Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Si Otak Omes Datang!


__ADS_3

...Jangan pernah mengusik apa yang kumiliki jika kau tak mau hancur sesudahnya. ...


...~Guntur Syakir Alhusyn...


...🌴🌴🌴...


"Aw! " Pekik Lee dengan mengibaskan kemeja yang ia pakai.


Gelas yang hendak tumpah di tumpukan desain itu tiba-tiba melayang ke arah Lee berada. Hal itu tentu bukan karena gelas itu melayang. Melainkan seorang pria yang datang tanpa suara tadi menahan nampan itu dan menjatuhkan pada sosok yang dengan sengaja membuat keributan.


"Siapa kau! " Seru Lee dengan tangan mencoba mengibaskan kemeja itu karena rasa panas dari air yang dibuatkan oleh pelayan itu.


"Itu masih wajar jika kutumpahkan pada kemejamu! " Seru Syakir dengan Bahasa Korea yang lancar. "Jika air itu jatuh di atas desain milik istriku. Aku pastikan air itu jatuh tepat di wajahmu! "


Syakir menunjuk wajah Lee dengan tatapan tajamnya. Ya, Syakir, pria yang akan memiliki dua anak itu sudah melihat gelagat buruk. Sejak awal kedatangan Lee. Secara sudah mencurigai semuanya.


Bahkan rekaman CCTV saja Sefira kirimkan pada kakaknya. Sefira selalu melapor dan membuat Syakir tentu lekas menyelesaikan pekerjaannya.


Dia hanya beralasan kemarin. Ingin membuat kejutan untuk istrinya. Namun, ternyata kejutan itu harus digagalkan dengan pikiran Syakir yang berkecamuk. Dia seakan merasa ada hal yang tak beres pada istrinya.


"Apa maksudmu? Kau salahkan pelayanan itu. Pelayanan itu kurang hati-hati? "


"Kau yakin?" Seru Syakir dengan mata memicing. "Atau kau ingin melihat CCTV ruangan ini?"


Syakir tersenyum miring saat melihat ekspresi Lee menciut. Wajah pria itu memucat dan membuat Syakir berdiri dengan wajah tegas bak angkuhnya.


Jangan ragukan wajah Syakir yang sangat amat cuek dan garang. Dia bahkan bisa berubah seperti kucing kecil manis jika di hadapan Humai. Namun, dia akan berubah bak kucing garang jika ada yang mengganggu miliknya.


Sedangkan Humai, perempuan itu masih terkejut. Terkejut dengan semua kejadian yang terjadi. Dari kedatangan suaminya, lalu tumpahnya air itu pada Lee dan jangan lupakan desain yang digarap sampai punggungnya sakit hampir ketumpahan air minum.


Humai tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika desain dirinya benar-benar jatuh. Benar-benar merusak semua desainnya. Dia yakin jika dirinya akan menangis sedih.


"Jika kau tak mau ini diperpanjang makan pergi dari sini! " Usir Syakir dengan menunjuk pintu keluar. "Jika kau berbuat ulah. Jangan salahkan aku jika rekaman hari ini, akan tersebar di seluruh dunia. Semua orang akan tau apa yang telah kau lakukan dan citramu akan buruk. Lalu galerimu akan tak laku? "


Jangan melawan Syakir jika untuk berkata pedas. Pria itu adalah king of pedas perkataannya. Dulu dengan Humai saja, semua kalimat yang dikatakan sangat amat menyakitkan. Apalagi sekarang, demi istri tercinta dan anak yang dikandung. Apapun pasti Syakir lakukan.


"Pergi! "


Lee segera menarik tangan sepupunya. Namun, sebelum pergi. Pria itu menatap Syakir dengan tajam.


"Kau boleh menang sekarang. Tapi nanti, lihat saja! Apa yang akan kulakukan untuk membalas kalian? "


Setelah mengatakan itu Lee lekas pergi dari sana. Dia bahkan membanting pintu itu dengan keras hingga membuat dia ibu hamil yang disana terkejut.

__ADS_1


"Pergilah. Bereskan semua kekacauan ini setelah istri dan adikku pulang, " Kata Syakir pada karyawan istrinya yang masih diam di sana.


"Baik, Tuan. "


Setelah perempuan itu pergi. Syakir segera meminta istrinya duduk. Dia juga mengambilkan air putih agar diminum oleh Humai yang masih shock.


"Keren keren. Pahlawanku datang tepat waktu! " Pekik Sefira dengan hebohnya.


Orang yang paling menikmati pertunjukan adalah adik dari Syakir. Sejak tadi Sefira hanya duduk diam menyandarkan punggungnya menatap bagaimana galaknya kakak kandungnya.


Bagaimana sikap Syakir yang benar-benar menjaga Humai dari orang yang hendak mencelakai.


"Sudah? " Tanya Syakir setelah Humai minum beberapa tegukan.


