
Malam harinya, Zein pulang ke apartemennya dan tidak mendapati keberadaan Niken. ia mencari Niken ke semua ruangan tapi tidak ada. gadis itu menghilang entah kemana sehingga membuat Zein panik bukan main.
"Ya ma ada apa?" tanya Zein dengan mengangkat panggilannya.
"Aku sedang mencari seseorang. tidak bisa sekarang ma. ini sangat genting. iya aku berjanji. ck sudahlah mama mengganggu saja. nanti ku hubungi lagi." kata Zein dengan memutuskan panggilannya sepihak
"Bagaimana? apakah dia akan kesini?' tanya seorang pria paruh baya yang tengah menggendong gadis kecil.
"Dia bilang sedang mencari seseorang. ahh entahlah aku juga bingung dengan tingkahnya." jawab wanita paruh baya .
"Siapa ma? Kak Zein?" tanya seorang perempuan dengan membawa satu botol susu dari dapur.
"Ya siapa lagi kalau bukan dia. kau sering-seringlah nasihati dia agar sering kesini. apakah dia akan kesini jika mama sudah tiada saja." kata Wanita paruh baya itu yang terlihat kesal.
"Sssttt apa yang mama katakan. mungkin kak Zein ada urusan yang penting yang tidak bisa di tinggalkan. sudahlah ma lebih baik mama istirahat saja." kata perempuan itu kemudian mengambil gadis kecil yang berada di gendongan pria paruh baya yang merupakan ayahnya.
"Apakah orang lain lebih penting dari pada mama." cibir wanita itu dengan kesalnya sehingga membuat suaminya menenangkannya.
Rumah Patricia yang tadinya sepi sunyi kini mulai berubah hanya dalam beberapa jam saja. semua itu di sebabkan karena dua orang yang sedang berteriak dan saling mengejar seperti anak kecil.
Semua barang barang yang ada di ruang tamu berserakan di lantai karena Niken melemparkannya pada laki-laki yang ternyata adalah kakaknya.
__ADS_1
"Dasar gila. kembalikan ponselku." teriak Niken dengan melemparkan apapun yang ada di depannya pada laki-laki itu.
"Nona muda jangan seperti itu bagaimana jika tuan marah." kata pelayan yang memberanikan diri untuk menegur niken. tentu ia merasa ketakutan dengan tingkah kedua orang itu.
Beberapa pelayan lainnya juga terlihat sama dengan pelayan tadi. mereka takut jika tuan mereka akan marah setelah melihat apa yang di lakukan tuan dan nona muda Mereka lakukan.
"Oh ayolah sayang aku hanya ingin memeriksa ada apa di ponselmu bisa saja kau menyimpan sesuatu yang tidak senonoh." kata laki-laki itu dengan tersenyum manis tapi di mata Niken senyum itu sangat menyebalkan.
"Johannnnn kembalikan itu atau aku benar-benar akan membuat mu tidak bisa berjalan." teriak Niken yang sudah menahan kesabaran sedari tadi namun laki-laki yang bernama Johan itu bukannya mengembalikan justru malah membuatnya semakin naik darah.
"hah Lihat saja aku akan melakukan apa." gumam Niken kemudian menunduk dan melepaskan sepatunya. ia mengambil sesuatu dari dalam sepatunya. dan seketika....
Dorr....
Glekkk....
Johan yang melihat itupun hanya bisa menelan ludah saja. ia tentu sudah banyak mendengar tentang Niken sebelumnya dari orangtuanya tapi ia tidak terlalu mempercayainya tapi sekarang dia baru percaya jika apa yang di katakan orang tuanya semuanya benar.
Johan adalah laki-laki berumur 22 tahun yang hidup seorang diri. dia sama seperti Zein, manusia dari dunia modern. bagaimana dia mengenal Patricia dan Herluc semua bermula ketika Patricia atau permaisuri Jia Li dan Han Zou bereinkarnasi ke dunia modern dan tiba-tiba muncul di sebuah gang sempit dengan baju mereka yang sudah tidak berbentuk karena sobek.
Untuk seorang kultivator yang memilih bereinkarnasi maka mereka harus melewati sebuah portal menuju masa depan yang sulit dan harus kehilangan sebagian kekuatannya. portal tersebut bergerak sangat cepat sehingga membuat orang yang melaluinya akan merasa seperti hanya sedang berdiri saja namun itu hanya saat berada di dalam portal saja. jika sudah sampai di dunia modern orang tersebut akan kehabisan tenaga dalamnya dan semua baju yang di pakainya akan banyak yang robek karena tekanan energi yang sangat besar dari portal tersebut.
__ADS_1
Gang sempit itu adalah jalan yang sering di lalui oleh Johan untuk sampai di rumahnya dan ketika dia melihat ada dua orang yang tengah terkapar di jalan dengan kondisi yang sangat mengkhawatirkan membuatnya membawa mereka ke rumahnya dengan bantuan beberapa orang.
Setelah itu Herluc atau Han Zou itu menceritakan semuanya pada laki-laki itu karena dia tahu jika Johan adalah sosok yang baik dan dapat di percaya. sebelumnya Johan tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Han Zou namun ketika pria itu menunjukkan sedikit kekuatan yang tersisa dari dirinya membuat laki-laki itu terperangah kaget.
Beberapa bulan setelahnya Herluc dan Patricia berhasil membangun sebuah perusahaan yang sangat besar di kotanya. mereka juga menganggap Johan sebagai putranya sendiri. Johan juga tidak keberatan dengan permintaan mereka karena ia hanya tinggal seorang diri saja.
"Hahaha aku hanya bercanda saja kenapa kau menganggapnya sangat serius. oke turunkan itu dan ini ambil ponselmu." kata Johan dengan meletakan ponsel Niken di atas meja.
Patricia yang baru saja ingin menuruni anak tangga pun seketika pandangannya beralih ke bawah. semuanya terlihat seperti kandang bab*. barang-barang berserakan dimana-mana. para pelayan yang melihat nyonya mereka akan turun seketika bertambah gemetaran.
"Johan Niken." kata Patricia yang membuat dua orang itu melihat ke atas.
"Bereskan semua kekacauan ini jangan merepotkan orang lain dengan kekacauan yang kalian buat." kata Patricia dengan tatapan tajamnya.
"Ada apa sayang?" tanya Herluc yang langsung melihat ke lantai bawah.
Terkejut Herluc terkejut melihat keadaan di lantai bawah yang sudah seperti kapal pecah. apalagi ketika melihat Niken yang tengah memegang sebuah pistol membuatnya langsung berlari menuruni tangga.
"Apa yang kau lakukan sayang kenapa kau memegang pistol itu?" tanya Herluc yang berdiri di depan Johan.
"Aku bermaksud untuk membuatnya tidak bisa berjalan agar tidak menggangguku tapi Mereka menghalangiku." jawab Niken dengan menunjuk beberapa pelayan yang membuat mereka langsung menunduk ketakutan.
__ADS_1
"Ka kami mi minta maaf tuan...." ucap salah satu dari mereka
"Ayah tidak mau tahu bereskan cepat dan kalian jangan memikirkan ini istirahat saja." kata Herluc yang membuat semua pelayanannya hanya mengangguk kemudian pergi.