
...Malam yang indah kini terlewati dengan begitu hangat. Cinta yang menggebu kini mulai membara dan ingin segera disatukan dalam kenikmatan yang luar biasa. ...
...~Guntur Syakir Alhusyn...
...🌴🌴🌴...
Syakir dan Humai saling membalas sesapan keduanya. Tak ada yang mengalah di antara ciuman keduanya. Baik Syakir ataupun Humai keduanya saling berusaha memberikan pelayanan terbaik dalam bibir mereka.
Dengan semangat juga, Humai sambil mendorong tubuh Syakir sampai posisi keduanya tertukar. Pria yang memiliki satu anak itu menyandar dan Humai yang tengah memimpin jalan.
Keduanya tak tinggal diam. Bibir Syakir tentu terus berusaha mengorek isi di dalam bibir Humai. Pria itu benar-benar seperti orang kehausan. Apa yang ada dalam bibir Humai, rasanya ingin segera dihabiskan.
"Kak? " Pekik Humai saat Syakir mendorong istrinya dan posisi mereka kembali ke semula.
Suasana semakin memanas. Apalagi ketika dengan pelan, tangan Syakir memegang pergelangan kedua tangan Humai. Ciuman keduanya masih tetap berlanjut. Mereka melepas saat nafas keduanya hampir habis.
Dengan satu kali gerakan, Syakir mulai mengangkat tangan istrinya itu keatas. Ciuman keduanya masih terlepas dan spontan tatapan keduanya saling beradu pandang.
Nafsu keduanya sudah besar. Humai yang terlihat pasrah dan Syakir yang mulai menggebu-gebu. Tingkah keduanya benar-benar mengalahkan tingkah anak muda. Mereka tak mau mengalah dan ingin terus bertingkah posesif dan manja.
Hingga akhirnya, ciuman Syakir mulai pindah. Dia menyerukan kepalanya di leher Humai. Menyesal leher putih dan jenjang itu dan meninggalkan bekas merah di sana.
Hal itu tentu membuat Humai tak sabaran. Dia bahkan sampai menggeliat kesana kemari menahan godaan dari suaminya.
"Kak, jangan menyiksaku! " Pekik Humai dengan mencoba menarik lehernya dari kecupan dan sesapan Syakir.
Pria itu benar-benar ganas. Humai yakin akan banyak ada bekas merah di lehernya. Tangannya masih di atas. Namun, entah kenapa posisi ini membuat Humai sangat nyaman.
Tak lama ciuman Syakir berpindah. Di kembali menyergap bibir ranum Humai yang mulai habis dengan pemerah bibirnya. Syakir benar-benar ganas malam ini.
Salah satu tangannya mulai turun sedangkan tangannya yang lain memegang kedua tangan istrinya agar tetap ke depan.
Dia mulai membalikkan tubuh istrinya. Memepetkan wajah dan tubuh istrinya di kaca pembatas. Lalu dengan pelan, Syakir mulai merayapkan tangannya.
Dia memasukkan tangannya ke celah baju hingga akhirnya kulit Syakir menyentuh perut Humai. Pria itu bermain-main disana. Humai bahkan sampai memejamkan matanya saat Syakir mulai bergerak menyentuh setiap inci kulit perutnya dengan gerakan menggoda.
"Agh! " Tanpa sadar Humai sampai mengeluarkan kalimat laknat dari bibirnya.
__ADS_1
Gerakan Syakir semakin dan amat sangat menggoda. "Kak jangan menggodaku! "
Humai mengatakan dengan lirih. Bahkan gadis itu sampai menoleh saat bibir Syakir menyentuh leher bagian belakangnya.
"Bagaimana, Sayang? " Tanya Syakir dengan mulai membuka resleting belakang baju istrinya.
"Aku… " Humai benar-benar tak bisa meneruskan ucapannya saat bersamaan dengan gaun yang ia pakai mulai jatuh di kedua kakinya.
Akhirnya untuk pertama kalinya. Dalam keadaan sadar, baik Humai dan Syakir saling memuaskan antara satu dengan yang lain. Bahkan dengan tarikan nafas yang berat.
Bibir Syakir mulai menjelajahi area pundak istrinya. Syakir benar-benar memenuhi tubuh Humai dengan simbol merah buatannya.
"Jangan tahan suaramu, Sayang, " Bisik Syakir dengan bersamaan tangannya masuk ke dalam segitiga bermuda.
