
Malam harinya Putri Mei menemui permaisuri Zinsy untuk meminta maaf padanya atas apa yang sudah terjadi dan kesalahpahaman yang sudah dia buat. melihat bagaimana putri Mei meminta maaf membuat permaisuri Zinsy tersentuh dan langsung membawa putri Mei ke dalam pelukannya.
Gadis itu yang tadinya menangis menyesali apa yang sudah dia lakukan kini mulai tersenyum menyeramkan di dalam pelukan permaisuri Zinsy.
"Sudah sudah jangan menangis. aku tahu kau tidak bermaksud seperti itu. tapi jangan ulangi kesalahan yang sama lagi." kata permaisuri Zinsy
"Aku berjanji tidak akan mengulangi lagi. tapi apakah putri Yuan Lin akan memaafkan ku setelah apa yang sudah aku lakukan padanya. aku ingin sekali meminta maaf padanya tapi aku takut." ucap putri Mei.
"Apakah kau ingin meminta maaf padanya?" tanya permaisuri Zinsy yang di angguki putri Yuan Lin.
"Aku akan bersamamu. putri Yuan Lin sangatlah baik dia pasti akan memaafkan mu aku yakin itu. ayoo..." kata permaisuri Zinsy dengan tersenyum senang.
Putri Mei pun hanya tersenyum mengangguk saja kemudian mereka berdua langsung menuju ke kamar Yuan Lin. sambil berjalan kedua wanita itu terus bercengkrama dengan ramahnya persis seperti seorang ibu dan anak.
Hingga beberapa saat sampailah mereka di depan kamar Yuan Lin. permaisuri Zinsy mengetuk pintu tapi tidak mendapatkan jawaban dari dalam. ia pun mengulanginya lagi tapi hasilnya masih sama tidak ada jawaban apa-apa dari dalam.
"Bagaimana permaisuri?" tanya putri Mei.
"Seperti putriku tidak ada di kamarnya. tapi kemana dia malam-malam seperti ini." jawab permaisuri Zinsy
Ia mengetuk pintu sekali lagi sambil memanggil nama Yuan Lin namun lagi-lagi tidak ada jawaban apapun dan akhirnya mereka memutuskan untuk menemui Yuan Lin besok pagi.
Saat mereka berbalik mereka di kejutkan dengan sesosok perempuan yang sudah berdiri di belakang mereka sedari tadi. hampir saja putri Mei memukul orang tersebut jika saja permaisuri tidak langsung menghentikannya.
__ADS_1
"Ada apa kalian malam-malam berada di depan kamarku?" tanya Yuan Lin dengan datarnya.
"Ahh kau mengagetkan ku saja putri. ya aku kesini karena ingin menemuimu begitupun dengan putri Mei. dan ada juga yang ingin di katakan putri Mei." kata permaisuri Zinsy yang membuat Yuan Lin menatapnya dengan keheranan.
"Ahh be begini..." ucap putri Mei tapi langsung di potong oleh permaisuri Zinsy.
"Apakah tidak lebih baik jika kita berbicara di dalam sana putriku." kata permaisuri Zinsy.
Yuan Lin yang bingung pun hanya menurut saja. ia membukakan pintu dan kini mereka sudah berada di dalam kamar Yuan Lin.
"Jadi aapa yang kau katakan padaku?" tanya Yuan Lin yang membuat putri Mei gugup.
"Kenapa aku mendadak menjadi gugup seperti ini. tidak tidak aku tidak boleh terlihat gugup di depannya atau semuanya akan berantakan." Batin putri Mei yang membuat Yuan Lin terheran-heran mendengar kata hatinya gadis itu.
"A aku i ingin meminta maaf padamu putri. aku menyesal telah melakukan itu padamu. tapi aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu padamu. aku benar-benar minta maaf. aku tahu sikap ku padamu tidak bisa di maafkan tapi aku sungguh menyesalinya. aku mohon maafkan aku putri. a aku akan menerima hukuman apapun asalkan kau memaafkan ku." ucap putri Mei dengan air mata yang keluar serta memegangi tangan Yuan Lin.
"Ah ya putriku. aku tau menang dia sudah bersalah tapi dia sudah mengakui kesalahannya dan meminta maaf padamu. aku yakin kau adalah orang baik dan bisa memaafkan orang lain." ucap permaisuri Zinsy dengan suara lembutnya.
"Aku tidak suka di sentuh orang lain." kata Yuan Lin yang membuat putri Mei menatapnya dengan heran
"Jadi apakah kau sudah memaafkan ku?" tanya putri Mei.
"Ya terserah kau saja mau menganggap apa." ujar Yuan Lin dengan mengangkat bahunya.
__ADS_1
Senyuman putri Mei pun langsung mengembang begitupun dengan permaisuri Zinsy. sedangkan Yuan Lin hanya menatapnya dengan datar saja.
"Ya ya sudah apakah masih ada lagi yang harus di bicarakan. aku sangat lelah dan ingin istirahat." kata Yuan Lin
"Apakah aku boleh menjadi temanmu sekarang?" tanya putri Mei dengan tersenyum manis tapi malah membuat Yuan Lin heran dan bingung.
"Teman?" tanya Yuan Lin.
"Ya. bukankah kau sudah memaafkan ku itu artinya kita bisa menjadi teman bukan." kata putri Mei.
"Aku tidak mengatakan jika aku sudah memaafkanmu." kata Yuan Lin yang membuat putri Mei tidak bisa berkata-kata lagi.
"Ya tapi a aku bi bisa melihatnya iya aku bisa melihat jika sebenarnya kau sudah memaafkan diriku. oh ayolah sebelumnya aku tidak punya seorang teman. jadi bisakah kita berteman?" kata putri Mei dengan tatapan memohon.
"Akan aku pertimbangkan." kata Yuan Lin yang membuat gadis itu langsung tersenyum cerah begitupun permaisuri Zinsy.
"Bukankah sudah ku bilang jika putriku adalah gadis yang baik. kau tidak perlu takut lagi dengannya. sekarang kalian adalah teman dan juga menjadi putriku, jadi aku harap apapun yang terjadi kalian berdua rukun dan saling menyayangi." kata permaisuri Zinsy dengan senyum manisnya.
"Itu pasti permaisuri. dan mulai sekarang aku akan menganggap putri Yuan Lin sebagai kakak perempuan ku." kata putri Mei dengan tersenyum.
"Hah terserah kalian saja. aku ingin istirahat." kata Yuan Lin yang memang ingin mengusir mereka. sebenarnya dia hanya mengusir putri Mei Karena entah kenapa jika dia berada di dekat gadis itu dia sangat tidak menyukainya.
"Ya sudah. kau istirahatlah dulu. aku akan kembali." kata permaisuri Zinsy dengan mengelus lengan Yuan Lin.
__ADS_1
Setelah mereka keluar Yuan Lin langsung melemparkan tubuhnya ke kasur. dia menatap langit-langit kamarnya sambil pikirannya terus menuju pada tingkah aneh putri Mei padanya. ia merasa ada yang berbeda dari gadis itu.
"Kenapa aku merasa dia sangat aneh padaku sekarang. aku yakin dia sedang merencanakan sesuatu. ck benar-benar ya tapi tadi itu sangat bagus. aku juga akan mengikuti bagaimana permainan yang akan dia buat. kita lihat saja apa yang akan terjadi hufffttt lebih baik aku tidur saja." ucap Yuan Lin kemudian memejamkan matanya dan berlalu ke alam mimpi.