Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Restu Syakir?


__ADS_3

...Ternyata mencoba memberikan kesempatan untuknya menjadi bagian dari diriku lagi. Tan seburuk membuka hati untuk orang baru memasukinya....


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Akhirnya tak lama, seorang pelayan datang dengan membawa pesanan yang Syakir sebutkan. Lima mangkok ramen kini tersedia di hadapan mereka. Humaira dan Sefira, menatap makanan itu dengan mata berbinar. Sudah lama sekali mereka tak makan mie ini semenjak kepindahan Humaira di Jakarta.


Ya, terakhir kali makan ramen ketika dulu masih bersama di Kota Malang. Dan itupun berarti pertanda sudah lama sekali mereka tak menikmati makanan asal Jepang ini. 


"Jay bisa, Sayang?" tanya Humai pelan sambil mencoba membenarkan posisi duduk Jay yang di dudukkan di sebuah kursi duduk bayi. 


Humaira mengabaikan miliknya. Dia lebih memilih membantu putrinya mendinginkan makanan miliknya. Dengan penuh ketelatenan, Humaira selalu mengutamakan apa yang harus diutamakan.


Sejak dulu, dimanapun mereka makan. Bersama siapapun. Sefira yang menjadi saksi bahwa Humai rela memakan makanannya yang dingin demi menyuapi anaknya dulu. 


Dengan pelan, Humaira menyuapi anaknya sedikit dulu. Dia ingin melihat apakah Jay suka ramen atau nggak.


"Gimana? Suka?" tanya Humaira pelan pada anaknya itu.


Jay mulai mengunyah dengan pelan. Wajahnya terlihat masih mencicipi dan merasakan ramen yang baru pertama kali ia makan. 


Sefira yang sama keponya ikut menoleh. Dia menatap keponakannya yang lucu itu tengah mencicipi makanan yang menjadi favoritnya ini. 


"Enak, 'kan, Jay?" tanya Sefira dengan memakan ramennya lagi.


Kepala mungil itu mengangguk saat dia berhasil menelan makanannya dengan pelan. Dia kembali membuka mulutnya dan membuat Humaira menyuapi putranya lagi.


Dia tahu Jay bisa memakannya sendiri tapi ia yakin pasti akan belepotan dan membuat bajunya kotor. Akhirnya dia memilih mengabaikan ramen miliknya dan menyuapi anaknya dulu sampai selesai.


Namun, berbeda dengan Syakir. Pria itu menjadi menghentikan gerakan tangannya. Dia menatap mantan istrinya yang telaten menyuapi putranya. Satu hal yang baru kali ini Syakir lihat secara langsung. Dia bisa melihat bagaimana sayangnya Humai lada putra mereka.


Hal itu membuat Syakir tak pernah menyesal telah menjatuhkan hatinya pada hUmai. Syakir tak kecewa jika dia mengejar cinta Humai sekarang. Wanita yang menjadi pujaaan hatinya itu adalah wanita yang begitu luar biasa. Wanita yang mampu memberikannya kesempatan untuk bisa kembali dan membangun rumah tangganya lagi. 


Inisiatif Syakir sendiri. Akhirnya dia menarik mangkok ramen milik Humai. Pria itu mencoba mulai mengaduk milik mantan istrinya itu dan menggeser kursi miliknya.

__ADS_1


"Eh, Kak," ucap Humaira yang terkejut saat Syakir bergeser di sampingnya.


Hal itu bukan hanya Humaira yang terkejut. Taoi Jeno dan Sefira juga melihat apa yang pria itu lakukan.


"Mau apa?" tanya Humai dengan jantung yang kembali berdetak kencang.


Entah kenapa ada di dekat Syakir membuat perasaannya tak karuan. Jantungnya terus deg degan dan keringat dingin membasahi telapak tangannya. Aroma tubuh Syakir menusuk hidungnya dan membuatnya tak fokus. 


"Ayo buka mulut," kata Syakir mengulurkan tangannya berniat menyuapi Humaira.


"Kalau kamu tunggu Jay selesai makan. Ramen milikmu bakalan gak enak. Ayo A' dulu!" kata Syakir menggerakkan tangannya lagi di depan bibir Humaira. 


Ah rasanya pipi Humaira telah bersemu merah. Dia berpikir apa Syakir gak melihat jika di sana bukan hanya ada mereka saja. 


"Biar aku sendiri aja," kata Humai mencoba menolak.


"Aku tak menerima penolakan. Ayo!" 


Akhirnya Humai tak bisa menolak lagi. Dengan pelan dia membuka mulutnya dan menerima suapan dari Syakir. Rasanya ramen itu sangat nikmat dan membuatnya dengan semangat mengunyah. 


