
Malam harinya di apartemen Niken tengah menonton TV dengan di temani secangkir susu dan dua camilan di atas meja. disampingnya ada Zein yang sedari tadi terus diam saja dan tidak pernah melihat ke arah Niken.
Niken sendiri bingung ada apa dengan Zein tapi gadis itu tidak menanyakan apapun dan terus fokus dengan apa yang ada di depannya. karena tidak ada pembicaraan sama sekali membuat Zein kesal sendiri kemudian mengeluarkan suaranya.
"Apa kau tidak ingin bertanya apakah aku baik-baik saja." kata Zein yang membuat Niken menoleh.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Niken dengan mengunyah camilannya.
"Ck sudah terlambat." ujar Zein dengan mencibir.
Ia masih sangat kesal dengan tingkah Niken pagi tadi di mall yang membuatnya sangat tersiksa. ia terpaksa berdiam diri di dalam toilet selama 5 menit hanya untuk menuntaskan sesuatu yang membuatnya tersiksa.
"Apa? kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Niken dengan mata tajamnya.
"Kau bilang kita sudah menjadi pasangan tapi kenapa seperti ini." kata Zein.
"Ya aku memang selalu seperti ini. aku menjadi kekasih Zhan juga seperti ini. aku tidak suka bermanja-manja pada laki-laki. dengan Zhan saja aku tidak pernah." kata Niken yang membuat Zein menatapnya.
"Apa kau masih terus mengingat mantan kekasihmu itu?" tanya Zein dengan seriusnya.
"Ya tentu saja. aku tidak akan melupakannya karena dia sosok yang sangat berarti dalam hidupku. kau tahu hal sesulit apapun dia selalu bersamaku. jika kau tau duniaku dulu seperti apa aku tidak yakin jika kau akan seperti Zhan dan mampu melakukan apa yang dia lakukan." kata Niken yang masih sibuk memakan camilannya.
"Seperti itu ya. tapi aku Zein bukan Zhan." ujar Zein kemudian berdiri meninggalkan Niken.
Niken yang melihat Zein pergi secara tiba-tiba pun hanya menatapnya dengan bingung. sedang Zein saat ini perasaannya berkecamuk. lagi-lagi seperti ada sesuatu yang sangat runcing yang menghantam hatinya.
__ADS_1
Ia berdiri di balkon dengan menatap langit malam yang nampak mendung. mungkin sebentar lagi akan turun hujan. dan benar saja setelah 10 menit dia berdiri disana hujan deras pun mengguyur seluruh kota J.
Laki-laki itu tidak beranjak sedikitpun dari sana. ia justru menengadahkan tangannya pada tetesan air hujan itu.
"Seperti hujan yang turun dengan tetesan tetesan air yang begitu banyak dan seperti tangan ini yang hanya bisa menampung airnya beberapa tetes saja walaupun saat ini hujan sedang terjadi dengan derasnya. aku melakukan apa saja untuknya dan memiliki harapan jika dia bisa sepenuhnya mencintaiku walaupun aku tahu dia bukanlah Niken tapi aku tidak mempermasalahkan itu aku tetap mencintainya tapi sebanyak apapun aku melakukan sesuatu untuknya dia tidak akan pernah bisa membuka hatinya sepenuhnya untukku karena dia masih memiliki orang lain." gumam Zein sebagai tersenyum kecut.
"Kenapa kau disini?" tanya Niken yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya.
"Aku hanya ingin melihat hujan." jawab Zein tanpa menoleh.
"Ck seperti anak kecil saja." ujar Niken.
"Ya terkadang kita harus menjadi seperti anak kecil lagi. menjadi orang dewasa tidaklah mudah. rasa sakit, masalah, beban pikiran selalu menghampiri orang dewasa sedangkan anak kecil hanya tau bermain bermain dan bermain saja. mungkin mereka mempunyai banyak luka di tangan, kaki dan wajahnya tapi itu hanya fisik mereka saja bukan hati dan pikiran yang terluka sedangkan orang dewasa apapun masalahnya selalu mengenai bagian organ-organ penting dalam tubuhnya. terutama hati." kata Zein yang membuat Niken menatapnya dari samping.
"Ada apa dengan mu?" tanya Niken yang tak mengerti dengan apa yang di katakan Zein.
"Kau sendiri bagaimana? apa kau akan tetap disini? kau itu seorang dokter jika kau sakit itu sungguh tidak lucu. masuklah aku akan menutup jendelanya." kata Niken yang akhirnya membuat Zein beranjak dari sana dan masuk.
Zein tidak mengatakan apapun dan langsung masuk ke dalam kamarnya sedangkan Niken saat ini tengah bingung dengan sikap Zein sehingga dia pun menyusul laki-laki itu ke kamarnya.
Ia masuk dan mendapati Zein tengah berkutat dengan laptopnya. ia pun keluar dan masuk kembali dengan membawa satu cangkir kopi hangat dan camilan. walaupun Niken ada di sampingnya, Zein bahkan tidak berbicara satu kata pun pada Niken dan itu membuat semakin yakin jika ada sesuatu yang terjadi dengan Zein
"Zein." panggil Niken dengan pelan
"Hmmm..." jawab Zein tanpa menolehkan kepalanya
__ADS_1
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Niken.
"Menyelesaikan beberapa tugasku. kenapa kau belum tidur?" tanya Zein yang masih sibuk dengan laptopnya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Niken.
Zein hanya mengangguk saja yang membuat Niken semakin jika laki-laki itu tidak baik-baik saja.
"Apa ada kata-kata ku yang membuat mu tidak nyaman?" tanya Niken lagi.
"Tidak. sudahlah kau tidur saja ini sudah larut malam." kata Zein.
"Tidak aku ingin kau memberitahu ku kenapa kau seperti ini. apa kau masih marah denganku. baiklah aku minta maaf tapi aku tidak bermaksud membuat mu marah. kau juga saat itu seperti orang yang sudah kehilangan akal. " kata Niken.
"Tidak aku tidak marah denganmu. tidurlah aku akan menyelesaikan ini dulunya" kata Zein.
"Tidak aku ingin kau memberitahuku kenapa kau bersikap seperti ini padaku." kata Niken.
"Terserah kau saja lah." ujar Zein yang tak ingin banyak bicara lagi.
Niken terus memperhatikan Zein yang tengah sibuk mengotak-atik laptopnya. ia memperhatikan dengan seksama setiap inci wajah samping Zein. Zein sendiri tidak peduli jika Niken ada di sana dan terus memperhatikan dirinya ia tetap fokus pada tugasnya.
2 jam kemudian Zein sudah menyelesaikan semua pekerjaannya. ia merasa heran kenapa sedari tidak ada satu suara pun yang keluar dari mulut Niken kemudian ia menoleh dan mendapati jika gadis itu sudah tertidur pulas di sampingnya.
"Ck aku sudah menyuruhnya tidur tapi dia sangat keras kepala." ucap Zein kemudian membawa tubuh Niken ke kamarnya.
__ADS_1
"Jika saja kau tau aku sangat tidak menyukai di Banding- bandingkan dengan orang lain apalagi itu mantan kekasihmu." ucap Zein dengan merapikan rambut Niken kemudian keluar.