
Tak terasa sudah 3 Minggu Zein dan Niken terikat dengan pernikahan. keduanya menjalani kehidupan rumah tangganya dengan baik-baik saja. sampai disini rasa cinta dan sayang yang di miliki Zein pada Niken semakin banyak seiring berjalannya waktu
Niken menjalankan tugas sebagai seorang istri dengan begitu baiknya. ia yang tadinya tidak pandai dalam urusan dapur kini sedikit demi sedikit ia mulai bisa menguasainya berkat Zein. laki-laki dengan sabarnya mengajari bagaimana caranya memasak dan Karena Niken adalah tipe orang yang mudah paham dan mengerti tidak butuh waktu lama ia langsung bisa mengerjakan semuanya sendiri.
Tak jarang juga Zhan selalu keluar hanya untuk memastikan kondisi kekasihnya dalam keadaan baik-baik saja atau hanya untuk sekedar berjalan-jalan dengan Niken atau jiwa Yuna seperti sekarang ini, saat ini mereka tengah berada salah satu restoran mewah seperti pasangan anak muda yang sedang melakukan kencan dengan kekasihnya.
"Zhan kau tau sekarang aku sudah sangat pintar memasak." kata Niken dengan begitu antusiasnya.
"Ya tentu saja aku sudah tau. dan sepertinya kau sangat bahagia menjadi istri dari laki-laki sialan ini." kata Zhan yang membuat Niken menoleh.
"Tentu saja aku sangat senang. ternyata mempunyai seorang suami itu sangat menyenangkan. apalagi kalau aku sedang menginginkannya." ujar Niken yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Zhan.
"Menginginkan apa yang kau maksud. jangan membuatku marah Yuna . aku tidak suka itu." kata Zhan dengan dinginnya.
"Astaga kenapa akhir-akhir ini kau mudah sekali marah Zhan. maksudku sangat menyenangkan mempunyai suami apalagi saat aku menginginkan makanan di malam hari pasti dia langsung sigap mengambilkannya untukku hahaha." ujar Niken dengan terkekeh.
"Aku mau bertanya padamu." kata Zhan dengan seriusnya.
"Ya bertanya saja. apa yang ingin kau tanyakan." kata Niken dengan menyeruput cokelat panasnya.
"Bagaimana perasaan mu padaku saat ini. perasaan mu untuk Zhan bukan laki-laki sialan ini?" tanya Zhan dengan menatap mata Niken.
__ADS_1
Mendadak Niken terdiam membisu mendengar ucapan Zhan. sebenarnya itu hal mudah untuk di jawab Niken tapi entahlah ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya ketika Zhan mengatakan hal itu.
"Ada apa kenapa kau diam saja? jangan membuatku berfikir jika kau menyimpan perasaan juga pada laki-laki sialan ini." kata Zhan yang membuat Niken terkejut.
"A apa yang kau katakan zhan. mana mungkin aku melakukannya." ujar Niken walaupun sebenarnya dia juga ragu dengan perasaannya sekarang.
"Aku tahu betul sorot matamu. entah kau sedang berbohong ataupun jujur. aku mengenalmu tidak 1 atau 2 bulan. kita bersama sudah 5 tahun dan aku bisa mengetahuinya hanya lewat matamu saja. katakan padaku aku ingin kau menjawabnya dengan jujur Nana." kata Zhan.
"A aku ti tidak tahu apa yang sedang terjadi denganku Zhan. tapi percayalah aku selalu mencintaimu dan akan tetap seperti itu." ucap Niken.
"Kau yakin dengan kata-kata mu itu? apa kau tidak takut jika suatu saat kau akan berubah?" tanya Zhan dengan seriusnya.
"Apa kau sedang meragukan ku? kenapa kau menjadi seperti ini. jika kau mengatakan kau sudah mengenalku Hanya dari sorot mataku saja pastinya kau sudah tau apa yang sedang terjadi padaku dan tidak seharusnya kau meragukan ku seperti ini. kau adalah satu-satunya orang yang selalu ku percaya dan mempercayaiku. tapi kenapa sekarang kau menjadi seperti ini." kata Niken.
Niken Hanya Diam saja menatap mata Zhan yang memancarkan rasa kecewa mendalam padanya.
"Aku minta maaf Zhan. aku tau kau kecewa padaku tapi percayalah aku tidak menginginkan ini terjadi padaku. kau tau bukan sedari dulu takdir selalu mempermainkan ku. aku tidak pernah berharap di dengan takdir hidup seperti ini." ucap Niken dengan suara pelannya.
Mendengar ucapan Niken membuat Zhan langsung mendongak dan duduk di samping gadis itu. tentu ia tahu semuanya yang sudah terjadi di hidup gadis itu dan sekarang dia merasa bersalah karena perkataannya yang tidak seharusnya dia ucapkan
"Maafkan aku sayang aku tidak bermaksud seperti itu padamu. sungguh aku minta maaf." ucap Zhan dengan memegang kedua tangan Niken.
__ADS_1
"Tidak justru akulah yang harus meminta maaf padamu karena telah menghancurkan kepercayaan yang kau berikan padaku." ucap Niken dengan menatap Zhan .
Mereka selalu melakukan hal itu dan itu membuat hubungan mereka semakin bertambah erat. dalam sebuah hubungan, memaafkan dan saling memahami adalah hal paling utama. yang terpenting dalam sebuah hubungan adalah kepercayaan. kepercayaan dan saling memahami di dalam hubungan mereka berdua merupakan pondasi hubungan yang sampai sekarang masih mereka jalani.
Walaupun salah satunya bersalah ataupun sama-sama melakukan kesalahan, mereka akan meminta maaf tanpa harus di suruh dan pada akhirnya hubungan yang mereka jalani menjadi semakin erat.
Zhan memeluk tubuh Niken dengan begitu eratnya ia sungguh merasa bersalah dengan ucapannya. seharusnya dia mempercayai Niken dengan sepenuh hati tapi entahlah kenapa sekarang dia menjadi sangat posesif padanya.
"Aku sungguh minta maaf aku tidak bermaksud." ucap Zhan berulang kali yang membuat Niken kesal sendiri.
"Sudah cukup. apa kau tidak ada kata-kata lain selain meminta maaf padaku aku sangat malas mendengarnya." kata Niken dengan mendorong tubuh Zhan.
Laki-laki itu justru hanya terkekeh kecil saja sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku hanya merasa bersalah sana denganmu kenapa kau menjadi kesal padaku hah." kata Zhan.
"Tentu saja aku kesal karena kata-kata mu tidak pernah berubah selalu saja seperti itu." ujar Niken dengan sinisnya.
"Will You Merry Me." kata Zhan dengan bersimpuh di hadapan Niken sambil memegang satu gelas berisi minuman jeruk.
"Apa kau sudah gila. jika kau sedang melamar ku bawalah cincin atau bunga. tapi kau malam membawa gelas bekas ini. aku menolak. pergilah dariku." kata Niken.
__ADS_1
"Hehehe baiklah nanti kau akan memnelikanya untukmu." ucap Zhan dengan tertawa geli.