Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Selamat Tinggal Malang


__ADS_3

...Keputusan berpisah adalah hasil dari pemikiranku berulang kali. Bukan perihal aku menyerah tapi melihatnya bahagia saja sudah cukup untukku....


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


"Assalamualaikum, Kak Meera. Ini Humaira," ucap Humai dengan suara seraknya.


"Waalaikumsalam," sahut Almeera dengan suara terdengar sangat antusias. "Apa kamu menghubungiku karena ingin memberikan kabar?" 


Humaira meneteskan air matanya. Dia tak menyangka jika Almeera masih mengingat perkataannya ketika masih di Malang. Istri Bara itu pernah bilang jika Humaira bisa menghubunginya ketika membutuhkan bantuan dan sudah mengambil keputusan.


"Iya, Mbak," sahut Humai berkata jujur. "Aku ingin bercerai dengan Kak Syakir. Aku ingin pergi dari Kota Malang." 


Tak ada tanggapan apapun dari Almeera. Namun, suara isakan Humaira terdengar yang membuat siapapun yang mendengarnya sangat tahu jika perasaan ibu hamil itu sangat menyedihkan.


"Sakit yah?" tanya Almeera dengan pelan.


Humaira tergugu. Namun, dia masih bisa mendengar suara Almeera yang bertanya padanya. 


"Banget, Mbak. Ini menyakitkan," ujarnya dengan mencoba menutup mulutnya agar isakan itu tak semakin kencang. 


"Rasakan secara perlahan. Ini masih awal dan lukanya masih terbuka lebar," kata Almeera dengan suaranya yang lembut. "Tapi lambat laun, ketika kamu sudah mencoba menerima semuanya. Luka itu akan tertutup dengan sendirinya." 


Humaira mengangguk. Meski dia tahu jika anggukan itu tak dilihat oleh Almeera. Namun, dia yakin jika istri Bara tahu jawabannya.


"Aku akan berusaha, Mbak." 


"Jangan mencoba melupakan tapi cobalah untuk berdamai dengan masa lalu," kata Almeera dengan bijaknya.


Bagaimanapun balas dendam bukanlah jalan terbaik. Membalas perbuatan jahat orang lain dengan perbuatan jahat yang sama bukanlah tindakan yang benar. 


Seseorang akan terlihat berbeda jika pembalasan yang dia lakukan semakin membuat dirinya lebih baik dari sebelumnya. Pembalasan yang cocok untuk orang yang sudah menghina kita adalah dengan membuktikan bahwa diri kita jauh lebih baik dan bisa lebih bahagia dari sebelumnya. 


"Lalu apa keputusanmu, Mai?" 


"Aku mau ke Jakarta, Mbak. Aku setuju dengan rencana, Mbak Meera." 


"Bagus. Itu pilihan yang tepat!" ujar Almeera dengan nada yang terdengar senang. "Buktikan kalau kamu bisa tanpa Syakir. Kamu bisa sukses tanpa pria itu." 


"Aku akan mencobanya, Mbak. Aku akan berusaha kalau aku bisa hidup tanpa dia." 

__ADS_1


"Kutunggu kehadiranmu di Jakarta. Aku akan menjemputmu di Bandara." 


"Terima kasih, Mbak. Aku akan secepatnya mengabarimu." 


Akhirnya panggilan itu terputus. Humaira menarik nafasnya begitu dalam saat dia meletakkan benda pipih itu di atas ranjang. Dia menatap perutnya yang semakin membulat lebar. 


Disana ada buah cintanya dengan Syakir. Ada sosok belahan dari diri Syakir yang akan ia bawa dalam kehidupan baru. Sebuah anugerah yang Tuhan berikan untuknya yaitu rezeki seorang anak. Anak yang tak pernah ada dalam pikirannya akan membawanya dan menemaninya nanti.


"Maafkan Ibu ya, Sayang. Kalau seandainya keluarga kita gak utuh. Bukan karena Ibu benci sama kamu. Bukan karena Ibu gak mau bertahan sama ayah kamu tapi ini semua demi kebaikan ayah dan ibu, Nak." 


Tanpa sepengetahuan Humaira. Ternyata di balik pintu ruang rawat Humai. Terlihat seorang gadis muda yang menutup mulutnya. Dia mendengar semua percakapan sahabatnya itu.


Dia bahkan bisa melihat bagaimana hancurnya Almeera. Bagaimana tangis sahabatnya itu pecah begitu deras. Dia tak menyangka jika sakit yang dirasakan oleh sahabatnya begitu besar. 


"Aku pastikan Kak Syakir gak bakal bisa nemuin kamu, Mai. Aku bakalan jadi garda terdepan buat lindungin kamu!" 


