
...Percayalah pura-pura bahagia juga butuh tenaga. Dia harus ikhlas melihat dan berusaha menahannya agar tak semakin diinjak-injak....
...~JBlack...
^^^🌴🌴🌴^^^
"Sayang!" Rengek Rachel setelah kepergian Humai.
Wanita itu benar-benar tak menyangka jika gadis cupu seperti Humai telah berubah. Tak ada ketakutan lagi dalam diri wanita itu. Dia benar-benar berubah seratus persen.Â
"Kita akan makan di luar. Ayo!" Ajak Syakir yang tak mau memperpanjang masalah.
Mengingat ancaman istrinya. Syakir benar-benar takut jika Humai mengatakan yang sejujurnya pada mama, papa dan adiknya. Pria itu yakin jika Humai akan semakin mendapatkan hak warisan yang seharusnya untuk dirinya jika orang tuanya tahu keberadaan Rachel.Â
"Aku gak mau. Aku mau makan disini!" Rengek Rachel dengan keras kepala.
"Sayang. Kamu dengar perkataan Humai bukan?"Â
Rachel menatap Syakir tajam. Dia tak habis pikir dengan kekasihnya yang takut dengan ancaman belaka dari bibir Humai.
"Kenapa sekarang kau takut padanya? Apa kau sudah mencintainya? Apa kau sudah melupakanku, Sayang?" Seru Rachel dengan dramanya.Â
Syakir menghela nafas pelan. Inilah yang terkadang membuat Syakir tak menyukai sikap Rachel. Kekasihnya itu tak bisa melihat ketulusan hatinya dan sering menuduhnya tentang hal yang tidak-tidak.
"Aku tak melupakanmu, Rachel. Aku masih sama. Aku masih mencintaimu," kata Syakir meraih tangan kekasihnya.
"Kalau begitu aku mau makan disini. Aku mau makan masakanmu," rengek Rachel yang sengaja menaikkan nada suaranya.
Wanita itu tahu jika jarak ruang makan dengan ruang tamu dekat. Semua yang keluar dari bibir Rachel pasti didengar oleh Humai yang sedang menikmati makanannya.Â
"Baiklah. Aku akan membuatkanmu nasi goreng, Sayang," ujar Syakir dengan tulus.
Dia mengusap kepala Rachel dan menciumnya dengan tulus. Pria itu lalu beranjak dari duduknya dan mulai berjalan ke arah dapur.
Dengan cekatan, suami Humai itu melihat bahan masakan yang ada. Syakir juga bisa memasak karena kehidupannya di Jakarta dulu membuatnya harus mandiri.
Memasak, membersihkan apartemen dan melakukan semuanya sendiri saat masih bersekolah juga. Pertemanannya dengan Bara dan Reno, membuat Syakir bisa menjadi pria mandiri dan tak manja. Bahkan bisa membuat pria itu pandai memasak meski tak semuanya bisa ia masak.
"Ada yang bisa kubantu?" Tanya Rachel yang entah sejak kapan berdiri di samping Syakir yang mulai menyiapkan bumbu.
__ADS_1
"Gak perlu, Sayang. Aku bisa," sahut Syakir dengan menatap kekasihnya penuh cinta.
"Yaudah. Aku mau peluk kamu aja." Rachel memeluk Syakir saat matanya melirik ke arah ruang tengah dan Humai telah selesai dengan kegiatan makannya.
Gadis itu tersenyum miring. Dia yakin bisa membuat Humai cemburu dan kepanasan.Â
"Aku cinta kamu, Sayang," kata Rachel mode manja.
"Aku juga mencintaimu," sahut Syakir tanpa melihat jika ada Humai yang hendak memasuki dapur.
Ibu hamil itu menelan ludahnya paksa. Posisi mereka yang begitu mesra membuat Humai iri bukan main. Dulu dia pernah melihat posisi seperti itu di drakor dan ingin merasakannya juga ketika sudah berumah tangga.
Namun, lagi-lagi. Si upik abu hanya bisa berandai-andai. Dia hanya bisa berangan tanpa bisa mencapainya.
"Jika ingin bermesraan carilah tempat yang aman," sindir Humai sambil melewati pasangan bucin itu menuju wastafel.Â
"Apa maksudmu?" Seru Rachel dengan tak mau melepaskan ikatan tangannya meski Syakir mencoba melepas.Â
"Apa kau mau membahayakan suamiku. Membuat konsentrasinya hilang ketika memasak dengan menggodanya?" Ujar Humai dengan santai dan tangan bergerak mencuci piring bekas makannya.