Humai mengangguk. Tak lama dia merangsek masuk ke dalam pelukan dan membuat Sefira mengusap dadanya.


"Baiklah aku akan keluar. Aku tak sanggup melihat kebucinan kalian, " Kata Sefira sambil meraih tas miliknya. "Suamiku dimana, Kak? "


"Lihat saja di luar! "


Akhirnya sepeninggal Sefira. Syakir perlahan menegakkan tubuh istrinya. Merenggangkan pelukan kita untuk menatap wajah yang tak lama dibasahi oleh air mata.


"Kenapa menangis? "


"Aku aku… "


Syakir tahu bagaimana istrinya begitu ngefans pada Lee. Dia yakin istrinya itu terkejut dengan kelakuan pria itu. Terkejut dengan Lee yang sangat diidolakan oleh istrinya.


" Sayang, ingat! Jangan kau menangis. Anak kita akan ikut menangis, " Bujuk Syakir merayu. "Aku tak mau bidadariku menangis karena pria gila seperti dia! "


Suasana yang mulanya sedih akhirnya berubah. Humai memukul punggung suaminya dan melepas pelukannya.


"Bisa aja ngegombal di waktu yang gak tepat, " Ujar Humai mencibir.


"Ya biarin. Gombalin istri sendiri gak boleh? Daripada gombalin wanita lain? "


"Coba aja kalau berani! " Kata Humai sambil mendelikkan matanya. "Eh bentar! "


Humai perlahan meraih kedua sisi wajahnya. Dia merangkum wajah itu dengan pandangan rindu.


"Kenapa Kakak gak bilang kalau mau pulang? "


"Kalau aku bilang. Gak bakal bisa jadi kejutan dong? " Kata Syakir dengan percaya dirinya.

__ADS_1


Humai terkekeh. Namun, kepalanya mengangguk. Apa yang dikatakan oleh suaminya benar. H begini saja membuatnya tak percaya jika suaminya datang menyelamatkannya.


Suami yang sangat dia rindukan bisa kembali ke pelukannya.


"Jay pasti bahagia lihat kamu disini, Kak. "


"Kalau kamu? Gak bahagia? "


Humai mencubit pipi Syakir sampai pria itu mengaduh. "Kalau aku ya bahagia juga. Aku udah kangen banget sama kamu. "


Syakir terkekeh. Dia meraih tubuh istrinya dan mencium dahi Humai.


"Aku tak akan meninggalkanmu lagi, Sayang, " Ujar Syakir dengan serius.


"Kamu yakin, Kak? Lalu perusahaan? "


"Akan diurus oleh asistenku. Aku sudah katakan untuk tidak mengambil jadwalku sampai anak kita lahir, " Kata Syakir laku mengusap perut istrinya yang membesar.


Dia mengusapnya penuh sayang. Hingga tak lama mata Syakir membesar dan dirinya terpekik.


"Sayang, dia bergerak, " Ujar Syakir dengan hebohnya.


"Ya, Kak. Dia sudah pandai bergerak di dalam sana. Bahkan aku sering tak tidur karena dia terlalu aktif, " Ujar Humai mengadu hingga membuat Syakir menurunkan tubuhnya hingga mensejajarkan kepalanya dengan perut istrinya itu.


Perlahan kepala Syakir mendekat. Dia menempelkan wajahnya ke perut Humai dan merasakan tendangan itu lagi.


"Hai anak Ayah, " Kata Syakir menyapa dengan hangatnya. "Lagi bahagia disana yah. Liat Ayah udah disini. "


"Tentu, Ayah. Kami bahagia, " Jawab Humai menjawab dengan suara khas anak kecil.


"Kamu pasti membuat ibu repot. Bener, 'kan?" Tanya Syakir dengan pelan. "Apa kamu merindukan Ayah? "


Syakir tersenyum jahil. Pikirannya sudah mengarah ke hal lain. Namun, Humai yang belum paham tentu menganggukkan kepalanya.


"Tentu. Adek selalu rindu, Ayah, " Ujar Humai dengan suaranya yang tetap seperti anak kecil.


"Ah Ayah juga merindukanmu. Biarkan nanti malam Ayah menjengukmu yah. Biar rindu Adek dengan Ayah bisa berkurang! " Ujar Syakir dengan mendongakkan kepalanya dan menatap wajah istrinya dengan genit.


Humai yang sadar hanya mampu menggelengkan kepalanya. Dia baru paham dan itu membuatnya geleng-geleng kepala dengan tingkah suaminya.


"Astaga, Kak! Pikiranmu, " Kata Humai tak habis pikir.


~Bersambung

__ADS_1


Haha Bang Syakir mah dimanapun ada kesempatan. disitu otak omesnya keluar.


BTW besok udah tanggal 30 yah. Udah mendekati akhir bulan. huftt bismillah kejar ampek tamat Bang Syakir.


__ADS_2