
Beberapa hari kemudian setelah melalu berbagai kejadian bahkan terjadi pertumpahan darah karena terbongkarnya suatu rahasia besar dari para Baeresta, kini Li Sien melarikan diri dan masih dalam pencarian. semua anggota Baaresta tidak ada yang tersisa kecuali Li sien. dan dugaan Yuan Lin benar jika Li Sien merupakan pemimpin dari para Baeresta itu.
Entah apa yang akan di rencanakan lagi oleh wanita licik Li Sien Yuan Lin masih belum mengetahuinya. kini penjagaan di dalam istana maupun di luar bertambah ketat. semua orang yang keluar masuk istana harus memperlihatkan lencana perunggu yang di buat Zhi Qing.
"Tenanglah semuanya akan baik-baik saja. kau jangan memikirkan apapun dan serahkan semuanya padaku." kata Zhi Qing dengan mengelus perut istrinya yang sudah membesar dan sebentar lagi mungkin akan melahirkan.
"Ya akhir-akhir ini aku tubuhku rasanya seperti tidak sama seperti biasanya. dia begitu aktif di dalam dan tenagaku sedikit berkurang. aku akan memperbanyak istirahat ku untuk mengisi energiku." kata Yuan Lin kemudian mulai berbaring di ranjang miliknya.
"Baiklah istirahlah aku akan keluar sebentar menemui ayah." ucap Zhi Qing dengan mencium kening istrinya.
Di luar istana nampak beberapa orang yang tengah keluar masuk dan para penjaga pun meminta mereka untuk memperlihatkan identitas orang itu. jika mereka memiliki lencana perunggu maka akan di biarkan masuk namun jika tidak maka para penjaga pun akan menahannya.
Seorang wanita tua dengan tubuh yang sudah membungkuk dan renta datang dengan menggunakan tongkat kayu. seperti biasa penjaga meminta lencana perunggu namun nenek tua itu mengatakan jika dia tidak mempunyainya.
"Ada apa ini kenapa kalian menahan ku.?" tanya nenek tua itu ketika dua orang penjaga memegangi tubuhnya.
"Anda tidak memiliki identitas yang sudah di buatkan oleh yang mulia raja jadi anda di tahan tidak peduli apapun alasannya." kata penjaga tersebut.
"Tidak tidak aku punya tapi aku lupa tidak membawanya." kata nenek tua itu
"Tidak ada alasan cepat ikut kami." kata penjaga dengan membawa nenek tua itu pergi.
"Aku di utus langsung oleh permaisuri zinsy untuk memeriksa kandungan ratu. aku mempunyai surat perintahnya." seru nenek tua itu yang membuat kedua penjaga berhenti dan membiarkan nenek tua itu mengambil sebuah surat dari balik bajunya.
__ADS_1
"Jika kalian tidak percaya bacalah ini, bukankah ini adalah stempel resmi kerajaan langit." kata nenek tua itu
Para penjaga pun saling menatap setelah membaca surat yang di berikan nenek tua itu. salah satu dari mereka melepaskan nenek itu sementara yang satunya lagi pergi untuk melaporkan. tentu saja mereka tidak akan mudah di kelabuhi untuk hal seperti ini.
"Lepaskan aku bukankah kau sudah membacanya. waktuku hampir habis atau permaisuri akan memarahimu bahkan memecatmu." seru nenek tua itu dengan meminta di lepaskan.
"Diamlah atau aku tidak akan menahan kesabaran ku lagi. kami disini hanya menjalankan tugas tidak peduli tua muda atau anak-anak, kami tetap dengan tugas kami. jadi menurutlah." kata penjaga tersebut dengan suara tegasnya.
Beberapa saat kemudian penjaga yang tadi masuk pun kembali. dia membisikkan sesuatu pada rekannya yang membuat rekannya langsung melepaskan nenek tua itu.
"Bukankah sudah aku bilang jika aku adalah urusan langsung dari permaisuri." seru nenek tua itu dengan memukul kedua penjaga dengan tongkatnya.
"Silahkan masuk permaisuri sudah menunggu anda." kata penjaga tersebut dengan mempersilahkan nenek tua itu masuk.
"Tetua Shi." kata permaisuri zinsy dengan ramahnya.
"Ya permaisuri sebelumnya maaf karena agak terlambat." ujar nenek tua itu yang ternyata adalah tetua Shi
"Mari." ucap permaisuri zinsy dengan mempersilahkan tetua Shi untuk jalan.
Dalam perjalanan menuju ke kamar Yuan Lin, permaisuri zinsy menceritakan kejadian-kejadian beberapa waktu yang lalu yang menimpa Yuan Lin dan calon buah hatinya.
"Saya turut prihatin atas kejadian itu dan semoga kedepannya tidak akan terjadi hal-hal yang tidak di inginkan lagi." ujar tetua Shi.
__ADS_1
"Ah ya sebentar lagi kita sampai di kamar putriku." kata permaisuri zinsy dengan menatap tetua Shi
"Tetua apakah kau baik-baik saja?" tanya permaisuri zinsy dengan khawatir karena wajah nenek tua itu tiba-tiba berubah .
"A aku tidak apa apa. aku hanya tiba-tiba merasa lemas saja mungkin karena usiaku. " jawab tetua Shi
Permaisuri zinsy terus menerus menoleh ke arah tetua Shi. ketika sampai di depan kamar Yuan Lin tubuh tetua Shi terhuyung dan hampir saja jatuh jika tidak di pegangin permaisuri zinsy.
"Lebih baik kau istirahat saja dulu tetua karena aku lihat kau sedang tidak baik-baik saja." kata permaisuri zinsy namun di tolak oleh tetua Shi.
"Tidak masalah aku bisa mengatasinya. kesehatan putra mahkota lebih utama permaisuri." ujar tetua Shi yang membuat permaisuri zinsy begitu terharu
Permaisuri zinsy membuka kamar Yuan Lin dengan hati-hati dan ternyata Yuan Lin sedang tertidur dengan tenangnya.
"Ahh ternyata putriku tidur tetua. emm bagaimana jika besok saja hari juga sudah sore kau juga belum istirahat sama sekali bukan." kata permaisuri zinsy
Setelah keduanya keluar dari kamar Yuan Lin, tiba tiba 4 cahaya keluar dari dalam tubuh Yuan Lin mereka mengelilingi Yuan Lin dan memberikan sebuah perisa pelindung yang tak kasat mata untuk melindungi Yuan Lin.
"Kau merasakan juga bukan?" tanya Xiao pad Mix
"Ya berarti nona dan pangeran kecil tengah dalam bahaya." Jawab Mix
"Tapi seharusnya nona juga merasakan aura ini kenapa nona tidak merasakannya?" tanya Xiao pada naga Yang
__ADS_1
"Jangan mengganggu nona. ayo pergi dan kembali setelah nona bangun." kata naga Yang karena memang dia tahu jika Yuan Lin bukan hanya tidur biasa seperti orang pada umumnya, karena itulah mereka memberikan perisai pelindung pada Yuan Lin agar tidak ada yang mengganggu meditasinya.