Legenda Putri Tidur

Legenda Putri Tidur
Kemarahan Zhan (LPT S2)


__ADS_3

Malam harinya saat Niken keluar dari kamarnya ia melihat Zein yang tengah berjalan menuju kamar mandi. Niken yang juga ingin kesana pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti Zein.


Zein masuk kedalam kamar mandi kemudian menutupnya sedangkan Niken berhenti di depan pintu dan mendengarkan suara dari dalam. di dalam kamar mandi Zein tengah menatap pantulan wajahnya dengan begitu tajamnya. matanya memancarkan kebencian yang sangat besar.


Buughhh...


"Siall berani-beraninya pria brengsek ini melakukan hal yang sangat menjijikkan pada kekasihku." kata Zhan yang beberapa hari ini mencoba untuk mengendalikan tubuh Zein tapi tidak bisa dan sekarang dia bisa karena dia sangat marah dengan apa yang di lakukan Zein pada kekasihnya.


"Brengsek akan ku bunuh kau." seru Zhan dengan marahnya.


Pyarrrr....


Ia meninju cermin kaca yang ada di depannya hingga pecah. tangannya sudah mengeluarkan darah tapi ia tak berhenti sampai di situ. ia kembali memukuli wajah, perut, dan kepalanya sendiri hingga darah yang ada di tangannya sudah kemana-mana.


Di luar kamar mandi Niken tampak terkejut mendengar suara itu. dengan segera ia membuka pintu dengan kerasnya dan melihat Zein yang sudah dalam kondisi sangat kacau.


"Berhenti. Zein apa yang kau lakukan hah apa kau sudah gila." pekik Niken dengan suara kerasnya.


"Biarkan aku membunuhnya aku sangat marah denganya." kata Zhan


"Zhan Ini kau bukan??! ku bilang hentikan jangan sakiti dia. dia tidak bersalah dalam hal ini. cukup Zhan." kata Niken yang membuat laki-laki itu langsung menatapnya.


"Apa yang kau katakan? dia tidak bersalah? jadi siapa yang bersalah? apakah aku ataukah kau hah jawab aku kenapa kau mengkhianati ku Yuna." kata Zhan dengan marahnya.


"Dia tidak melakukan kesalahan apapun justru dia yang menyelamatkan hidupku Zhan. aku tidak pernah mengkhianati mu sedikitpun. aku juga tidak mau ini terjadi tapi dia melakukan hal yang benar walaupun dia melakukan hal itu padaku." kata Niken dengan menjelaskan

__ADS_1


"Kenapa kau tidak menolak saat itu hah!" seru Zhan.


"Ada apa denganmu Zhan kenapa kau menjadi seperti ini?" kata Niken.


"Aku marah padamu kenapa kau tidak menolak saat itu kenapa kau memberikannya pada pria ini. aku sudah bilang hanya aku yang akan mengambilnya darimu tapi kenapa kau memberikannya." kata Zhan.


"Aku tidak tahu bagaimana itu terjadi yang aku tahu dia mengambilnya dariku setelah aku menjadi istrinya. aku mohon jangan sakiti dia Zhan. dia tidak bersalah. disini aku yang bersalah karena aku ceroboh jika saja aku mendengarkan perkataannya, hal seperti ini tidak akan terjadi." kata Niken.


"Kenapa kau tidak ingin aku melukainya?" tanya Zhan dengan suara yang sudah mulai melembut


"Dia tidak bersalah. disini yang salah adalah kita. jiwa kita berada di tubuh yang salah. jangan sakiti dia lagi aku mohon." ucap Niken.


Zhan menatap Niken dengan seksama. tatapan penuh dengan kelembutan dan kasih sayang pada gadis itu tapi di dalam tatapan itu tidak ada yang tahu apa artinya.


"Jika itu maumu aku akan berhenti melukainya tapi aku tidak berjanji jika lain kali aku tidak menyakitinya. aku sangat muak dengan pria sialan ini." ujar Zhan.


