Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Merasa Kehilangan


__ADS_3

...Percayalah akan ada masa yang sakit akan melepas dan yang ditinggal akan kehilangan....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Setelah pertengkaran besar itu. Syakir langsung berubah menjadi sosok pendiam. Pria itu bahkan tak tahu apa yang harus dilakukan setelah ini. Matanya terpejam sejak tadi tapi dia juga masih mendengar rengekan dari mulut Rachel yang tanpa henti..


"Sayang, kalau kamu dikeluarkan dari kartu keluarga. Gimana dong? Kamu harus cari cara biar Mama dan Papa maafin kamu," kata Rachel yang tak henti merengek hal itu sejak tadi.


Ya yakinlah, Rachel sosok wanita matre yang selalu bermanja dengan Syakir tak rela jika pria itu dibuang oleh keluarganya. Rachel juga tak ikhlas jika sumber pundi uangnya raib begitu saja.


"Kamu harus bilang sama Mama dan Papa kalau kamu khilaf. Kamu mau…" 


"Diam!" bentak Syakir yang sejak tadi sudah merasakan pusing.


Dia pikir kekasihnya itu bisa menenangkan pikirannya ternyata salah. Kepala Syakir semakin ingin meledak saat ocehan wanita tak berhenti. Ditambah apa yang Rachel minta semuanya berbanding terbalik dengan hatinya. 


"Kenapa kamu menyuruhku diam?" bentak Rachel yang tak mau kalah. "Kalau kamu dikeluarkan dari kartu keluarga. Kamu mau hidup bagaiman, Syakir? Kamu mau di jalanan?" 


"Jaga ucapanmu, Rachel!" seru Syakir menatap tajam kekasihnya.


Dia tak menyangka Rachel bisa mengatakan hal itu. Dia butuh support kekasihnya tapi Rachel malah menghinanya.  


"Kenapa aku harus menjaga ucapanku? Kamu bukannya disini tapi harus ke orang tuamu. Kamu harus mengambil hati mereka lagi biar harta yang menjadi hakmu bisa kamu ambil!" 


"Aku gak butuh harta itu!" seru Syakir mulai beranjak berdiri. "Aku bisa hidup tanpa uang dari orang tuaku!" 


Rachel mengepalkan kedua tangannya. Dia kesal bukan main melihat kekasihnya dengan percaya diri mengatakan hal itu. Apa yang pria itu katakan benar-benar gila.


Sudah ada harta yang bisa dia ambil malah mencari cara yang susah. Bukankah hal itu adalah tindakan bodoh yang Syakir pilih menurut Rachel.


"Jangan mengada-ngada! Kamu mau kerja apa tanpa keluargamu?" seru Rachel yang tak mau kalah.

__ADS_1


"Aku akan bekerja apapun dan membuktikan bahwa aku bisa sukses tanpa mereka!"


"Jangan munafik, Sayang. Oh ayolah. Tak ada pekerjaan mudah sekarang! Semuanya serba sulit dan kau ingin memulainya dari awal?" desak Rachel yang semakin meracuni pikiran kekasihnya.


Dia ingin Syakir memilih kembali pada orang tuanya. Gapapa hubungan mereka dipertaruhkan tapi yang pasti Syakir tetap harus bersama keluarganya.


Urusan bertemu atau hubungan itu mudah menurut Rachel. Tapi jika Syakir sudah dibuang oleh keluarganya maka mau tak mau dia harus terima kalau Syakir akan miskin sekarang. Pria itu tak memiliki apapun lagi dan akan menjadi beban untuknya. 


Sedangkan Syakir yang mendengar ocehan Rachel sejak tadi merasa kepalanya sakit. Dia tak menyangka jika wanita yang ia pikir bisa menjadi penenang ternyata tak bisa menenangkannya. 


"Syakir!" 


"Hentikan ocehanmu!" bentak Syakir dengan suara kencangnya.


Dia sudah kesal dan lelah. Akhirnya pria itu memilih berjalan ke arah pintu ruang rawat Rachel dan membuat wanita itu semakin marah.


"Kau mau kemana? Jangan keluar, Syakir! Kita belum selesai!" seru Rachel yang mulai memukul ranjang pasiennya saat melihat Syakir terus berjalan meninggalkannya.


