Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Tidur Di Lantai?


__ADS_3

...Mungkin ini memang keputusan yang menyakitkan tapi aku mencoba menerima karena sadar bahwa anak yang kukandung juga butuh kasih sayang ayah kandungnya meski itu mungkin mustahil mereka dapatkan....


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Akhirnya acara pemotretan itu selesai. Pernikahan sederhana itu berakhir dan semua orang mulai meninggalkan rumah Syakir bergantian. Wajah semua orang sangat bahagia melihat bagaimana jamuan keluarga Syakir yang tak main-main. 


Meski hanya sebuah akad nikah dan sesi foto. Mereka tetap menyiapkan prasmanan dengan makanan mewah dan enak. Bagaimanapun Papa Haidar dan Mama Ayna, sangat bahagia dengan pernikahan ini. 


Dia berharap semoga putra pertama mereka menerima takdir ini dan mau menjalankan peran suami dan calon ayah yang baik untuk Humaira dan calon anak mereka. 


"Ajak Humai ke kamarmu, Syakir! Dia juga butuh istirahat," kata Mama Ayna saat Syakir mulai beranjak dari sofa dan hendak berlalu.


Syakir menoleh. Dia menatap Mama Ayna tak percaya.


"Tapi, Ma…" 


"Kenapa? Kamu mau menolak?" seru Mama Ayna dengan menatap putranya. "Ingat, Syakir! Sekarang dia adalah istrimu. Dia adalah jantungnya rumah tangga yang harus kamu jaga. Dalam perutnya juga, tumbuh anakmu!" 


Syakir menatap mamanya tak percaya. Telinganya sampai panas saat harus mengingat dan membahas tentang anak yang sangat tak diharapkan kehadirannya. 


"Sana, Sayang. Ikuti suamimu dan pergilah istirahat!" kata Mama Ayna pada Humaira.


"Iya, Ma." Humai mengangguk.


Dia beranjak berdiri. Humai sebenarnya merasa takut. Apalagi ketika syakir menatap tajam ke arahnya. 


Tanpa berkata, pria itu segera berjalan lebih dulu. Dia tak berniat membantu atau menggandeng tangan istrinya. Syakir benar-benar tak mempedulikan Humai yang membuat Mama Ayna berdiri dan mendekati wanita yang kini menjadi menantunya itu. 


"Pelan-pelan ya, Nak. Jangan diambil hati perilaku Syakir. Dia belum tahu dan belum melihat kebaikan hatimu," kata Mama Ayna yang membuat Humai tersenyum. 


Perlahan perempuan hamil itu membalas genggaman tangan mertuanya. Lalu menciumnya dengan lembut.


"Restui Humai ya, Ma. Doakan Humai bisa melewati semuanya." 


"Pasti, Sayang!" 


Setelah itu, Humai segera berjalan menyusul Syakir. Dia melihat pria yang menjadi suaminya itu telah menaiki tangga satu per satu ke lantai dua. Humai dengan pelan menaiki tangga itu juga. Berpegangan pinggiran tangga dan mulai naik satu per satu.


Hingga saat dia sampai ke ujung, Humai menghentikan langkahnya. Nafasnya ngos-ngosan dan dia menyadari jika hamil membuat tubuhnya sedikit lebih lemah daripada biasanya.


"Ayo!" seru Syakir dengan suara tegasnya saat Humai tak lekas berjalan. 


Tentu hal itu membuat sahabat Sefira langsung berjalan dengan cepat. Dia menyusul Syakir yang mau membuka pintu kamarnya.  


"Lelet banget sih!" cibirnya yang membuat Humai harus banyak-banyak istighfar. 

__ADS_1


Saat keduanya sudah sampai di dalam kamar Syakir dan pintunya ditutup rapat. Humai bisa mencium aroma maskulin tubuh suaminya tiu. Entah kenapa menurut Humai bau itu begitu menenangkan dirinya dan calon anak yang ada dalam kandungannya. 


