Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

...Percayalah tak ada yang mampu menolak takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan sekalipun itu sangat menyakitkan. ...


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Pemikiran Bara dan Jeno yang searah dan pria itu yang mengerti tentang bisnis. Tentu membuat percakapan mereka begitu nyambung. Keduanya saling bertanya dan menjawab. Saling bercerita satu dengan yang lainnya. 


Dari hal itulah, Bara baru tahu jika keluarga Jeno adalah salah satu keluarga yang tak kalah sukses dari keluarganya. Orang tua Jeno adalah pebisnis sukses. Namun, karena Jeno belum siap mengurus perusahaan dan dia masih ingin bekerja dengan usaha kedua kakinya sendiri, maka jadilah dia menjadi dosen di salah satu kampus terkenal di Jakarta.


Bara bahkan takjub dan kagum pada cerita Jeno. Suami Almeera itu sangat mengakui semangat dan pantang menyerah dari seorang Jeno. Pria muda yang sering diremehkan oleh keluarga ayah dan ibunya. Menganggap dia adalah anak manja dan akhirnya ia bisa berhasil dan mencari pekerjaannya sendiri.


Dia bisa membuktikan bahwa dia bisa sukses tanpa bantuan orang tuanya. Bisa bekerja tanpa embel embel nama belakang keluarganya. Hingga tak lama pembicaraan keduanya terhenti karena suara langkah kaki dan panggilan bocah laki-laki membuat keduanya menoleh.


"Om Jeno…Om!" pekik Jay dengan nafas ngos-ngosa.


"Ada apa, Jay? Kenapa kamu lari-lari?" tanya Jeno yang menangkap tubuh putra Humaira itu dan membawanya dalam pangkuan.


"Itu. Di ruang bermain Kak Bia ada kecoa," ujarnya dengan ekspresi ketakutan.


"Kecoa?" ulang Bara lalu beranjak berdiri.


"Iya, Om. Jay takut," katanya dengan menatap ke arah Bara.


Jeno dan Bara lekas berjalan ke arah kamar dimana Bia berada. Jay benar-benar ketakutan. Bocah berumur dua tahun itu memang tak suka dengan hewan satu ini karena bisa terbang.


"Kemana kecoanya, Sayang?" tanya Bara pada putri keduanya.


"Disitu, Papa," kata Bia yang di tangannya memegang kemoceng dan dia berdiri di atas sofa yang diletakkan di ruang bermain.


Bara lekas berjalan keluar kamar. Lalu dia kembali dengan semprotan kecoa di tangannya.


"Ayo kalian keluar. Biar Papa semprot dulu," kata Bara pada Jay dan Bia.


Jeno akhirnya memegang tangan Bia sambil menggendong Jay menjauh dari kamar itu. Suara keributan yang terjadi tentu menarik perhatian dua wanita yang sedang ada di dapur.


"Ada apa, Sayang?" 


"Itu, Ma. Ada kecoa. Jay sama Bia takut," kata Bia memeluk tangan mamanya.


Dahi Almeera mengerut. "Ruang bermain selalu dibersihkan. Terus kecoanya berasal dari mana?" 

__ADS_1


"Mungkin dari kamar mandi samping ruang bermain, Mbak. Bisa aja, 'kan?" 


Almeera mengangguk. Apa yang dikatakan oleh Humaira memang benar. Akhirnya Almeera mengajak semuanya ke ruang tamu karena bau semprotan yang mulai menyengat hidung mereka.


"Ayo duduk sini, Jay," kata Jeno hendak menurunkan Jay dari gendongannya.


"Gak mau. Jay mau dipangku Om Jeno," katanya dengan menggeleng.


Humaira yang melihat merasa tak enak hati. Akhirnya dia mendekat berusaha membujuk Jay agar mau lepas dari gendongan dosen killernya itu.


"Jay sama Ibu aja yah. Ayo sini, Nak!"


"Gak mau. Jay mau sama Om Jeno," kata Jay dengan kekeh.


Mata Humai berkaca-kaca. Dia merasa posisinya tersingkirkan oleh Jeno. Pria itu bahkan bisa mengambil hati putranya dan membuat Jay luluh dengan Jeno. Humai takut. Takut jika anaknya lebih sayang pada Jeno daripada dirinya.


"Ayo, Sayang!" bujuk Humai mencoba sekali lagi.


"Nggak mau, Bu. Jay mau sama Om Jeno."


