
"Apa yang kalian lakukan hah?? aku mendengar namaku berada di antara kalian." kata Yuan Lin dengan penuh selidik.
"kenapa kau tidak memberitahu ayah jika kau adalah penerus kerajaan atas." kata kaisar Wei
"Aku memang ingin memberitahumu disini ayah tapi kau sudah tahu lebih dulu jadi aku bisa apa." ujar Yuan Lin yang membuat kaisar Wei memijit pelipisnya.
"Aku juga belum menceritakan asal usulku yang sebenarnya padamu. masih banyak yang tidak kalian ketahui tentang diriku dan mungkin sekarang aku akan memberitahunya." kata Yuan Lin yang membuat semuanya terdiam.
Tentu saja mereka tidak paham apa yang di katakan Yuan Lin. setahu mereka, mereka sudah sangat mengenal dan tahu apapun tentang Yuan Lin termasuk jiwa yang menempatinya yang merupakan jiwa dari masa depan, tapi ketik mendengar perkataan Yuan Lin tadi mereka menjadi tidak yakin jika mereka sudah sangat mengenal Yuan Lin.
"Tidak perlu bingung karena semuanya akan aku ceritakan. ayo ikut aku kita akan membicarakannya di kamarku." kata Yuan Lin dengan berjalan lebih dulu kemudian di ikuti oleh semuanya.
Mereka menuju ke ruangan Yuan Lin kemudian gadis itu mulai menceritakan semuanya secara detail tanpa ada yang terlewat satu pun. semuanya mendengar dengan seksama. reaksi dan ekspresi wajah yang mereka keluarkan pun juga berubah-ubah.
"Aku tahu kalian terkejut mendengar ucapan ku tapi itulah kenyataannya. sebenarnya aku juga tidak menginginkan semua ini terjadi pada ku tapi apa boleh buat takdir sudah berkehendak begitu aku juga harus menerimanya." kata Yuan Lin dengan suara pelannya.
Tiba-tiba putri Jiang He beranjak dari tepat duduknya dan menghampiri Yuan Lin serta langsung memeluknya.
__ADS_1
"Maafkan aku karena tidak tahu soal itu. kau mengalami hari yang bahkan jika orang lain yang mengalami tidak akan pernah bertahan sampai saat ini." kata putri Jiang He
"Aku tidak masalah untuk itu hanya saja tolong kalian terutama ayah harus mengerti bagaimana takdir ku yang sebenarnya. aku menanggung beban yang sangat besar dan aku tidak bisa angkat tangan begitu saja. dua hari lagi pernikahan ku akan di gelar begitupun juga penobatan ku. aku juga sudah berjanji pada ayah kaisar untuk menerima ini. tugasku di dunia atas yang sebenarnya adalah ini." kata Yuan Lin yang membuat semua orang terdiam.
"Hufffft jika itu keputusan mu ayah tidak bisa berbuat apapun. ayah akan mendukung mu hanya saja satu permintaan ayah, jangan lupakan ayah dan orang-orang di dunia bawah. walaupun pada akhirnya kau akan menetap di dunia atas dan menjadi pemimpin agung tapi tetap saja kau juga harus mengunjungi dunia bawah dan menemuiku. jika ku sampai lupa dan tidak memberi kabar sama sekali akan aku pastikan jika dunia atas ini akan rata bersama semua penghuninya termasuk dia." kata kaisar Wei dengan menatap ke arah kaisar langit dengan sinisnya.
"Ck jangan bermimpi terlalu tinggi kau pikir kau sangat kuat hingga mau meratakan dunia atas. jika aku mau saat ini juga aku bisa melemparkanmu ke dunia yang paling tidak ingin orang lain kunjungi tapi karena kau masih ada kaitannya dengan putri Yuan Lin jadi aku masih memberimu kesempatan." ujar kaisar langit yang tak ingin kalah dari kaisar Wei.
"Sudah cukup!! sebenarnya ada apa dengan kalian berdua. aku disini yang paling berhak atas hidupku tidak ada yang bisa mengaturku atau menentukan apapun tentangku. dan kau ayah jangan khawatirkan aku melupakan dunia bawah karena disana aku melalu banyak sekali rintangan untuk sampai disini dan berdiri seperti sekarang ini. dan kau ayah kaisar janjiku padamu akan aku tepati dan aku akan tinggal disini karena tugas utamaku ada disini. jika kalian masih mau bertengkar masalah ini baiklah aku akan pergi." kata Yuan Lin yang sudah kesal dengan kedua pria itu
"Lin Lin kau mau kemana." teriak pangeran Han Tian
"Sudahlah ayah jangan membuat malu Lin Lin disini. lihatlah dia sedang kesal pada ayah." kata pangeran Han Tian
"Ya benar. Jiang'er juga yakin walaupun jiejie tinggal di disini tapi dia pasti akan sering mengunjungi kita di dunia bawah." kata putri Jiang He
Zhi Qing mengejar Yuan Lin dan memegang tangannya hingga membuat Yuan Lin menoleh dengan kesalnya. kemudian laki-laki itu pun membawa Yuan Lin ke tempat yang sedikit jauh dari istana dan keramaian.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan hah! kenapa kau membawaku kesini kau sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun jadi jangan temui aku sekarang karena...." belum sempat menyelesaikan perkataannya tiba-tiba saja Yuan Lin merasakan sebuah benda kenyal hangat yang menempel di bibirnya.
Dia terkejut dan tidak berkedip sama sekali melihat wajah Zhi Qing yang saat ini berada tepat di depannya bahkan tidak ada jarak antara mereka.
Cup....
"Kenapa kau sangat cerewet. wajar saja mereka seperti itu karena mereka sangat menyayangimu. tidak seharusnya kau marah pada mereka." kata Zhi Qing yang membuat Yuan Lin tersadar.
Wajah gadis itu memerah seperti udang rebus membuat Zhi Qing terkekeh geli kemudian hanya mengacak-acak rambut Yuan Lin saja dengan gemasnya.
"Ahahaha kenapa wajahmu memerah seperti ini. ahh ya apakah kau malu saat aku cium bibirmu hhhe." kata Zhi Qing dengan menggoda Yuan Lin sehingga membuat gadis itu bertambah salah tingkah dan memalingkan wajahnya.
"Tidak ada. kau terlalu percaya diri. wajahku memerah karena cuacanya sangat panas. ahh iya kenapa ini sangat panasss." kata Yuan Lin mengelak dengan mengipasi wajahnya menggunakan tangannya.
"Ehhh kau berbohong benar kan. katakan saja kau sangat menyukainya. jika mau aku akan melakukannya lagi. ayo mendekatlah. kau sangat beruntung mendapat ciuman dari laki-laki tampan kuat seperti diriku." kata Zhi Qing yang membuat Yuan Lin melotot tidak percaya.
"Akhhh kenapa kau memukul ku sayang. aku hanya bercanda saja tapi mau malah memukulku." seru Zhi Qing dengan mengelus kepalanya yang terasa sakit.
__ADS_1
"Apa?? kau tanpa izin menci.....ahh sudahlah kau sangat menyebalkan. aku mau pergi jangan mengikutiku lagi atau jika tidak aku benar-benar akan marah padamu." kata Yuan Lin yang sebenarnya sudah sangat malu tapi dia berusaha untuk menutupinya
"Aihh kenapa dia benar-benar marah bukankah dulu seperti itu sudah biasa tapi sekarang aku juga merasa canggung." ucap Zhi Qing dengan menggaruk kepalanya