
Di rumah sakit Zein merasakan jika saat ini tubuhnya terasa sangat lemah dan tidak bertenaga. kepalanya juga mendadak menjadi sangat pusing. ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba menjadi seperti ini. sebelumnya dia tidak pernah seperti ini tapi kali ini ia tidak tahu apa yang penyebabnya.
Ia mengambil obat dari laci mejanya dan meminumnya tapi tidak ada perubahan sama sekali. ia malah merasa seakan-akan kesadaran akan hilang.
"Apa yang terjadi denganku." gumamnya dengan memijit pelipisnya.
Ia pun akhirnya beranjak dan menuju ke toilet untuk mencuci wajahnya. tapi Zein merasa ada yang aneh dengan tubuhnya saat ini. ia merasa seperti ada yang mengendalikannya tapi ia tidak tahu apa yang terjadi padanya saat ini.
Ia pun membasuh wajahnya dan menatap dirinya di pantulan cermin. jika dilihat dengan seksama, mata sebelah kirinya berwarna hitam keabu-abuan.
"Akhirnya aku bisa keluar juga." kata Zein dengan tersenyum senang dan terus menatap pantulan dirinya di cermin.
"Siapa kau?" tanya Zein pada dirinya sendiri dengan terkejut.
Tentu ia terkejut ketika ada sosok lain yang berusaha untuk mengambil kesadarannya. ia berusaha sekeras mungkin agar kesadarannya masih ada walaupun sebenarnya dia sedang sangat tertekan dengan semua ini dan tidak mengerti sama sekali apa yang terjadi padanya.
"Jangan banyak bicara. sekarang aku akan mengambil alih dirimu." katanya lagi yang membuat Zein terkejut.
"Jangan main-main denganku kenapa kau ada di dalam tubuhku hah." kata Zein dengan geramnya.
"Aku tidak tahu. tapi aku sangat berterimakasih padamu karena telah menjaganya sampai saat ini. sekarang kesadaran mu akan ku ambil alih." kata sosok tersebut dan seketika dia berhasil menguasai tubuh Zein.
Dengan segera ia keluar dari dalam toitel dan berjalan dengan langkah lebarnya. beberapa dokter dan suster memanggil namanya namun tidak di hiraukan oleh sosok yang saat ini tengah mengendalikan tubuh Zein.
"Dokter anda masih ada pemeriksaan saat ini. Anda mau kemana?" tanya suster Mia dengan herannya.
__ADS_1
"Bukan urusanmu." kata Zein dengan mendorong tubuh suster Mia dengan kasarnya.
"Apa yang terjadi kenapa dokter Zein menjadi seperti itu." ucap Suster Mia dengan penuh pertanyaan.
Zein mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. ia ingin segera sampai ke apartemennya untuk menemui Niken tapi saat dalam perjalanannya matanya melihat jika gadis yang tengah di carinya sedang berjalan sendirian karena itu ia menghentikan mobilnya di samping gadis itu.
"Masuklah." kata Zein dengan membukan kaca mobilnya.
Niken yang melihat itu adalah Zein pun tanpa ragu langsung saja masuk. ia juga nampak heran kenapa laki-laki keluar saat jam tugasnya belum selesai.
"Kenapa kau menjemput ku?" tanya Niken dengan bingungnya.
"Tidak aku memang sengaja ingin menemui kekasihku." jawab Zein dengan tersenyum manis ke arah Niken.
"Siapa kekasihmu? kau bahkan belum mengatakan apapun padaku dan aku juga hanya mengatakan ingin mencobanya belum pasti akan menjadi kekasihmu." kata Niken tanpa menoleh yang membuat Zein terkekeh pelan.
"Tentu saja mengenal mu. apakah kau sudah kehilangan akalmu. kenapa kau sangat aneh." jawab Niken dengan bingungnya.
"Kau tidak merindukan kekasihmu?" kata Zein lain yang membuat Niken semakin tidak mengerti.
Mendadak raut wajah Niken berubah menjadi sedih. Zein yang melihatnya pun hanya tersenyum kecil saja kemudian menghentikan mobilnya dan menatap Niken dengan seksama.
"Aku sudah bilang jika aku tidak akan pernah meninggalkanmu. aku selalu berada di dekatmu jadi jangan bersedih lagi." kata Zein dengan mengelus kepala Niken
"Apa yang kau katakan?" tanya Niken dengan bingungnya.
__ADS_1
"Kau pernah bilang padaku jika apapun masalahnya kita akan tetap bersama dan saling mendukung. bukankah kau pernah bilang padaku seperti itu." kata Zein yang membuat Niken terkejut bagaimana bisa Zein tahu apa yang dia katakan pada kekasihnya Zhan dulu.
Ia menatap wajah Zein yang kini tengah tersenyum manis dengan seksama. saat ini ia benar-benar melihat sosok Zhan dalam diri Zein apalagi dengan ucapan yang barusan di katakan laki-laki itu.
"Aku tidak pernah bilang padamu jangan mengada-ada." kata Niken dengan tidak sukanya.
"Wahh kau benar-benar ya apakah kau sudah melupakannya. bahkan aku masih sangat ingat saat kau menyelamatkan nyawa ku di hutan. aku juga mengingat dimana tempat aku menyatakan perasaanku padamu. Gedung Tua markas ku Prince Cold." kata Zein yang membuat Niken kembali terkejut.
"Bagaimana kau bisa tahu itu hah!" seru Niken.
"Karena aku adalah Zhan. kau melupakan ku hanya karena laki laki ini?" kata Zein dengan tidak sukanya.
"Zhan!??? tidak mungkin kau pasti hanya mengarang cerita saja." seru Niken.
"Aku bersungguh-sungguh aku adalah Zhan. jiwaku terlempar kesini setelah aku nekat terjun dari jurang yang ada di hutan iblis. aku tidak tahu jika kau juga ada disini tapi aku sungguh merasa beruntung karena jiwaku ada di dalam tubuh laki-laki ini walaupun aku harus menguasai kesadarannya terlebih dahulu agar bisa mengambil alih tubuhnya. bisa dikatakan jika laki-laki ini sekarang memiliki dua kepribadian ganda. yang satunya aku dan satuannya lagi adalah dirinya." kata Zein dengan menjelaskan.
Ya sosok yang mengambil alih tubuh Zein adalah Zhan. laki-laki itu rupanya juga terlempar ke dunia yang sama dengan kekasihnya. kejadian itu bermula setelah dia menggila menghabisi semua anggotanya karena kematian Yuan Lin yang di sebabkan oleh salah satu anggotanya.
"Apakah yang kau katakan itu benar?" tanya Niken dengan mata berkaca-kaca.
"Hmm untuk apa aku berbohong. seharusnya kau tahu bagaimana orang berbohong dan tidak." kata Zein dengan tersenyum.
Niken langsung saja memeluk Zein dengan begitu eratnya. sungguh dia tidak menyangka Jika akan di pertemukan lagi dengan kekasihnya. Zhan yang masih mengambil alih tubuh Zein pun juga sangat senang karena melihat kondisi kekasihnya baik-baik saja.
"Boleh?" tanya Zein yang membuat Niken bingung.
__ADS_1
"Apa?" tanya niken.
Zein pun menyentuh bibir ranum milik Niken sehingga membuat gadis itu memalingkan wajahnya yang sudah memerah. laki-laki itu pun hanya terkekeh saja melihat tingkah kekasihnya seperti itu kemudian ia memegang kepala Niken dan tanpa aba-aba langsung mencium bibirnya.