Legenda Putri Tidur

Legenda Putri Tidur
Momen Yang Di Rindukan (LPT S2)


__ADS_3

Di dalam kamar, Zein juga masih terdiam seperti tadi dan hal tersebut membuat Niken semakin kesal karena merasa terus di abaikan oleh laki-laki itu.


"Kau ini kenapa? apakah ayah dan kakakku mengatakan sesuatu yang membuat mu menjadi seperti ini." tanya Niken dengan kesalnya


"Tidak ada. mereka sangat baik padaku. hanya saja ada sedikit masalah yang mengganjal di hatiku. kau tidak perlu khawatir karena itu hanyalah masalah kecil saja. lebih baik sekarang kau tidur ini sudah larut malam." kata Zein dengan berbaring di kasurnya.


"Katakan padaku kenapa kau tiba-tiba berubah dan mengabaikan ku seperti ini. apakah aku sudah berbuat sesuatu yang membuat mu tidak nyaman." kata Niken


"Ya mungkin saja. sudahlah tidak perlu di permasalahkan. lebih baik kita tidur saja." ucap Zein dengan menarik Niken dan langsung memeluknya seperti bantal guling.


"Katakan dulu ada apa." kata Niken yang berada di dalam kungkungan Zein.


"Hmmm..." Zein hanya berdehem saja sambil memejamkan matanya.


Tak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari Zein pertanda jika laki-laki itu sudah terlelap lebih dulu. Niken hanya menghela nafasnya saja kemudian ikut memejamkan matanya dan terlelap.


Tengah malam mata Zein terbuka sepenuhnya dan menatap wajah seorang gadis cantik yang berada tepat di depannya. ia tersenyum kecil melihat itu kemudian mengecup lama kening Niken.


"Aku tidak pernah meragukan mu sayang. hanya saja apa yang sudah terjadi membuat ku sedikit marah hanya sedikit marah padamu. aku tau kau juga tidak ingin ini terjadi begitupun denganku. aku selalu percaya padamu dan cinta kita. aku yakin kita bisa melewati semua ini." gumam laki-laki itu yang tak lain dan tak bukan adalah Zhan.


"Aku sudah mendengar semua ucapanmu dan itu membuat ku sangat senang." lanjutnya.


Karena merasa terusik Niken pun membuka matanya perlahan dan melihat jika laki-laki di depannya itu tengah tersenyum manis dan langsung mengecup singkat bibirnya.

__ADS_1


"Apa aku mengganggu tidurmu?" tanya Zhan dengan suara seraknya .


"Sedikit." jawab Niken dengan tersenyum manis karena ia tahu siapa yang saat ini sedang berbicara.


"Aku sangat merindukanmu Nana." ucap Zhan.


"Kau pikir hanya kau saja. aku jauh lebih merindukanmu." ujar Niken dengan memeluk Zhan erat.


"Kenapa kita sangat sulit untuk bersatu, seakan-akan takdir seperti tidak menginginkannya. selalu saja ada masalah dan rintangan yang harus kita hadapi." kata Zhan yang membuat niken menatapnya dengan tatapan sedihnya.


"Aku minta maaf." ucap Niken dengan suara pelannya


"Sssttt tidak jangan meminta maaf. aku sangat mencintaimu Nana sangat mencintai mu. aku akan berusaha bertahan dalam setiap posisi yang ku dapatkan seperti sekarang ini. aku hanya minta satu hal padamu, tetaplah mencintaiku walaupun sekarang kau bukan lagi Nana ku yang dulu tapi ketika aku mendengar ucapanmu tadi aku benar-benar bahagia karena kau tidak pernah berubah sedikitpun padaku dan masih mencintai ku. kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan tapi aku ingin kau memutuskannya dari sekarang. aku adalah Zhan kekasihmu sedangkan laki-laki ini adalah suamimu. aku percaya pada hatimu. aku berharap aku akan selamanya ada di hatimu." ucap Zhan dengan tatapan mata penuh kasih sayang.


"Aku akan berusaha sebisa ku Zhan. tapi ku mohon tetaplah bersama ku karena kau adalah segalanya bagiku." ujar Niken yang membuat Zein mengangguk dan mencium keningnya dengan lama


Gadis itu hanya mengangguk saja dengan tersenyum sehingga membuat Zhan langsung saja melahap habis bibir ranum itu. ia mengakses setiap inci mulut Niken dan bermain di dalam sana. Zhan mencium lembut bibir Niken sembari memejamkan matanya dan terlihat begitu menikmati permainannya.


Ciuman lembut dan terdapat banyak cinta kasih di dalamnya. semakin lama ciuman itu berubah menjadi ciuman panas. Zhan menindih tubuh niken dan terus bermain di bibir gadis itu.


"Sayang..." ucap Zhan dengan mata yang sudah memerah


"Tidak Zhan. maafkan aku " ucap Niken dengan wajah sedihnya karena tidak bisa memenuhi keinginan Zhan.

__ADS_1


"Hmm baiklah kau selalu saja seperti itu." ucap Zhan dengan berdecak kesal.


"Hehehe ya seperti itu karena sekarang aku bukan hanya milik dirimu saja " ucap Niken dengan mengelus wajah Zhan yang terlihat sedang merajuk padanya


"Lalu kenapa kau mau melakukannya dengan laki laki sialan ini kenapa denganku kau menolak " kata Zhan.


"Bukankah kau yang mengatakannya sendiri jika kau adalah kekasihku sedangkan Zein adalah suamiku." ujar Niken dengan tersenyum.


"Baiklah baiklah aku tidak akan memintanya lagi tapi aku tidak akan melepaskan mu sampai aku benar-benar tertidur." kata Zhan dengan melanjutkan permainannya.


Niken hanya terkekeh geli sana melihat tingkah kekasihnya yang terlihat sangat lucu di matanya. jika saja saat ini yang menjadi suaminya adalah Zhan tentu saja tanpa di minta dia akan menyerahkan tubuhnya begitu saja pada Zhan.


Zhan terus memagut bibir manis milik Niken agar menenangkan gejolak yang ada di dalam tubuhnya saat ini. Niken pun hanya membiarkan saja hingga beberapa saat kemudian ia merasakan hembusan nafas yang teratur berada di wajahnya.


Dilihatnya Zhan sudah tertidur di atasnya. Niken hanya tersenyum saja melihat itu. ya gadis itu sangat merindukan momen seperti ini dengan kekasihnya. hanya ini saja yang bisa dia lakukan agar memenangkan Zhan sampai dia tertidur. mereka selalu melakukan hal itu sejak menjadi kekasih.


Tak terasa hari pun sudah pagi. Zein membuka matanya dan terkejut ketika Dia berada di atas tubuh Niken. dengan segera laki-laki itu melompat yang membuat Niken membuka matanya seketika.


"Ada apa? kenapa pagi-pagi kau sudah menggangguku." kata Niken dengan kesalnya.


"A apa yang aku lakukan semalam padamu?" tanya Zein.


"Tidak ada yang terjadi di antara kita. ck apakah kau lupa jika setiap malamnya kau selalu seperti ini. tubuhku terasa remuk asal kau tahu." kata Niken dengan bengkit dari tidurnya dan berlalu ke kamar mandi.

__ADS_1


Tentu saja Zein terkejut mendengar ucapan Niken. ia pun berusaha mengingatnya tapi tidak bisa. dan hal itu tentu membuatnya merasa sangat malu pada Niken.


"Mulai sekarang aku harus menyiapkan diri jika ingin tidur." ucap Zein dengan penuh tekad.


__ADS_2