"Berjanjilah padaku kau akan selalu mencintaiku." ucap Zhan yang masih memeluk Niken.


"Hmm apakah kau meragukan cintaku. kau tahu selama ini aku selalu memikirkan mu. jika saja tubuh ini adalah tubuhmu yang sebenarnya aku akan sangat senang karena setiap harinya aku menjalani hidupku bersamamu lagi." kata Niken.


"Ku harap begitu." ucap Zhan dengan suara pelannya.


Zhan tau jika suatu waktu apa yang di katakan kekasihnya bisa saja berubah. ia yakin akan hal itu karena sekarang saja ia bisa melihat apa yang ada di dalam mata Niken walaupun masih sedikit. dan mulai sekarang ia sudah bertekad akan menyiapkan dirinya untuk waktu itu.


Tak terasa hari pun sudah pagi. mata tajam milik seorang laki-laki tampan terbuka dengan perlahan-lahan. ia melihat ke arah tangannya yang terasa berat dan disana sudah ada kepala seorang gadis yang menimpanya. Dia adalah Niken. gadis itu tertidur setelah mengobati luka Zein.

__ADS_1


"Apakah yang aku lakukan ini salah. aku melakukan apa yang tidak seharusnya aku lakukan dan aku juga berusaha ingin menjauhkan sepasang kekasih. apa aku sudah benar atau justru sebaliknya." gumam Zein dengan menatap Niken yang masih tertidur.


Walaupun dia sangat senang dan bahagia karena ia adalah laki-laki pertama yang merenggut hal berharga milik Niken tapi jauh di lubuk hatinya yang terdalam ia sangat menyesal dan merasa bersalah dengan tindakannya. apalagi ketika ingatan tadi malam sangat jelas terlihat bagaimana kemarahan Zhan yang mengetahui hal itu.


Zein juga tidak tahu bagaimana dia masih mencintai Niken sedangkan jiwa yang berada di dalam tubuhnya saja bukanlah milik Niken yang sebenarnya melainkan milik orang lain.


"Aku merasa apa yang sudah aku lakukan ini salah. aku mencoba menjauhkan sepasang kekasih yang saling mencintai. hufttt baiklah mulai sekarang aku akan berusaha untuk biasa saja pada perasaan ini." ucap Zein dengan keputusan terakhirnya walaupun dia tidak yakin akan keputusannya.


Tapi melihat bagaimana Zhan sangat mencintainya Niken atau jiwa Yuna membuat Zein akhirnya berfikir dua kali.


"Tidak seharusnya aku berada di antara mereka. tapi sekarang aku adalah suaminya dan aku berusaha menjadi suami yang baik untuknya tanpa menghali perasaannya untuk mencintai siapapun." lanjutnya dengan suara pelan.


Tiba-tiba dia merasakan pergerakan Niken kemudian Zein memejamkan matanya kembali agar Niken tidak tahu jika dia sudah bangun.


"Apakah aku tertidur disini?? ahh badanku pegal sekali. apa dia pingsan kenapa belum bangun juga." gumam Niken dengan mengucek matanya melihat ke arah Zein yang masih setia memejamkan matanya.


Zein yang mendengar itupun semakin merasa bersalah. ia perlahan lahan membuka matanya dan langsung tersenyum kecil pada Niken.


"Morning my wife." ucap Zein yang membuat Niken terkejut dan seketika wajahnya langsung memerah.


"Aku bukan istri mu." kata Niken dengan memalingkan wajahnya


"Ahh apakah aku harus menunjukkan kartu nikah kita agar kau percaya jika kita sudah menikah." kata Zein dengan menaik turunkan alisnya.


"Ya ya terserah kau saja. bagaimana keadaan mu sekarang?" tanya Niken.

__ADS_1


"Berkat kau aku sudah baik-baik saja terimakasih sudah menjaga suamimu ini." jawab Zein yang sengaja menggoda Niken tapi langsung mendapatkan pukulan di perutnya.


__ADS_2