
Yuan Lin dan Mein pun singgah sebentar ke istana karena paksaan dari pangeran Han Tian dan juga Huang Hun. tentu hal tersebut membuat kaisar Wei sangat senang sehingga saat sampai di istana dia langsung menyuruh pelayan untuk menyiapkan kamar dan hidangan untuk mereka berdua.
"Apakah mereka sangat dekat denganmu?" tanya Mein dengan penasarannya.
"Tentu saja karena mereka berdua adalah kakakku." jawab Yuan Lin tanpa menoleh sedangkan Mein hanya mengangguk saja.
Disisi lain saat ini Chen Zu sudah berada di alam atas. ia memberitahukan apa yang di katakan Mein pada ayah dan ibunya. tentu hal tersebut membuat mereka berdua terkejut dan ingin segera menuju ke kerajaan vampir namun Chen Zu menghentikannya.
"Kalian hanya perlu percaya padaku saja. aku bisa mengatasinya sendiri ayah." kata Chen Zu.
"Ya ayah percaya padamu. tapi kau tetap harus waspada dan hati-hati karena orang-orang yang membantu pamanmu sangatlah licik." kata raja Ruxi Zu dengan menasehati anaknya untuk selalu mengutamakan keselamatannya.
"Apa yang di katakan ayahmu benar. bunda tidak mau jika kau sampai terluka. selamatkan mereka, bunda sangat mengandalkan mu karena bunda tidak bisa ikut denganmu karena bunda takut akan terjadi sesuatu pada adikmu." timpal ratu Qinan Xia yang membuat Chen Zu langsung menatapnya dengan bingung.
"Adik? bukankah aku adalah putra tunggal kalian?" tanyanya dengan bingung.
ratu Qinan Xia pun memegang perutnya yang sudah terlihat agak membuncit sehingga membuat Chen Zu terkejut mendengar berita ini.
"Kau akan segera memilikinya." kata raja Ruxi Zu dengan tersenyum senang.
"Benarkah begitu? ahh aku sangat senang sekali mendengar hal ini ibunda. baiklah kalau begitu aku akan segera pergi. jaga kandungan bunda dengan baik." kata Chen Zu dengan berpamitan pada kedua orangtuanya.
"Aku tidak percaya ini jika dia bisa melakukan ini pada ayah dan ibuku." ucap ratu Qinan Xia dengan geramnya.
__ADS_1
"Tenanglah putra kita pasti bisa mengatasinya." ujar raja Ruxi Zu dengan menenangkan istrinya.
Saat ini Yuan Lin sudah berada di dalam kamarnya. kamar waktu dia kecil. disinilah dia mendapatkan perlakuan yang tidak seharusnya. jika ia mengingat semua kejadian itu rasanya ia ingin sekali menghabisi orang-orang yang melakukan itu padanya tapi ia tidak bisa melakukan itu.
Ketukan pintu membuyarkan lamunan Yuan lin sehingga membuatnya langsung beranjak dari tempat tidurnya dan melihat siapa yang sudah mengetuk pintu.
"Ada apa?" tanya Yuan Lin dengan membuka pintu.
"Lin jiejie." ucap orang tersebut dengan tersenyum yang membuat Yuan Lin mendongak dan menatap siapa itu.
"Apa?" tanya Yuan Lin yang menampakkan wajah biasa-biasa saja tanpa merasa terkejut sedikitpun padahal dalam hatinya ia sangat terkejut melihat siapa yang sedang berdiri di depannya itu.
Tapi tatapannya beralih pada sosok kecil yang kini sedang mengekor di belakang orang itu. bocah mungil itu hanya menampakkan kepalanya saja dan melihat Yuan Lin dengan wajah imutnya.
Tanpa di minta, bocah kecil itu mendekati Yuan Lin Dan mengulurkan tangannya dan mengucapkan kata-kata dengan lucunya.
"Ahh baiklah ayo." ucap Yuan Lin yang sebenarnya tidak mengerti dengan apa yang di katakan bocah kecil itu dan hanya menurut saja.
"Aku harap putraku bisa memperbaiki kesalahan yang ku lakukan padanya." ucap putri Jiang He dengan menghela nafasnya kemudian menyusul mereka berdua.
Di ruang makan semua orang sudah menunggu kedatangan Yuan Lin. tak berselang lama pintu ruangan pun terbuka dan menampakkan seorang bocah kecil dan seorang gadis yang tengah di gandeng tangannya.
"Maaf sudah membuat kalian semua menunggu." kata Yuan Lin kemudian langsung duduk di tempat yang masih kosong.
__ADS_1
"Tidak masalah. oh iya dimana ibumu?" tanya kaisar Wei pada bocah kecil itu.
"cana." jawab bocah tersebut dengan menunjuk pintu dan masuklah putri Jiang He.
Putri Jiang He duduk di sebelah Yuan Lin dengan sangat canggung pasalnya ini adalah pertama kalinya dia duduk bersebelahan dengan Yuan Lin, karena dulu dia sangat tidak suka berdekatan dengan Yuan Lin tapi setelah kejadian waktu itu perlahan lahan dia mulai sadar dengan semua perbuatnya dan ia bermaksud untuk meminta maaf pada Yuan Lin namun sampai sekarang ia belum berani mengatakannya.
"Baiklah karena semua sudah ada disini lebih baik kita langsung saja makan." kata kaisar Wei dengan mempersilahkan semua orang untuk menyantap hidangan yang telah tersaji di atas meja.
Semua orang menikmati hidangan tersebut dengan begitu lahapnya. di dalam ruangan itu hanya terdengar suara dentingan sendok. tidak ada pembicaraan Sama sekali selagi mereka makan karena itulah peraturan yang di terapkan di kekaisaran ini.
Setelah menghadiri jamuan makan tersebut Yuan Lin kembali ke kamarnya bersama Mein. mereka terlihat dekat walaupun Yuan Lin terkesan cuek dan dingin namun itu tidak menjadi masalah bagi Mein. dia merasa senang bisa memiliki teman seperti Yuan Lin.
"Setelah ini aku akan pergi. kau kembalilah karena senjata yang sudah kau ambil sudah aman berada di tangan Chen Zu, dan bantulah dia untuk membebaskan keluarganya." kata Yuan Lin yang membuat Mein mengangguk.
"Aku akan kembali. terimakasih karena kau sudah menyembuhkan lukaku. jika aku tidak bertemu denganmu entah apa yang akan terjadi denganku. aku sangat beruntung bisa menjadi temanmu." kata Mein dengan menatap Yuan Lin.
"Hah sejak kapan kita menjadi teman? aku bahkan belum memutuskan untuk berteman denganmu." ujar Yuan Lin yang membuat Mein hanya menggaruk kepalanya dengan tersenyum canggung.
"Bukankah kau sudah sangat baik kepada Ku. itu dapat di artikan jika kau sudah menganggap ku sebagai temanmu." kata Mein.
"Kau itu hanyalah seorang gadis yang tiba-tiba muncul dan merepotkan ku saja tidak lebih." timpal Yuan Lin dengan meninggalkan Mein di belakang.
"Hei setidaknya bertemanlah denganku. kenapa kau sangat dingin padaku pantas saja tidak ada pria yang ingin mendekatimu." teriak Mein dengan kesalnya namun tidak di hiraukan sama sekali oleh Yuan Lin.
__ADS_1