Akhirnya Jeno yang tak tega dengan Jay menatap Humaira. Dia bisa mihat mata mahasiswanya itu hendak menangis. Jika sudah begini, pria itu merasa ada di tengah jurang.


"Biarkan Jay sama saya dulu. Nanti jika dia sudah tenang, saya akan memberikannya padamu," kata Jeno dengan hati-hati.


"Bagaimana, Pa?" tanya Bia saat melihat Bara telah kembali ke ruang tamu.


"Udah. Kecoanya juga udah mati terus Papa bersihkan barusan," kata Bara pada putrinya. "Eh kenapa, Mai?" 


Bara terkejut saat melihat Humaira menghapus air mata dari kedua matanya.


"Gapapa, Mas Bar. Cuma kelilipan aja," kata Humai yang membuat Bara menatap istrinya.


Almeera memberikan kode mengangguk agar pria itu tak bertanya lebih jauh. 


"Yaudah. Ayo diminum!" kata Almeera mencoba mencairkan suasana.


...🌴🌴🌴...


Akhirnya waktu semakin beranjak sore. Humaira, Jay dan Jeno mulai pamit untuk pulang.


"Yakin sama Mbak, Mai. Jay hanya nyaman bersama Jeno karena dia gak punya figure ayah dari dia lahir. Hanya ada Opa Hermansyah yang ia anggap sebagai figure papanya. Lalu sekarang, ketika ada Jeno, Jay merasa nyaman," kata Almeera setengah berbisik saat mereka sudah ada di teras rumah Almeera.

__ADS_1


Humaira mengangguk. "Iya, Mbak. Aku juga merasa begitu. Mungkin Jay ingin sosok ayah di sampingnya. Bukan Opanya saja."


"Percayalah. Jay itu sayang sama kamu. Dia hanya merasa senang memiliki teman bercerita seperti Jeno." 


Humaira mengangguk. Akhirnya dia memeluk Almeera dengan erat.


"Aku pulang ya, Mbak. Nanti kalau ada waktu, Humai bakalan kesini lagi," bisiknya pada Almeera.


"Iya. Kabarin kalau mau keisni. Jangan kayak tadi. Takutnya nanti aku sama Mas Bar dan anak-anak keluar," kata Almerra mengingatkan.


"Oke, Mbak."


"Pamit dulu ya, Bar. Makasih atas jamuannya," kata Jeno yang bersalaman dengan Bara.


Dua pria itu terlihat akrab sekali.


"Aku tunggu kedatanganmu lagi, oke. Hati-hati." 


"Assalamualaikum," kata Jay, Humai dan Jeno bersamaan sebelum mereka akhirnya menutup kaca mobil dan mulai pergi meninggalkan rumah Almeera.


Akhirnya mereka mulai membelah jalanan Kota Jakarta. Jay yang merasa lelah hanya duduk diam di pangkuan ibunya dengan tenang. Sampai akhirnya saat mereka hampir melewati tempat es krim kesukaan Jay. Bocah laki-laki itu berteriak dengan hebohnya.


"Mama, Jay boleh minta es krim?" katanya dengan menatap wajah Humai penuh harap.


Dia yang selalu tak bisa menolak permintaan Jay akhirnya menganggur. Humai menatap ke arah Jeno dengan perasaan tak enak hati.


"Pak mampir ke kedai es krim kemarin. Bisa?" 


"Tentu." 


Akhirnya Jeno perlahan mulai menepi. Bersamaan dengan itu, Humaira bisa melihat mobil lain yang juga berhenti di depan mobilnya. 


Saat dirinya hendak keluar. Humai yang menatap ke depan tiba-tiba menghentikan gerakannya. Dia merasakan detak jantungnya berdegup kencang. Matanya terbelalak tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. 


Ia bahkan sampai mengusap kedua matanya untuk memastikan apakah sosok yang dia lihat itu nyata atau hanya ilusi. Namun, berulang kali Humaira mengusap kedua matanya, sosok itu masih ada dan perlahan masuk ke dalam kedai es krim yang hendak keduanya kunjungi.


"Mama ayo turun!" ajak Jay yang mulai tak sabaran.


Kepala Humai menggeleng. Dia seperti orang linglung setelah melihat sosok yang baru saja turun dari mobil depannya.


"Kak Syakir," lirihnya dengan pelan dengan tak percaya.

__ADS_1


~Bersambung


Lalala yang dari kemarin ngamuk mau ketemu. Nih spill tipis-tipis hahaha.


__ADS_2