"Ingat! Jangan pernah menyentuh barang milikku dikamar ini atau kau, akan kutendang dan tidur di luar," seru Syakir menunjuk wajah Humai.


"Iya, Bang!" jawab Humai yang membuat Syakir menatapnya tajam.


"Aku bukan abangmu dan kau bukan adikku!" seru Syakir dengan nada sindiran. "Jangan panggil aku dengan style desamu itu." 


Setelah mengatakan itu, Syakir segera membuka jas yang sejak tadi melekat di tubuhnya. Dia melepas jas itu di atas ranjangnya, lalu bergantian kaos kaki dan sepatunya yang ia letakkan sembarangan.


Tanpa menyapa atau menyuruh Humai duduk, Syakir segera masuk ke dalam kamar mandi. Dia merasa gerah sekaligus kepalanya sakit setelah melewati banyaknya masalah di satu hari ini.


...🌴🌴🌴...


Akhirnya saat Syakir mulai memasuki kamar mandi. Humaira menatap sekeliling. Dia melihat tata letak kamar yang sangat mainly sekali. Dari warnanya yang hitam, abu-abu dan putih. Lalu beberapa foto keluarga yang tersusun rapi di dinding dan atas meja.


Semua itu sangat terlihat rapi dan bersih. Humai bisa menilai jika Syakir adalah pria perfeksionis. Semuanya serba sempurna meski itu hanya kamarnya saja. 


Saat Humai asyik berkeliling, suara ketukan pintu kamar membuatnya segera berjalan dan membukanya.


"Fira," kata Humai dengan senyuman lebar.


"Maaf mengganggu yah, Manten Baru," goda Sefira lalu menyerahkan tas kecil pada Humai. 


"Apa ini?" 


Humaira tersenyum. Dia menganggukkan kepalanya dengan memegang tangan sahabatnya itu.


"Gak papa. Aku tau Mama dan Papa lagi sibuk."


"Yaudah. Masuk gih! Jangan Lupa istirahat. Kasihan calon ponakanku ini pasti capek," kata Sefira lalu mulai mendorong sahabatnya masuk.


Humaira lekas menutup pintu itu kembali. Dia meletakkan tas kecil itu di atas sofa yang ada disana. Lalu mulai mengambil beberapa peralatan mandi dan juga pakaian yang akan ia kenakan.


"Ini punya siapa?" gumam Humai saat melihat sebuah dress ibu hamil yang sangat lucu motifnya. 


Humai suka dengan warna biru. Dia langsung mengambilnya untuk ia pakai. Sampai tak lama, akhirnya Syakir keluar dengan hanya memakai handuk menutupi bagian bawahnya saja.


Dia membiarkan tubuh atasnya terbuka dengan rambutnya yang basah. Pria itu benar-benar tak menganggap keberadaan Humai sedikitpun.


"Tutup matamu itu dan jangan pernah melihatku seperti itu!" seru Syakir dengan suaranya yang dingin.


Humai merasa malu kepergok memandang tubuh Syakir penuh kagum. Dia tak menyangka pria yang menikahinya memiliki tubuh yang sangat sempurna. Ditambah otot dan juga perut sispek dengan roti roti disana semakin membuat hati Humai berdesir.


Entah bawaan bayi atau bukan. Rasanya Humai ingin memegang otot Syakir. Bahkan rasanya dia ingin memeluk suaminya itu walau sebentar. Tak mau pikirannya semakin kemana-mana. Humai lekas membawa peralatan mandi dan pakaiannya ke kamar mandi.


Dia harus menjernihkan otaknya dan mengguyur kepalanya dengan air. Entah kenapa pikirannya menjadi seperti ini setiap melihat wajah dan tubuh suaminya.

__ADS_1


"Aku tak boleh seperti ini. Meski kami suami istri, aku tak memiliki hak untuk menyentuhnya," ucap Humai dalam hati dengan perasaan miris.  


