
...Percayalah terkadang membuka hati yang baru dan memulai hubungan yang baru adalah alur yang sangat membuatku takut. ...
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
"Apa!" teriak dua perempuan yang menatap ke arah Humaira tak percaya.
"Jadi keponakan tampanku sudah tahu. Kalau pria gila itu ayah kandungnya?"
"Heh!" Humaira menepuk pundak Lidya.
Sahabatnya yang satu ini memang paling bar-bar. Apalagi jika menyangkut tentang dirinya dan Mira, Lidya akan berada di garda terdepan untuk melindunginya.
"Ya bener, 'kan? Bayangin aja, dia udah nyakitin Lo dan sekarang datang-datang seenaknya nemuin Jay?" ucap Lidya dengan kesal. "Gak ikut lahirin, gak ikut ngerawat, sekarang ambil perhatiannya. Bener-bener sinting tu orang!"
"Husst, Lid!" seru Humai menggeleng.
"Gue tau Lo udah cinta sama dia tapi apa Lo mau nerima dia lagi? Secara dia udah nyakitin Lo sama Jay?" tanya Lidya pada sahabatnya itu.
Humaira menunduk. Dirinya juga berada dalam kebimbangan. Dia memang cinta pada Syakir. Namun, mengingat kenangan yang pria itu ciptakan di masa lalu, lalu bagaimana mentalnya yang kembali terguncang dengan pertemuan mereka tetap menjadi sesuatu yang berat untuk Humai.
Ada perasaan ingin egois, ada perasaan ingin marah. Namun, mengingat bagaimana ekspresi wajah putranya. Bagaimana sikap Jay yang sangat bahagia saat bersama Syakir tadi. Bagaimana anak itu yang sangat menyukai kebersamaannya dengan sang ayah kandung, membuat Humai takut untuk menjauhkannya.
Apa dia setega itu?
Apa dia mampu melihat putranya memendam perasaannya lagi seperti dulu?
Karena takut dirinya menangis, Jay tak pernah menanyakan tentang ayah kandungnya.
No! Humai tak seegois itu. Dia seorang ibu anak satu. Dirinya bukan seorang gadis lagi. Pemikirannya bukan semandiri itu sekarang. Dia harus memikirkan perasaan anaknya juga.
"Tapi pemikiran kita berbeda, Lidya," lirih Humai dengan air mata yang mulai menetes. "Kalau Lo mungkin, iya bisa bicara kek begitu. Tapi gue?"
"Kenapa?" tanya Lidya dengan kening berkerut.
"Kita beda, Lid. Lo bilang begitu karena Lo belum ada Jay kecil tapi gue…" jeda Humai dengan air mata yang mulai menetes. "Gue ada Jay kecil yang harus gue jaga perasaannya."
"Selama ini dia nahan perasaan dia. Dia gak pernah tanya soal Syakir karena gue selalu nangis setiap ditanya soal itu. Terus apa gue harus egois terus?"
"Apa gue harus nyembunyiin Syakir sama Jay? Apa gue bisa sejahat itu sebagai seorang ibu?"
"Meski gue sama Syakir cerai karena perlakuan dia. Meski gua sama dia hanya sebuah status mantan tapi Lo harus ingat, gak ada namanya mantan ibu dan ayah!" kata Humai dengan air mata yang sudah mengalir begitu deras. "Gue tetap ibu kandung Jay dan Syakir, sekejam apapun perkataan dia, dia tetap ayah kandung Jay!"
"Mai!" panggil Lidya dan Mira yang sama-sama meneteskan air.
__ADS_1
Keduanya menatap Humai dengan menyesal. Tanpa kata mereka lekas memeluk Humai yang terlihat begitu lemah. Akhirnya segala keresahan dalam hati Humai tersalurkan.
Bukan dia tak laku. Bukan dia merasa hanya ingin bersama Syakir. Namun, siapapun yang merasakan menjadi seorang ibu, pasti mampu memahami perasaan Humai.
Dia hanya ingin mengutamakan kepentingan putranya. Dia ingin menomorsatukan kebahagiaan putranya di atas dari kebahagiaan dirinya sendiri.
"Maafkan Lidya, Mai," kata Lidya dengan perasaan bersalah.
Humai menggelengkan kepalanya dalam pelukan kedua sahabatnya.
"Kalian gak salah," ucap Humai dengan sesenggukan.
Pelukan itu perlahan terlepas. Untung saja disana tak ada siapapun. Hanya mereka bertiga yang selalu berada disini ketika ingin menghabiskan waktu bersama-sama. Area belakang kampus. Suasana yang sangat sepi, sunyi dan begitu tentram membuat tiga wanita itu menjadikan tempat ini sebuah basecamp ketiganya.
"Jangan menangis," bujuk Mira menghapus air mata sahabatnya.
Humai mengangguk. Tiga orang itu saling memandang lalu terkekeh bersama saat wajah mereka terlihat begitu berantakan.
Apalagi eyeliner yang digunakan Mira dan Lidya sedikit meleber membuat ketiganya tertawa dengan begitu lebarnya.
