
Tak terasa waktu berlalu dengan begitu cepatnya. pagi ini Niken merasakan hal yang tak biasa pada dirinya. ia merasakan pusing serta mual dan lebih anehnya lagi dia akan muntah jika mencium aroma tubuhnya sendiri.
Sebagai seorang dokter dan juga suami, Zein tentu tahu gejala apa yang sedang di rasakan Niken dan itu membuatnya sangat senang karena sebentar lagi dia akan menjadi ayah. walaupun bukan menjadi dokter kandungan tapi tentu saja Zein tahu hal itu sehingga ia memaksa Niken untuk berbaring di tempat tidur.
Hanya untuk menyuruh Niken berbaring saja Zein harus melakukan perdebatan kecil dulu dengan Niken karena wanita itu benar-benar sangat emosional saat ini.
"Apa yang akan kau lakukan padaku? aku sedang tidak ingin di ganggu dan kau tiba-tiba menyuruhku untuk berbaring. bukan menyuruhku tapi memaksaku." kata Niken dengan kesalnya.
"Diamlah kenapa kau sangat berisik. aku hanya ingin memeriksa kesehatmu." kata Zein yang mulai menaikkan sedikit baju Niken. tentu hal itu membuat Niken terkejut dan langsung menepis kasar tangan Zein
"Dasar gila. aku sedang pusing dan kepalaku ada disini bukan di situ. kenapa kau membuka bajuku hah." kata Niken bangun dari tidur dan langsung memarahi Zein.
"Sabar sabar. kata dokter Lin ini sudah biasa terjadi jadi aku harus berusaha bersabar. tapi lama lama dia membuatku kesal juga." batin Zein dengan tersenyum manis pada Niken.
"Sayang berbaringlah saja di tempat tidur aku disini sebagai seorang dokter bukan suaminya dan kau adalah pasienku jadi kau harus menurut oke." kata Zein dengan nada suara selembut mungkin.
"Tapi kenapa harus berbaring. aku menjadi sangat pusing asal kau tahu." kata Niken yang membuat Zein tidak bisa menahan kesabarannya dan langsung saja mendorong tubuh Niken dan menindihnya.
"Apa kau mau aku melakukannya pagi ini?" tanya Zein dengan senyum nakalnya.
"Ti tidak." jawab Niken.
__ADS_1
"Maka dari itu menurutlah kenapa kau membuatku sangat kesal. aku hanya ingin memeriksa mu dan memastikan kesehatan mu apakah itu salah." kata Zein yang hanya mendapatkan gelengan kepala dari Niken.
"Ck sudahlah sekarang diamlah jangan banyak bicara." kata Zein kemudian mulai memeriksa Niken.
Ia menaikkan sedikit baju Niken dan menyentuhnya dengan lembut. ada seulas senyum yang tak sengaja di lihat oleh Niken dan itu membuat Niken ada sedikit rasa curiga pada Zein.
"Kenapa kau malah tersenyum. sudahlah periksa cepat setelah ini aku ingin pergi mencari sarapan." kata Niken yang hanya di balas senyuman manis Zein
Sebenarnya Zein tidak benar-benar memeriksa Niken ia hanya ingin menyentuh perutnya saja dengan membuat alasan seperti itu.
"Semoga saja kau sudah ada disini. aku akan sangat senang jika kau benar-benar sudah ada." batin Zein dengan tersenyum penuh harapan.
Niken yang kesal pun akhirnya bangun dan mendorong tubuh Zein kemudian berlalu keluar. setelah sarapan Zein berencana untuk mengajak Niken ke rumah sakit tempatnya bekerja. ia sangat yakin jika saat ini Niken tengah mengandung buah hatinya.
"Ahh sudahlah kenapa aku memikirkan hal tidak penting seperti itu. rumah sakit kan banyak sekali." ucap Zein kemudian menyusul Niken.
Zein mengendarai mobilnya menuju ke sebuah restoran mewah karena permintaan Niken. tak perlu waktu lama ini mereka sudah sampai di sana. Niken memesan banyak sekali makanan yang membuat Zein hanya bisa menelan ludahnya saja.
"Bagaimana kau akan menghabiskan semua makanan ini?" tanya Zein dengan melihat meja yang sudah penuh dengan makanan.
"Tentu saja dimakan kenapa kau bodoh sekali." kata Niken dengan sinisnya kemudian mulai memakan sekian dengan begitu lahapnya.
__ADS_1
Zein terus memperhatikan Niken yang sedang makan dengan lahapnya. mendadak ia menjadi kenyang sendiri melihat itu. ia bahkan tidak menyentuh makanan apapun dan semua di habiskan oleh Niken.
"Setelah ini aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." kata Zein yang membuat Niken menoleh dan menggeleng.
"Kenapa?" tanya Zein dengan herannya.
"Aku tidak mau. lebih baik aku tidur saja dari pada keluar. aku sangat lelah." jawab Niken yang membuat Zein hanya menghela nafasnya saja.
Ia pun terpaksa harus menunda untuk pergi ke rumah sakit. Setelah menyelesaikan acara sarapannya mereka pun memutuskan untuk kembali ke apartemen. hingga beberapa saat sampailah mereka di apartemen
Hari ini Zein harus pergi rumah sakit untuk memeriksa beberapa pasien. sebenarnya dia agak khawatir meninggalkan Niken sendirian tapi mau bagaimana lagi semua orang sedang sibuk.
Setelah sampai rumah sakit ia langsung saja memulai tugasnya sebagai seorang dokter. siangnya dia baru bisa beristirahat dan makan siang. tapi ia merasa ada yang aneh dengan dirinya.
"Ada apa kau keluar hah." kata Zein pada dirinya sendiri.
Ya. Zein sudah tau jika reaksi seperti itu hanya akan terjadi ketika jiwa Zhan akan mengambil alih. dan benar saja suara tawa kecil terdengar. bukan suaranya melainkan suara Zhan
"Kau cukup pintar sialan." kata Zhan dengan nada suara yang dingin.
"Oh iya aku ada kabar untukmu. saat ini istriku sedang mengandung dan akan ku pastikan jika dia akan meninggalkan mu. aku yakin saat ini perasaannya padamu tidak sebesar dulu apalagi jika dia tau sekarang dia dengan mengandung anakku." kata Zein yang sengaja ingin memberitahu pada Zhan.
__ADS_1
Zein yang mendengar itupun tentu saja terkejut tapi sebisa mungkin dia menutupinya walaupun sebenarnya ada rasa marah, sedih dan kecewa di salah hatinya.
"Kau pikir kau siapa? aku sudah jauh lebih lama mengenalnya dan tau apa saja tentang dia hanya saja aku tidak sebrengsek dirimu yang langsung mengambilnya. Aku bahkan tau apa saja yang sangat dia sukai dan tidak sukai. jika kau berkata begitu kau terlalu percaya diri karena sampai kapanpun aku tidak bisa di pisahkan darinya begitupun sebaliknya. kau ingat satu hal sialan, kau bukan apa-apa dimatanya bahkan di hatinya. apapun yang terjadi, bagaimanapun takdirnya aku akan selamanya bersama dia bahkan aku bisa melawan siapapun yang tidak menginginkannya termasuk yang menentukan takdir." Kata Zhan dengan nada seriusnya dan penuh penekanan.