Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Panggilan Sayang


__ADS_3

...Aku tak memiliki pengalaman persoalan hati tapi aku mampu merasakan apa itu yang namanya jatuh cinta....


...~Sefira Giska Alhusyn...


...🌴🌴🌴...


Akhirnya setelah melalui perdebatan yang panjang antara Sefira dan Jeno untuk bisa sampai disini. Sampailah keduanya di kedai es krim dengan kendaraan milik Jeno.


Ya, Sefira sebenarnya ingin mengambil mobilnya sendiri. Namun, Jay tak mau dan juga Jeno yang beralasan jika itu akan membuat memakan waktu lebih banyak. 


Entahlah, Sefira merasa gugup jika ada di dekat Jeno. Wanita itu merasa tak tenang setiap kali pria itu menatapnya. Dia merasa jantungnya berdegup kencang. Dia juga merasa gugup setiap kali Jeno memandangnya. 


Ini adalah untuk pertama kalinya dia seperti ini. Ya, Sefira tak pernah merasakan ini sebelum-sebelumnya. Dia memang tak pernah dekat dengan pria manapun. Dirinya hanya selalu dekat dengan sosok papa dan kakak kandungnya.


"Fira," panggil Jeno yang menyadarkannya dari lamunan. 


Sefira lekas menoleh. "Ya?" 


"Jangan bengong terus. Lihat es krimmu mau mencair," kata Jeno yang membuat gadis itu menunduk.


Benar saja yang dikatakan dosen sahabatnya itu. Ternyata dia sudah terlalu lama melamun sejak tadi. Hingga hal itu tanpa sadar membuat es krim pesanannya agak mencair. 


"Maaf maaf," kata Sefira sambil tertawa begitu canggung.


Dia merasa malu ketahuan tak fokus. Namun, entahlah dirinya memang selalu tak bisa konsentrasi jika ada di dekat Jeno. Seakan pria itu memiliki daya tarik yang tinggi di mata adik Syakir. 


"Makanlah dulu!" 


Sefira akhirnya mulai menyuapi es krimnya lagi ke dalam mulut. Jujur kedai es krim ini adalah yang terbaik dari yang lain. Karena racun dari Humai dan Jay, dia selalu kesini setiap kali ada waktu.


Adik Syakir itu menatap keponakannya yang sejak tadi begitu tenang. Lihatlah, Jay, bocah kecil yang menggemaskan itu. Dia makan sendiri dengan lahap.


Bahkan mangkuk yang bocah kecil itu pesan lumayan besar. Namun, di dalamnya sudah separuh habis termakan sempurna oleh Jay.


"Pelan-pelan," kata Sefira mengulurkan tangannya.


Dia membersihkan ujung bibir keponakannya yang belepotan. 


"Ante juga ada. Tuh!" kata Jay menunjuk ujung bibir Sefira yang membuat gadis itu membelalakkan matanya.

__ADS_1


"Iya, 'kah?" 


Terlalu khawatir dengan dandanannya. Sefira sampai lupa jika tangannya bekas membersihkan ujung bibir Jay. Hingga bekas es krim di tangannya menyentuh sudut bibirnya yang lain dan membuat Jeno yang melihat lekas menahan tangannya. 


"Ehh." Sefira terkejut dengan aksi pria tampan itu.


Namun, seakan robot yang selalu patuh. Sefira hanya mampu mematung saat tangan Jeno mulai mengambil tisu kemudian mengusap beberapa sudut wajahnya yang ia rasakan ada bekas es krim.


Perbuatan itu tentu membuat Sefira bisa melihat dengan jelas pahatan sempurna wajah Jeno. Seakan sedang menikmati kesempurnaan yang Tuhan berikan. Sefira menatapnya dengan lekat.


"Lain kali hati-hati. Tanganmu yang kotor kemana-mana," kata Jeno dengan suaranya yang lembut.


Tak ada balasan apapun. Sefira benar-benar terhipnotis dengan ketampanan Jeno dan membuat pria itu mendongak. Jantung keduanya berdegup kencang. Seakan tatapan itu begitu membuat keduanya saling tertarik satu dengan yang lain. 


Baik Jeno ataupun Sefira saling pandang sampai akhirnya.


"Ante es krimnya!" pekik Jay yang membuat suasana romantis itu begitu kacau.


"Hah!" 


Sefira lekas menatap ke bawah. Benar saja, es krimnya yang tanpa sengaja ada di pinggiran gelas mengalir dan membasahi meja mereka.


"Em makasih atas bantuannya," lirih Sefira setelah dia menetralkan degup jantungnya.