Akhirnya adegan saling suap itu terjadi. Humaira yang menyuapi putranya dan Syakir yabg makam sendiri sambil menyuapi Humaira. Pemandangan ini tentu membuat Sefira tak hentinya tersenyum. Dia merasa bahagia melihat kakaknya bisa meraih kebahagiaannya lagi.


Percayalah, sebesar apapun pertengkaran Sefira dan Syakir dulu. Sefira selalu ingin yang terbaik untuk kakaknya. Dia selalu ingin Syakir bahagia dengan pilihannya sendiri.


Lalu sekarang, inilah pilihan kakaknya yang tepat. Menjadikan Humai dan Jay sebagai rumah untuknya di masa depan.


Namun, tanpa mereka sadari. Dari sekian banyak yang duduk disana. Ada seorang pria yang makan dengan keadaan diam. Diam karena sesuatu dalam hatinya merasa terusik. 


Jeno memang mencoba merelakan hatinya. Mencoba mengikhlaskan perasaannya untuk Humaira. Dia tahu tak akan bisa mendapatkan hati Humaira. Namun, ternyata melihat hal seperti ini belum sepenuhnya membuat Jeno tersadar bahwa cintanya tak akan ia raih. Dia masih berusaha mencari celah tapi ternyata pemandangan ini membuat pukulan telak untuknya. 


Pukulan telak bahwa dia harus mundur tanpa kata. Dia harus mencoba membuka hati untuk wanita lain. 


"Kalau begini caranya. Nasibku menyedihkan. Makan sendiri sambil liatin para ayank suap-suapan," celetuk Sefira yang membuat perhatian Jeno beralih.


Dia menoleh ke samping. Menatap seorang perempuan yang baru dua kali ia temui. Perempuan Yang entah kenapa mampu membuatnya tertarik. Bukan tertarik karena parasnya tapi karena sikapnya yang tak jaim.

__ADS_1


"Sefira? Wanita yang datang saat perasaanku masih terluka," batin Jeno sambil menatap ke arah Sefira dalam diam. 


"Apa kalian mau nambah?" tanya Sefira yang memakan ramennya di suapan terakhir.


Saat dia menoleh ke samping. Sefira merasa jantungnya tak aman. Apalagi saat adik Syakir itu menyadari jika Jeno sedang menatapnya dalam diam. 


Ya tuhan, mukanya itu kenapa kalau diem gini, makin ganteng, gumam Sefira dalam hati dengan menundukkan kepalanya. 


Rasanya Humaira ingin meledek sahabatnya itu. Dia melihat sendiri bagaimana ekspresi Sefira yang salah tingkah ketika ditatap oleh Jeno. Bagaimana sahabatnya itu yang malu-malu sekali dan terlihat begitu menggemaskan. 


"Gak usah diliatin terus. Gak bakal ilang!" gida Syakir yang membuat Jeno tersadar akan kelakuannya.


Jeno tersenyum saat kelakuannya ketahuan. Dia bahkan sambil mengusap tengkuk bagian belakang saat dirinya merasa malu ketahuan menatap sosok Sefira sejak tadi. 


Sedangkan Humaira. Dia mencoba mendekati sahabatnya itu saat Jay telah berpindah kursi. 


"Sampai merah gitu pipinya. Ku jatuh cinta di pandangan pertama ciee!" goda Humai sedikit berbisik yang membuat pipi Sefira semakin memerah.


Gadis itu menyenggol lengan Humaira. Dia tak mau semakin dibuat salah tingkah. 


"Ayo kita main. Kakak harus traktir aku di timezone bareng Jay. Sepuasnya!" kata Sefira menatap kakaknya untuk mengalihkan perhatian Humaira agar tak terus menggodanya. 


"Oke. Ayo!" 


Perlahan dua wanita itu mulai beranjak berdiri. Sedangkan Syakir lekas menatap ke arah Jeno yang sedang mencoba menetralkan dirinya.


"Santai aja. Dia adikku, Jen. Aku gak bakal ngelarang kamu buat deketin dia!" kata Syakir yang membuat Jeno mendongak menatap Syakir tak percaya. 


"Kamu pria baik. Kamu berhak mendapatkan gadis baik untukmu dan aku tak memuji adikku. Namun, ketahuilah dia tak pernah berhubungan dengan satu pria manapun!" 


~Bersambung


Yang satu bucin brutal, yang satu masih malu-malu. Hahaha gimana kalau sama-sama bucin mereka. Ngebrutal yang baca.


Kalau ada typo komen ya guys. Atau gak dm instagram aku. Bakalan aku revisi. Takutnya mataku ini masih seliweran.

__ADS_1


__ADS_2