
Tanpa diketahui Zein, Niken sudah mendengar apa yang di katakan laki-laki itu. dia memang sudah tertidur tapi ketika Zein mengangkat tubuhnya ia membuka sedikit matanya karena merasa jika ada yang mengangkat tubuhnya kemudian ia kembali memejamkan matanya agar Zein tidak tahu jika ia sudah bangun.
Entah mengapa setelah mendengar ucapan Zein hati Niken menjadi tersentuh. ada perasaan yang tak biasa yang menjalar di dalam hatinya. ia pun juga tidak tahu tapi sekarang ia bisa merasakannya itu.
Tak terasa gelapnya malam kini telah berganti dengan cahaya sang Surya yang perlahan lahan mulai bersinar. Niken bangun dan membersihkan diri kemudian keluar dan melihat jika Zein sudah berada di ruang depan satu gelas susu hangat.
"Kau sudah bangun?" tanya Niken yang langsung duduk di samping Zein.
"Iya." jawab Zein dengan tersenyum manis ke arah Niken.
"Kau tidak ke rumah sakit?" tanya Niken yang melihat Zein masih berpakaian santai.
"Tidak. hari ini ada perkiraan salju pertama akan turun dan aku tidak ingin melewatkannya jadi aku akan masuk bekerja besok." jawab Zein.
"Salju pertama? kau tidak bekerja hanya karena ingin melihat salju pertama saja?" tanya Niken dengan herannya.
"Ya aku sangat menyukai salju apalagi jika itu salju pertama yang turun. itu mengingatkanku pada sesuatu." jawab Zein.
"Hmm begitulah." ucap Niken yang tengah berharap jika laki-laki itu akan mengajaknya. ia juga tidak tahu kenapa ia malah berharap bisa melihat salju pertama turun dengan Zein.
__ADS_1
"Ahhh ini aneh sekali. ada apa denganku." batin Niken dengan tidak mengerti.
"Kau dirumah saja karena salju pertama akan sangat dingin dari pada salju yang turun sesudahnya." kata Zein dengan beranjak.
Gadis itu hanya menatap punggung Zein saja sambil menekuk wajahnya. tak berselang lama, Zein keluar dengan pakaian hangatnya khas musim salju. ia juga membawa sesuatu di sakunya.
"Kau mau kemana?" tanya Niken
"Aku akan pergi sekarang. kau di rumah saja." kata Zein yang langsung pergi begitu saja.
"Kenapa dia bersikap seperti itu? apakah dia pikir aku masih anak kecil. ck dia mengatakan jika aku pasangannya seharusnya seorang pasangan itu mengajak pasangannya pada saat-saat seperti ini. ck dia sangat menyebalkan. baiklah jika dia tidak ingin mengajakku aku akan pergi diam-diam mengikutinya." kata Niken yang langsung menyusul Zein keluar.
"Nona ingin kemana?" tanya supir taksi
"Ikuti mobil putih di depan pak jangan sampai kehilangan jejaknya ya." jawab Niken.
"Emm seharusnya nona memakai pakaian hangat karena hari ini salju akan turun." kata supir taksi yang membuat Niken menatap tampilannya sendiri.
"Ah benar juga tapi tidak masalah saya tidak takut dengan hawa dingin." ujar Niken.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian sampailah Niken di sebuah tempat luas dengan satu menara tinggi di tengahnya dan bunga-bunga yang bermekaran di sekitarnya. ia turun dan melihat Zein yang sedang menuju ke sebuah ayunan Indah dan langsung duduk.
"Aihh ternyata dingin juga. kenapa tadi aku tidak mengganti bajuku dulu. apa aku membeli pakaian hangat saja." kata Niken tapi ia baru menyadari jika ia tidak membawa uang sama sekali bahkan membawa tas saja tidak.
"Kenapa aku menjadi seperti ini sih. apa yang terjadi padaku." ucap Niken yang mengumpati dirinya sendiri
Orang-orang dengan begitu antusiasnya ingin melihat salju pertama turun. mereka semua memakai pakaian hangat khas musim salju dan mencari tempat yang menurut mereka bisa menyaksikan salju pertama turun dengan indahnya. ada juga yang langsung masuk kedalam menara tinggi itu dan menyaksikannya dari atas.
Niken memilih tempat yang agak jauh dari Zein agar laki-laki itu tidak melihatnya. ia menjadi bahan pembicaraan orang-orang karena penampilannya saat ini tapi ia hanya mengabaikan Dan terus memperhatikan Zein dari jauh.
Beberapa saat kemudian teriakan dari atas menara membuat semua orang langsung berdiri dan melihat ke arah langit. butiran-butiran putih mulai turun dari langit. salju pertama sudah turun. semua orang yang melihatnya nampak begitu senang. mulai dari anak kecil, remaja, pasangan kekasih serta orang tua, mereka berbondong-bondong menyaksikan salju pertama yang sudah turun.
Niken sendiri hanya bisa menahan rasa dingin di tubuhnya sambil melihat salju pertama turun dan memperhatikan Zein. laki-laki itu berdiri dengan memandang ke atas langit. ia menengadahkan tangannya dan perlahan-lahan tangannya di penuhi oleh salju. ia tersenyum kecil melihat itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Disini adalah tempat dimana aku bisa merasakan getaran aneh saat melihatmu. walaupun aku orang yang sangat tidak bisa bergaul dengan orang lain aku mencoba memberanikan diri untuk mendekati mu dan berbicara denganmu." ucap Zein dengan menatap gantungan kunci berbentuk lonceng dan bulan sabit bewarna emas.
"Dari situlah aku mulai memutuskan untuk tidak menjalani hidup seperti biasanya. aku memutuskan untuk pindah ke sekolah yang sama denganmu hanya karena aku ingin melihat mu setiap hari dan bisa dekat denganmu. kita berteman dan itu membuat hatiku merasakan debaran setiap saat. aku tidak tahu jika itu yang di namakan cinta tapi perlahan-lahan aku mulai memahaminya dan aku memberanikan diri lagi untuk mengatakan perasaan ku padamu. mungkin itu terlihat sangat aneh di matamu tapi aku hanya ingin memberitahu saja. tapi justru itu adalah kesalahan terbesar ku yang ku lakukan seumur hidup."
"Jika saja aku tidak bersikeras untuk mengatakannya mungkin saat ini kau masih disini dan kita akan melihat salju ini bersama lagi. walaupun sekarang aku bisa melihat wajahmu setiap hari tapi aku tidak bisa melihat hatimu yang sebenarnya. dia bukan dirimu tapi kenapa rasa ini tidak bisa hilang walaupun aku sudah mengetahuinya. di bahkan masih mencintai orang lain. hahhh sungguh tragis sekali kisah percintaan ku ini." ucap Zein dengan menghela nafasnya.
__ADS_1