku akan membunuhnya. Aku akan membunuh Humai. Dia merebut segalanya dariku. Dia merebut Syakir dariku! Dia pantas mati! Dia pantas mati, hahaha!" teriaknya dengan begitu kencang.


Bersamaan dengan itu akhirnya para suster dan dokter datang. Papa Hermansyah terlihat kewalahan. Dia mulai melepaskan tangannya saat suster mulai mengambil alih tangan Rachel. 


"Lepaskan aku! Aku akan membunuhnya. Iya, aku akan membunuhnya. Hahaha Humai pantas mati!" ujarnya dengan berteriak sampai akhirnya suntikan itu mulai menusuk kulitnya. 


Perlahan tubuh yang tadinya mengantuk mulai melemah. Mata yang membawa itu perlahan meredup dan akhirnya tubuh itu lemas dan mulai terbaring dengan sendirinya. 

__ADS_1


Para suster mulai merapikan sosok Rachel. Sedangkan Papa Hermansyah didekati oleh seorang dokter dan mulai menyapanya. 


"Apa putriku selalu begini, Dokter?" tanya Papa Hermansyah menatap Rachel yang mulai tidur dengan tenang. 


Dokter mengajak sedikit menjauh dari Rachel. Mereka masih mengobrol di ruangan itu hanya memberikan jarak antara mereka dan Rachel agar dia tidur dengan tenang. 


"Ya, Tuan. Ini belum seberapa," jawab Dokter dengan meminta hasil tiap hari pengecekan sosok Rachel. "Jika kakinya tak diborgol. Mungkin dia akan mencelakai dirinya sendiri dan lebih parahnya. Dia bisa mencelakai Anda." 


Dokter mengatakan dengan jujur. Hasil yang diperoleh setiap hari mulai ia katakan seluruhnya pada Papa Hermansyah. 


"Tapi tadi dia mengenaliku, Dokter. Dia bahkan berbicara seperti orang normal. Dia juga menanyakan saya kemana saja selama ini, kenapa tak datang kesini," kata Papa Hermansyah mengatakan apa yang ia alami.


"Rachel hanya merespon Anda, Tuan. Itu tandanya dia memang hanya mengenali Anda. Dia bisa sembuh tapi Anda juga harus terlibat di sekitarnya. Jika melihat faktor dari setiap dia mengamuk, dari setiap dia bercerita. Dia hanya butuh Anda disampingnya. Dia hanya butuh sosok Papanya yang selalu ada untuknya," kata Dokter dengan jujur.


Apa yang dia katakan bukan mengada-ngada. Semua analisa memang, setiap sesi pertanyaan juga. Rachel selalu menyebutkan dan menanyakan tentang papanya.


Ditambah perkataan Papa Hermansyah yang mengatakan Rachel mengenalinya. Itu saja sudah menjadi pertanda bahwa orang yang diingat oleh Rachel adalah papanya sendiri. 


"Lalu apa yang harus saya lakukan, Dok?" 


"Selama beberapa hari, selalu kunjungi Rachel. Nanti kita lihat perkembangan apa yang akan kita dapatkan dalam dirinya," ujar Dokter dengan menatap Papa Hermansyah lekat.


"Baik, Dokter." 


Tanpa sepengetahuan keduanya. Ada dua orang manusia yang sejak tadi berdiri di dekat pintu ruangan dimana Rachel berada. Dua orang yang sebenarnya ingin mengunjungi Rachel itu membatalkan niatnya saat melihat Papa Hermansyah juga ada disana.


Ya, dia melihat papanya yang berdiri di depan kamar Rachel lalu masuk dan membuatnya berniat menunggu di depan. Namun, ternyata apa yang ia dengar, apa yang ia lihat begitu menusuk perasaan ibu satu anak itu. 


"Sayang," panggil Syakir saat Humai menunduk dengan air mata yang sejak tadi mengalir begitu deras.


Tubuh Humai generator. Syakir tahu jika mantan istrinya itu sejak tadi menangis tak tahan dan tak tega dengan keadaan Rachel. 


"Humai!" teriak Syakir tanpa sadar saat Humaira berbalik dan berlari dari sana.


~Bersambung


BTW ternyata part Rachel dan penyelesaian ini membuat persepsi banyak orang haha. Tapi gakpapa aku suka dan ya untuk komentar yang memang terkesan julid buat kritik aku skip yah.

__ADS_1


Kalau komenan mendidik, aku pasti baca dan bakalan jadi pembelajaran buat aku di novel terbaru. Tapi kalau emang yang udah keterlaluan. Maaf banget, aku kadang heran kalian baca dari awal apa langsung lompat kesini.


__ADS_2