"Ini tak boleh terjadi. Tak boleh!" kata Rachel dengan kepala menggeleng. "Syakir harus kembali pada keluarganya. Dia harus mengambil harta yang seharusnya menjadi miliknya." 


Rachel menganggukkan kepalanya. Dia benar-benar tak mau Syakir miskin. Dia tak mau kehilangan atm berjalannya. Meski ya pemberian uang dari papanya cukup tapi jika bersama Syakir. Uang belanjanya semakin berlipat ganda bukan.


"Aku harus mencari cara agar Syakir mau menurutiku! Aku harus cari cara agar dia mau kembali pada keluarganya!" gumam Rachel dengan tekad yang kuat.


...🌴🌴🌴...


Syakir mengemudikan mobilnya tanpa arah. Dia tak tahu harus kemana sekarang. Pikirannya yang pusing dan banyak beban yang ia pikirkan membuat pria itu tak bisa berpikiran jernih. 


Dia berulang kali memukul setir kemudi saat dirinya merasa marah. Dia benar-benar kecewa pada orang tuanya. Syakir tak menyangka jika dia tak seberarti itu untuk mama, papa dan adik perempuannya.


Ternyata posisinya telah digeser oleh Humaira. Ternyata kedudukannya sebagai seorang anak mampu berubah karena seorang wanita yang menjadi menantu pertama dari keluarganya itu.


Dia merasa lelah dan pusing dengan apa yang menimpanya. Hingga tiba-tiba entah pikiran apa yang membawa Syakir sampai pria itu ada disini. Di depan sebuah rumah yang menjadi tempatnya tinggal beberapa bulan terakhir. Rumah yang selalu ia jadikan neraka untuk wanita yang menjadi istrinya itu. 

__ADS_1


Tak memiliki tujuan, akhirnya pria itu lekas masuk ke dalam rumah yang pintunya dibuka lebar. Dia berpikir mungkin Humaira sudah pulang dan sudah ada di rumah. Namun, pemikirannya salah ketika dia melihat pelayan kepercayaan mamanya ada disana.


"Oh, Tuan Syakir," ucap pelayan itu yang membuat beberapa pelayan lain menghentikan pekerjaannya. 


"Bibi sedang apa disini?" tanya Syakir yang mulai masuk lebih dalam dan menatap ke sekeliling.


"Kemana gadis cupu itu?" gumam hati kecil Syakir tanpa sadar dia mencari istrinya.


Kebiasaan Humai yang selalu menyambutnya jika dari luar tentu membuat alam bawah sadarnya sudah mulai memikirkan Humai. 


"Kami diminta Nyonya besar untuk membersihkan rumah ini, Tuan. Karena…" 


"Baiklah bersihkan saja, Bi!" kata Syakir yang menyela ucapan Bibi. 


Entah kenapa pria itu merasa malas ketika tak menemukan Humai menyambutnya. Dia langsung berjalan ke arah tangga dan tak mendengar penjelasan pelayan yang sudah dia sela. 


"Kemana dia?" tanya Syakir saat melewati kamar Humai.


Pria itu menghentikan langkah di depan pintu kamar Humai. Pintu itu tertutup rapat dan membuat Syakir menggelengkan kepalanya. Sepertinya dia mulai gila karena terus memikirkan Humai yang berputar di otaknya ini. 


"Kenapa aku memikirkan gadis cupu itu?" umpatnya pada dirinya sendiri. 


Syakir lekas meninggalkan pintu kamar Humai. Dia lekas menaiki tangga dan menuju kamarnya yang di lantai dua. Entah kenapa pria itu merasa hanya rumah ini yang bisa menjadi penenang disaat kepalanya yang terisi tekanan ingin meledak.


Segala masalah itu kini terasa menumpuk dan membuat Syakir lekas membaringkan tubuhnya di ranjang. Pria itu memejamkan matanya sesaat. Menikmati aroma yang tercium begitu tenang di seluruh ruangannya membuat Syakir mulai merasa rilex.


"Sepertinya hanya rumah ini yang bisa membuatku tenang. Tak ada tekanan dan tak ada paksaan disini," gumam Syakir yang perlahan memejamkan matanya. 


~Bersambung


Yayaya rumah yang dulu dia jadikan neraka ternyata bisa jadi rumah ternyaman.


Selamat datang di kehidupan sepi, Bang Syakir. Sini sujud dulu sama author biar cepet alurnya, hahaha. Kabur.

__ADS_1


__ADS_2