Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Pernikahan Kedua


__ADS_3

...Pernikahan bukanlah ajang siapa cepat dia dapat. Pernikahan bukan lomba yang harus banyak dikejar oleh semua orang. Butuh kesiapan mental lahir batin untuk memulainya karena pernikahan adalah ibadah terpanjang dalam hidup seorang manusia. ...


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Tak ada yang lebih berarti dari hari ini. Tak ada lagi kebahagiaan yang mampu menjabarkan semua hal yang dia rasakan. Hari ini adalah hari yang paling dinanti dalam diri Humai. Hari ini adalah hari dimana apa yang diinginkan putranya akan kembali terwujud.


Sosok ayah yang sangat dinanti. Sosok ayah yang ingin Jay tinggali bersama. Sosok ayah yang ingin menemaninya akan kembali hadir diantara mereka.


Wajah semua orang tentu sama-sama ikut merasa bahagia. Tak ada yang mampu bisa mewakilkan perasaan mereka semua. Seakan apa yang terjadi sekarang adalah sebuah hadiah indah dari Tuhan.


Sebuah anugerah yang Tuhan berikan untuk orang yang benar-benar belajar dari masa lalunya. Hikmah indah setelah ujian besar yang mampu mereka lewati meski banyak lika liku menyakitkan.


Dekorasi akad nikah sudah berdiri dengan tegak dan indah. Nuansa putih dengan bunga melati yang diinginkan Humaira tentu membuat halaman samping rumah begitu wangi.


Nuansa yang sangat diinginkan Humai.. Sederhana, suci dan khidmat. Semua tentu sudah tertata rapi disana. Di bagian samping, deretan tempat makan yang menjadi menu makanan mereka juga sudah tertata dengan begitu indah.


Meski saat ini mereka hanya melaksanakan akad nikah saja dan resepsinya menyusul. Namun, keluarga Syakir dan Humai tetap menyiapkan segalanya dengan baik.


Semua orang juga mulai berdatangan. Dari para tetangga terdekat, sanak saudara dan juga kedua sahabat Humai. Ya, Sefira, Mei dan Lidya datang ke rumah Humai.


Tiga orang wanita itu sejak tadi sudah tak sabar untuk melihat bagaimana penampilan calon pengantin wanita. Ya ketiganya memang menunggu di depan kamar Humai. Para perias meminta ketiganya menunggu di luar meski tahu jika kamar Humai sangat luas.


Rasa gugup dan takut bukan hanya dirasakan oleh mereka bertiga. Namun, Humaira sendiri, wanita yang saat ini berdiri di depan cermin dengan penampilan terbaiknya.


Riasan nya sudah tertempel rapi di wajahnya dengan balutan gaun putih sederhana yang membalut tubuhnya semakin membuat penampilan wanita itu begitu sempurna.


Humaira bahkan sampai menatap tanpa kedip ke arah dirinya sendiri. Dia melihat pantulan dirinya dari kaca yang sudah diletakkan di sana.


"Ini sudah selesai, Mbak? " Tanya Humaira setelah tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Sudah, Nona. Kami akan menunggu di luar dan melihat apakah calon pengganti pira telah datang atau belum, " Kata perias yang mulai membereskan beberapa alat make up yang berantakan.


Humai hanya mengangguk. Dia memilih duduk dengan cermin di depannya. Entahlah menatap dirinya sendiri membuat Humai tak menyangka bahwa dia bisa ada di titik ini sekarang.


Dulu hal seperti ini tak pernah ada dalam pikirannya. Hal yang takut ia bayangkan. Hal yang ia pikir tak akan terjadi lagi dalam hidupnya ternyata bisa kembali ia rasakan.


Hingga tatapan mata Humai beralih saat dia mendengar teriakan heboh dari ketiga sahabatnya.


"Ya Tuhan, kamu bener-bener makin cantik, Mai! " pekik Lidya begitu heboh.


"Ah calon manten harumnya bener-bener, " Kata Mei menambahkan.


Sedangkan Sefira, gadis itu menatap Humai dalam diam. Matanya berkaca-kaca hingga hal itu tentu membuat Humaira menoleh ke arahnya.


Tatapan keduanya bertemu. Humai bisa melihat sahabatnya sekaligus adik iparnya itu menghapus air mata yang mengalir tanpa permisi.


