
Disisi lain tepatnya di kerajaan neraka raja Xi Shen terus menerus mengomel pada Zhi Qing karena Zhi Qing semaunya sendiri. entah pergi kemana dia dua hari ini sehingga membuat raja Xi Shen harus kembali berkutat dengan berkas-berkas menyebalkan itu.
Zhi Qing yang sudah paham apa yang akan di dia terima pun hanya bisa diam dan mendengarkan semua ocehan yang keluar dari mulut pria tua di depannya itu.
"Sudah selesai?" tanya Zhi Qing dengan malasnya.
"Jika saja kau bukan raja aku sudah memukulmu." seru Xi shen dengan geramnya.
"Ya ya aku mengerti aku memang salah karena telah lalai dengan tugasku. dua hari ini aku ke kerajaan langit dan bertemu dengan kaisar bodoh itu. ck aku sungguh tidak habis pikir bagaimana kau bisa memiliki sahabat seperti dia. bahkan dia saja tidak bisa membedakan mana yang salah dan yang benar. ya aku akui itu memang sebagian besar karena sihir tapi ck sudahlah aku tidak perlu membicarakan ini lagi denganmu." kata Zhi Qing.
"Apa yang kau bilang tadi? sihir?" tanya Xi Shen dengan terkejutnya.
"Ya. jangan bilang jika kau juga tidak tahu." kata Zhi Qing dengan menatapnya tidak percaya dan benar saja pria itu mengangguk dengan polosnya sehingga membuat Zhi Qing menggelengkan kepalanya saja.
"Pantas saja kalian sama tidak ada bedanya. tapi kau tidak perlu khawatir sihir itu sudah hilang dan mungkin saja setelah dia sadar dia akan kesini menemuimu." ujar Zhi Qing yang membuat Xi Shen menghela nafasnya lega.
"Ya aku akan menantikannya. karena aku tahu dia tidak akan melakukan itu padaku." ucap Xi Shen yang membuat Zhi Qing semakin malas saja.
Setelah mendapatkan ocehan tidak berfaedah itu akhirnya Zhi Qing pun mulai berkutat dengan banyaknya berkas-berkas yang menumpuk di meja. dia menatap semua itu dengan menghela nafasnya sebelum akhirnya mulai menyentuh dan membukanya satu persatu.
"Aihhh sebenarnya aku sangat malas jika berurusan dengan hal seperti ini tapi ini lebih baik dari pada aku harus mendengarkan omelannya setiap hari." ucap Zhi Qing dengan beberapa kali menghela nafasnya.
Saat ini putri Mei tengah berada di kediaman pamannya. disana dia mengadu dan melampiaskan kekesalannya disana. Wu Xun yang melihat bagaimana tingkah keponakannya hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
__ADS_1
"Sudahlah kenapa kau sangat berlebihan sekali." kata Wu Xun.
"Itu karena aku sangat kesal bagaimana bisa aku yang cantik seperti ini di abaikan oleh pangeran Chen. bukankah jika itu kau juga akan merasakan hal yang sama." kata putri Mei dengan kesalnya.
"Apakah kau benar-benar mencintai pangeran Chen?" tanya Wu Xun pada putri Mei.
"Tentu saja aku sangat mencintainya. aku harus bisa mendapatkannya." jawab putri Mei dengan mantap dan penuh keyakinan.
Cinta? bukan. itu hanyalah sebuah ambisi semata. banyak yang salah mengenal tentang cinta. antara benci, cinta dan ambisi itu tak berbeda jauh maka dari itu siapapun harus bisa membedakan. jangan sampai apa yang akan di pilih justru akan membuat orang lain dalam masalah.
"Aku mempunyai ide yang sangat bagus tentang itu. ajaklah pangeran Chen keluar." kata Wu Xun yang membuat putri Mei menatapnya dengan bingung.
"Bagaimana caranya aku bisa mengajak pangeran Chen keluar. bukankah kau tau dia saja terus mengabaikan diriku seperti ini." ujar putri Mei dengan tidak habis pikir dengan rencana pamannya itu.
Bukannya dia yang memata-matai tapi justru saat ini dialah yang sedang di mata-matai oleh Yuan Lin karena saat ini gadis itu tengah berada di atap yang sama seperti waktu pertama kalinya dia mengikuti putri Mei.
"Emm jadi apakah paman menyuruhku untuk menggunakan nama putri Yuan Lin agar pangeran Chen keluar?" tanya putri Mei.
"Ya. aku kira kau akan terus-menerus bodoh." kata Wu Xun dengan tertawa kecil sehingga membuat putri Mei menatapnya dengan sinis.
"Hmm aku selalu pintar. baiklah aku akan melakukan semuanya." kata Putri Mei dengan tersenyum penuh ketidaksabaran.
Wu Xun pun memberitahukan bagaimana rencananya. putri Mei tanpa ragu langsung menyetujuinya dan sangat bersemangat. kesempatan untuk menjadikan Chen Zu sebagai miliknya sangat banyak dan pastinya tidak akan gagal.
__ADS_1
"Hahaha aku yakin kali ini dia tidak akan mengabaikan ku lagi." ucap Putri Mei dengan kegirangan.
Setelah mendengarkan semuanya, Yuan Lin pun bergegas pergi dari sana. dan seperti biasanya selalu ada orang yang mengikutinya. Yuan Lin menyadari semua itu tapi dia masih diam saja karena orang tersebut tidak terlalu membuatnya kerepotan. tapi berbeda dengan yang sekarang justru orang tersebut.
"Rupanya kau berani menemuiku secara langsung ya. aku sudah menunggu itu." kata Yuan Lin yang membuat orang tersebut terkejut tapi berusaha untuk biasa-biasa saja.
"Siapa kau? kenapa kau terus memata-matai kediam tuan Xun?" tanya orang tersebut.
"Aku? tentu saja itu tidak ada urusannya denganmu. apakah kau menemuiku hanya untuk bertanya hal tidak penting ini?" tanya Yuan Lin
"Jika aku mau aku bisa langsung membawamu ke hadapan tuan Xun tapi aku tidak melakukannya karena aku ingin berbicara baik-baik dulu denganmu." kata pria tersebut.
"Ohh hahaha apakah kau sedang mengancamku?" tanya Yuan Lin dengan terkekeh geli.
"Aku jadi berfikir jika aku terlalu bodoh karena sudah berbaik hati padamu. tapi melihat bagaimana keangkuhan dirimu ini membuatku benar-benar ingin segera memberimu hukuman." kata pria tersebut ya h mulai terlihat geram.
"Aku tidak ada urusan denganmu jadi jangan membuat ku kesal." kata Yuan Lin dengan datarnya.
Sungguh kenapa semua masalah yang ada di dunia aneh itu harus selalu di selesaikan dengan cara kekerasan. dan selalu saja ada orang yang ingin memancing emosi Yuan Lin
Pria itu pun langsung saja menyerang Yuan Lin tanpa basa-basi. dengan tangan kosong, Yuan Lin terus saja menghindari serangan tersebut dan membuat pria yang sedang menjadi lawannya kesal.
Karena tidak ingin terlalu lama, akhirnya Yuan Lin pun dengan segera mengakhiri pertarungan tersebut dengan cara mematahkan pedang pria tadi dengan kedua jarinya. tak cukup sampai di situ, Yuan Lin juga langsung melenyapkan orang itu karena jika tidak itu akan menjadi masalah baru lagi untuknya.
__ADS_1
"Hahh selesaii..." gumam Yuan Lin