Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Menikahlah Lagi!


__ADS_3

...Saat ini yang ada dalam hati seorang ibu adalah kebahagiaan putranya. Apapun itu dia siap melakukannya meski harus bertaruh dengan dirinya sendiri....


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Wajah mungil dan menggemaskan itu terlihat begitu bahagia mencomot es krim kesukaannya itu. Ketiganya saat ini berada di kedai es krim langganan Jay. Anak Humaira itu tentu bercerita tentang dimana tempat dia selalu membeli es bersama ibunya. 


Maka dari itu, Jeno membawanya kesini. Tempat dimana anak itu sering datang kesini bersama muridnya. Bibir Jeno ikut tersenyum kecil melihat bagaimana lahapnya Jay memakan es krim tersebut.


"Pelan-pelan, Sayang," kata Humaira sambil mengusap bibir Jay yang belepotan dengan tisu.


"Ini enak, Bu. Jay suka," kata anak itu dengan mata berbinar. "Om nggak mau?" 


Jay menatap ke arah dosen tampan itu. Jeno sejak tadi memang belum memesan. Matanya tak lepas menatap ke arah Jay yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan.


"Memang Om boleh minta punya, Jay?" tanya Jeno pada Jay.


"Boleh," sahutnya dengan menatap ke arah Humaira. "Ibu bilang gak boleh pelit." 


Jeno menatap ke arah Humaira dan membuat gadis itu menunduk. Jujur ilmu parenting yang muridnya berikan pada anaknya sangat bagus.


Di umur dua tahun lebih, Jay sangat amat dewasa daripada anak seusianya. Bicaranya yang sangat lancar dan pikirannya yang tak pernah memaksa membuat Jeno suka dengan cara mendidik Humaira.


"Ibu ke kamar mandi dulu yah. Jay sama Pak Jeno sebentar. Boleh?" Pamit Humaira yang entah kenapa merasa gugup jika ditatap oleh dosennya itu.


Kepala mungil itu mengangguk. "Jay janji gak nakal." 


Humaira tersenyum. Dia bangga pada anaknya yang selalu ingat semua nasihat yang diberikan olehnya.


"Pak saya titip Jay sebentar yah," kata Humaira sebelum pergi.


"Ya." 


Sepeninggal Humaira. Jeno menoleh ke arah Jay. Dia mengambil tisu yang tadi dipegang Humai lalu diusapkan ke bibir anak dua tahun lebih tersebut.


"Jay mau tambah?" 


"Nggak, Om. Ini masih banyak," jawab Jay dengan menyendokkan es krim ke dalam mulutnya.


"Jay kalau main sama Ibu doang?" tanya Jeno yang penasaran pada kehidupan mereka.


Jay yang tadi fokus dengan es krimnya lekas mendongak. Kepalanya mengangguk menjawab pertanyaan dosen kesayangan banyak mahasiswa tersebut.


"Iya. Jay main kadang sama Opa, Oma, Kakek, Nenek, terus sama Ante Sefira," jawabnya menyebutkan semua anggota keluarga yang dia tahu. 


Dahi Jeno berkerut. Ada satu yang mengganjal dalam pikiran dosen itu. Tak ada satu nama yang anak laki-laki itu sebutkan.

__ADS_1


"Terus Ayah Jay?" 


"Ustt!" Jay meletakkan jari telunjuknya di depan bibir seakan mengatakan pada Jeno untuk diam. "Jangan bahas Ayah. Nanti Ibu Jay menangis." 


Jeno tak lagi bertanya. Dia menegakkan tubuhnya ketika melihat Humaira mulai berjalan ke arah mereka. Namun, setidaknya pria itu sudah menemukan satu jawaban.


Jawaban yang selama ini memenuhi pikirannya. Ya, seluruh kampus tempat dimana Humai belajar sangat tahu jika perempuan itu sudah memiliki anak tapi Jeno tak pernah tahu dan bertanya kemana suaminya.


Lalu sekarang, dia menemukan satu fakta. Fakta jika sepertinya pernikahan Humaira sepertinya telah usai. 


"Udah selesai, 'kan, Sayang? Ayo pulang!" ajak Humaira pada putranya. "Takut Opa sama Oma nyariin. Ibu gak bawa ponsel soalnya." 


Jay yang selesai melahap habis semangkuk besar es krim itu mengangguk. 


"Ayo, Om! Kita pulang!" 


Humaira meringis. Dia menatap ke arah Jeno dengan pandangan tak enak.


"Saya pulang naik taxi saja, Pak. Saya…" 


"Kamu berangkat sama saya, jadi pulang bersama saya juga," kata Jeno lalu dia beranjak berdiri meninggalkan Humaira yang menatap kepergian dosen dan anaknya yang terlihat sangat akrab.


Humai tak bisa melakukan apapun. Putranya juga mudah akrab dengan dosennya itu dan membuat Humai mau tak mau menuruti semua kemauan putranya.


...🌴🌴🌴...


"Ayo katakan apa?" ucap Humaira saat mereka berdiri di depan pagar rumah orang tua Humai. 


"Terima kasih, Om Jeno. Atas es krimnya. Jay suka," kata Jay dengan pandangan tulusnya.


