Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Hukuman Syakir


__ADS_3

...Percayalah apa yang kamu tanam maka itulah yang kamu tuai. Kamu yang melakukan maka itulah yang kamu dapatkan....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Setelah acara makan malam berakhir. Papa Haidar dan Mama Ayna meminta putra dan menantunya berkumpul di ruang tamu. Mereka ingin membahas sesuatu yang sangat ingin dibahas oleh keduanya.


Begitupun dengan Syakir, pria itu juga berniat menemui mama dan papanya untuk membahas masalah tempat tinggal. Syakir sudah merencanakan semuanya. Dia akan mengatakan itu pada kedua orang tuanya dan semoga mereka menyetujui keinginannya. 


"Ada yang ingin Mama dan Papa bahas pada kalian berdua," kata Papa Haidar memulai pembicaraan. 


"Syakir juga ada sesuatu yang ingin dibahas bersama Mama dan Papa," sahut Syakir menatap kedua orang tuanya.


"Katakan, apa yang ingin kamu sampaikan pada kami?" kata Mama Ayna yang ingin tahu keinginan putranya.


Syakir membenarkan dudukannya. Dia duduk di kursi single dan menjauh dari Humai yang duduk bersama adik kesayangannya.


"Aku ingin pisah rumah, Ma. Aku sudah membeli rumah untuk tempat tinggalku setelah menikah," kata Syakir tanpa ragu. "Rumah itu dibeli tahun lalu dan akan ku tinggali setelah menikah. Jadi aku pamit untuk pindah kesana besok." 


Mama Ayna dan Papa Haidar saling tatap. Seakan keduanya saling berbincang melalui tatapan mata. Mereka masih diam tak memberikan jawaban apapun. Seakan menunggu kata apalagi yang akan keluar dari bibir putra pertamanya.


"Syakir mohon, Papa sama Mama izinin Syakir pindah."


Mama Ayna menatap ke samping. Dia melihat menantunya yang hanya diam. Wanita paruh baya itu tahu, jika Humai pasrah akan apa yang ada di depannya. Gadis itu tak pernah mempermasalahkan apapun. 


"Ada lagi yang ingin kamu katakan?" tanya Mama Ayna menatap putranya dengan tatapannya yang lekat.


"Gak ada, Ma," sahut Syakir yang merasa aneh dengan respon kedua orang tuanya. 


Dia mulai merasa ada sesuatu yang akan terjadi setelah ini. Sesuatu yang besar dan pasti akan bertolak belakang dengannya. Syakir yakin itu. 


"Sekarang, biarkan Papa yang bicara!" kata Haidar memulai.


Pria paruh baya itu menggenggam tangan istrinya. Sepasang suami istri sekaligus orang tua dari dua anaknya memang masih memiliki luka. Luka terhadap putra pertamanya yang mengecewakan keduanya.


Mereka tak pernah menyangka takdir anak pertamanya akan seperti ini. Menikah karena sebuah insiden memalukan sampai menghasilkan sosok anak di antara keduanya. 

__ADS_1


"Kamu boleh menempati rumahmu itu, tapi…" jeda Papa Haidar yang membuat Syakir menunggu dengan tak sabar. "Tahun depan kamu bisa tinggal disana."


"Apa!" Syakir membelalakkan matanya tak percaya. "Tapi kenapa harus tahun depan? Besok pun sudah bisa, Pa?" 


Syakir tak habis pikir dengan perkataan papanya. Kenapa harus menunggu tahun depan untuk dia tinggal di rumahnya sendiri. Rumahnya saja sudah siap tinggal dan dia ingin segera pisah rumah.


Dia tak mau keluarganya semakin memojokkannya dan membuat gadis cupu itu selalu menang darinya. Dia tak mau gadis itu semakin terbang dan merasa banyak yang sayang padanya lalu memanfaatkan keadaan.


Syakir tak akan membiarkan hal itu terjadi. Dia tak mau gadis cupu itu menang darinya.


"Karena kamu akan tinggal di rumah Humai selama satu tahun ke depan." 


"Apa!" seru Syakir tak percaya. "Apa maksud semua ini, Pa? Kenapa Papa menyuruhku tinggal di rumah gadis cupu ini?" 


"Syakir!" seru Mama Ayna yang benar-benar kesal dengan tingkah anaknya. "Dia istrimu. Panggil dengan benar!" 


"Aku hanya menikahinya karena terpaksa, Mama. Aku tak mau ada dan berada di keadaan ini tapi kalian memaksanya," seru Syakir tak mau kalah. 


