
Yuan Lin mengajak dua Ling ke dalam ruang dimensinya. disana sudah ada keempat teman-temannya yang sedang duduk berbincang. melihat kedatangan Yuan Lin membuat mereka semua berdiri. tapi tatapan mereka tertuju pada dua bocah kecil yang sedang di gandeng oleh Yuan Lin
Dua Ling juga nampak takjub melihat bagaimana ruang dimensi Yuan Lin. mereka belum tahu jika saat ini mereka tengah berada di dimensi lain. tapi itu tidak menjadi masalah karena dia akan memberitahu mereka nanti.
"Nona anda datang. siapa yang nona bawa?" tanya naga Yang pada Yuan Lin
"Oh ya mereka adalah adik-adik ku dan akan tinggal bersama kalian mulai saat ini. aku juga ingin kalian melatih mereka agar bisa menjadi kuat tapi jangan terlalu menekan karena mereka masih kecil." kata Yuan Lin
"Mereka siapa kakak cantik?" tanya Ling Fei
"Mereka adalah teman ku dan juga keluargaku tapi sekarang juga akan menjadi teman dan keluarga kalian. kalian disini bersama mereka. tidak perlu takut mereka adalah orang baik jika mereka berbuat buruk pada kalian katakan saja padaku. aku akan usahanya sering kesini untuk melihat bagaimana keadaan kalian. " kata Yuan Lin
"Apakah tidak masalah jika kami tinggal disini?" tanya Ling Tian yang nampak ragu.
"Tidak. kalian bisa tinggal di paviliun itu dan memilih kamar sesuka kalian." jawab Yuan Lin
Akhirnya merekapun mau tinggal di ruang dimensi Yuan Lin. sebagai ucapan terimakasih atau imbalan karena Yuan Lin telah sangat Padanya mereka bersedia berlatih keras untuk menjadi kuat karena hanya dengan seperti itu saja yang bisa di lakukan mereka saat ini.
"Baiklah aku akan pergi karena aku harus menemui temanku lagi. kalian bisa beristirahat sekarang. jaga mereka aku percaya pada kalian semua." kata Yuan Lin yang tiba-tiba menghilang.
"Pindah profesi menjadi pengasuh anak kecil haha." ucap Xiao dengan tertawa kecil.
__ADS_1
Disisi lain saat ini Chen Zu dan keluarga sedang berada di istana kaisar langit. mereka sengaja datang kesana karena ingin menjenguk permaisuri Zinsy sekaligus tahu bagaimana keadaan Yuan Lin.
Mereka tengah berbincang kamar permaisuri Zinsy. wanita itu rupanya masih merajuk pada kaisar langit karena sedari tadi tidak pernah menatap pria itu dan hanya sibuk berbicara dengan ratu Qinan Xia.
Tentu saja kaisar langit hanya bisa menghela nafasnya saja sehingga membuat raja Ruxi Zu heran dengan keduanya. mereka berdua adalah teman dan sampai sekarang masih sama. hubungan keduanya juga sangat baik.
"Kaisar ada apa denganmu kenapa sedari tadi ku perhatikan kau terus saja menghela nafas. apakah semuanya baik-baik saja?" tanya raja Ruxi Zu dengan herannya.
"Hufffttt...apakah kau tidak tahu jika istriku sedang marah denganku. kau lihat saja sedari tadi dia bahkan tidak mau menatap ku sama sekali." jawab kaisar langit dengan raut wajah sedihnya.
"Marah? kenapa? aku yakin kau sudah melakukan kesalahan karena itu istrimu marah. aku tahu betul dia seperti apa tidak mungkin dia marah tanpa sebab." kata raja Ruxi Zu
"Ya aku melakukan kesalahan yang sangat besar padanya karena itu dia marah padaku. apakah kau tahu bagaimana caranya agar dia tidak marah lagi denganku." kata kaisar langit.
"Ohhh hahaha benarkah seperti itu. siapa kedua anak itu? lalu dimanakan mereka sekarang?" tanya ratu Qinan Xia pada permaisuri Zinsy.
"Mereka bersama putriku. mungkin nanti akan kesini lagi." jawab permaisuri Zinsy.
Sementara mereka tengah berbincang-bincang, Chen Zu justru menggerutu kesal karena tak kunjung menemukan dimana keberadaan Yuan Lin. ia sudah berkeliling istana tapi tidak mendapati adanya tanda-tanda gadis itu berada disana.
Tapi sesaat kemudian sesuatu berdiri di depan Chen Zu membuat laki-laki terlonjak kaget dan hampir saja melayangkan seranganya pada sosok yang berdiri di depannya itu.
__ADS_1
"Ada apa kau mencariku?" tanya sosok tersebut yang ternyata adalah Yuan Lin
"Kenapa kau membuatku terkejut hah. untung saja aku tidak langsung memukuli dirimu atau justru melakukan hal yang lebih parahnya lagi." kata Chen Zu dengan kesalnya.
"Dan kemana saja kau kenapa kau sangat suka menghilang. kemarin aku melihat mu di pusat kota tapi entahlah kau menghilang dimana lagi bersama pria itu. aku mencarimu asal kau tahu." lanjutnya lagi yang membuat Yuan Lin menatapnya dengan heran.
"Ada pada dengan mu kenapa tiba-tiba kau berubah seperti seorang wanita tua yang selalu mengomeli siapapun." kata Yuan Lin.
"Ck sudahlah kau benar-benar...aku disini bersama orang tuaku. ada adikku juga dia terus merengek ingin bertemu denganmu." kata Chen Zu
"Oh ya lalu dimana mereka sekarang?" tanya Yuan Lin.
"Mereka berada di kamar permaisuri." jawab Chen Zu
"Baiklah aku akan menemui mereka dan Rein'er." kata Yuan Lin dengan mengangguk kemudian berjalan dengan di ikuti Chen Zu.
Hal itu pun tak luput dari penglihatan dan pengawasan putri Mei. saat ini gadis itu tengah mencebik kesal pada Yuan Lin karena gadis itu di dekati oleh laki-laki tampan sedangkan dirinya tidak.
"Apakah gadis itu sengaja menutupi wajahnya karena ingin menarik perhatian laki-laki tampan. cih aku tidak percaya bagaimana wajah di balik cadar itu. aku yakin pasti wajahnya sangat jelek. tapi aku heran kenapa mereka mau berdekatan dengan putri Yuan Lin. kenapa denganku tidak. ini tidak bisa di biarkan. baiklah jika permainan mu seperti itu maka aku juga akan melakukan hal yang sama. kita lihat apa yang akan terjadi." kata putri Mei kemudian berlalu pergi.
Pikiran konyol apalagi yang muncul di kepala gadis itu. apakah dia tidak bisa mengerti siapa itu Yuan Lin sebenarnya. jika orang lain pastinya sudah tahu kenapa gadis itu memakai penutup wajah. di lihat dari matanya saja sudah terlihat jika Yuan Lin memang mempunyai wajah yang cantik.
__ADS_1
Putri Mei terus menggerutu dengan kesalnya setelah melihat kejadian tadi. Chen Zu memang tampan tapi Zhi Qing jauh lebih tampan dari Chen Zu. siapa saja jika di dekati laki-laki tampan akan sangat senang sekali begitupun juga dengan putri Mei. tapi entahlah kenapa dia tidak pernah di dekati pria manapun.
"Aku juga harus bisa menarik perhatian pria itu. jika aku tidak bisa mendapatkannya, mendapat ini saja sudah cukup hehehe dia juga cukup tampan." gumam putri Mei dengan percaya dirinya.