
...Percayalah seorang kakak akan bahagia ketika melihat adiknya bisa bahagia dengan bebas dan tanpa beban....
...~Guntur Syakir Alhusyn...
...🌴🌴🌴...
Hari yang dinanti akhirnya tiba. Pernikahan Jeno dan Sefira sudah di depan mata. Banyak keluarga besar dari keluarga Sefira dan Jeno yang datang. Mereka benar-benar membuat acara akad nikah yang mungkin bisa dibilang jauh lebih besar daripada Syakir dan Humai.
Pernikahan itu terlihat mulai dipenuhi oleh banyak tamu undangan. Meski hanya akad nikah dan resepsi akan menyusul bersama Syakir Humai tapi keluarga Jeno yang banyak ternyata mampu membuat suasana terasa lebih ramai.
Banyak keluarga Jeno yang tak menyangka jika Sefira dari keluarga terpandang. Penampilannya yang selalu sederhana membuat mereka semua benar-benar terkejut.
Tapi begitulah Sefira. Dia adalah sosok wanita yang tak pernah memakai perhiasan ataupun berpenampilan berlebihan. Dia selalu memakai apa yang dia suka dan membuatnya nyaman.
Nuansa putih, khidmat dan begitu mengharukan mulai terasa di sebuah ruangan dimana dibesarkannya sosok Sefira di rumah ini. Suara ustadz mengaji memenuhi ruangan. Tangan berkeringat dingin itu mulai terasa dengan jantung berdegup kencang.
Ya akad nikah akan dimulai beberapa menit lagi. Semua orang dan pengantin pria juga sudah duduk tepat di hadapan Papa dari sang pengantin perempuan. Semuanya tentu meneteskan air mata saat suara nanti merdu itu begitu menenangkan.
Hingga akhirnya detik-detik dimana tanggung jawab seorang ayah akan berpindah akan dimulai. Sebuah kejadian dimana tanggung jawab itu akan ada di pundak pria yang menjadi imam halalnya.
Jeno, pria itu menatap Papa Haidar tanpa ragu. Mata tajamnya begitu mantap dan pasti. Kepalanya mengangguk saat penghulu mengatakan sesuatu padanya.
Tak ada suara apapun. Selain suara Papa Haidar yang mengikuti penghulu dan membuat jantung semua orang tentu berdegup kencang.
Jeno merasakan gugup untuk pertama kalinya. Pria yang biasanya selalu percaya diri itu kini mulai merasa susah menelan ludahnya sendiri.
"Dibayar tunai! "
"Saya terima nikah dan kawinnya Giska Sefira Alhusyn Binti Haidar Alhusyn dengan mas kawin tersebut dibayar tunai! "
"Gimana para saksi? "
"Sah."
Air mata Jeno menetes tanpa bisa ditahan. Dirinya bahkan merasakan tangannya gemetar. Akhirnya saat yang ditunggu datang juga. Saat dimana tak ada lagi batasan antara dirinya dan Sefira. Tak ada lagi batasan yang membuatnya tak diizinkan menyentuh kekasih yang sekarang menjadi istrinya itu.
"Selamat, Nak. Jaga putri Papa yah, " Kata Pala Haidar dengan air matanya yang ikut menangis.
Jeno menganggukkan kepalanya tanpa ragu. Dia benar-benar tak akan menyia-nyiakan Sefira. Dirinya berjanji pada dirinya sendiri akan melakukan istrinya itu. Seperti sosok papanya yang selalu mengutamakan mamanya.
__ADS_1
"Pengantin wanita memasuki ruangan, " Kata MC yang membuat Jeno berdiri di tempatnya.
Dia menatap ke depan sana. Dimana istrinya itu berada. Sosok wanita yang kini berdiri dengan diapit oleh Humaira dan kedua sahabatnya tengah berjalan menuju ke arahnya.
Sosok yang begitu cantik dimata Jeno. Sosok yang begitu luar biasa dan membuat air mata Jeno mengalir kembali.
Jujur mungkin ini memang beban baru dalam dirinya. Bukan beban melainkan apa yang menjadi jalan istrinya kini menjadi tanggung jawab baru di pundaknya. Semua yang akan dilakukan Sefira kini akan menjadi dosa dan pahalanya.
Semakin dekat, Jeno bisa melihat mata Sefira berkaca-kaca. Suasana memang tengah mengharu biru. Hingga akhirnya pasangan pengantin baru itu kini saling berhadapan dengan tatapan penuh cinta.
