Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Berbohong


__ADS_3

...Percayalah apa yang tak pernah ada dalam bayangmu pasti akan terjadi jika Tuhan sudah berkehendak. ...


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


New York.


Akhirnya setelah sekian lama mata itu tertutup dengan rapat. Kini terbuka membawa kebahagiaan yang tiada tara. Mama Ayna, perempuan yang paling bahagia dengan sadarnya seorang remaja muda itu. Dia terlihat bingung dengan hadirnya Mama Ayna dan Papa Haidar di sana.


Bahkan sampai Dokter selesai memeriksanya dan berbicara dengan orang tua Syakir. Rein, adik Humai tak henti-hentinya menatap sekeliling. Seakan dalam benaknya pasti ada banyak pertanyaan. 


"Kondisi pasien benar-benar sudah membaik, Tuan. Hanya saja mungkin kaki pasien sedikit berat untuk digerakkan karena terlalu lama dia koma," kata Dokter yang selesai menjelaskan semuanya.


"Tapi bekas operasi di kakinya. Apa baik-baik saja, Dok?" tanya Papa Haidar dengan detail.


"Baik. Pasien bahkan pasti bisa jalan setelah kita terapi dan mengajarinya pelan-pelan," ujar Dokter dengan bahasa indonesia yang agak kaku.


Dokter yang menangani Rein adalah teman dekat Papa Haidar. Keduanya adalah teman semasa kuliah dulu. Maka dari itu, hubungan mereka yang dekat inilah membuat Papa Haidar dan Mama Ayna yakin untuk membawa Rein kesini.


Setelah semua dokter dan perawat keluar dari ruangan Rein. Pria muda itu berusaha mengambil minum. Mama Ayna yang melihatnya segera membantunya.


"Ini," ucap Mama Ayna dengan lembut.


Walau canggung, Rein tetap menerima dan meminumnya atas bantuan Mama Ayna. Setelah selesai, dia segera kembali menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang pasien karena dirinya meminta duduk.


"Siapa kalian?" tanya Rein setelah dia menahan pertanyaan itu sejak tadi.


Mama Ayna dan Papa Haidar saling menatap. Keduanya mengangguk seakan sudah mengerti jawaban apa yang akan diberikan pada adik dari menantu mereka.


"Kami adalah mertua kakakmu, Rein," jawab Mama Ayna yang membuat mata Rein terbelalak.


"Kak Humai sudah menikah?" tanyanya dengan tak percaya. 


Mama Ayna mengangguk. Kedua orang tua Syakir duduk di kursi yang sudah disediakan di samping ranjang pasien yang membuat mereka mudah untuk bercerita.


"Humai menikah dengan putra pertama kami dan sekarang, dia sedang hamil," jelas Mama Ayna yang membuat mata Rein berkaca-kaca. 


"Berapa lama aku tak sadar, Tante?" tanya Rein menatap sekeliling.


"Hampir tujuh bulan," jawabnya yang membuat remaja muda itu memejamkan matanya. 

__ADS_1


Tiba-tiba ingatan tentang kecelakaan itu kembali berputar. Hingga dia menemukan sesuatu keanehan. Matanya kembali terbuka dan jantungnya berdegup kencang saat apa yang ingin dia tanyakan membuat takut.


"Kenapa? Apa ada yang sakit, Rein?" tanya Mama Ayna penuh perhatian. 


"Bukan, Tante. Tapi…" jedanya dengan menarik nafas begitu dalam. "Kemana Mamaku?" 


Deg.


Tubuh kedua orang tua Syakir mematung. Lidah mereka terasa keluh untuk menjawab pertanyaan yang kali ini begitu membuat mereka bingung bukan main. Apa yang harus mereka katakan pada Rein jika ibunya sudah meninggal ditempat kejadian. 


"Kumohon, Tante. Katakan padaku! Apa yang terjadi pada Mama?" 


"Mama kamu meninggal ditempat, Nak. Hanya kamu yang selamat," kata Mama Ayna dengan menunduk dan suaranya begitu serak seakan menahan tangis.


Rein mematung. Dia menggelengkan kepalanya seakan tak percaya. Namun, bayangan dimana wajah mamanya dan kecelakaan itu membuatnya yakin jika pasti Mamanya menjadi korban yang paling berat.


Air mata remaja itu mengalir dengan deras. Dia menangis hebat saat bayang-bayang wajah mamanya berputar di kepalanya. Rein tak menyangka jika kejadian saat itu mampu merenggut mamanya seketika itu juga. 


Mama Ayna yang tak kuasa segera beranjak berdiri. Dia memeluk Rein penuh sayang dan membuatnya tenang. Jiwa keibuan yang begitu besar membuatnya dengan lembut mengusap punggung Rein dengan sayang.


