
...Percayalah kebahagiaanku yang sesungguhnya ketika senyummu datang dan selalu hadir tanpa kuminta. ...
...~Guntur Syakir Alhusyn...
...🌴🌴🌴...
Tak terasa waktu terus berjalan dengan cepat. Hari telah berganti malam. Dua pria dengan perbedaan usia terlihat tertidur dengan begitu tenangnya.
Wajah keduanya bahkan sangat amat meneduhkan hati seorang wanita yang tengah menyelimuti tubuh keduanya. Dirinya mengusap kepala putranya dan adiknya.
Ya, Reyn, adik semata wayangnya tidur di kamar hotel Syakir dan Humai. Mereka tidur di atas ranjang yang membuat pasangan pengantin baru itu mengalah.
"Selamat tidur dan semoga mimpi indah, " Bisik Humai pelan sambil mencium dahi adik dan putranya itu.
Setelah memastikan semuanya aman. Humai lekas berjalan ke arah rumah TV yang ada di samping kamar. Dia melihat suaminya bersantai di atas sofa panjang yang bisa dijadikan kasur.
Dengan pelan, Humai mendekati Syakir. Dengan manja dia masuk dalam pelukan suaminya dan menyusupkan wajahnya di leher Syakir.
"Maaf ya, Kak. Malam ini kita tidur disini, " Bisik Humai merasa bersalah.
Bagaimanapun dia tahu jika suaminya ingin tidur di ranjang yang empuk. Namun, kedatangan Reyn tentu membuat Humai tak tega meminta adiknya tidur di bawah.
"Kenapa minta maaf? " Tanya Syakir lalu mendongakkan kepala Humai.
Dia menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah istrinya dan mencium hidung Humai.
"Ketika aku memintamu kembali menjadi istriku. Ketika aku sudah mengucapkan ijab kabul. Maka keluargamu adalah keluargaku juga, Sayang, " Kata Syakir dengan tulus.
Apa yang dikatakan oleh pria itu benar. Ketika dirinya siap menjadikan Humai seorang istri. Maka keluarga istrinya adalah keluarganya juga. Orang tua istrinya adalah orang tuanya juga dan adiknya pun akan menjadi adik Syakir juga.
"Terima kasih, Kak. Terima kasih. "
Syakir tersenyum. Dia memeluk istrinya lagi dengan perasaan begitu hangat.
"Aku akan meminta selimut tambahan, Sayang. Kita gak mungkin tidur disini tanpa selimut, " Kata Syakir mencoba melepas pelukan istrinya.
"Nanti aja, Kak. Aku masih pengen kayak gini, " Kata Humai yang membuat bibir Syakir tersenyum.
Dia bahagia melihat istrinya kembali manja adanya. Dia bahagia Humai yang dulu kini terlihat lagi. Istrinya tak malu-malu mengungkapkan perasaannya yang membuat Syakir mengerti jika istrinya itu kini mulai nyaman bersamanya.
__ADS_1
Tanpa diduga Syakir bergerak hingga Humai ada di bawah tubuhnya. Hal itu tentu membuat Humai gelagapan. Dia menatap sekitar karena takut posisi mereka akan membangunkan semua orang.
"Kak, " Bisik Humai dengan mata terbelalak. "Jangan aneh-aneh. Ada Reyn disini! "
"Aku cuma minta satu macam, " Bisik Syakir dengan pelan.
Dengan pelan wajah pria itu perlahan mendekat. Semakin dekat, mata Humai perlahan menutup dan akhirnya bibir Syakir mendarat sempurna di bibir Humai.
Kedua bibir itu saling menyesap antara satu dengan yang lain. Saling tak mau mengalah antara satu dengan yang lainnya. Seakan mengorek isi di dalamnya dan membuat Syakir dan Humai mulai lupa dengan keadaan sekitar.
Tangan Humai telah berpindah di leher Syakir. Melingkar sempurna dan semakin menariknya agar semakin dekat. Pasangan pengantin baru itu seakan lupa akan sekitarnya. Hingga Syakir yang paham, perlahan menarik dirinya.
"Tenanglah, Sayang. Tunggu! "
Akhirnya Syakir beranjak berdiri. Dia berjalan ke arah telepon hotel dan segera menekan panggilan disana.
"Saya ingin memesan satu selimut lagi, " Kata Syakir pada pelayanan hotel.
Biarlah dia menambah tips atau apapun. Namun, untuk saat ini dia benar-benar butuh itu.
"Terima kasih. "
...🌴🌴🌴...
