Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Pekerja Restaurant


__ADS_3

...Banyak waktu yang kulewati tapi setiap kenangan yang pernah datang semakin teringat dalam pikiran....


...~Guntur Syakir Alhusyn...


...🌴🌴🌴...


Ternyata kenangan yang pahit terus tergerus dalam putaran waktu tanpa henti. Semua masa yang terlewati tak menjadikan kenangan itu terlupakan. Rindu yang kian menumpuk, penyesalan yang semakin besar membuatnya hidup dalam bayang-bayang dosa.


Saat dia berusaha bangkit, ternyata tak semudah saat dia mengucapkan. Saat dia berusaha berjalan dengan menatap ke depan, ternyata bayangan ketika ia pernah melakukan sebuah kejahatan terus berdampingan dengan dirinya.


Semua masalah yang ia lakukan ternyata terus membuatnya hidup dalam kegelisahan. Dia tak pernah tidur dengan nyenyak. Tak ada lagi wajah yang tampan dengan rahang mengeras.


Semua banyak perubahan. Dia tak lagi peduli dengan penampilannya. Seakan hidup yang dia jalani tak ada lagi gairah besar dan penyemangat. 


Dirinya hanya melalui hidupnya dengan kebebasan. Dia menjalani semuanya dengan mabuk kerja. Dirinya benar-benar melalui semuanya dari bawah. Tanpa bantuan orang tuanya, dengan banyak hujatan yang mengiringinya. Sampai akhirnya disinilah dia berada.


"Syakir, kau dipanggil Bos di ruangannya," kata seorang pria dengan memakai pakaian seragam menghampiri seorang pria yang baru saja keluar dari kamar mandi. 


"Oke!" sahutnya dengan melap kedua tangannya.


Dia dengan langkah pasti berjalan ke ruangan bosnya. Wajahnya yang sedikit lebih kurus dengan tubuh yang tak lagi kekar itu terlihat begitu memprihatinkan. 


Namun, dirinya bisa bekerja dengan perasaan tenang disini. Meski dia tak bekerja bukan dalam jurusannya tapi setidaknya dia bisa mencari kerja dengan usahanya sendiri.


Setelah sekian lama dia menganggur sampai kabar hebohnya surut. Entah itu atas bantuan papanya atau memang kabar itu perlahan meredup dan pria itu bisa melalui semuanya dari bawah. 


"Ada apa, Tuan. Ada memanggil saya?" 


"Ya, Syakir," sahut seorang pria paruh baya menatap Syakir dengan lekat. "Duduklah." 


Syakir mengangguk. Dia lekas menarik kursi tepat di depan meja bosnya lalu duduk dengan tenang. 


"Dari kinerjamu selama dua tahun terakhir, kamu melakukan pekerjaanmu dengan sangat luar biasa. Banyak pelanggan yang suka dengan pelayanan kamu," kata pria itu dengan senyuman bangga pada pria di depannya ini. 


"Alhamdulillah. Syukurlah, Tuan." 


"Untuk pencapaian kamu sekarang, saya memiliki tawaran baik untuk kamu. Itupun kalau kamu mau," kata pria itu menatap Syakir dengan lekat.

__ADS_1


"Boleh. Ada apa, Tuan?" 


"Jika kau berkenan, saya kan memindahkanmu ke restoran utama yang ada di Ibu Kota," ujarnya dengan menatap Syakir lekat. "Untuk urusan gaji, tentu lebih besar dari sini." 


Syakir terdiam. Dia belum menjawab tapi jujur dalam hatinya ada perasaan tak rela meninggalkan kota ini.


Meski menurutnya Malang adalah luka sekaligus obat. Meski disini kenangan buruk itu terus menghantuinya, tapi banyak kenangan yang mengingatkannya akan perhatian mantan istrinya itu. 


"Bagaimana?" 


"Boleh saya memikirkan dulu, Tuan? Saya masih harus berbicara dengan keluarga di rumah," kata Syakir dengan sopan. 


Banyaknya kejadian yang telah dia lewati. Sudah membuat Syakir banyak perubahan. Tak ada lagi Syakir yang arogan, tak ada lagi Syakir yang cuek. 


Yang sekarang duduk adalah Syakir yang baru. Syakir yang lebih bisa menghargai orang, Syakir yang jauh lebih baik dari sebelumnya. 


"Boleh. Kuberi waktu kau seminggu untuk berpikir. Setelah itu berikan jawaban terbaikmu disini!" 


"Terima kasih, Tuan." 