"Sama-sama," sahut Jeno dengan mengangguk. "Aku ke kamar mandi dulu yah." 


Jeno lekas beranjak berdiri dan meninggalkan Sefira. Entahlah pria itu ingin mencari jarak atau ingin menyembunyikan kegugupan dalam dirinya.


"Ternyata dibalik sikap dinginnya. Dia adalah pria yang memiliki perhatian yang lebih," gumam Sefira dengan senyuman malu-malu saat mengingat bagaimana Jeno yang membersihkan ujung bibirnya dengan ibu jarinya sendiri.


...🌴🌴🌴...


Di tempat lain.


Terlihat dua orang yang sedang di mabuk asmara itu saling menatap satu dengan yang lain. Wajah keduanya benar-benar tak bisa menutupi rasa kebahagiaan mereka berdua. Sejak tadi tangan keduanya juga saling menggenggam. Mereka tak ada niatan untuk melepas satu dengan yang lain. Benar-benar kaum bucin yang membuat siapapun yang melihatnya tentu merasa baper.


"Kamu yakin mau ketemu Papa sekarang?" tanya Humaira kesekian kalinya.


Ya, saat ini keduanya sedang dalam perjalanan pulang ke rumah Humai. Syakir dengan satu tangan nengendarai kendaraannya sedangkan tangan yang lain menggenggam tangan mantan istrinya itu.

__ADS_1


"Aku yakin. Waktuku hanya dua minggu, Sayang. Tak ada lagi kata menunda," ujar Syakir yang membuat Humai tak bisa mengatakan apapun lagi.


Hal ini saja sudah cukup menurutnya. Tuhan sudah sangat baik kepadanya. Mengabulkan segala doa yang dia untai disetiap sholatnya. Meminta agar Syakirnya kembali dalam pelukan dengan versi yang lebih baik.


"Baiklah. Aku tak bisa menahanmu, Sayang," ujar Humai yang membuat Syakir menoleh ke samping.


Untung saja lampu lalu lintas berwarna merah. Hingga hal itu tentu membuat Syakir bisa mendengar ucapan yang begitu langka.


"Ucapkan lagi!" pinta Syakir dengan menatap wanitanya itu.


"Ucapkan apa?" tanya Humai dengan bingung.


"Jangan pura-pura lupa. Panggilan itu," ujar Syakir yang membuat Humai menunduk.


Jujur tadi saja dia juga memberanikan diri. Sekuat tenaga menahan malu dan rasa takut dalam dirinya. Panggilan yang sangat amat langka dirinya lakukan. 


"Aku…" 


"Kumohon katakan lagi, Sayang," pinta Syakir penuh harap.


Humai mendongakkan wajahnya. Dia menatap kedua mata Syakir dengan lekat. Entah kebaikan apa yang Syakir lakukan dulu di kehidupan sebelumnya. Entah kebaikan apa yang dirinya lakukan hingga Tuhan memberikan takdir yang benar-benar tak bisa ditebak oleh keduanya. 


"Sayang," panggil Humai lagi yang membuat senyuman di bibir Syakir semakin lebar. 


Dengan gemas. Syakir yang ingin mencubit pipi wanitanya yang memerah tentu lekas mengecupnya dengan pelan. Hal itu tentu membuat Humai membulatkan kedua matanya. Dia terkejut dengan ulah mantan suaminya ini. 


"Astaga…" 


"Aku bahagia karena panggilan itu. Kamu harus terus memanggilku seperti itu terus!" kata Syakir dengan wajahnya yang ia buat seimut mungkin. 


"Apa!" pekik Humai tak percaya.


Saat wanita itu hendak protes, lampu sudah berganti warna hijau dan membuat Syakir mulai melajukan mobilnya lagi. Humai tak bisa mengatakan apapun lagi tapi entah kenapa ada kebahagiaan dalam hatinya.


Dia merasa senang dan lega. Dia seakan merasa bahwa dirinya sudah mengungkapkan apa yang selama ini ia rasakan pada Syakir. Perasaan yang selama ini ia pendam dan membuat sudut bibirnya tertarik ke atas.


"Ternyata mencintaimu sampai sejauh ini membutuhkan perjuangan yang besar dan aku menikmatinya," gumam Humai dalam hati.


~Bersambung

__ADS_1


Namanya cinta gak selamanya mulus ya, Mai. Sekarang lagi memetik buah kesabaran yekan. Kalian otw jadi kapal brutal nih haha.


Banyak yang dukung. kaburr.


__ADS_2