"Oh aku tau. Kau tak pernah memasak sendiri. Mangkanya kau tak tau, 'kan?"Â
"Rachel!" Peringat Syakir pada kekasihnya.
"Kenapa!" Teriak Rachel di hadapan Syakir. "Istrimu ini menghinaku dan kau marah padaku? Apa begitu caramu mencintaiku?"
Syakir tersadar. Dia menyesal telah membentak Rachel. Namun, jujur pria itu tak mau kekasihnya terus berkata kasar karena terpancing oleh Humai.
Syakir bisa menebak jika Humai hanya ingin mengaduk-aduk emosi Rachel. Wanita itu ingin memainkan perasaan kekasihnya dan membuat mereka terus bertengkar.Â
"Kemari!" Kata Syakir memohon.
Saat suami Humai itu hendak memegang tangan Rachel wanita itu menepisnya.
"Kau memang sudah tak mencintaiku. Kau memang berubah!" Setelah mengatakan itu Rachel lekas berlari ke arah tangga.
Dia menaiki tangga dan menuju kamarnya. Rachel menutup pintu kamar dengan kasar dan meninggalkan Syakir serta Humai berdua di dapur. Pria itu benar-benar tak habis pikir dengan wanita ini. Humai semakin berani dan itu membuat emosi Syakir sama memuncak.
"Kau puas!" Seru Syakir mencengkram lengan Humai dan membalikkan tubuhnya. "Aku tahu apa yang sedang kau lakukan, Gadis Cupu."
__ADS_1
Humai tetap diam. Namun, matanya dengan berani membalas tatapan mata Syakir.Â
"Kau hanya ingin mengusir Rachel, 'kan? Kau ingin dia tak betah disini dan segera pergi. Kau licik sekali!" Kata Syakir dengan sorot mata tajam.Â
"Kau mengatakan aku licik, Kak?" Tanya Humai mencoba melepaskan cengkraman tangan Syakir di lengannya.
Dia yakin pasti ada bekas cengkraman itu di pergelangan tangannya sekarang. Dia yakin ada bekas merah di sana karena sakitnya mulai terasa sekarang.Â
"Licik mana dengan kekasihmu yang datang kesini tanpa malu? Licik mana dengan kekasihmu yang kesini dan menyuruhku memasak untuknya? Lalu licik mana dengan kekasihmu yang melakukan hal tak senonoh di hadapan istrimu sendiri. Licik mana, hah?"
Humai mengeluarkan semua unek-uneknya. Dia ingin membuka pikiran Syakir agar sadar. Sadar jika wanita yang ia cintai tak sebaik yang ada dalam pikirannya.
"Kau pandai menilaiku tapi tak bisa menilai kekasihmu sendiri, Kak. Apa matamu buta dengan cintanya? Apa matamu buta karena tubuhnya?"
Plak.
Sebuah tamparan mendarat di pipi Humai dengan kuat. Bahkan wajah wanita itu sampai menoleh ke samping karena Syakir tak main-main dengan tamparannya.
Dia benar-benar tak suka dengan orang yang mengusik kehidupannya, mendikte dirinya atau mencampuri apa yang sudah dia lakukan. Syakir tak suka itu dan dia sangat membencinya.
"Kau berani menamparku karena kesalahan yang tak kulakukan, Kak?"
"Kau berhak ditampar karena mulutmu sudah berani melawan. Jangan kau anggap beberapa hari ini aku diam lalu kau bisa bertingkah," kata Syakir dengan tajam.Â
Dia menunjuk wanita yang menjadi istrinya itu dengan pandangan marah sekaligus benci. Kebencian itu semakin besar tatkala Humai semakin berani dan bertingkah di hadapan kekasihnya.Â
"Aku tak segan-segan menghukummu. Aku tak main-main dengan perkataanku. Aku bisa melenyapkan anakmu sekarang juga dan mengeluarkannya dari tubuhmu jika kau terus memberontak," ancam Syakir dengan tak main-main.Â
Tanpa keduanya sadari, ada seorang perempuan yang baru saja datang dan mendengar semua yang dikatakan oleh pasangan suami istri itu. Dia bahkan sampai menutup mulutnya tak percaya.Â
"Kakak, kau…"Â
~Bersambung
Aww ketahuan ketahuan...
Maaf yah beberapa hari ini aku gak produktif dua bab. Kalau masa lebaran aku pasti sibuk. Keluarga kumpulnya di rumah jadi aku gak ada waktu buat diem.
Insya allah bakalan aku kejar 2 bab yang utangku. Jadi sabar yah. Tetap aku usahain 2 bab perhari dan aku punya hutang bab 2.
__ADS_1