
Zein membuka matanya ketika merasakan benda kenyal yang ada di bibirnya. ia melihat jika Niken tengah memejamkan matanya kemudian gadis itu membuka matanya juga yang membuat Zein terkejut dan dengan refleks ia mendorong tubuh Niken hingga mengenai pintu mobilnya.
"A apa yang kau lakukan?" tanya Zein dengan mengusap bibirnya
"Ada apa bukankah kau yang menginginkannya." kata Niken dengan bingungnya kenapa laki-laki ini tiba-tiba saja berubah.
"Tidak mana mungkin aku berani melakukannya padamu. ah iya kenapa aku tiba-tiba berada disini." ucap Zein seperti orang yang tidak mengingat apapun yang sudah terjadi.
Niken yang mendengar ucapan Zein pun bingung. apakah Zein sudah kembali kesadarannya atau belum. ia menatap laki-laki itu yang tengah memijit kepalanya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Niken yang terlihat khawatir dengan kondisi Zein.
"Aku baik-baik saja. kau mau kemana aku akan mengantarmu." kata Zein.
"Pulang." jawab Niken yang masih Menatap Zein.
"Dia sudah sadar. ck si brengsek itu membuatku malu saja. awas saja jika kau keluar lagi aku akan memberimu pelajaran." batin Niken dengan kesalnya.
Zein pun mengantar Niken kembali ke apartemennya setelah itu dia kembali ke rumah sakit. sepanjang perjalanan ia terus mencoba mengingat apa yang terjadi padanya kenapa dia tiba-tiba saja sudah berada di mobil dan yang lebih membuatnya terkejut dia tengah berciuman dengan Niken.
"Akhhh siallll kenapa aku tidak bisa mengingatnya. apa yang terjadi padaku." kata Zein dengan memukul setir mobilnya.
__ADS_1
Di apartemen, Niken juga tengah memikirkan sesuatu. ia mengeluarkan kalungnya yang tadi sempat mengeluarkan sinar. ia melepaskan kaitannya dan menatap kalung dengan liontin bulan sabit itu dengan seksama.
Ia tentu saja bingung kenapa kalung ini juga sampai disini apakah kalungnya juga ikut terlempar bersama dengannya disini.
"Apa yang sebenarnya terjadi kenapa kalung ini tiba-tiba bersinar. ini sangat aneh." gumam Niken yang tidak mengerti.
Malam harinya Zein pulang ke apartemennya. ia tidak mengingat jika apartemennya saat ini sudah di tempati Niken. ia pulang dengan keadaan lelahnya. ia memikirkan kejadian tadi yang terjadi di mobil, ia sungguh tidak mengingat apapun bagaimana tiba-tiba ia bisa ada di mobil karena terakhir kali dia mengingat dia tengah berada di ruangannya di rumah sakit tapi setelah itu dia tidak mengingat apapun.
Ia membuka pintu kamarnya dan mengendorkan dasinya serta langsung menaruh tasnya kemudian melemparkan tubuhnya ke ranjang. ia memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya dia benar-benar berlalu ke alam mimpinya.
Tengah malam, Niken membuka matanya ketika merasa ada sesuatu berat yang menimpa tubuhnya. ia kesulitan bernapas karena benda itu menimpa di dadanya.
"Akhhh apa ini." ucapnya dengan mata sipitnya dan berusaha menyingkirkan benda yang menimpa dirinya.
Hampir saja dia berteriak jika saja pemilik tangan itu tidak membalikkan badannya. Niken berkedip dengan lucunya ketika tangan itu semakin memeluknya dengan eratnya. ia beralih menatap wajah teduh yang ada di depannya. Ya laki-laki itu adalah Zein.
Niken memperhatikan wajah yang sangat mirip dengan wajah Zhan. ia tersenyum kecil memperhatikan setiap inci wajah Zein. alis tebal dan tajam, hidup mancung serta mata yang akan membuat siapapun yang menatap tidak akan berpaling.
Niken mengelus pelan pipi Zein kemudian beralih ke alis, mata, hidung dan terakhir berhenti di bibir seksi milik Zein. karena merasa ada sesuatu di wajahnya laki-laki itupun membuka matanya. ia berkedip-kedip pelan mengumpulkan kesadarannya.
Ia melihat jika di depannya ada seorang gadis yang dia suka tengah menatapnya. ia pikir itu hanyalah mimpinya saja karena itu dia memejamkan matanya kembali. tapi sesaat kemudian ia kembali membuka matanya ketika merasakan dengkuran halus dan nafas hangat di dadanya.
__ADS_1
"Bukan mimpi?" ucap Zein yang masih menatap gadis yang kini ada di dalam pelukannya.
"Berani-beraninya kau menatap gadisku dan memeluknya." kata Zhan yang bangun dengan nada tidak sukanya.
Tentu Zein terkejut mendengar suaranya sendiri. ia pun akhirnya sedikit demi sedikit mengingat kejadian tadi kenapa ia bisa tiba-tiba berada di mobil dengan Niken..
"Sebenarnya kau siapa hah. kenapa kau ada di dalam tubuhku?" tanya Zein yang masih dalam kesadarannya walaupun sedikit demi sedikit ia mulai merasa tubuhnya lemas.
"Aku?? aku adalah kekasih dari gadis yang sedang kau peluk itu sialan. lepaskan dia atau aku akan membunuhmu." kata Zhan dengan marahnya.
"Tidak akan pernah. aku adalah kekasihnya jadi aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhnya termasuk dirimu." seru Zein yang semakin mengeratkan pelukannya pada Niken.
"Brengsek apa kau benar-benar ingin mati." seru Zhan dengan tidak terimanya.
Karena mendengar suara bising membuat tidur Niken terganggu. gadis itu mengerjapan matanya yang masih sangat mengantuk membuat Zein langsung menenangkan kembali dan setelah itu dia beranjak menuju kamar mandinya.
"Aku tidak tahu bagaimana kau bisa berada di dalam tubuhku bahkan saat kondisi ku masih baik-baik saja. tapi siapapun dirimu jika kau membahayakan keselamatan Niken aku yang akan membunuhmu dengan tanganku." kata Zein dengan menatap pantulan dirinya di cermin.
Di dalam pantulan cermin, ia tersenyum smirk. Zein sebenarnya tidak paham dengan apa yang terjadi namun ia berusaha untuk memahaminya.
"Ckckck apakah kau sangat ingin membunuhku sekarang? hah jangan bodoh kau hanya memiliki satu nyawa dan satu tubuh. kau pikir dengan kau membunuhku kau akan bisa memiliki gadisku, ingatlah satu hal bodoh aku juga sedang berada di tubuhmu. jika kau membunuhku itu artinya kau sedang bunuh diri." kata Zhan dengan tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
Zein yang mendengar ucapannya sendiri pun seketika terdiam. kemudian ia membasuh wajahnya lagi dan mencoba berbicara lagi dengan sosok yang ada di dalam tubuhnya namun tidak ada jawaban sama sekali karena Zhan sudah kembali ke tempatnya dan kesadaran Zein kembali seperti semua.
Zhan akan keluar ketika Zein dalam keadaan putus asa, terlalu banyak pikiran dan tidak sadarkan diri. itu hanya terjadi sekarang karena Zhen menempati tubuh Zein belum lama ini.