
...Ketika manusia mencoba mengelak dari takdir Tuhan. Tunggulah campur tangan Tuhan yang akan menampar para manusia dengan sebuah fakta....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Suasana ruangan terlihat begitu tenang. Mereka semua memberikan waktu untuk seorang perempuan yang tengah tertidur dengan nyenyaknya pasca melahirkan.
Dokter mengatakan bahwa kondisi Humaira membaik. Tak ada yang harus dikhawatirkan karena memang dia hanya kesakitan karena benturan perutnya dengan lantai. Namun, untung saja, benturan itu tak terlalu keras.
Dokter mengatakan jika rahim Humai baik-baik saja. Perempuan itu bisa memiliki keturunan lagi jika dia ingin dan Allah mengizinkan.Â
Tak lama, suara erangan muncul dari bibir perempuan yang mulai sadar dari tidurnya. Dia perlahan membuka matanya. Mencoba menyesuaikan cahaya lampu dengan kedua matanya yang sejak kemarin terpejam.
Hingga samar-samar dia bisa melihat bayangan beberapa orang dari matanya yang masih buram. Semakin lama, Humai bisa menatap jelas lalu dia mampu menatap semua yang ada disana.
"Mama, Papa," panggil Humaira pelan saat melihat Mama Ayna dan Papa Haidar di samping kanan ranjangnya.
"Halo, Nak. Bagaimana kabarmu, hmm? Mana yang sakit?"Â
Humaira menatap ke bawah. Dia mulai sadar jika perutnya yang membesar kini telah tiada. Matanya menatap sekeliling. Bahkan perempuan itu sampai hendak beranjak duduk tapi langsung ditahan oleh Mama Ayna.
"Kamu mau kemana, Nak?"
"Anakku, Ma. Anakku kemana?" tanya Humaira dengan panik.Â
"Tenanglah, Sayang. Cucu Mama sedang ada di ruang bayi," ujar Mama Ayna menenangkan.
"Mama gak bohong, 'kan?" tanya Humaira dengan lekat.Â
Ingatan Humaira tentu berputar saat terakhir kalinya dia mengejar Rein yang telah mendengar fakta tentang keduanya. Dia mengingat betul bagaimana kakinya yang oleng karena lantainya yang licin lalu dia terjatuh dan merasakan perutnya yang sakit luar biasa.Â
Saat itu Humaira merasa hidupnya telah dia pasrahkan pada Tuhan. Humaira hanya berharap semoga putranya selamat. Namun, ternyata lagi-lagi Tuhan kembali berbaik hati kepadanya.Â
Memberikan kesempatan untuk keduanya bertemu di dunia. Memberikan kebahagiaan pada dirinya untuk menjadi seorang ibu dari putra yang menjadi anak pertamanya.
"Terus, Rein. Mana adikku, Ma?"Â
"Tuh!" Mama Ayna menunjuk seorang remaja yang sedang berbaring di sofa.
Humaira mengikuti tangan mertuanya. Hingga pandangannya melihat sosok adik yang sangat ia sayangi sedang tertidur dengan posisi yang nyaman.
"Jangan khawatirkan kondisi Rein. Dia adalah anak yang kuat, Sayang. Dia bahkan masih menyayangimu meski status kalian berdua bukanlah saudara kandung," ucap Mama Ayna penuh pengertian.
Humaira mengangguk. Namun, tak lama dia baru menyadari sesuatu. Dirinya menatap ke samping kiri ranjangnya hingga pandangannya langsung bersitatap dengan tatapan seorang pria paruh baya yang usianya tidak jauh berbeda dengan Papa Haidar.Â
Humaira menatap pria itu dari atas sampai bawah. Mencoba mengingat dan meneliti siapa pria itu gerangan.
"Mama," panggil Humaira penuh tanya.Â
__ADS_1
"Dia adalah Tuan Hermansyah, Nak," ucap Papa Haidar mengenalkan. "Beliau ini Papa kandungmu."Â
Jantung Humai seakan berhenti berdetak. Dia menatap Hermansyah kembali dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Putriku," lirih Hermansyah dengan semakin mendekati ranjang pasien. "Ini Papa, Nak."Â
Humaira menatap Papa Hermansyah dengan mata berkaca-kaca. Hatinya bergetar saat melihat tatapan penuh kerinduan di mata papanya.Â
Humaira tak mengelak jika dirinya juga ingin tahu siapa orang tuanya. Humaira juga ingin melihat wajah kedua orang tua yang tak pernah ia lihat satu kalipun.
"Pa-pa?" panggil Humaira terbata yang membuat Hermansyah mengangguk.
Ayah dan anak itu lekas saling memeluk. Entah getaran apa yang ada di hati mereka. Namun, Humai merasa perasaan hangat dalam hatinya. Ada sesuatu yang tak bisa ia jabarkan ketika merasakan bagaimana erat papanya ini memeluknya.Â
"Panggil Papa lagi, Nak. Papa ingin mendengarnya," pinta Hermansyah dengan kerinduan yang mendalam.