Dia segera mandi dan keramas agar pikirannya menjadi tenang. Dia tak mau terus terbayang sesuatu yang memang sudah halal untuknya. Humai tak mau Syakir semakin membenci dan menghinanya. 


Setelah hampir dua puluh menit di kamar mandi. Akhirnya Humai keluar dari kamar mandi dan dikejutkan dengan sebuah bantal di atas lantai. Humai yang bingung hanya bisa mengambil bantal itu lalu memeluknya.


"Jangan bermimpi untuk bisa tidur di atas ranjangku ini, Gadis cupu!" seru Syakir dengan tubuh yang sudah berbaring tanpa menatap Humai. "Tidurlah dimanapun yang kau mau. Di lantai atau di balkon kamar, terserah. Aku tak peduli. Yang pasti, jangan pernah berharap kau bisa melempar dirimu di ranjangku lagi!"  


~Bersambung


Nah kalau dah buka puasa boleh umpat Syakir dah. Pen lempar panci juga boleh.


Jangan lupa like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.


...🌴🌴🌴...


Oh iya, sambil nunggu Bang Syakir update. Mampir dinovel temanku ini.



Cuplikan babnya nih, jan lupa mampir


Judul : Makmum Pilihan Michael Emerson


Penulis : SkySal


Cuplikan...


"Begini saja..." seru Zenwa yang mencoba tegar "Bagaiamana kalau kita jalani saja pernikahan ini selama beberapa bulan, lalu setelah itu, kita bercerai." sarannya yang tentu saja membuat Micheal melongo, tak percaya dengan saran Zenwa yang menurutnya sangat tidak masuk akal.


"Zenwa, apa kamu melawak di saat seperti ini?" tanya Micheal dan kini Zenwa lah yang melongo.


"Apa kamu menuduhku melawak di saat seperti ini?" Zenwa balik bertanya dengan tatapan tak percaya.


"Lalu saran gila apa tadi itu?" tanya Micheal dengan suara lantang.


"Aku rasa itu saran yang baik, kamu hanya menjadikanku pelampiasan dan aku juga tidak mencintaimu, jadi sebelum kita melangkah terlalu jauh, sebaiknya kita berhenti secepatnya, itu akan lebih baik!" jawab Zenwa juga dengan lantang.


"Kamu fikir ini kisah di novel-novel? Di sinetron? Pernikahan kontrak? Atau apa?" tanya Micheal geram yang membuat Zenwa terkesiap. "Ini kisah nyata, Zenwa. Seseorang tidak bisa menikah untuk bercerai, aku berjanji atas nama Allah, di saksikan Dia, Malaikat, dan keluarga kita, lalu bagaimana bisa aku mengingkari janjiku dengan sengaja?" Zenwa tertegun mendengar apa yang di ucapkan Micheal, matanya pun bahkan seolah mengatakan hal yang sama, Zenwa hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan ia pun menunduk dalam.


"Aku tahu aku salah..." lirih Micheal kemudian "Dan kamu benar, aku hanya menjadikanmu pelampiasan, keputusan ku hanya karena emosi sesaat. Tapi saat aku mengucapkan akad, saat itu aku pun menguatkan tekad, kamu akan menjadi wanita pertama dan terkahir dalam hidupku, aku berjanji akan menjadi suami yang layak untukmu, dan akan memperlakukanmu sebagai istri sebaik mungkin." Micheal kembali berlutut di depan sang istri.


"Tapi rasanya benar-benar sakit," ucap Zenwa dengan suara tercekat "Perih sekali disini..." Zenwa memegang dadanya yang selama ini terasa begitu sesak.


"Aku tahu, izinkan aku mengobati rasa sakitmu, Zenwa!" bujuk Micheal.


Penasaran kisah selengkapnya?

__ADS_1


__ADS_2