Ya, apartemen itu sudah menjadi miliknya sejak masih bekerja di perusahaan. Apartemen pribadi hadiah dari orang tuanya. Syakir lekas kembali ke sana. Tempat di mana dia menjadikan apartemennya adalah rumah terbaik.


Rumah yang selama ini nyata untuknya, tak pernah hangat padanya. Maaf yang ia minta untuk mama dan adiknya, tak membuat hubungan mereka membaik. Seakan Syakir mengerti jika luka yang dia berikan terlalu dalam.


Hingga hal itulah yang membuat pria itu memilih bekerja di tempat restoran dengan banyak cabang itu. Dia memilih semuanya dari bawah tanpa bantuan dan nama keluarga di belakang namanya.


"Aku pulang, Sayang!" kata Syakir dengan menghidupkan lampu ruangan apartemennya.


Dia lekas masuk setelah pintu ruangannya tertutup. Dari juga membuka sepatu kerjanya setelah itu meletakkan di tempatnya. 


Wajahnya tersenyum tatkala dia melihat potret istrinya yang sudah di gantung di dekat pintu masuk dengan menatapnya tersenyum.


"Kamu nungguin aku yah. Maaf aku baru pulang kerja," ujar Syakir dengan mengusap potret Humaira dengan lembut. "Aku mandi dulu yah." 


Setelah mengatakan itu Syakir lekas berjalan menuju kamarnya. Sepanjang jalan dia tersenyum melihat banyak potret mantan istrinya tertempel disetiap sudut dinding apartemen.


Lihatlah dia sekarang, pria yang dulu mengelak dan mengatakan tak akan pernah mencintai sang istri. Kini semuanya telah Tuhan bukakan. Benci itu telah berubah menjadi cinta.

__ADS_1


Hati yang beku telah mencair. Perasaan yang tersembunyi kini telah terbuka dengan begitu lebar. Syakir mengakui jika hatinya telah terpaut pada mantan istrinya itu.


Namun, sampai saat ini ternyata kesempatan kedua belum dia temukan. 


"Aku harus menghubungi Papa," ucap Syakir saat dia baru selesai membersihkan dirinya. 


Dengan segera pria itu lekas mengambil ponselnya. Ponsel apel gigit yang tak pernah ia ganti lagi semenjak masalah besar itu terjadi.


Sampai deringan ketiga, panggilan itu tak diangkatnya. Syakir kembali mencoba dan tetap tak ada tanggapan dari papanya.


"Mungkin Papa sibuk," lirihnya lalu meletakkan ponselnya di nakas samping ranjang. 


Syakir perlahan merebahkan tubuhnya. Dia menatap ke samping dan mengambil potret Humai yang ia bingkai dengan pigura kecil agar bisa diletakkan di meja nakas samping tempat tidurnya. 


"Kamu dimana, Sayang? Kamu gak mau lihat aku sebentar?" tanya Syakir dengan mata berkaca-kaca. 


Matanya meneteskan air mata tapi bibirnya terkekeh. Seakan pria itu sedang menertawakan takdirnya yang benar-benar lucu. 


Sekarang dia baru menyesal. Sekarang dia baru merasa kehilangan. Lalu kenapa dulu ia bisa mengatakan hal jahat dari bibirnya sendiri dan membuat istri dan anaknya pergi dari kehidupannya.


"Kamu bisa lihat aku sekarang dengan tatapan mengejek. Aku tak sekaya dulu, Sayang. Aku miskin sekarang," lirih Syakir menceritakan nasibnya.


Hal seperti ini sudah berjalan hampir tiga tahun. Ya tepat tiga tahun yang lalu, Humaira pergi meninggalkannya. Tepat tiga tahun yang lalu dia mulai menjalani hari-harinya tanpa sang istri.


Meski waktu yang berjalan terlalu lama. Namun, menurut Syakir itu sangat menyakitkan.


"Aku dapat kerjaan baru, Sayang. Aku diminta pergi dari Malang buat pindah ke Ibu Kota. Menurutmu, apa aku harus setuju?" 


Syakir tak henti mengoceh. Hingga akhirnya rasa kantuk mulai menyerang. Perlahan mata itu tertutup dengan bibir yang tersenyum setiap kali dia selesai bercerita kesehariannya dengan potret Humaira yang berada di atas dadanya. 


"Datanglah dalam mimpiku sebentar. Aku merindukanmu, Sayang." 


~Bersambung


Kan bener, 'kan! Makin nyesek dah macem orang gila kalau gini Bang Syakir.


Maaf baru update yah. Aku baru sampai rumah soalnya tadi kondangan.

__ADS_1


__ADS_2