
Setelah dari restoran mereka memutuskan untuk segera kembali ke apartemen. Zein sudah kembali dalam kesadarannya. ia mengingat dengan jelas apa saja yang di lakukan oleh Niken dan juga kekasihnya.
Saat ini dia benar-benar merasa seperti penghalang sebuah hubungan. dan seharusnya dia tidak datang di tengah-tengah mereka namun apa boleh buat karena tulisan takdir tidak bisa di rubah dan ia hanya bisa menerima saja walaupun ada rasa sakit di hatinya ketika melihat orang yang di cintainya tertawa lepas bersama orang lain bukan dirinya.
Ia menatap Niken yang tertidur di dalam mobil. ia merapikan anak rambutnya dan terlihatlah wajah cantik Niken yang tengah tertidur.
"Kata andai itu memang sangat menyedihkan." ucap Zein dengan tersenyum kecut kemudian keluar dan membawa tubuh Niken ke apartemennya.
Di baringkan secara perlahan-lahan kemudian ia ikut berbaring di samping gadis itu yang saat ini sudah berstatus sebagai istrinya meskipun pernikahan mereka seperti di atas kertas.
Sebagai seorang laki-laki normal tentu bukan hal yang mudah untuknya apalagi jika tidur bersama seorang gadis yang sudah sah menjadi istrinya. ya belum lama ini mereka memutuskan untuk tidur satu ranjang dan itu sangat menyiksa Zein. laki laki itu selalu menahan diri untuk tidak menyentuh Niken dan keputusan terakhirnya adalah berada di dalam kamar mandi untuk mendinginkan tubuh dan otaknya. ia melakukannya hampir setiap malam dan tentunya itu tidaklah mudah.
Walaupun sebenarnya dia sangat ingin meminta haknya tapi ia berusaha untuk menahannya karena ia tidak berani mengatakan langsung pada Niken. seperti sekarang ini lagi-lagi ia merasakan sesuatu yang tak biasa ketika menatap setiap inci wajah istrinya.
"Aku tidak boleh melakukannya aku harus bisa menahannya." ucap Zein dengan menggertakkan giginya. nafasnya sudah mulai tidak beraturan dan sebisa mungkin ia menenangkan apa yang sedang bergejolak di dalam tubuhnya.
"Oke tenanglah kawan tidak sekarang." gumam Zein dengan menghela nafasnya beberapa kali.
"Lebih baik aku tidur saja. selamat malam istriku...hmmm istri iya istriku huffft..." ucap Zein dengan menghela nafasnya kemudian mencium kening Niken singkat dan langsung membelakangi gadis itu.
__ADS_1
Ya dia hanya berani melakukan ciuman singkat itu pada Niken, itupun dia meminta izin terlebih dahulu. bukannya tidur Zein malah membuka selimutnya dan bangun. tubuhnya terasa panas, nafasnya tidak beraturan. gejolak dalam dirinya semakin bertambah ketika merasakan hembusan nafas Niken di punggungnya.
Ia bangun dan segera ke kamar mandi. ia menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya dengan tangan yang menompang pada dinding kamar mandi. ia mulai mengatur nafasnya dan perlahan-lahan gejolak dalam dirinya mulai bisa di kendalikan.
Ceklekkk....
Pintu kamar mandi terbuka dan terlihatlah Niken dengan tatapan sendunya melihat Zein dalam keadaan seperti itu. Niken tahu jika setiap malamnya Zein selalu ke kamar mandi untuk menenangkan dirinya walaupun awalnya ia mengira karena cuaca panas tapi setelah beberapa kali dia diam diam mengikuti Zein dan pura pura tertidur kini ia paham apa yang sedang terjadi pada Zein dan itu membuat Niken merasa sangat bersalah karena tidak menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.
Zein masih tetap membelakangi Niken. ia tidak menyadari jika Niken sudah berada di belakangnya. hingga sebuah tangan yang memeluknya dari belakang membuat laki laki itu terlonjak kaget dan langsung berbalik.
"Ke kenapa kau ada disini?" tanya Zein dengan terkejut.
"Aku minta maaf padamu karena tidak memikirkan bagaimana keadaanmu. kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku jika kau tersiksa saat bersamaku." kata Niken yang membuat Zein terkejut.
"Lalu kenapa malam-malam seperti ini kau mandi dengan air dingin?" tanya Niken.
"I itu??? ka karena aku sudah lama tidak melakukannya dan lagi pula cuaca malam ini Lim panas. pakai handukmu atau kau akan demam nanti." kata Zein dengan mengambilkan kimono dan memakainya pada Niken.
"Itu bukan alasanmu. aku tau Zein apa yang kau lakukan. kenapa kau tidak mengatakannya padaku jika kau berusaha mati-matian untuk tidak menyentuhku. ya aku memang belum lama mengenalmu tapi sekarang aku adalah istrimu dan aku belum bisa menjalankan tugasku sebagai seorang istri." kata Niken.
__ADS_1
"Hufffttt ternyata kau sudah mengetahuinya. aku Minta maaf tapi aku berfikir jika tidak seharusnya aku berada di antara kalian berdua yang membuat hubungan kalian ada jarak. dan aku tidak mau melakukan hubungan tanpa adanya cinta." ujar Zein dengan menatap niken.
"Aku tidak tahu bagaimana perasaan ku yang sebenarnya tapi jika aku boleh jujur aku mulai bisa menerima kehadiran mu Zein. aku adalah istri mu tidak seharusnya kau melakukan ini. kau mempunyai hak atas diriku kenapa kau tidak melakukannya?" tanya Niken.
"Aku tidak bisa nik... tolong kau keluarlah sekarang aku tidak bisa jika kau seperti ini." ucap Zein dengan menyalakan showernya kembali dan mengguyur tubuhnya serta membelakangi membuat Niken semakin merasa bersalah.
"Zein." kata Niken dengan sedikit kerasnya dan menarik Zein agar berhadapan dengannya.
"Aku mohon keluarlah Niken a aku tidak bisa. ku mohon. aku tidak ingin melakukan kesalahan lagi" kata Zein.
Melihat wajah Zein yang sudah memerah membuat Niken tidak tega jika harus mengabaikannya. ia mencium bibir Zein dengan lembutnya yang membuat laki-laki itu menegang seketika dan itu tentu di sadari oleh Niken.
Ia terus menciumi bibir itu dengan lembut sembari melepaskan kimono yang dia pakai kemudian ia mengalungkan tangannya ke leher Zein yang membuat Zein langsung menarik tubuh Niken dan memperdalam ciumannya.
Melihat respon dari Zein membuat Niken bernafas lega walaupun ada rasa bersalah karena lagi-lagi ia mengkhianati kekasihnya tapi ia tidak memiliki pilihan lain selain itu. disisi lain dia juga adalah seorang istri tidak ada masalah baginya karena melakukannya dengan suaminya.
"Nik..." ucap Zein dengan suara seraknya.
"Ya aku tahu. tidak ada yang bersalah kau adalah suamiku dan kau punya hak atas diriku seutuhnya. malam ini aku milikmu." ucap Niken.
__ADS_1
Tanpa disadari kini keduanya sudah tidak tertutup oleh satu kain pun. nafas mereka sama-sama tidak beraturan dan menginginkan lebih.
"Aku masuk...." ucap Zein