
Sesampainya di perpustakaan mereka langsung saja masuk dan ketua Du Cheng Yu mulai membantu mencari buku yang sempat tidak sengaja dia baca. mereka menelusuri satu persatu rak buku untuk mencari buku tersebut.
Yuan Lin memperhatikan satu persatu buku yang ada di depannya. sangat banyak dan dengan berbeda-beda judulnya. ia terus mencarinya dengan seksama hingga beberapa saat kemudian pandangannya terjatuh pada satu buku bersampul biru muda dengan lambang tujuh percikan air.
Karena merasa tertarik akhirnya ia pun mengambil buku tersebut dan mulai membaca judulnya.
"Tujuh air mata... mungkinkah ini buku yang di maksud ketua Du Cheng Yu." gumam Yuan Lin sambil bertanya-tanya.
"Apakah putri sudah menemukannya?" tanya ketua Du Cheng Yu yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Yuan Lin.
"Entahlah. tapi saya menemukan satu buku ini. apakah mungkin yang anda maksud adalah buku ini?" tanya Yuan Lin dengan menunjukkan buku yang dia dapatkan tadi.
Ketua Du Cheng Yu pun melihat dengan seksama. ingatannya tentang buku yang menjelaskan tujuh air mata pelangi hanya samar-samar saja karena itu memang sudah sangat lama.
"Tujuh air mata...emmm ku rasa bukan ini putri. seingat saya bukan ini tapi jika putri ingin meminjam tidak masalah mungkin saja putri tertarik dengan buku itu." kata ketua Du Cheng Yu dengan tersenyum.
"Apakah tidak masalah jika saya meminjamnya. bukankah hanya seorang murid saja yang boleh meminjam buku di sini?" tanya Yuan Lin.
"Ya peraturannya memang seperti itu. tapi itu tidak masalah jika putri yang meminjamnya." jawab ketua Du Cheng Yu.
"Hmm baiklah kalau begitu aku akan meminjam ini. aku akan mengembalikannya saat pertandingan antar sekte." kata Yuan Lin dengan menyimpan bukunya di dalam cincin dimensinya.
"Baiklah. apakah sudah putri tidak ingin mencari buku yang saya maksud tadi?" tanya ketua Du Cheng Yu.
"Tidak." jawab Yuan Lin singkat.
Setelah itu mereka keluar dari perpustakaan. Yuan Lin berpamitan pada ketua Du Cheng Yu untuk segera pergi dari sekte Halilintar setelah menemukan buku yang membuatnya tertarik untuk membacanya.
__ADS_1
Ia pergi dari sekte Halilintar menuju hutan. di dalam hutan ia langsung mengeluarkan buka tadi karena sudah sangat penasaran dengan apa yang tertulis didalam buku itu.
Saat membuka halaman pertama buku itu Yuan Lin hanya mengerutkan keningnya saja ketika ada beberapa jenis mata air. tapi seketika ia langsung terkejut ketika membaca bab akhir dari buku tersebut.
"Tujuh air mata pelangi." gumam Yuan Lin kemudian langsung membuka halaman dengan judul tersebut.
Namun anehnya saat sudah sampai di akhir halaman dia di buat bingung karena halaman yang dia buka hanyalah selembar kertas kosong saja.
"Apa-apaan ini kenapa tidak ada penjelasannya." kata Yuan Lin dengan kesalnya.
Ia pun membolak-balikkan satu persatu lembar buku tersebut dan ternyata semuanya sama saja yaitu kosong tapi berbeda dengan halaman pertama karena itu ada penjelasannya dan tentu itu membuat Yuan Lin bingung.
"Apa yang terjadi mengapa hanya halaman pertama saja yang ada penjelasannya. apakah aku harus membacanya mulai dari halaman pertama sampai halaman akhir." gumam Yuan Lin kemudian mulai membaca halaman pertama sampai selesai.
Setelah selesai membaca semuanya ia pun ingin melanjutkan ke halaman selanjutnya tapi seketika ia di buat terkejut karena tiba-tiba saja halaman yang tadinya hanyalah kertas kosong kini sudah berisi tulisan.
"Ck...apakah tidak ada cara lain. aku sangat malas jika harus membaca semua ini." cibir Yuan Lin dengan kesalnya.
Karena sudah mencari beberapa petunjuk agar bisa membaca buku ini tanpa membaca semua halaman akhirnya dia pun memilih membaca satu persatu halaman karena tidak ada cara lain selain itu.
Ia duduk di atas pohon sambil tertokus pada satu buku saja dan tidak menghiraukan keadaan sekitarnya. namun sesaat kemudian sebuah suara bising membuatnya harus mengakhiri kesibukannya dalam membaca.
"Ck siapa yang menggangguku seperti ini. padahal sebentar lagi aku selesai membaca semuanya." ucap Yuan Lin dengan kesalnya.
Yuan Lin pun memasukkan bukunya kembali dan melihat siapa yang sudah membuat dia sangat terganggu dengan suara tersebut.
"Bukankah itu Gege." ucap Yuan Lin ketika melihat seorang pemuda tampan tengah bertarung dengan 5 orang berpakaian hitam yang juga tengah menyerangnya dengan brutal.
__ADS_1
Trangggg....
Dentingan pedang pangeran Han Tian ketika bertemu dengan ketiga pedang milik ketiga pria berpakaian hitam itu.
"Apakah kau pikir kau sangatlah kuat hingga dengan beraninya kau mengejar kami hah." kata salah satu dari mereka.
"Kalian seharusnya tidak ku biarkan hidup jika kalian hanya bisa membuat kekacaun saja." kata pangeran Han Tian dengan menahan pedangnya sekuat tenaga.
"Kau pikir kami akan sebodoh itu. terimalah ini." seru salah satunya lagi dengan melayangkan satu serangan lagi hingga membuat pangeran Han Tian terpental mundur.
Sebelum pemuda itu terjatuh ke tanah sebuah tangan menangkapnya terlebih dahulu.
"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Yuan Lin .
"Lin Lin kau ada disini." seru pangeran Han Tian dengan berdiri.
"Siapa mereka kenapa mereka menyerangku?" tanya Yuan Lin.
"Mereka menyebarkan racun didalam makanan dan air minum para prajurit yang tengah berjaga di perbatasan. saat ini banyak sekali prajurit yang tengah keracunan karena mereka." jawab pangeran Han Tian.
"Heh kau gadis kecil. jangan ikut campur masalah kami atau kau akan berakhir dengan sia-sia saja." teriak pria berbaju hitam .
Yuan Lin pun mengangkat tangannya kemudian mendorongnya ke arah pria yang berbicara tadi sehingga membuat pria itu terpental mundur menabrak pohon.
"Sialan kau gadis bodoh. berani-beraninya kau menyerang kami." teriak salah satunya lagi kemudian mulai menyerang Yuan Lin di susul yang lainnya.
Pangeran Han Tian yang melihat itupun tidak tinggal diam ia juga membantu Yuan Lin untuk melawan mereka.
__ADS_1