Jeno tersenyum dan membuat Humaira yang baru melihat senyumannya terpanah. Baru kali ini Humai memergoki dosennya yang terkenal killer itu menarik kedua sudut bibirnya melengkung ke atas.


Terlihat manis dan begitu tampan, kata Humaira dalam hatinya. 


"Sama-sama," jawab Jeno dengan suara yang biasanya tegas kini terdengar lebih lembut. 


"Ibu turunin Jay!" kata anak laki-laki itu yang langsung diturunkan oleh Humai.


Dia berjalan mendekati Jeno dan meminta pria itu untuk mensejajarkan tingginya dengan dirinya.  


"Ada apa?" tanya Jeno pada Jay setelah dia berjongkok.


Tanpa diduga, Jay mendekat lalu dia mencium pipi Jeno yang membuat Humaira melebarkan matanya. 


"Terima kasih banyak, Om. Jay suka main sama Om Jeno. Lain kali main ke rumah Jay yah," kata putra Humaira itu dengan pandangan polosnya.


Ucapan Jay membuat mata Humaira berkaca-kaca. Ada perasaan sakit dalam hatinya. Ada perasaan yang tak bisa dijabarkan. 

__ADS_1


Dirinya sangat tahu maksud putranya itu. Jay adalah sosok anak yang kekurangan kasih sayang seorang ayah. Maka dari itu jika ada pria dewasa yang datang ke rumahnya maka Jay akan gampang akrab.


Setelah langkah kaki anak itu menjauh. Jeno berdiri dari duduknya setelah terpaku beberapa saat. Ada sesuatu dalam dirinya yang berontak. Seakan dia bisa melihat tatapan Jay yang begitu senang dengan dirinya. 


"Maafkan ucapan Jay jika menyinggung perasaan, Bapak," kata Humaira setelah menunduk dan mengusap air matanya yang tak sengaja menetes.


Jeno yang masih dejavu hanya mengangguk. 


"Saya pulang dulu," kata Jeno lalu segera berjalan ke arah mobilnya.


Humaira mulai berjalan ke pinggir jalan. Dia juga melambaikan tangan ke arah mobil dosennya yang mulai berjalan meninggalkan rumahnya. 


Setelah itu, Humai mulai menenangkan pikirannya. Perlahan dia berbalik dan mulai masuk ke dalam rumah. Samar-samar telinganya mendengar ocehan putranya.


Ya, Jay selalu bercerita pada Opa dan Omanya jika selesai melakukan apapun.


"Om Jeno baik, Opa. Dia temani Jay main bola terus beliin Jay es krim," kata Jay dengan semangat.


"Wah bagus dong. Jay jadi punya temen baru," ucap Hermansyah yang membuat Jay mengangguk.


"Jay mau ke ruang bermain," kata Jay lalu berlari meninggalkan Humaira dan kedua orang tuanya.


"Siapa Jeno, Nak?" tanya Emili saat Jay sudah tak terlihat.


"Dia dosen Humai, Ma." 


Humaira menarik nafasnya begitu dalam sebelum dia bercerita bagaimana tadi Jay dan Jeno bertemu. Tak ada yang ditutupi oleh Humai, semua dia ceritakan pada kedua orang tuanya. 


"Anakmu butuh sosok ayah, Nak," kata Hermansyah yang membuat Humaira mendongakkan kepalanya. "Sebanyak apapun kita memberikan kasih sayang, tak ada yang bisa menggantikan kasih sayang seorang ayah pada anaknya." 


"Tapi Papa tahu sendiri bagaimana pernikahan Humai dulu?"


"Maksud Papa bukan itu!" kata Hermansyah yang tahu jika anaknya ingin menghindar dari perkataan ini.


"Menikahlah lagi! Carilah suami dan ayah yang sayang dan nerima Jay sama kamu. Bukalah hatimu dan cobalah tutup harapanmu tentang dia yang akan kembali kepada kalian berdua." 


~Bersambung


Hemm udah dapet lampu ijo nih suruh nikah lagi si Humai.


Kira-kira pemenangnya orang baru atau orang lama yah?


Sambil nunggu novel ini mampir ke novel temanku.



Adhara Andromeda, seperti namanya yang berarti bintang paling terang di antara rasi bintang. Adhara adalah gadis ceria yang selalu menerangi orang di sekitarnya. Adhara bukanlah gadis dari keluarga kaya, ia hanya gadis biasa yang berhasil masuk dalam sekolah elit. Namun, di hari pertamanya sekolah ia malah harus terjebak pada tiga laki-laki tampan yang di sebut pangeran sekolah. Masalah tak pernah henti melibatkannya pada ketiga pangeran tersebut. Hingga rasa sayang menjebak mereka, ketiga pangeran tersebut perlahan menyayangi Adhara dengan rasa yang berbeda. Sedangkan Adhara juga mulai menyayangi mereka delam berbagai arti menyayangi. Bagaimana Adhara akan menghadapi setiap masalahnya bersama tiga pangeran tersebut? Baca ceritanya agar kalian tidak penasaran siapa yang kira-kira akan menarik hati Adhara dan menjadi pelabuhan untuk gadis itu. Arche dengan sikap hangat nya, Chan dengan sikap dinginnya, Atau Antariksa dengan sikap kasarnya?

__ADS_1


__ADS_2