
Setelah menyelesaikan makannya ia pun segera beranjak dari sana dan menuju ke hutan. ia mengeluarkan pedang yang dia beli tadi dan meniliknya dengan seksama.
Sebuah pedang tua yang nampak sudah usang dan tidak terlihat kuat sama sekali bahkan pedang yang sedang dia pegang itu seperti tidak memiliki kekuatan ataupun energi sama sekali. ia meragukan apa yang di katakan oleh pemilik toko tersebut.
"Aku tidak percaya jika pedang ini merupakan pedang kutukan. ini tidak terlihat seperti yang di katakan bibi pemilik toko itu. pedang ini hanyalah pedang biasa dan terlihat tidak mempunyai kekuatan apapun. baiklah aku akan mencobanya saja." ucap Yuan Lin kemudian mulai menguji seberapa kuat pedang itu.
Ia bermain pedang dengan lihainya. ia menggunakan teknik pedang bayangan untuk menguji ketahanan dan ketajaman pedang tersebut hingga beberapa saat kemudian tiba-tiba asap mengepul tepat berada di depan Yuan Lin sehingga gadis itu menghentikan latihannya dan terus memperhatikan kepulan asap tersebut sembari mundur beberapa langkah dan memasang sikap waspada.
Beberapa saat kemudian ketika semua asap sudah menghilang seorang pria paruh baya sudah berdiri di depan Yuan Lin dengan menatap Yuan Lin dengan tatapan sulit di artikan begitupun juga Yuan Lin ia juga bertanya-tanya siapakah pria paruh baya yang berdiri di depannya itu.
"Siapa kau?" tanya Yuan Lin.
"Dari mana kau mendapatkan pedang itu nak?" tanya pria paruh baya itu
"Aku baru saja membelinya di toko barang antik." jawab Yuan Lin dengan berterus terang.
"Bagaimana kau bisa mengendalikan pedang itu sehingga sampai sekarang kau masih baik-baik saja?" tanya pria itu lagi yang membuat Yuan Lin semakin bingung dan tidak mengerti.
__ADS_1
"Sebenarnya siapa kau kenapa kau melontarkan pertanyaan pertanyaan itu padaku. apakah sebelumnya kita pernah bertemu? tapi ku rasa ini adalah pertama kalinya kita bertemu Seperti ini." kata Yuan Lin dengan tidak sukanya mendapatkan pertanyaan pertanyaan dari pria tersebut.
"Karena aku adalah pemilik pedang jiwa yang sebenarnya." ujar pria itu yang membuat Yuan Lin terkejut.
"Aku tidak percaya itu bagaimana bisa pedang ini adalah milikmu. aku baru saja membelinya dan ini milikku. jika kau merasa kau adalah pemilik terdahulu dari pedang ini itu tidak penting bagiku karena aku sudah tahu." seru Yuan Lin yang membuat pria paruh baya itu hanya tersenyum kecil saja.
"Pedang itu sekarang sudah memilih siapa yang berhak menjadi tuannya. kau adalah orang yang aku tunggu selama ini." ujar pria itu yang membuat Yuan Lin tidak mengerti.
"Apa maksudmu?" tanya Yuan Lin.
"Dari mana kau tau jika aku sudah menguasai teknik pedang jiwa?" tanya Yuan Lin balik
"Karena pedang yang sedang kau pegang itu adalah pedang jiwa dan kau mempunyai teknik yang sama dengan pedang itu yaitu teknik pedang jiwa. pedang itu tidak sembarang memilih tuan ia hanya akan memilih jika orang itu juga mempunyai teknik pedang jiwa karena tidak semua orang bisa mempelajarinya." kata pria tersebut.
"Sebentar aku masih sangat penasaran sedari tadi kau hanya berbicara dan bertanya saja setidaknya perkenalkan dirimu dulu siapa. maaf jika kata-kata ku terdengar agak kasar dan kurang sopan padamu tapi aku memang seperti ini aku tidak akan menunduk pada siapapun kecuali pada guruku dan orang tuaku." kata Yuan Lin yang membuat pria itu tersenyum kecil.
"Aku Xinghai. orang-orang dulu sering memanggilku dengan sebutan pendekar pedang jiwa." jawab pria itu yang bernama Xinghai.
__ADS_1
"Aku Yuan Lin. lalu apakah kau keluar hanya untuk bertanya mengenai hal ini saja padaku?" tanya Yuan Lin lagi.
Pria itu hanya mengangguk saja yang membuat Yuan Lin langsung menghela nafasnya dan melanjutkan latihannya. ia tidak memperdulikan Xinghai dan terus memainkan pedangnya. sedangkan pria itu hanya melihat gerakan-gerakan yang Yuan Lin buat hingga ia pun mengeluarkan pedangnya dan mulai memberikan serangan pada Yuan Lin.
Serangan mendadak yang di berikan oleh Xinghai tentu membuat Yuan Lin terkejut. ia lantas menahan serangan itu dan berbalik membalasnya. seperti panggilan orang-orang terdahulu jika Xinghai memang pantas di juluki sebagai pendekar pedang jiwa karena ia begitu mahir dan lihai dalam memainkannya.
Yuan Lin juga tak mau kalah ia memberikan serangan balik dengan teknik pedang jiwa. Xinghai di buat kewalahan dengan kecepatan serangan yang di berikan oleh Yuan Lin.
"Cukup. kau sudah menguasai sepenuhnya teknik ini. jagalah pedang itu karena itu akan sangat berguna bagimu aku akan pergi dan akan menemuimu lagi di saat waktu yang tepat." ujar Xinghai kemudian menghilang dan menyisakan kepulan asap di depan Yuan Lin.
Yuan Lin benar-benar di buat kesal dengan perkatakan Xinghai. tidak gurunya tidak Xinghai kenapa mereka mengucapkan kata-kata aku akan menemuimu di waktu yang tepat memangnya kapan waktu itu akan tiba . Yuan Lin pun memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. ia lantas beranjak dari sana dan kembali ke istana.
Saat dia sedang berjalan dengan santainya tak sengaja ia melihat sungai yang mengalir dengan derasnya sehingga ia pun menghampirinya dan membasuh wajahnya disana.
"Ahhh segar sekali." ucap Yuan Lin ketika seluruh wajahnya sudah terkena air sungai tersebut.
"Aku sudah lama tidak memakan ikan bakar. pasti disini ikannya sangat banyak dan masih sangat segar segar. lebih baik aku menangkapnya dulu dan memakannya disini aku juga sudah merasa lapar." ujar Yuan Lin yang akhirnya memutuskan untuk menangkap ikan terlebih dahulu.
__ADS_1