"Tante tahu bagaimana perasaanmu, Nak. Tapi ini bukan salahmu. Semua sudah Tuhan rencanakan sebaik mungkin," kata Mama Ayna menasehati. 


Telak. 


Mama Ayna membisu. Dia seakan kesulitan untuk menjawab. Bayangan bagaimana dia memergoki putranya tidur bersama Humai. Lalu bagaimana kekejaman Syakir membuatnya tak mampu menjawab. 


Dia takut jika jawabannya yang jujur semakin membuat Rein marah. Atau bisa jadi membuat Rein kecewa pada keduanya dan keputusan Humai. 


"Apa kamu ingin menghubungi Kakakmu, Rein?" tanya Mama Ayna mencoba mengalihkan perhatiannya.


Ibu Syakir itu menghapus air matanya. Dia memang bahagia melihat adik menantunya itu sehat. Namun, di waktu yang bersamaan dia takut jika Rein tahu yang sebenarnya. Apa yang akan remaja itu lakukan. 


"Boleh, Tante. Aku ingin berbicara dengan Kakakku," kata Rein dengan melupakan pertanyaannya karena sudah tak sabar melihat bagaimana kakak yang sangat dia sayangi tersebut.


...🌴🌴🌴...


Indonesia.


Akhirnya tangisan hebat turun dari kedua mata Humai. Ibu hamil itu menatap tak percaya ke arah layar kamera yang sudah berganti video. Disana, dia bisa melihat sosok yang sangat dinanti kesembuhannya. 


Sosok yang sangat dia sayangi kini telah membuka mata. Sosok yang sangat membuatnya bertahan sampai di titik ini. Penguatnya menjalani hidup di tengah badai yang menerpanya. 

__ADS_1


"Rein," kata Humaira setelah menghilangkan keterkejutannya.


Mata gadis itu basah. Dia masih tak percaya jika yang ada di layar ponsel sahabatnya itu adalah adiknya sendiri.


"Kakak, bagaimana kabarmu?" 


Humaira percaya jika ini bukan mimpi. Suara Rein masih tetap sama. Suara yang selalu membuatnya tenang. Sosok yang selalu perhatian kepadanya itu tetap dan tak berubah sedikitpun. 


"Kakak baik. Baik banget. Kamu sendiri? Bagaimana keadaanmu?" 


Rein terlihat tersenyum di layar itu. Dia memperlihatkan wajahnya yang sudah tak ada bekas luka. Hanya kasa putih yang masih memutari kepalanya bagian atas untuk menutupi luka.


"Rein baik. Rein udah sehat, Kak," ucap Rein dengan antusias.


"Kakak senang melihatnya. Kakak bahagia lihat kamu udah mau bertahan dan sekarang bangun dari tidur panjangmu," ucap Humai dengan jujur. 


Akhirnya adik kakak itu saling bertukar cerita. Bagaimana ibu mereka meninggal, lalu bagaimana kejadian itu sebenarnya. Hingga satu pertanyaan dari bibir Rein yang lolos membuat Humai menelan ludahnya paksa. 


"Kemana suami, Kakak? Aku ingin tahu bagaimana wajah pria yang bahagia menikahi kakakku sampai bisa membuat Kakak hamil," kata Rein dengan wajah bahagia. 


Humaira tersenyum palsu. Dia memaksa tersenyum meski sebenarnya hatinya bingung harus mengatakan apa. Dia tak mungkin mengatakan semuanya dengan jujur. 


"Suami Kakak lagi kerja, Rein. Dia tak ada di rumah," ucap Humai dengan berbohong.


Dia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Humai tak mau pikiran Rein tertekan karena memikirkan nasibnya. 


"Aku ingin segera pulang dan kumpul denganmu, Kak. Aku ingin melihat calon keponakanku itu," ucap Rein dengan antusias.


"Sebentar lagi kamu pasti pulang, Nak. Dokter mengatakan bahwa keadaanmu stabil. Hanya tinggal kakimu saja," kata Mama Ayna yang suaranya terdengar. 


Rein mengangguk. Dia menatap Humai yang tengah menatapnya juga. 


"Aku akan semangat buat belajar berjalan lagi, Kak. Aku ingin segera pulang." 


Humaira mengangguk. Air matanya mengalir dengan bibir tersenyum begitu lebar. Bukan dia tak bahagia dengan ucapan Rein. Namun, pikirannya kini mulai memikirkan hal lain. 


Kini waktuku mulai habis. Aku akan meminta cerai dari Kak Syakir setelah semua pengobatan Rein telah selesai dan dia kembali kesini, ucap Humai dalam hati dengan setetes air mata mengalir.


~Bersambung


Humai bakalan nepati janji loh. Tunggu Rein pulang yah. Ini udah mulai menuju bab bom atom hehe. Puncak konflik setelah sekian purnama.

__ADS_1


__ADS_2