"Kemari! " Kata Humai membuka kedua tangannya.


"Aku gak nyangka, Main. Aku gak nyangka kalau sebentar lagi kamu bakalan kembali pada kakakku. Sebentar lagi kita akan kembali menjadi keluarga besar, " Lirih Sefira dengan menangis.


Bagaimanapun Sefira adalah bukti nyata dari pernikahan Humai dan Syakir pertama kalinya. Sefira bisa melihat perbedaannya dulu dan sekarang. Melihat bagaimana sahabatnya yang sekarang jauh lebih bahagia dan kakaknya juga begitu antusias. Membuat Sefira yakin bahkan pernikahan kali ini pasti berakhir dengan bahagia.


"Semoga ini terakhir kalinya untuk kalian berdua," Bisik Sefira dengan banyak harapan dalam doanya. "Semoga kamu, Jay dan Kak Syakir bisa hidup bahagia. "


"Aamiin."


"Kalian jangan sedih dong. Nanti riasan kita jadi beleber ke mana-mana, " Kata Lidya dengan ikut menghapus air matanya dengan tisu saat melihat pelukan Humai dan Sefira begitu berarti.


"Kamun ngapain ikut nangis juga? " Ledek Humai yang membuat Lidya cemberut.


"Ya aku terharu, " Kata Lidya dengan kesal.

__ADS_1


"Udah jangan ngomel terus, " Kata Humai memeluk sahabatnya itu. "Terima kasih sudah mau datang ke Malang. Aku bahagia dengan keberadaan kalian semua."


Mei dan Lidya mengangguk. Ini adalah untuk pertama kalinya mereka datang ke kota dingin ini. Ke kota dimana Humai dilahirkan dulu.


"Kalian tinggal di apartemen, 'kan? " Tanya Humai yang membuat Lidya dan Mei mengangguk.


"Tentu. Supir keluargamu yang menjemput kami dan mengantar kami berdua. "


Akhirnya percakapan mereka mulai berakhir saat perias datang dan mengatakan jika pengantin pria telah datang dan siap melaksanakan akad nikah mereka.


Jantung Humai berdegup kencang. Wanita itu bahkan sampai merasa gugup dan tangannya berkeringat dingin. Pintu kamarnya mulai dibuka agar suara penghulu dan akad nikah itu bisa terdengar sampai ke lantai dua.


"Bismillahirrahmanirrahim, " Gumam Humai dalam hati saat suara penghulu mulai terdengar di telinganya.


...🌴🌴🌴...


Bukan hanya Humaira yang tegang. Namun, pria yang sudah memiliki seorang anak itu juga merasa gugup. Dirinya merasa berkeringat dingin saat dirinya mulai berhadapan dengan ayah kandung calon istrinya.


Wejangan dan doa yang dibawakan oleh penghulu dan kyai yang sudah diminta datang tentu didengar oleh Syakir. Semua petuah yang mereka sampaikan pria itu dengarkan sampai habis.


Pria itu benar-benar merasa dejavu. Dia ingat bagaimana dulu menikah tak diharapkan. Dia ingin segera semuanya selesai dan bubar. Namun, berbeda dengan sekarang. Saat ini jantungnya yak berhenti berdetak. Dia benar-benar merasa tegang dan gugup di waktu yang bersamaan.


"Mari Ayah sangat pengantin wanita dan calon suami berjabat tangan, " Kaya pak penghulu yang membuat Syakir segera menerima jabat tangan ayah mertuanya.


Pria itu tentu tak bisa menutupi ketegangan dalam dirinya. Setiap kalimat tentu dia dengarkan dengan baik. Nafasnya mulai tak beraturan saat Papa Hermansyah mulai mengikuti setiap kata yang diarahkan oleh penghulu.


Kalimat ijab kabul itu mulai terdengar di telinganya dan membuat Syakir dengan satu kali tarikan nafas mulai mengucapkan kalimat yang akan membuat statusnya berubah dengan begitu cepat dan halal.


"Saya terima nikah dan kawinnya Humaira Khema Shireen binti Hermansyah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai! "


~Bersambung

__ADS_1


Ahhh selamat kalian berdua. Udah halal yah kan.. Selamat datang di dunia bucin haha.


__ADS_2