Dengan pelan, Jeno mengulurkan tangannya. Dan untuk pertama kalinya akhirnya keduanya saling menggenggam dalam hubungan suami istri.
Keduanya berdampingan bersama dan saling tersenyum satu sama lain.
"Kamu cantik, Sayang, " Kata Jeno yang membuat pipi Sefira bersemu merah.
Bukan hanya Sefira yang salah tingkah. Tapi Mei dan Lidya, dua wanita jomblo itu masih disana tentu juga merasa gemas.
"Meleyot hati aku, Mei! " Kata Lidya dengan menatap pasangan pengantin baru itu.
"Otak Lo isinya! " Kata Mei menepuk kepala sahabatnya itu.
Akhirnya pasangan suaminya istri baru itu mulai saling bergantian memasangkan cincin. Keduanya juga mulai saling bersiap untuk Jeno membaca doa sambil memegang ubun-ubun istrinya.
"Semoga kebaikanmu dan kebaikanku akan membawa berkah untuk keluarga kecil kita, Sayang," Kata Jeno setelah membaca doa dan membuat Sefira menangis.
Dia lekas meraih tangan Jeno dan menciumnya. Begitupun dengan Jeno. Dia mencium dahi istrinya dengan begitu lembut dan membuat banyak kamera yang mulai mengarah ke arah mereka.
Wajah bahagia tak bisa di tutupi disana. semua yang melihat kebahagiaan pasangan baru itu juga melebarkan senyumannya.
Sedangkan Jeno. Dia tak peduli ada sekitarnya. Pria bucin satu ini langsung memeluk Sefira di hadapan semua orang. Kebahagiaan, rasa haru yang di rasakan membuatnya ingin memeluk belahan jiwanya itu.
"Terima kasih sudah menerimaku, Sayang. Aku mencintaimu, " Kata Jeno dengan pelan.
"Aku juga mencintaimu, " Balas Sefira dengan menikmati pelukan itu.
...🌴🌴🌴...
"Selamat untuk kalian berdua yah, " Kata Humaira yang lekas mendekati keduanya.
__ADS_1
Sejak tadi mereka memang tak bisa mendekati Sefira dan Jeno. Keluarga yang ingin berfoto dan para fotografer yang ingin mengabadikan momen membuat Humai dan Syakir mengalah.
Keluarga kecil dengan Jay ditengahnya itu memberikan pelukan sayang pada pasangan pengantin baru itu.
"Makasih, Ra. Selamat juga buat, Kakak Iparku, " Kata Sefira dengan terkekeh.
Rasanya mengatakan panggilan itu membuat keduanya merasa aneh. Mereka yang sudah berteman lama dan sudah akrab dengan panggilan biasanya membuat keduanya tak biasa akan panggilan itu.
"Jaga janjimu, Jen. Jaga adikku dengan baik, " Kata Syakir sambil memberikan pelukan ala pria pada Jeno.
"Tentu, Kak, " Kata Jeno yang sadar bahwa sekarang dia adalah adik ipar Syakir. "Aku akan menjaganya sebaik mungkin. "
Jeno dan Syakir melepaskan pelukannya. Keduanya sama-sama mengangguk dan tersenyum.
"Ante Fira cantik, " Puji Jay saat dia selesai mencium punggung tangan Sefira.
"Masak sih? " Tanya Sefira dengan menatap ke arah ponakan lucunya itu.
"Iya. Cantik banget. Kayak Ibu waktu itu, " Ujar Jay yang membuat Sefira tersenyum.
"Kalau Ante cantik. Cium dong! " Kata Sefira memajukan wajahnya dengan pelan.
Bukannya mendekat. Jay malah semakin jauh dan menutupi mulutnya. Dia menggelengkan kepalanya tak mau.
"Ante, No! " Kata Jay dengan menutupi wajahnya menggunakan kedua tangan.
"Sini cium Ante! " Goda Sefira semakin menjadi.
Adik Syakir itu tahu sejak dulu Jay tak suka mintanya memakai make up yang tebal.
"Ayah! "
"Udah, Giska. Astaga! " Kata Syakir menghentikan aksi adiknya itu.
Jika tak dihentikan. Syakir bisa memastikan putranya akan menangis.
"Kalau kamu pengen anak, minta ke Jeno. Biar nanti kamu bisa godain anak kamu sampai nangis! "
~Bersambung
__ADS_1
Akhirnya sah kan. Huaa yeyyy jangan lupa geng. vote yah biar aku semangat.