...🌴🌴🌴...


Keesokan harinya.


Akhirnya setelah pendarahan yang terjadi pada Humaira berhenti. Lalu hasil usg untuk melihat bagaimana kondisi bayi yang ada dalam kandungannya baik-baik saja. Dokter mengizinkan dirinya pulang.


Tentu kabar itu membuat Mama Ayna, Papa Haidar, Sefira dan Rein begitu bahagia sekaligus sedih. Kepulangan Humaira menjadi pertanda bahwa sebentar lagi mereka akan berpisah.


"Jangan menangis dong," bujuk Humaira yang memeluk sahabatnya sejak tadi. 


Sefira terus memeluk Humaira. Dia tak mau berjauhan dengan sahabatnya. Persahabatan yang kekal dan abadi itu tentu membuat keduanya merasa berat untuk berjauhan. 


"Aku ikut kamu ya, Mai. Aku gak punya teman disini," bujuk Sefira pada sahabatnya.


"Kalau kamu ikut. Siapa yang jagain Mama, hmm?" 


"Ya Papa lah," sahutnya dengan mata sembab dan memerah.


"Terus yang bakalan nemenin Kak Syakir?" 


"Kakak…" jeda Sefira yang hampir kelepasan. 


Jujur disini hanya Humaira yang tak tahu jika suaminya telah dicoret dari kartu keluarga Alhusyn. Baik Mama Ayna, Papa Haidar dan Sefira menutupi hal itu karena tahu jika hati Humai sangat lembut. 


Sefira yakin jika Humaira tak akan mengizinkan Syakir untuk dijauhi. Dia pasti tak setuju jika Syakir dikeluarkan dari kartu keluarga.

__ADS_1


"Sudah siap?" tanya Mama Ayna yang baru selesai membereskan pakaian Humai.


Meski kehidupan keluarga Syakir tergolong kaya raya. Mereka tak pernah manja. Melakukan semua pekerjaan sendiri jika memang mereka bisa melakukannya.


"Sudah, Ma." 


Akhirnya mereka mulai meninggalkan ruang rawat Humai. Semua orang tak ada yang membahas Syakir atau wanita ular itu. Mereka tak mau membuat Humaira semakin sedih.


"Ayo, Pa!" kata Mama Ayna saat mereka mulai berada di dalam mobil. 


Mama Ayna dan Papa Haidar saling bertatapan. Jujur keduanya merasa tak rela ditinggal oleh menantu yang sudah keduanya anggap seperti anaknya sendiri. Namun, mau bagaimana lagi. Ini sudah keputusan Humaira dan keputusan itu diambil karena sikap anak mereka sendiri. 


Tak ada pembicaraan apapun selama perjalanan menuju bandara. Bahkan sampai mobil terparkir rapi di tempat dimana banyaknya mobil yang berjejer rapi. Semua masih diam. Namun, mata tak bisa membohongi.


"Biar Mama yang bawa, Nak." 


"Tapi, Ma," sela Humai yang tak tega pada mertuanya.


"Gak papa. Ayo!" 


Sefira, kedua orang tua Syakir, Humai dan Rein mulai memasuki bandara yang terlihat ramai. Kondisi Humai yang hamil pun sudah mendapatkan izin dari dokter untuk dia bisa terbang ke Jakarta.


Kehamilan Humaira memang sangat kuat. Mungkin anak itu bisa merasakan apa yang ibunya rasakan. Sampai akhirnya disinilah mereka berhenti. Batas antara mereka untuk melakukan perpisahan.


Humaira menatap ketiga orang yang sangat baik untuknya dan tanpa diduga, dia lekas memeluk ibu mertuanya itu dengan air mata menetes. 


"Humai pergi ya, Ma," ujarnya dengan pelan tapi terasa menusuk.


Mama Ayna mengangguk. Dia mengusap punggung menantunya dengan pelan.


"Pergilah, Nak. Cari kebahagiaanmu disana, 'yah!" ujar Mama Ayna dengan tulus.


Humaira balas mengangguk. Kemudian dia mencium punggung tangan Mama Ayna dan bergantian dengan Papa Haidar. Setelah itu sampai di bagian Sefira. 


Dua sahabat itu saling menangis. Keduanya langsung berpelukan untuk menjadi pelukan terakhir mereka.


"Jangan kembali ke Malang sebelum sukses oke. Buat diri kamu jauh lebih baik dari sekarang. Kamu harus bahagia dan katakan pada dunia dan Kak Syakir. Kalau tanpa dia, kamu bisa!" 


~Bersambung


Yuhuu Selamat tinggal Malang dan Selamat datang kebahagiaan. 

__ADS_1


3 part loh yah. 3 part hari ini yuhuu.


__ADS_2