"Jelek banget muka kita kalau habis mewek gini. Yang ditangisi si Syakirun!" cibir Lidya yang membuat Humai dan Mira terkekeh pelan.
Akhirnya ketiganya lekas mengambil tisu yang ada di dalam tas. Lalu mereka lekas mengusapkan di wajahnya. Setelah membersihkan penampilan mereka. Merapikan wajah mereka yang habis menangis dan meyakini bahwa wajah merrka tak buruk lagi. Ketiganya lekas pergi dari sana.
Tak ada lagi jadwal kampus. Hari ini mereka akan ke kantin kampus dulu sebelum pulang. Ketiganya sudah merasa haus karena lelah menangis sejak tadi dan akan menghilangkannya dengan minum atau makan bersama.
...🌴🌴🌴...
"Humai," panggil suara seoranh pria yang sangat familiar di telinga Humai beberapa hari ini.
Perempuan itu lekas berdiri dan menundukkan kepalanya.
"Iya, Pak."
"Apa kamu mau pulang?" tanya pria yang ternyata adalah dosen killer yang tak lain tak bukan adalah Jeno.
"Hmm."
"Ya, Pak. Kami mau pulang," jawab Lidya dengan ikut berdiri.
Humai membulatkan kedua matanya. Niat hati meminta bantuan malah dijebak oleh kedua sahabat gilanya itu.
"Oh yaudah. Ayo saya antar, Mai!" kata Pak Jeno yang memang mendapatkan jadwal mengantar Humai.
"Em itu, Pak. Saya…" jeda Humai yang ingin beralasan.
__ADS_1
"Saya ingin mengatakan sesuatu, Mai. Jadi bisa pulang dengan saya kali ini?" ujar Jeno yang membuat Humai mendongak.
Dia bisa melihat tatapan permohonan disana. Hal itu membuat Humai yang memiliki hati lembut tak mampu menolak. Akhirnya dia lekas berpisah dengan dua sahabatnya.
Diringa berjalan di samping Pak Jeno menuju mobil pria itu. Tentu pemandangan seperti ini membuat beberapa pasang mata mahasiswi merasa iri.
Mereka merasa sikap dosen killer yang terkenal di kampus itu berubah jika bersama Humai.
"Silahkan masuk!" kata Jeno membukakan pintu.
"Tapi Bapak gak perlu…"
"Ayo masuk!" kata Jeno yang menyela.
Humai hanya bisa menarik nafasnya begitu dalam. Dia mengepalkan kedua tangannya seakan merasa tertekan.
Dia merasa tak mau menyakiti hati pria sebaik Jeno. Humai juga bisa menebak apa yang akan dosen killernya itu katakan. Dia tak siap. Dia tak siap mengatakan apa yang ada dalam hatinya. Namun, siap tak siap. Dia harus siap menghadapi Jeno dengan perasaannya.
"Kamu gak buru-buru pulang, 'kan, Mai?" tanya Jeno yang mulai melajukan mobilnya.
Humai menunduk. Dia mihat jarum jam di tangannya yang masih menunjukkan pukul sebelas siang.
"Nggak, Pak. Jay juga ada Mama sama Papa di rumah," kata Humai dengan jujur.
"Mau temani saya makan siang? Sekalian saya ingin berbicara sesuatu sama kamu, Mai. Boleh?" pinta Jeno pada Humai.
"Iya, Pak. Boleh."
~Bersambung
Ternyata tetep nangis nulis part Humai ama Lidya Mira, huhu
Ingat yah! gak ada namanya mantan bapak atau ibu meski mereka telah bercerai.
Btw aku bawa rekomendasi novel bagus. Karya teman aku.
Karena nila setitik rusak susu sebelanga, itulah perumpamaan yang terjadi dalam kehidupan Khalisa Suci Kirani Jejak noda yang tersemat padanya membawa lara Cemoohan sudah akrab menyapa yang selalu ditanggapi Khalisa dengan senyuman Bahkan secara tak terduga, orang orang yang dianggapnya keluarga termasuk sang suami, bermain madu dan racun di balik punggungnya sebab jejak noda tersebut.
Namun, saat poros hidup yang menjadi kekuatannya terenggut dari sisinya, mampukah Khalisa tetap tersenyum kala noda itu menyeretnya hingga ke dasar nestapa?
Yudhistira Lazuardi, si pengacara muda yang memutuskan mandiri dan menjauh dari keluarganya demi meredam kisruh di dalamnya, alih-alih mendapat ketenangan, hidupnya mendadak tak lagi sama saat membiarkan sosok Khalisa yang dipenuhi problema masuk ke dalamnya.
"Dua ratus juta!"
__ADS_1
"Dua ratus juta di muka sekarang juga, untuk dia!" Yudhistira mengarahkan telunjuknya tepat pada Khalisa Dengan rahang mengetat dan sorot mata tajam tak terbaca
Akankah Khalisa tetap suci semurni arti namanya? Atau justru tergerus noda yang tak pernah diinginkannya.