Setelah mendapatkannya. Dia menutup pintu itu dan berbalik. Dari tempatnya berdiri dia menatap Humai yang masih terbaring di sofa dengan menatap ke arahnya.
Tatapan mata yang mengisyaratkan sesuatu yang sebenarnya diinginkan keduanya. Namun, suasana yang terjadi tentu membuat Syakir. Si kepala Cassanova memiliki ide gila.
Ah ide gila yang memberikan semangat untuk dedek manisnya. Dengan pelan dia mulai mendekati istrinya dan kembali mencium bibir Humai.
Dua orang itu benar-benar mulai membuat dunianya sendiri. Saling menyesap saling merajalela kedua tangan mereka. Syakir memang sudah tak sabaran.
Lebih tepat cuaca dingin di Korea ini membuat sesuatu dalam dirinya ingin terus. Ingin bersama istrinya. Ingin ada dalam pelukan istrinya dan menghabiskan waktu dengannya begitu banyak.
"Sayang, " Bisik Syakir sambil melepaskan ciumannya.
Mata Humai yang tadinya terpejam kini terbuka. Dia menatap wajah suaminya dengan nafas naik turun.
Gairah keduanya sangat amat terlihat di kedua mata mereka. Wajar saja, namanya pengantin baru pasti selalu ingin menempel dan mendekat antara satu dengan yang lain.
__ADS_1
"Pengen, " Kata Syakir meng kode dengan pelan.
Tanpa diduga, Humai menarik kepala Syakir dan mencium bibirnya lebih kuat. Ah Syakir tentu membalasnya dengan tak kalah ganas.
Dia sudah memberikan kode dan mendapatkan jawaban bahwa istrinya juga menginginkannya. Akhirnya dengan pelan Syakir menidurkan istrinya di sampingnya.
Lalu dia, menyelimuti tubuh keduanya sampai Syakir ada tepat di belakang Humai.
"Pegang selimut ini dengan kuat, Sayang. Perlindungan kita ada di selimut ini, " Kata Syakir yang perlahan tangannya mulai merayap di celana tidur Humai.
Dengan pelan, Syakir menarik celana tidur dan melepaskannya. Lalu sampai ke lain terakhir. Segitiga bermuda yang membuat Humai merasakan angin AC masuk ke dalam inti tubuhnya.
"Kak! " Pekik Humai spontan menutup bibirnya.
Dia terkejut saat Syakir tiba-tiba mengusap inti tubuhnya yang membuat Humai gemetaran. Apalagi saat tangan Syakir mulai masuk dan menyelinap di sana yang membuat Humai harus pandai menahan suaranya.
"Tahan atau kita akan ketahuan! " Kata Syakir yang perlahan menarik tangan dan memasukkannya lagi.
Tangan itu terus bergerak dengan lincah. Sampai hal itu membuat Humai rasanya hampir gila. Tanpa kata perempuan itu berbalik dan mencium bibir Syakir dengan garang.
Tangan Syakir tak berpindah atau bergerak. Masih tetap di sana keluar masuk dengan begitu gilanya. Namun, sekarang tangan Humai juga bergerak tak mau kalah.
Dia membuka celana pendek suaminya hingga senjata itu akhirnya terlepas bebas. Milik suaminya ini memang benar-benar idaman.
Humai memegang dan mengelusnya hingga wajahnya bisa melihat bagaimana ekspresi Syakir yang memejamkan matanya.
"Sayang! " Bisik Syakir yang melepaskan tangannya dari inti tubuh istrinya.
Syakir menatap wajah Humai. Bagaimana tangan gadis itu yang naik turun dan memberikan kenyamanan pada senjatanya itu.
"Sayang aku tak tahan! " Kata Syakir laku mulai bergerak dan membalikkan tubuh Humai agar membelakanginya.
Syakir sudah tak bisa menunda atau mundur lagi. Dia benar-benar sangat ingin memasuki istrinya sekarang. Tangan Syakir mulai memegang pinggul Humai.
Menempatkan miliknya tepat di depan gerbang indah yang basah dan menggiurkan itu.
"Tahan suaramu, Sayang. Gigit selimut itu jika kau tak tahan dan pegang agar tak jatuh. Ingat, bukan hanya Jay disana tapi ada Reyn juga, " Bisik Syakir pelan sambil menyelipkan miliknya kedalam milik istrinya hingga membuat mata keduanya terpejam.
~Bersambung
__ADS_1
Kabur ah kabur astaga. Udah ngetik malah merem semalam hish. ampuni aku. Padahal novel ini harus tamat pertengahan bulan.