"Apa kamu bilang, Nak? Terpaksa?" ucap Mama Ayna dengan perasaannya yang sakit. "Kamu menikahinya karena ada anak yang harus kamu pertanggungjawabkan."


"Tapi aku tak percaya jika itu adalah anakku!" seru Syakir dengan marah. 


"Sudah, Ma. Sudah," kata Sefira menenangkan.


Gadis itu sebenarnya sejak tadi menatap sahabatnya yang menunduk. Sefira sangat tahu bagaimana perasaan Humai saat ini. Dia juga tak bisa melakukan apapun.


Jika tau kakaknya seperti ini, Sefira tak mau sahabatnya menikah dengan kakak kandungnya sendiri. 


"Mama gak boleh marah-marah terus," kata Sefira sambil memberikan segelas air minum.


Mama Ayna mengangguk. Dia menghembuskan nafasnya dengan berat. Anaknya sudah sangat kelewat batas. Syakir bukanlah Syakirnya yang dulu. Yang selalu patuh padanya. Mudah dinasehati dan selalu menjaga perasaan orang lain.


"Intinya Papa dan Mama mau kamu diam di rumah Humai selama satu tahun!" ucap Papa Haidar memperjelas.


"Gak mau!" 


"Syakir!" seru Papa Haidar meninggikan suaranya.

__ADS_1


Mama Ayna dan Sefira sampai tersentak kaget. Dia menatap papa dan suaminya itu tak percaya. Baru kali ini Papa Haidar sampai semarah itu pada Syakir.


"Papa gak mau dengar alasan apapun. Kamu mau, maka besok kamu harus pindah. Kalau gak mau, mulai besok gak usah datang ke perusahaan Papa!" 


Syakir mengepalkan kedua tangannya. Lagi-lagi ancaman tentang itu yang orang tuanya berikan kepadanya. Hal itu tentu membuat Syakir mau tak mau akan menuruti keinginan keduanya.


Dia adalah anak yang belum memiliki apapun. Kecuali rumah, mobil, apartemen. Perusahaan masih atas nama orang tuanya. Syakir belum mendapatkan apapun karena Papa Haidar akan memberikan pada putranya jika Syakir sudah menikah.


"Oke. Syakir mau dan besok kita langsung pindah kerumahnya!" 


Setelah mengatakan itu Syakir segera meninggalkan ruang tamu dengan kemarahan yang mengumpul di otaknya. Dia tak menyangka jika mama dan papanya akan sejahat ini kepadanya.


Dengan kasar dia menutup pintu kamar dengan keras dan suaranya sampai di lantai pertama.


"Papa!" lirih Mama Ayna takut akan kelakuan putranya.


"Percayalah. Dia tak akan melakukan hal gila, Ma," ucap Papa Haidar menenangkan.


"Ma, Pa," panggil Humai yang sejak tadi diam.


Dia ingin menangis tapi Humai mencoba menahannya sejak tadi. Dia semakin merasa Syakir pasti akan membencinya. Keluarganya membuat suaminya itu berada diposisi yang tak mengenakkan. 


"Jangan memaksa, Kak Syakir. Dia berhak memutuskan dimana aku dan Kak Syakir tinggal. Humai…" 


"Nak!"


Mama Ayna pindah. Dia duduk di samping menantunya dan mengusap tangannya dengan lembut.


"Percayalah, Nak. Mama dan Papa ingin Syakir sadar. Mama ingin dia melihat kebaikanmu," ujar Mama Ayna dengan lembut. "Selama ini Mama dan Papa selalu membuatnya berada di titik kenyamanan. Syakir harus belajar untuk berada di tempat asing dan jauh dari kehidupan mewahnya. Dia harus belajar bahwa berada di atas tak akan selamanya ada diatas."


"Tapi, Kak Syakir tak mau, Ma." 


"Biarkan dari terpaksa menjadi biasa. Dia harus mendapatkan hukuman agar mulutnya tak mudah menghina, agar dia bisa merasakan bagaimana ada di posisi kamu, Nak. Bantu Mama dan Papa yah. Bantu kami untuk mengubah Syakir menjadi Syakirnya Mama yang dulu.


~Bersambung


Lalalala dampaknya si pecel emang kebangetan. Hahaha.

__ADS_1


Udah siap kan. Tingkah mereka di rumah sendiri dan kedatangan Almeera dan Bara nanti.


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.


__ADS_2