Selama dua puluh tahun, dia hanya bisa melihat Humaira dari jauh. Dia hanya bisa menepis rindu yang datang dengan menatap wajahnya tanpa menyentuh.Â
Saat dia rindu, dia hanya bisa mengusap foto bayi Humai saat umur satu tahun. Hanya kenangan itulah yang ia miliki. Karena selama Shadiva hidup, perempuan itu tak mengizinkan Hermansyah untuk mendekati anaknya walau hanya sebentar.
"Papa!"Â
"Ya bagus." Hermansyah melepas pelukannya.
Dia mencium dahi anak tunggal nya dengan penuh sayang. Akhirnya penantiannya selama ini berakhir dengan indah.Â
"Mama…" jeda Hermansyah dengan menatap Humaira secara lekat. "Mama ada di luar tapi…"Â
"Tapi?" ulang Humai dengan tak sabaran.Â
"Mamamu sakit, Nak. Kepergianmu dulu membuat Mamamu menjadi gila."Â
Jantung Humaira mencelos. Dia bahkan menegakkan tubuhnya sampai tak memperdulikan bekas operasi di perutnya. Dia masih tak menyangka dengan apa yang ia dengar.
Fakta baru tentang mamanya yang ternyata mengalami gangguan jiwa karena kepergian dirinya.Â
"Aku ingin bertemu Mama."Â
Papa Hermansyah mengangguk. Dia lekas keluar dari ruangan Humai lalu menjemput istrinya itu.Â
"Mama ingin ketemu Ema, 'kan?"Â
"Iya, Pa. Mana Ema?"Â
"Mama harus tenang oke. Ema udah besar sekarang. Putri kita juga sudah memiliki seorang anak," kata Papa Hermansyah memberikan pengertian.
Dengan pelan dia mendorong kursi roda itu untuk memasuki ruangan Humai. Dari tempatnya duduk, baik Emili dan Humaira saling menatap satu dengan yang lain.
Biasanya Emili akan mengamuk ketika melihat orang asing. Namun, saat dia melihat mata Humaira. Bukannya marah-marah tapi Emili menangis.
__ADS_1
Dia tergugu saat tatapan mata Humaira semakin dalam kepadanya.
"Putriku!"Â
Hati Hermansyah menjadi hangat. Dia tak menyangka istrinya mampu mengenali putri kandung mereka. Dia bahkan sampai hampir menyerah. Papa Hermansyah juga sudah menyiapkan suntikan penenang jika Emili kembali mengamuk lagi.
"Mama!"Â
Humaira tentu tak menunda lagi. Dia perlahan menuruni ranjang pasien dengan perlahan.Â
"Ehhgh!" Humaira meringis saat perutnya merasa sakit.
Hal itu tentu membuat semua orang khawatir.
"Gakpapa. Humai baik-baik aja."
Humaira menolak bantuan Mama Ayna, Sefira dan Almeera. Dengan pelan, dia membawa infus yang melekat ditangannya dan berjalan ke arah mamanya yang duduk di kursi roda.Â
"Mama."Â
"Putriku!"Â
Humaira lekas memeluk mamanya dengan pelan. Walau tangan Emili diikat, Humaira dengan caranya mencoba memeluk tubuh mamanya dengan hangat.
Sebuah pelukan yang sangat dirindukan. Pelukan yang baru kali ini keduanya rasakan setelah perpisahan begitu lama.
"Ema Mama, sudah besar yah. Mama sangat merindukanmu, Nak."Â
Humaira meneteskan air mata. Dia menganggukkan kepalanya dan nencium tangan mamanya yang diikat.
"Humaira juga kangen, Mama."
Hermansyah bahagia. Akhirnya keluarga kecilnya sudah berkumpul lagi. Begitupun dengan semua orang. Mereka juga ikut bahagia saat melihat Humaira bisa bersama dengan kedua orang tuanya.Â
Hingga perhatian mereka semua tertuju pada perawat yang mendorong ranjang bayi kesana. Tubuh Humaira perlahan berdiri tegak. Dia mendekat ke arah ranjang itu dan menahan langkah kaki perawat.Â
"Bolehkah saya melihat putraku sebentar, Suster?"Â
"Tentu, Bunda. Usia kelahiran bayi Anda memasuki bulan ke sembilan. Jadi Dokter mengizinkan bayinya berkumpul dengan bundanya disini."Â
Perlahan kelambu bayi dibuka. Hingga wajah mungil putranya dapat terlihat oleh Humaira. Matanya meneteskan air mata saat wajah putranya itu benar-benar mirip dengan ayah kandungnya.
"Putraku. Kamu benar-benar putra Ayah Syakir!"Â
~Bersambung
Kan kan, hmm tinggal nunggu Bang Syakir ketemu tapi nanti nunggu Humai cakep haha.
Maaf baru update yah. Ini aja ngetik sambil diperjalanan.
__ADS_1