Segitiga keramat yang menyimpan harta karun luar biasa. Harta karun yang mampu membuat Syakir tak kuasa menahan jeritannya malam ini. Dia yakin jika dirinya juga tak bisa menahan dirinya lagi.
Hingga tak lama, tangan Syakir mulai masuk ke dalam tempat basah itu. Syakir akhirnya bisa membobol dengan jari jemarinya. Bahkan dengan posisi yang sangat ingin dia coba.
Syakir semakin membuka kedua kaki Humai. Lalu dia menundukkan tubuh istrinya sampai Humai berpegangan pada kaca dan posisi seperti menunduk rukuk.
"Hal yang luar biasa, Sayang. Dan kamu, cukup nikmati kenikmatan ini, " Lirih Syakir sebelum dia mencium dua bongkahan besar milik Humai yang membuatnya terkesan seksi
Syakir kembali memasukkan tangannya. Namun, kali ini dia bergerak lebih cepat dengan menahan punggung Humai agar tak tegak. Pria itu benar-benar sedang menghukum Humai yang berhasil membuatnya tegang di dekat orang banyak.
"Terus, Kak! " Jerit Humai yang hendak sampai ke puncak kenikmatan.
Namun, dengan sengaja, Syakir melepaskan tangannya dan membuat Humai tak mendapatkan puncaknya.
"Kenapa di lepas? " Tanya Humai yang mulai menegakkan tubuhnya.
Syakir memang sengaja tak ingin istrinya sampai dulu. Bahkan dengan sengaja pria itu sedikit menjauhkan dirinya.
"Bagaimana rasanya, Sayang? Itu hukuman karena tak mau tanggung jawab tadi di restoran! " Kata Syakir dengan menaikkan alisnya tanda membalas dendam.
Humai menatap tak percaya. Apa kata suaminya itu. Jadi maksud Syakir, dia balas dendam.
"Jadi kamu hukum aku? " Tanya Humai mulai bergerak mendekati suaminya itu.
__ADS_1
"Ya," Jawab Syakir tanpa takut.
Tanpa takut juga, Humai mendorong suaminya sampai Syakir terjatuh di atas ranjang. Humai dengan seksi menaiki tubuh Syakir.
Wanita yang hanya memakai dalaman itu duduk di atas perut Syakir. Dia menatap suaminya dengan menggoda dan tangannya lekas berada di kerah baju Syakir.
"Sayang, kau? "
"Ini yang kau mau kan? " Tanya Humai dan bersama dia menarik baju Syakir dan membukanya dengan kasar sampai kancing baju itu terlepas.
Humai benar-benar garang. Setelah baju itu terlepas dia membuangnya ke lantai dan Humai lekas menciumi dada Syakir. Gadis itu juga melahap biii kacang kecil di dada Syakir dan membuat pria itu menggeliat.
Saat tangan Syakir berada di kepala Humai. Tangan Humai memegangnya dan meletakkan di atas kepala.
"Sampai tangan ini turun maka semuanya selesai! " Ancam Humai yang membuat Syakir akhirnya pasrah.
Humai dengan sekali gerakan membuka celana Syakir. Lalu meninggalkan ****** ***** yang membalut senjata suaminya yang begitu tegak dan besar.
Mata Humai membulat saat dia bisa melihat secara langsung. Meski hanya dibalut celana segitiga. Namun, kegagahannya masih terlihat jelas.
Dengan pelan, ibu satu anak itu mendekatkan wajahnya. Dia benar-benar memuji milik suaminya itu. Dan secara lembut, Humai memberikan sebuah kecupan.
Cup.
Perempuan itu mencium senjata itu yang masih dibalut dan membuat Syakir mengeluarkan suara laknat dari bibirnya.
Humai tersenyum. Akhirnya suaminya itu meneriakkan namanya. Perempuan itu lekas melepas segitiga suaminya hingga akhirnya Terpampanglah senjata meriam yang begitu besar itu.
Membayangkan jika itu masuk ke dalam miliknya membuat Humai kesusahan menelan ludahnya. Namun, mau bagaimana lagi. Dia tak bisa mundur dan membuat Humai memberanikan diri menyentuhnya dengan tangan.
"Ya seperti itu, Sayang. Ayo! " Kata Syakir dengan pandangan penuh harap.
~Bersambung
Udah panas dingin belum? maklum gengs. Casanova dah lama puasa yakan haha.
Mau lanjut gak? hahhaa harus vote dulu yekan. Ini udah paling lalala loh yah. Dah ninuninu
__ADS_1